SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB.101. KEROMANTISAN DAVE.


__ADS_3

Dari arah pintu, muncul Goyon dan seorang dokter perempuan. Goyun sempat merasa heran biasanya kalau ada orang yang kurang sehat di mension, pasti dokter Andylah yang di panggil untuk datang menangani, tapi kali ini lain.


"Permisi tuan, apa boleh Anda menyingkir sebentar, biar Saya memeriksa nyonya muda,". ucap dokter perempuan parubaya itu.


Dave langsung berdiri dan memberi ruang pada dokter Merlin.


Dokter Merlin segera mengeluarkan alat medisnya dari dalam tas lalu mulai memeriksa denyut jantung dan juga denyut nadi Nadia serta tidak lupa mata dan mulut.


Tidak lama kemudian dokter Merlin kembali memasukkan alat menisnya kedalam tas seperti semula.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku?," tanya Dave yang sudah tidak sabar ingin mendengar kondisi Nadia.


"Nyonya baik-baik saja tuan,".


"Kamu jangan bercanda, tadi dia mual-mual lalu pingsang, kamu masih bilang kalau dia baik-baik saja, Kamu itu dokter atau bukan?," bentak Dave pada dokter Merlin hingga membuat perempuan parubaya itu gelabatan.


"Saya tadi belum selesai bicara tuan. Begini maksud Saya, denyut nadi dan juga denyut jantung nyonya muda masih normal, besok juga beliau pasti sudah baikan . Cuman gejala mual dan tiba-tiba pingsang itu yang membuat Saya menduga kalau nyonya sekarang lagi mengandung,".


"Apa, istriku mengandung?,"


"Saya juga belum tahu pasti tuan, tapi kalau dilihat dari gejalanya kurasa seperti itu,".


"Kalau istriku benar-benar mengandung berarti sebentar lagi Aku akan jadi ayah. Goyun Aku akan jadi ayah," Dave menggoyang-goyangkan tubuh Goyun, seakan dia tidak percaya apa yang barusan dia dengarnya.


"Kalau begitu Saya permisi dan ini resepnya, tolong suruh orang untuk menebusnya," dokter Merlin menyerahkan secarik kertas putih pada Dave.


"Baiklah kalau begitu, beri tahu pada Andy kalau besok Aku akan datang kerumah sakit membawa istriku. Dan katakan padanya juga jangan sampai dia telat datang, Goyun antar dokter Merlin ke depan dan jangan lupa kamu tebus obat ini,"


"Baik tuan, mari dokter Merlin,".


Keduanya pun melangkah keluar dari dalam ruangan itu.


"Sayang jika benar kamu hamil itu berarti sebentar lagi kita akan punya baby. Aku akan jadi Ayah dan Kamu yang akan jadi bunda," Dave mencium punggung tangan Nadia sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Sedikit demi sedikit Nadia mulai membuka mata.


"Kenapa kepalaku terasa sakit, apa sebenarnya yang terjadi padaku?,".


"Tadi kamu pingsan di kamar mandi dan Aku membawamu ke mari,".


"Sayang, tolong ambilkan air untukku, Aku haus," Nadia dengan suara sedikit parau.


"Baiklah, kamu tunggu sebentar disini dan jagan banyak bergerak," Dave berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar kamar.


Tidak beberapa lama kemudian Dave datang sambil membawa segelas air putih diikuti Goyun dari arah belakang.


"Tuan ini obatnya," Goyun menyerahkan bungkusan kecil pada Dave.

__ADS_1


"Paman, kenapa ada obat?," tanya Nadia bangun dan menyandarkan tubuhnya di punggung tempat tidur.


"Tadi dokter Marlin datang sayang untuk memeriksa kondisimu,". balas Dave membantu meperbaiki posisi duduk Nadia.


"Terus apa katanya, Aku baik-baik saja bukan?," Nadia sedikit panik.


"Kamu baik-baik saja sayang, malahan dia bilang kalau kamu....," Dave memotong ucapanya sambil tersenyum, dia ingin membuat kejutan pada Nadia.


"Kalau apa Dave, jangan membuatku semakin panik,".


"Kalau kita sebentar lagi akan punya baby, kamu lagi mengandung anak kita disini," Dave kembali mengelus perut rata Nadia.


"Baby......mengandung?,".


"Iya sayang, Aku sebentar lagi akan jadi Ayah dan kamu akan jadi bunda,".


"Benarkah......,".


"Benar sayang.....,"


Segala sakit penyakit yang di rasakan Nadia saat itu lenyap seketika setelah mendengar kalau dirinya lagi mengandung.


"Allhamdulillah sebentar lagi Aku akan jadi Ibu. Ya ALLAH, terima kasih atas anugrah yang tidak terhingga ini. Aku berjanji padaMU akan menjaga zuriat ini agar kelak nasibnya tidak seperti diriku,"


"Jangan bercanda Dia, memangnya Aku ini Ayah seperti Rudy yang menelantarkan anaknya. Aku juga akan menjaga anak kita ini sampai dia dewasa kelak," Dave mencium perut Nadia hingga beberapa kali dan membuat Nadia tertawa karena merasa geli.


"Sayang sekarang kamu minum obatnya, lalu beristirahat agar kondisimu kembali pulih. Besok pagi kita ke rumah sakit untuk memeriksa janin yang ada dalam kandunganmu," Dave memberikan beberapa butir pil pada Nadia.


"Kenapa obatnya banyak sekali, besar-besar lagi, kayak kancing baju. Satu-satu saja dulu besok baru Aku minum yang lain,"


"Mana bisa seperti itu, ini sudah ada resepnya jadi minumnya harus sekaligus sayang,".


"Baiklah,".


Dengan wajah cemberut, Nadia pun menelan pil-pil itu sekaligus dan lekas mengambil air dari tangan Dave lalu meneguknya hingga tidak tersisa sedikit pun.


"Nah, anak pintar, sekarang kamu tidur,"


Setelah meletakkan gelas diatas nakas Dave membantu Nadia berbari lalu menyelimuti setengah dari tubuhnya.


"Sayang jika anak kita kelak cewek, baiknya kita beri nama dia siapa?,". Dave yang saat itu berbaring di samping Nadia sambil memainkan rambut kepangnya.


"Mimi ....," jawab Nadia spontan.


"Aku tidak mau, masa anakku di namakan sama dengan boneka babymu itu," seketika Dave bangun karena dia tidak terima dengan nama pemberian Nadia.


"Mimi ini panda bukan babi sayang, benarkan Mimi,".

__ADS_1


"Iya dong, masa imut-imut begini dia menyamakanku dengan babi, entahlah dengan bola mata sebelah mana dia melihatku," Nadia meniruka suara boneka.


"Terserah imut terserah apa, yang jelasnya Aku tidak mau putriku sampai di beri nama Mimi," Dave kembali tidur membelakangi Nadia.


"Hii....merajuk,"


"Biarin......,"


Malam semakin larut hingga keduanya terbawa kedalam alam mimpi.


Belum juga pagi menjemput kembali Nadia terbangun karena merasa sangat lapar.


"Sayang......," Nadia menggoyang-goyangkan tubuh Dave.


"Heemmmm.......," balas Dave tanpa bergerak sedikit pun.


"Sayang, Aku lapar,".


"Ini sudah jam berapa?, biar Aku telpon Goyun untuk membawakanmu makanan kemari,"


Dengan sedikit malas Dave bangun dari tempat tidur dan mengambil handphonenya diatas nakas.


"Apa, jam 3 malam. Baiklah, Kamu tunggu sebentar disini biar Aku membangunkan Goyun untuk menyiapkan makanan untukmu,".


"Jangan sayang, paman Goyun dan yang lain pasti sudah tidur, mereka pasti lelah sudah bekerja seharian ini,".


"Kalau begitu, besok pagi saja kamu makan, soalnya tidak ada orang yang masak untukmu," Dave kembali naik ke pembaringan lalu kembali tidur seperti tadi.


"Aku masih bisa menahan lapar tapi bagaimana dengan dede bayinya?, apa dia sanggup menahan lapar sepertiku. Kasihan sekali nasibmu nak jangan sampai kamu sama dengan nasib ibumu," Nadia bemiringkan tubuhnya ke kiri membelakangi Dave sambi menahan tawa.


Sedikit demi sedikit tampak pergerakan Dave menuruni pembaringan.


"Dia, Ayo kita kedapur, biar nanti Aku yang masak buat kalian,". ucap Dave dengan lembut sambil menyodorkan tanganya pada Nadia.


"Apa suamiku serius, mau masak buat kami,".


"Apa pun akan Aku lakukan walau sebenarnya Aku tidak bisa. Aku hanya ingin melihat orang yang Aku sayangi selalu tersenyum. Karena senyum kalianlah membuat hal yang tidak bisa menjadi bisa bagiku,".


"Hiii..kyueet bangat," Nadia segera meraih tangan Dave dan mengelayut manja di lengan kekarnya.


"Tapi semuanya itu tidak geratis, kamu harus bayar mahal,"


"Apa Aku bilang, kalau manis-manis begini pasti ada maunya,".


Dave hanya tersenyum lalu keduanya melangkah keluar kamar.


BAGI PENCINTA CERITA DEWASA YUK MAMPIR DI YOUTUBE AKU, JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK, SUBSCRIBE AGAR TIDAK KETINGGALAN VIDEO TERBARU.

__ADS_1



__ADS_2