She'S Mine

She'S Mine
Aku Kangen


__ADS_3

Alex terlihat begitu senang karena di deringan pertama, panggilan teleponnya langsung di angkat oleh sahabat virtualnya.


"Hallo...." terdengar suara yang sangat di rindukan oleh Alex dari seberang telepon.


"Nana...." ucap Alex tertahan.


"Iya."


"Akhirnya kamu angkat telfonku," ujar Alex menghela nafas lega. "Aku pikir kamu marah."


"Marah? Marah kenapa?" tanya Nana tak mengerti. Dia memang sudah membuka pesan masuk dari Alex. Tapi dia belum sempat membacanya sama sekali, karena Alex yang sudah meneleponnya terlebih dahulu.


"Maaf. Weekend kemarin kita gak jadi bertemu. Padahal yang udah maksa kamu buat ketemuan sama aku," ujar Alex yang merasa sangat bersalah.


"Gak pa-pa Lex. Aku......"


"Kamu harus denger penjelasan aku Na," ujar Alex memotong ucapan Nana. "Aku udah dateng ke tempat kita janjian ketemu. Tapi karena ada masalah mendesak, jadi aku gak bisa nungguin kamu dateng."


"Alex, aku......"


"Iya aku tahu kamu marah sama aku, mangkannya kamu gak pernah aktifin nomer telfon kamu. Aku minta maaf Na, aku gak maksud bohongin kamu," ujar Alex yang lagi-lagi menyela ucapan Nana.


"Aku gak marah Lex. Harusnya aku juga minta maaf sama kamu. Karena sebenernya waktu itu aku juga gak bisa dateng ke restoran itu. Dan aku bener-bener minta maaf karena baru sempet aktifin nomer telfon ku sekarang," ujar Nana yang juga merasakan rasa bersalah yang sama besarnya dengan Alex.


"Waktu itu kamu juga gak dateng?" tanya Alex tak percaya.


"Iya. Maafin aku ya Lex."


"Jadi kamu gak aktifin nomer telfon kamu bukan karena marah sama aku?" tanya Alex lagi.


"Kenapa harus marah? Kan disini aku yang salah."


"Huft... syukurlah." Alex menghela nafas lega. "Kamu gak salah Na. Karena kalaupun kamu datang waktu itu, mungkin kita juga gak akan ketemu. Jadi kamu gak perlu minta maaf sama aku. Oke?"

__ADS_1


"Iya Lex," jawab Nana dengan nada suara kembali terdengar ceria.


"Aku kangen ngobrol sama kamu," ujar Alex lirih. Dia malu mengatakan hal itu. Tapi dia benar-benar rindu mengobrol dengan sahabat virtualnya itu. Jujur saja hanya Nana satu-satunya gadis yang membuatnya nyaman bercerita apapun tentang dirinya ataupun hidupnya. Bahkan saat dekat dengan Zea dulu, obrolan antara Alex dan Zea tak seterbuka obrolan Alex dengan Nana.


"Aku juga," jawab Nana dengan sangat lirih. Bahkan hanya terdengar seperti gumaman tak jelas di telinga Alex.


"Kamu bilang apa Na?" tanya Alex penasaran.


"Gak pa-pa kok. Lupain aja," balas Nana malu. Bisa-bisanya dia mengatakan jika dirinya juga merindukan Alex.


"Beneran gak pa-pa?" tanya Alex yang masih penasaran tapi disisi lain dia juga tak mau memaksa Nana untuk mengatkan sesuatu yang memang tak ingin gadis itu utarakan. Karena ia belajar hal itu dari Nana yang juga tak pernah memaksa dirinya untuk mengatakan sesuatu yang tak ingin dia katakan.


"Iya gak pa-pa kok Lex. Emm...kamu lagi apa?" tanya Nana mengalihkan perhatian.


"Lagi kangen berat sama kamu," goda Alex.


"Ckkk...kamu itu kebiasaan gombal terus. Dasar playboy," dengus Nana sedikit sebal. Tapi jujur saja di sudut hatinya terdalam, Nana sebenarnya selalu menyukai gombalan Alex padanya.


"Gak gombal kok. Aku emang kangen kamu."


"Aku pengen curhat," ujar Alex yang terdengar begitu serius.


"Curhat apa lagi? Pacar-pacar kamu? Yang mana? Jesy, Rose atau Bella?" tanya Nana yang sudah begitu hafal dengan gadis-gadis yang dekat dengan Alex.


"Ckk.. kan dulu aku udah cerita, kalau aku udah putus sama Rose and Bella. Masa kamu lupa," ujar Alex sebal.


Nana tertawa. "Sorry, aku beneran lupa," balas Nana yang memang sudah melupakan hal itu. "Jadi kamu mau cerita tentang siapa? Jesy?"


"Bukan. Ini tentang Zea."


"Zea?" Nana terdiam sejenak mencoba mengingat siapa itu Zea. "Zea itu gadis yang udah bikin kamu patah hati?"


"Hmm...."

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Nana penasaran. Dan Alexpun menceritakan pertemuannya dengan Zea. Hingga Zea yang ingin Alex menjadi kekasihnya.


Awalnya Nana merasa kesal mendengar hal itu. Namun dia merasa tak memiliki hak untuk marah. Hingga Nana kembali menyerahkan semuanya pada Alex. Nana ingin Alex memutuskan sendiri mau menerima atau menolak Zea. "Ikuti kata hatimu Lex."


~


Hari-hari berikutnya Alex merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak? Komunikasinya dengan Nana kembali berjalan lancar. Hampir setiap malam mereka melakukan sleep call (panggilan telepon hingga tertidur atau teleponan sampai tertidur).


Dan yang lebih membahagiakan lagi, Key tak lagi berdektan dengan Hiro. Karena Alex selalu mengantar Key ke rumah Ayura bertepatan dengan Hiro yang akan berangkat ke kantor. Dan Alex akan menjemput Key sebelum Hiro pulang bekerja.


Bahkan karena hal itu juga, Alex sering bertengkar dengan Jesy karena dirinya yang selalu telat datang untuk menjemput kekasihnya itu. Dan kali ini Alex sudah tak peduli lagi walaupun di sepanjang jalan ke kampus dirinya harus mendengar Jesy yang terus mengomel panjang kali lebar. Karena yang terpenting bagi Alex, Key tak lagi berdekatan dengan Hiro.


"Tante, nanti siang Key boleh izin keluar?" tanya Keyra. Hari ini weekend, dia tak pergi ke rumah Ayura untuk home schooling.


"Boleh. Nanti di anter sama kakak kamu ya," ujar mom Lisa. "Kikim, nanti sore anter adik kamu!" perintah mom Lisa pada sang putra.


"Gak bisa mom. Alex udah ada janji," tolak Alex. Karena sore ini dirinya sudah kembali membuat janji dengan Nana. Mereka berdua berniat untuk bertemu lagi. Dan Alex tak ingin mengulang kembali kegagalannya bertemu dengan Nana sang sahabat virtualnya.


"Kamu gak mommy izinin pergi Kim. Kamu harus anter adik kamu dulu. Kamu sendiri kan yang udah janji sama mom and Dad buat selalu jagain Keyra."


"Tapi mom......"


"Tante gak pa-pa kok Key pergi sendiri. Kasian kak Alex, dia pasti ada janji penting," sela Keyra yang merasa tak enak pada kakak angkatnya.


"Lihat mom, adik Alex aja ngertiin. Masa mommy enggak," ujar Alex merasa senang mendapat pembelaan dari sang adik.


"Udah mom, jangan paksa Alex. Biar nanti Key pergi di anter sopir Daddy," sahut Dad Kim menengahi.


"Ya udah. Untuk hari ini mommy bebas tugaskan kamu dari menjaga Keyra. Tapi lain kali jangan harap!" sahut mom Lisa dengan sangat tegas.


"Oke mommy ku yang paling cantik dan baik hati. Thank you very much," ucap Alex tersenyum senang. Akhirnya dia bisa bertemu dengan Nana tanpa harus memikirkan sang adik.


"Hmm.. Bilang makasih juga sama adik kamu!"

__ADS_1


"Makasih ya adikku yang cantik. Nanti kakak kasih hadiah yang banyak buat kamu," ucap Alex sambil mengusap sekilas puncak kepala Keyra.


__ADS_2