
Saat ini Alex, Keyra dan mom Lisa sudah berdiri di depan salah satu kamar hotel yang sama. Yaitu salah satu kamar di JONA hotel.
"Kenapa kita kesini mom?" tanya Alex heran. Dan menebak-nebak siapa pemilik kamar di hadapannya.
"Nanti kamu juga bakalan tahu," jawab mom Lisa lalu mulai mengetuk pintu di hadapannya. Hingga tak lama kemudian, pintu di hadapan Alex pun terbuka.
"Loh, kak Agam kok disini." Alex menatap heran pada sosok yang saat ini berdiri di hadapannya.
Agam menatap sekilas ke arah Alex. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah mom Lisa. "Ayo masuk tan." Agam berkata sembari membuka lebar-lebar pintu kamar itu.
Mom Lisa menganggukan kepalanya. "Ayo Key masuk!" ajak mom Lisa.
"Kak ada apa ini?" tanya Alex masih dengan wajah bingungnya.
"Masuk dulu. Nanti lo juga bakalan tahu ada apa di dalam," ucap Agam dan membalikan badan dan berjalan mengikuti mom Lisa masuk.
"Ada apa ya?" gumam Alex yang saat ini justru masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Hingga tak lama kemudian suara pintu yang tertutup mengagetkannya.
"Lah kenapa gue di tinggal."
Pintu yang tertutup otomatis langsung yerkunci. Hingg Alex tak bisa membukanya dari luar.
Tok.. Tok.. Tok..
"Kak bukain woy. Gue kekunci di luar," teriak Alex sembari mengetuk pintu di hadapannya. "Kak Agam woy!"
"Brisik banget sih lu ngab," ketus seseorang yang baru saja membuka pintu itu lagi.
"Elo." Alex menatap sosok lain di hadapannya. "Ngapain lo disini?" tanya Alex semakin bingung dan heran.
"Gue di sini?" Mike menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja melakukan misi untuk memberantas kejahatan untuk perdamaian dunia," jawab Mike sekenanya.
"Dih aneh," ucap Alex yang merasa jawaban Mike tak jelas. "Minggir." Alex sedikit mendorong tubuh Mike agar bergeser dan memberinya ruang untuk masuk.
"Masuk mah masuk aja. Tapi gak perlu dorong-dorong juga kali," gerutu Mike kesal. Namun sebagai sahabat yang baik dia pun menggeser tubuhnya dan memberi ruang untuk Alex lewat.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam, Alex kembali di huat terkejut saat melihat keberada Ello, Ayura dan juga Hiro disana. "Ini ada apa sih pada kumpul disini? Mau meeting sebelum demo?" tanya Alex terkekeh tanpa dosa.
"Ehem..." suara deheman seseorang membuat Alex mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
Alex mengerutkan dahi saat melihat pria berusia tiga puluh tahuan yang saat ini di ikat di kursi. "Siapa dia? Kenapa diiket kayak gitu? Emang dia kambing?"
"Duduk dulu Lex!" perintah Hiro dengan nada dinginnya. Dan ini pertama kalinya bagi Alex merasa ada hawa menakutkan di sekitar Hiro.
"Ehh, iya kak." Sesuai perintah Hiro, Alex pun duduk di samping pria itu.
"Lihat ini!" Hiro memutarkan video kejadian saat kecelakaan kerja Alex dan Zea. Di video itu terlihat jelas ada seorang pria yang sengaja mendorong lampu pencahayaan hingga Alex yang di dorong Zea dan berakhir dengan Zea yang tertipa lighting.
"Bukankah ini." Alex menunjuk pria di dalam video. Lalu detik selanjutnya dia menatap ke arah pria yang terikat di kursi. "Bukankah pria itu dia?" tanya Alex sembari menunjuk pria asing itu.
"Hmm... kamu benar," sahut Hiro yang memang sudah geram dengan pria tiga puluh tahunan yang sialnya bisa membuat Hiro kecolongan. Hingga membuat kejadian tak terduga di proyek pertamanya.
"Kak Alex liat video apa sih?" tanya Keyra penasaran. Apalagi mom Lisa tadi sempat mengatakan jika dirinya juga boleh tahu tentang hal penting yang ingin di tunjukan mom Lisa pada suaminya.
"Kamu boleh ikut liat sayang," ucap mom Lisa.
"Sini Key duduk sini," sahut Hiro sembari menepuk sofa kosong di sisi kanannya.
"Wuuww... dasar modus," teriak semua sahabat Alex hampir bersamaan.
"Lah salahnya dimana? Kan gue suami Keyra," jawab Alex cuek. "Sini Key!"
Bukannya menuruti permintaan suaminya, Keyra justru menuruti permintaan Hiro untuk duduk di samping pria itu. Dan bukan tanpa alasan Keyra melakukan hal itu. Bukan juga karena tak mau duduk di paha Alex. Akan tetapi Keyra cukup malu melakukan hal itu di hadapan semua orang. Apalagi disana ada mom Lisa dan para sahabat suaminya.
"Kok duduk di situ sih Key?" tanya Alex yang terlihat kesal. Karena jujur saja, sampai saat ini Alex masih cemburu dengan Hiro. Karena Alex sadar jika Hiro lebih segala-galanya dari dirinya.
Jika Alex hanya memiliki ketampanan yang selalu dia banggakan. Tidak dengan Hiro. Banyak hal yang bisa Hiro banggakan dari dirinya.
Karena selain berwajah tampan, Hiro juga pria cerdas. Bahkan baru beberapa bulan bekerja di perusahaan papi Genta, Hiro sudah memberi banyak inovasi yang berhasil mendongkrak kemajuan perusahaan dengan sangat signifikan.
Dan sejauh ini Alex hanya melihat dua kekurangan Hiro, yaitu menyebalkan dan jomblo akut.
__ADS_1
"Keyra lebih nyaman disini kak," ucap Keyra jujur.
"Gak bisa gitu dong," sahut Alex tak terima. Padahal maksud Keyra disini, dia nyaman karena tak duduk di paha Alex. Tapi Alex justru mengira jika Keyra nyaman duduk di dekat Hiro.
"Udah-udah. Timbang masalah duduk aja di ributin," ujar mom Lisa melerai.
"Tapi mom..."
"Gak usah protes Kim," ucap mom Lisa memotong ucapan Alex. "Lebih baik sekarang kamu diam!"
Alex hanya bisa memanyunkan bibirnya. Karena seakan sudah menjadi keharusan, jika mom Lisa berucap maka Alex harus menurutinya dan tak boleh terlalu banyak protes.
"Kakak puter videonya. Kamu lihat ya," ucap Hiro dan di balas anggukan kepala oleh Keyra.
Sama seperti reaksi Alex, Keyra pun langsung membandingkan sosok pria di video itu dengan sosok pria yang terikat di kursi. "Iya sama," gumam Keyra.
"Memang ini adalah satu orang yang sama Key," jawab Hiro yang kini sudah menatap tajam pria yang duduk di kursi.
"Ceritakan!" perintah Agam pada pria yang duduk terikat.
Sedetik, dua detik, sepluh detik, pria itu masih diam sembari menundukan kepalanya.
"Gue bilang jelasin!" ucap Agam sembari mencengkram dagu pria itu dengan cukup keras. Untuk menemukan pria ini Agam membutuhkan cukup banyak waktu. Karena ternyata pria itu sudah kabur dan bersembunyi di salah satu desa kecil di Sukabumi.
"Cepat ceritakan semuanya atau kamu tahu sendiri akibatnya," ancam Agam.
Pria itu gemetaran. Bukan tanpa alasan, walaupun wajahnya masih mulus bersih tanpa luka. Tapi dk seluruh tubuhnya sudah penuh dengan luka akibat sudut bara rokok yang di buat oleh anak buah Agam. Bahkan bukan hanya di satu dua luka bakar saja. Melainkan puluhan.
"Se-sebe-bener-nya...."
"Ngomong yang jelas!" sentah Agam.
Pria itu menelan salivanya dengan susah payah. Lalu berusaha menceritakan yang sebenarnya terjadi.
"Sa-saya menjatuhkan lighting atas perintah seseorang," ucap pria itu memulai penjelasannya.
__ADS_1
"Siapa? Siapa yang menyuruhmu?" Alex berdiri dengan kedua tangan yang terkepal erat sembari menahan amarah yang bergejolak di hatinya.
"Zea. Zea Tavhisa," ucap pria itu dengan sangat jelas.