
"Kamu udah janji ama bibi, jadi..." Kata bibi berhenti menatap wonyoung yang sedang duduk di sofa
"Kamu kenapa sih? Sini duduk kita bahas sama-sama aja, wonyoung masih berutang penjelasan pada kita" kata paman pada bibi yang masih bersandar disamping pintu
"Hmm... Pamanmu benar juga, kau sedang berutang penjelasan pada kami ya" Ucap bibi menuju sofa tempat suami dan keponakannya itu duduk
Wonyoung hanya menatap bergantian paman dan bibinya
"Jadi jelaskan kenapa tadi kamu tidak memberitahu kami saat akan keluar?"ucap bibi sambil duduk di kursi
" Sebenarnya tadi aku sempat menelfon, tapi telfon bibi dan paman tidak aktif, aku pikir paman dan bibi sedang sibuk" Ucap wonyoung pelan tanpa menatap paman ataupun bibi
"Tapikan kau bisa SMS pada kami wonyoung" Lanjut paman, kini suasananya menjadi hening
"Mianhae paman.. bibi.. Aku sangat sibuk sekaligus tegang saat perjalanan jadi lupa untuk memberitahu bibi via SMS, tadi aku hanya memikirkan cara untuk tes Universitasnya..." Wonyoung masih menunduk tak berani menatap bibinya
"Hmm yasudah, masalah ini paman anggap tidak akan pernah terjadi lagi, ya nak?" Ucap paman, sedangkan bibi hanya mengangguk setuju
"lain kali bicarakan saja jauh-jauh hari agar tidak ada salah paham lagi, kau mengerti kan nak?" pengertian bibi
"Iya paman,bibi, aku berjanji akan memperbincangkan sesuatu terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan" -wonyoung
"Wonyoung, nak, kami hanya tidak mau kau menjalani hidup sulit disini, kami melakukan ini agar kau tetap aman" -bibi
"Betul yang bibimu bilang, apapun keputusan yang kamu ingin kami hanya akan mendukung, tapi setidaknya kami tahu terlebih dahulu apakah itu baik atau tidak" Lagi-lagi bibi hanya mengangguk setuju dengan ucapan suaminya itu
"Iya paman aku mengerti, tapi...." Ucapan wonyoung terhenti lama
"Tidak ada salahnya untuk kuliah" Ucap bibi tersenyum dan paman hanya menggangguk
"Benarkah?!." wonyoung berekspresi sangat bahagia
"Lalu kamu akan kuliah dimana?" Lanjut bibi
"Aku akan kuliah di Universitas**** bi"
"Kenapa tidak memilih universitas•••• wonyoung?" Kata paman menginterogasi
"Biaya untuk Universitas itu lumayan... mahal" Kata wonyoung memelankan suaranya karna takut membuat bibi dan pamannya tersinggung lagi
__ADS_1
"Aishh lagi-lagi karna itu?! Yasudah kamu pidah saja ke Universitas•••• nanti paman yang uruskan, paman punya banyak kenalan dan lagi kamu akan dipermudah segala urusannya, oke?" Ucap paman dengan tegas
"Iya betul yang pamanmu bilang" Bela bibi
"Ti-tidak, jangan paman, bi aku hanya mau kuliah di Universitas**** dengan usaha ku sendiri, bukannya tidak menghargai bantuan paman dan bibi, tapi ini sudah keputusan ku, lagi pula hasilnya akan keluar 3 hari lagi" Jelas wonyoung
"Jadi hasilnya masih belum keluar?" -paman
"Iya masih belum, tapi aku yakin akan diterima, kumohon ini keputusanku" Wonyoung memelas pada kedua orangtua ini
"Begini saja..." Paman dan wonyoung langsung berbalik ke bibinya yang terlihat serius
"Wonyoung kalau kamu gak diterima di Universitas****, kamu harus kuliah di Universitas•••• dan tetap tinggal di apartemen bibi dan paman karna jaraknya dekat... Dan kalau kamu diterima di Universitas**** kamu boleh tinggal diluar karna lokasinya lumayan jauh, dengan SYARAT...." Bibi menggantung ucapannya
"Kamu harus tinggal di APARTEMEN yang akan bibi beli untuk kamu" Tegas bibi, kali ini suaminya hanya diam tak bergeming, kagum pada keputusan istrinya yang bijaksana itu_-
"Bibi gak usah beliin apartemen, aku bisa ngeasrama, bi harga apartemen saja lebih mahal dari harga kuliahku 4 tahun bi" Bujuk wonyoung agar bibinya tidak perlu repot-repot
"Kamu pikir bibi tidak mampu? Kalau bibi gak bisa sekolahin kamu, setidaknya bibi bisa nyediain tempat tinggal layak buat kamu!" Ucap bibi rada emosi karna wonyoung yang terus melawan
"Ikuti saja kemauan bibimu nak" Ucap paman memegang kepala wonyoung agar menurut
"Tapi bi..." Ucapan wonyoung dipotong oleh bibinya
wonyoung hanya memaksa bibinya itu untuk berdiri tapi bibinya bersikeras tidak mau berdiri
"Turuti kata bibi wonyoung, bibi hanya tidak mau mengecewakan orangtuamu..."
"Iya bi aku akan menuruti kata bibi, kumohon untuk berdiri" -wonyoung
"Hmm istriku ini benar-benar" Batin paman wonyoung...
Dikamar minho dan suzy(paman dan bibi),
"kau kenapa sampai harus melakukan cara seperti itu sih" ucap minho yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil merebahkan badan
__ADS_1
"Cara seperti apa?" bingung suzy yang sedang berkaca membersihkan wajahnya sebelum tidur
"kenapa harus sampai berlutut dan pura-pura menangis?" minho kali ini bangun dan duduk dipinggiran tempat tidur
"hm..." suzy menggantung ucapannya dan berbalik menghadap tempat tidur lalu menatap dingin minho, minho pun sadar dia sudah salah bicara
"kau tahu? wonyoung sekarang adalah harta yang sangat berharga bagiku, dia adalah anak dari kakak perempuan yang selalu ada buatku saat itu, seorang kakak yang rela mengorbankan apapun demi sekolah sang adik" ucap suzy sendu menahan tangis
"mianhae yeobo(maaf istriku)... aku tidak bermaksud seperti ini" kali ini giliran minho yang menyesali ucapannya, ia memeluk istrinya dengan erat, istrinya hanya pasrah
"kau tak perlu minta maaf, ini semua memang awal dari semuanya, aku memang harus melakukan apapun demi wonyoung, sekalipun itu bertaruh nyawa" ucap suzy yang sudah berlinangkan air mata
"ssutt... jangan berkata seperti itu aku akan selalu ada disisi kalian berdua" ucap minho mengecup puncuk kepala suzy
"a-a-aku sungguh menyayangi wonyoung seperti anakku sendiri, aku baru merasakan bagaimana itu menjadi seorang ibu" ucap suzy sesenggukan
"bahkan aku sangat ingin dia memanggilku eomma(ibu)" lanjut suzy berusaha menghapus air matanya
"akupun sama denganmu ingin di panggil appa(ayah), ingin merasakan menjadi ayah" masih memeluk istrinya dan mengelus punggungnya berusaha menenangkan
"kita disini hanya perlu melengkapi untuk menjaga dan melindungi wonyoung, paham? sudah jangan menangis lagi" lanjut paman
disisi lain,
wonyoung yang sedang berdiri di depan pintu kamar bibi dan pamannya itu terhenti mendengar pengakuan keduanya,
wonyoung tau jika paman dan bibinya pasti tidak sadar dengan kehadirannya di depan pintu, karna pintunya memang terbuka sedikit jadi masih terdengar sedikit suara meskipun itu ruangan kedap, mereka memang lupa untuk menutup pintu...
"Bibi mengapa tidak mau mengaku langsung padaku saja, aku tidak tau ternyata ibuku yang sangat memaksaku untuk belajar saat itu adalah seorang pahlawan bagimu? ibu apakah alasanmu sering memaksaku belajar karna mau aku menjadi anak yang sukses? ayah yang bahkan selalu ceria hanya bisa mengangguk jika ibu yang berkata, begitu juga bibi dan paman, ya tuhan aku masih tidak bisa mengerti ini"
wonyoung beralih untuk kembali kekamar dengan perasaan yang campur aduk...
hello guys👋
*universitas**** dan universitas•••• itu beda yah
**LIKE** dan **COMENT** yah:\)
__ADS_1
don't forget to follow me, 10 followwer pertama aku follback