She'S Mine

She'S Mine
Lima Belas Juta


__ADS_3

"Mereka udah pergi sekitar empat puluh lima menit yang lalu mbak," jawab pelanya itu lagi.


'Ahh sial... mereka ninggalin gue,' batin Zea kesal. 'Tapi itu kayaknya gak mungkin deh. Alex gak mungkin ninggalin gue. Apalagi gue yang sekarang pakai kursi roda. Dia gak mungkin tega.'


"Kalau gitu makasih mbak. Mbak boleh pergi," ucap Zea sembari mengambil ponselnya di dalam tas karena dia harus menghubungi Alex saat ini juga untuk mengetahui keberadaan pria itu.


"Maaf mbak, tapi mbak belum bayar makanan tadi," ucap pelayan itu lagi.


"Hah? ini tadi belum di bayar mbak sama mereka?" Zea menatap tak percaya ke arah pelayan itu.


"Iya mbak, mereka bilang mbak yang akan bayar pesanan itu," ucap pelayan itu. Awalnya mereka tak percaya jika gadis cacat yang duduk di kursi roda ini akan kembali.


Namun sepasang kekasih tadi memberi tas yang berisi barang-barang berharga sebagai jaminan hingga pelayan itu membiarkan Alex dan Keyra pergi.


"Ya udah biar saya bayar. Berapa mbak?" tanya Zea seraya mengeluarkan dompet miliknya dari dalam tas.


"Totalnya lima belas juta dua ratus empat puluh lima ribu mbak," ucap pelayan itu.


"What? Saya gak salah denger? Lima belas juta?" tanya Zea dengan kedua mata yang sudah memlotot tak percaya.


"Iya mbak benar. Totalnya memang lima belas juta dua ratus empat puluh lima ribu mbak," ucap pelayan itu lagi dengan sangat meyakinkan.


"Mbak kita bertiga cuma makan tiga mangkuk bakso dan minum tiga gelas jus jeruk. Masa bisa nyampek lima belas juta lebih. Yang bener aja dong mbak. Mbak bisa saya tuntut atas dasar pemerasan," ucap Zea dengan menatap tajam pelayan itu.

__ADS_1


"Maaf mbak tapi...."


"Ini itu hanya restoran di dalam mall mbak, bukan restoran bintang lima di atas gedung. Jadi mbaknya kalau mau ngasih harga yang wajar dong," ucap Zea lagi dengan nada suara meninggi hingga membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang kini menengahi perdebatan mereka.


"Oh, anda manager di sini?" tanya Zea yang melihat name tag di kemeja pria itu.


"Iya benar," jawab pria itu dengan sangat ramah. "Ada yang bisa saya bantu mbak?"


"Ni pak tolong ajarin pelayan anda untuk tidak memeras pelangan disini," ucap Zea sembari menunjuk wajah pelayan itu. Hingga membuat wanita berusia tiga puluh tahunan itu menunduk ketakutan.


"Mbak Tiwi tolong jelasin ke saya apa yang di maksud mbak ini benar?" tanya manager itu masih dengan suara rendahnya. Karena dia tak ingin mengambil kesimpulan hanya dari satu pihak saja.


"Bukan begitu pak," ucap pelayan itu mencoba memberanikan diri menatap manager restoran. Karena dia merasa berada di pihak yang benar. "Saya sudah menghitung total makanan yang harus di bayar sesuai dengan yang di pesan mbak ini dan kedua temannya." Pelayan itu menjelaskan sesuai fakta yang ada.


"Maaf mbak. Tapi pesanan kalian bertiga bukan hanya tiga mangkuk bakso dan tiga gelas jis jeruk," ucap pelayan itu membantah. Dia berani membalas tatapan Zea. Karena ada manager yang pasti akan membelanya.


"Maksud kamu apa?" tanya Zea bingung. Karena seingatnya mereka bertiga hanya memesan itu saja. Tidak memesan makanan bertabur emas dengan harganya mencapai lima belas juta.


"Sebelum kedua teman mbak pergi, mereka memesang paket ikan nila bakar sebanyak dua ratus porsi."


"What? Dua ratus porsi?" Zea membelalakan kedua matanya tak percaya.

__ADS_1


"Ya dua ratus porsi untuk di kirimkan ke salah satu panti asuhan di Jakarta Selatan," ucap pelayan itu. "Dan teman-teman mbak memilih paket ikan nila dengan satu paket berisi satu ekor ikan nila bakar, nasi gurih, satu cup puding coklat dan segelas lemon tea. Dan setiap satu paket seharga tujuh puluh lima ribu saja," ucap pelayan itu menjelaskan.


"Nah, mbak udah denger sendirikan penjelasan dari pelayan saya?" tanya manager itu. Sedangkan Zea kini sudah mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Jadi mbak bisa hitung sendiri, dua ratus dikalikan tujuh puluh lima ribu rupiah itu berapa," ucap manager itu.


"Dan untuk yang dua ratus empat puluh lima ribu, itu harga yang harus mbak bayar untuk tiga mangkuk bakso dan tiga gelas jus jeruk," ucap manager itu lagi. "Dan satu lagi mbak. Itu sudah termasuk PPN (Pajak Pertambahan Nilai)."


Zea menghela nafas kasar. Seharian ini dirinya sudah di bikin emosi dengan kedekatan Alex dan Keyra. Dan sekarang? Apa yang harus Zea lakukan? Jujur saja dirinya tak lagi memiliki uang sebanyak itu walaupun seluruh saldo di empat kartu ATMnya di gabungkan.


"Baiklah. Saya akan bayar," ucap Zea pasrah. "Tapi biar saya hubungi teman saya dulu. Sepertinya mereka masih berbelanja di mall ini."


Zea mulai menghubungi Alex. Namun panggilannya sama sekali tak terjawab. Padahal nomer Alex sampai saat ini masih aktif.


Dan karena panggilan teleponnya tak di angkat, Zea memutuskan untuk mengirim pesan ke Alex. Berharap pesannya kali ini langsung di balas pria itu.


[Lex kamu dimana? Aku masih di restoran tadi. Tagihan makanan kita sampe lima belas juta. Aku gak bisa bayar. Aku gak punya uang sebanyak itu. Kamu kesini kan bantuin aku bayar semuanya?]


Tak lama berselang, Sebuah pesan masuk ke dalam nomer ponsel Zea. Itu adalah pesan dari Alex.


[Iya. Entar gue kesana. Sekarang gue sama Keyra lagi Nonton. Elo sih kelamaan ke toiletnya]


Zea bernafas lega saat membaca pesan dari Alex. Setidaknya Alex tak meninggalkannya. Ya walaupun pria itu kini justru menonton film tanpa dirinya. Tapi setidaknya Alex masih peduli padanya untuk membayar semua makanan di restoran ini.

__ADS_1


Zea menatap ke arah manager itu. "Calon suami saya nanti akan kesini lagi. Jadi kalian gak perlu khawatir. Dia yang akan bayar seluruh makanan itu," ucap Zea dengan lantang. "Kalau hanya lima belas juta itu sangat kecil untuknya," ucap Zea dengan sangat percaya dirinya.


Manager itu menganggukan kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Tapi sebelum calon suami mbak datang kemari, mbak di larang meninggalkan restoran ini," ucap manager itu dan di balas deheman oleh Zea. "Hmm...."


__ADS_2