
Lampu ruang keluarga sudah kembali di nyalakan saat film berakhir. Dan kini baik Ayura dan Ello masih bisa melihat dengan jelas ketegangan di wajah Alex dan juga Keyra.
"Seru ya filmnya," ucap Ayura sambil menahan tawanya yang hampir meledak. 'Film horornya udah kelar, tapi muka mereka masih lucu banget.'
"Seru dari Hongkong," ketus Alex kesal. Karena sampai saat ini debaran jantungnya masih terasa sangat kuat.
"Itu tadi film horor dari Jepang kak bukan dari Hongkong. Lagian sejak kapan sadako transmigrasi ke Hongkong," balas Ayura yang tak bisa lagi menahan tawanya.
"Emang gue pikirin. Mau dari Hongkong kek, dari Jepang kek, atau dari Cimahi pun gue gak peduli," sahut Alex semakin kesal.
"Tapi lo gak ngompol di celana kan ngab?" goda Ello. Hingga membuat Keyra reflek menatap ke arah celana Alex.
"Sialan lo." Alex langsung menutup miliknya dengan selimut. 'Bisa-bisanya Key liat punya gue tanpa rasa berdosa sedikitpun.' Alex menatap wajah polos Keyra yang tadi sempat melihat ke arah celananya.
"Udah jangan debat lagi. Ini udah malem, lebih baik kita balik ke kamar masing-masing. Dan jangan lupa, cuci kaki dan langsung bobok cantik," sela Ayura yang tak ingin ada perdebatan panjang antara sang suami dan juga Alex.
"Ra lo bobok sama gue ya," pinta Keyra yang saat ini masih terbayang-bayang hantu di dalam film yang mereka tonton tadi.
"Eitss, gak bisa. Bini gue wajib tidur sama gue," sela Ello.
"Halah ngab. Sekali-kali gak ngelonin Ayura kan gak pa-pa," sahut Alex. "Biar Ayura nemenin Keyra, kasihan dia tidur sendirian. Dan elo, mending elo tidur di kamar gue aja," sambung Alex.
"Halahh, bilang aja lo takut tidur sendirian," sindir Ello. Sudah sejak kecil Ello tahu jika Alex memang orang penakut.
"Mana ada gue takut cuma gara-gara nonton begituan," ucap Alex berkilah. Karena dia masih punya rasa malu jika terlihat seperti pria penakut di depan Keyra dan Ayura.
"Oke kita buktiin. Sekarang lo tidur di kamar lo sendiri." Tantang Ello sembari tersenyum miring.
"Siapa takut," jawab Alex dengan cepat. Namun di dalam hati dia berharap semoga tak ada sadako yang keluar dari layar televisi yang ada di kamar.
Pada akhirnya, Alex dan Keyra tidur sendiri seperti biasa di kamar masing-masing. Dan seperti perintah Ayura tadi, keduanya pun cuci muka, gosok gigi dan cuci kaki terlebih dahulu sebelum naik ke atas ranjang.
Alex merebahkan diri di atas ranjangnya dengan pandangan mata fokus ke langit-langit kamar. "Gue harus gimana sekarang?" gumam Alex yang teringat permasalahannya dengan Zea. Otaknya yang memang jauh dari kata encer itu mencoba memikirkan cara untuk membuktikan ucapan semua orang tentang Zea yang mereka anggap sedang membohonginya.
__ADS_1
Ketika sedang sibuk berfikir, tiba-tiba lampu padam. Dan terdengar teriakan kencang dari kamar sebelah.
"Key....." Perlahan tangan Alex mencari ponselnya. Meraba-meraba nakas dalam keadaan gelap gulita.
Untung saja tak butuh waktu lama sampai Alex menemukan ponselnya. Dan dengan cepat Alex langsung menyalakan senter. Setelah mendapatkan pencahayaan, Alex langsung berjalan cepat keluar kamar dan pergi ke kamar sebelah di mana kamar Keyra berada.
Tok.. Tok.. Tok..
"Key, kamu gak pa-pa kan?" teriak Alex sembari mengetok pintu kamar Keyra.
"Key. Ini gue Alex," teriak Alex lagi. Namun masih tak ada jawaban dari dalam, hingga Alex pun memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar Keyra tanpa permisi. Apalagi saat ini Alex sedang panik karena tadi dirinya sempat mendengar teriakan dari arah kamar Keyra.
"Key, lo dimana?" Alex mencari Keyra sembari menyoroti setiap sisi kamar Keyra yang gelap gulita dengan senter di tangannya. Hingga tak lama berselang Alex mendapati Keyra yang tengah berjongkok di sudut kamar dengan kedua tangan yang Keyra gunakan untuk menutup wajahnya.
"Key...." Alex menyentuh bahu Keyra.
"Aaahhhh.....Hantuu..... Tolong, tolong jangan ganggu Key." Key memohon dengan kedua mata yang masih terpejam. Bahkan saat ini tubuhnya mulai gemetaran.
"Key, buka mata lo. Liat, ini gue Alex." Alex menguncang tubuh Keyra agar sadar jika dirinya bukanlah hantu seperti yang Keyra pikirkan.
"Udah, jangan takut, ada gue disini," ucap Alex sembari mengusap kepala Keyra dengan lembut.
"Emang kak Alex gak takut?" Keyra mengurai pelukannya lalu menatap Alex dalam kegelapan.
"Enggak," jawab Alex dengan cepat. Jujur saja efek menonton film horor tadi masih melekat dalam ingatannya, namun untuk saat ini Alex harus bersikap berani di hadapan Keyra.
"Beneran kak Alex gak takut?" tanya Keyra lagi, karena dirinya juga masih mengingat dengan jelas wajah pucat dan tegang Alex beberapa waktu yang lalu.
"Iya kakak gak........"
Brug
"Aaaaa......" teriak Alex dan Keyra bersamaan saat mendengar suara keras dari arah balkon kamar. Bahkan saat ini keduannya kembali saling berpelukan dengan erat.
__ADS_1
"Kakak, suara apa tadi?" tanya Keyra dengan tubuh yang kembali bergetar karena rasa takutnya.
"Kakak juga gak tau Key."
"Kakak coba liat di luar!" perintah Keyra yang takut sekaligus penasaran dengan suara yang baru saja mereka dengar dari luar kamarnya.
"Gak, gak usah di liat Key. Paling kucing," sahut Alex mencoba berpikir positif. Padahal saat ini rasanya Alex ingin kencing di celana. Bahkan dia juga bersumpah di dalam hatinya untuk tidak menonton film horor lagi. Dia benar-benar kapok.
"Kalau maling gimana? Coba liat kak!" pinta Keyra yang masih cukup penasaran.
"Tapi Key..."
"Sana kak liat," ujar Keyra tak mau di bantah.
"Ya udah kak Alex intip dulu," ujar Alex dan mulai berjalan ke arah balkon kamar dengan di terangi cahaya lampu senter dari ponselnya. Jujur saja saat ini dia sangat takut. Namun untuk menolak permintaan Keyra rasanya tak mungkin. Karena ternyata di saat-saat seperti ini gensinya masih cukup besar.
"Key ikut." Keyra yang takut langsung melingkarkan tangannya di lengan Alex dengan cukup erat.
Dengan perlahan Alex menyibak gorden begitu mereka tiba di pintu kaca kamar. Dan dengan perlahan pula Alex mulai memajukan kepalanya untuk mengintip di bagian luar kamar.
"Gak ada apa-apa Key," ucap Alex menghela nafas lega sembari berbalik menatap Keyra. Namun detik selanjutnya,
"Ka-kak, itu..." ucap Keyra terbata sembari menunjuk ke arah luar dengan kedua mata yang sudah tertutup rapat.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Alex heran.
"I-itu kak...."
"Iya, itu apa?" tanya Alex semakin heran.
"I-itu......"
Karena penasaran, Alex pun kembali membalikan badannya ke arah luar.
__ADS_1
Deg
Sejenak Alex terdiam. Menatap dua sosok putih yang terikat seperti lontong. Lalu detik selanjunya suara teriakan cukup keras keluar dari mulut Alex. "Po-pocong!!!"