
Setelah tiba di mension, Sekertaris Ken langsung memarkirkan mobil kedalam garasi dan segera keluar dari dalam mobil lalu berlari kecil membuka pintu buat Dave dan Nadia.
"Silahkan tuan, nyonya,".
"Terima kasih sekertaris Ken," balas Nadia sedangkan Dave sama seperti dulu hanya diam seperti batu.
"Hati-hati sayang," Dave memegang tangan Nadia keluar dari dalam mobil.
"Makasih banyak suamiku, sekarang kamu sudah perhatian bangat, Aku makin sayang padamu," senyum Nadia keluar dari dalam mobil.
"Mulai sekarang Aku akan menjadi suami siaga untukmu dan ayah terbaik buat anak-anak kita,".
"Jadi gemas deh," Nadia mencubit kedua pipi Dave.
"Tapi semuanya tidak geratis sayang, Ayo masuk," Dave membawa Nadia masuk kedalam mension.
Para pelayan dan dua orang suster ikut berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Selamat siang tuan dan nyonya ," ucap mereka bersamaan.
"Siang, mulai hari ini dan seterusnya tugas kalian hanya melayani nyonya Nadia, kesampingkan terlebih dulu kerjaaan kalian dan proritaskan hanya untuk kebutuhan nyonya saja, paham?,". ucal Dave dengan tegas.
"Paham tuan," balas mereka bersamaan.
"Suamiku tidak begitu juga caranya, biarkan mereka bekerja seperti bisa, Aku bisa kok melakukan semuanya walau dalam keadaan hamil sekali pun,".
"Jangan senang dulu, ini juga berlaku padamu, mulai hari ini kamu tidak dibolehkan bekerja. Tugasmu hanya makan makanan bergizi dan minum vitamin seperti anjuran dokter Fatmah. Dan ini perintah,".
"Pasti itu sangat membosankan, sebagai ibu hamil, Aku juga perlu menggerakkan tubuh, berjemur dibawah sinar matahati pagi dan juga berolaraga agar saat persalin nanti bisa berjalan lancar,".
"Sok tahu, memangnya kamu sudah pernah melahirkan sebelum ini sehingga kamu tahu semua tentang ibu hami dan saat mendekati hari persalinan?,".
"Bukanya sok tahu sayang, tapi Aku sering browsir di gogle dari awal kehamilan sampai proses persaliman. Kalau suamiku tidak percaya coba saja tanya kedua suster ini, betulkan suster?," tanya Nadia pada kedua perempuan berbaju putih-putih yang berdiri bersama para pelayan.
"Betul sekali tuan, Ibu muda perlu melakukan apa yang di uraikan oleh nyonya barusan agar sang ibu hamil sehat. Jika ibunya sehat tentu si cabang bayi juga akan ikut sehat," balas salah satu dari perawat tersebut.
Lama Dave berpikir hingga dia mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, tapi tidak lebih dari itu. Tapi kalau sampai istriku kenapa-kenapa awas kalian berdua. Sayang Ayo kita ke kamar,"
Kembali Dave memegangi tangan Nadia dengan sangat hati-hati sekali. Bersama dengan Nadia, ibarat memegang sebuah benda berharga yang sewaktu-waktu akan jatuh dan pecah.
"Lihat bu, perlakuan kak Dave pada Nadia sekarang, Kak Dave benar'- benar takut terjadi sesuatu pada Nadia dan calon bayi mereka," Elis yang saat itu mengintip mereka di balik dinding bersama ibunya.
"Iya betul katamu. Kita harus cari cara agar bayi itu jangan sampai melihat dunia. Kalau sampai itu terjadi bersiap-diaplah untuk jadi gembel dan tidur diemperan kota. Semua harta Ayahmu akan di wariskan Dave pada putra si cupu itu,".
"Tapi bagaimana caranya kita menyingkirkan Nadia dan bayinya itu, sementara kak Dave memberi penjagaan ketat padanya selama masa ke hamilan,".
"Tenang, pasti ada jalan. Intinya kita jangan sampai membiarkan anak si culun itu lahir, kamu tahu maksud ibu bukan?,".
"Elis tahu, tapi caranya itu yang bagaimana?,".
"Sudalah, jika saatnya sudah tiba, baru ibu jelaskan padamu. Saat ini biarkan dia menikmati kebahagiaan tapi itu tidak akan berlangsung lama ibu janji itu, Ayo kita pergi dari sini sebelum Goyun datang memergoki kita," Anita dan Elis segera keluar dari tempat persembunyian lalu melangkah kearah kamar mereka.
Sementara itu di dalam kamar, Dave dan Nadia sedang duduk diatas pembaringan sambil menyandarkan tubuh mereka di punggung tempat tidur.
Dave tidak henti-hentinya mengelus perut Nadia walau sesekali Nadia menepuk tanganya karena geli tapi tetap saja diulang oleh Dave.
Nadia yang saat itu sedang memainkan handphonenya, brower tentang ibu hamil seketika tertawa mendengar perkataan Dave yang sungguh diluar nalar. Bisa bisanya seorang pemimpin perusahaan yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata mengucapkan hal seperti itu.
"Kamu tenang saja setelah bayi-bayi kita lahir Aku bisa memesan lewat online biar nanti Aku pasang di bagian perut hingga suamiku bisa nennen disana,".
"Yang karet itu?," Dave dengan mengerutkan dahinya.
"Tinggal pilih saja, suamiku mau yang karet atau plastik dan tersedia dalam varian rasa sesuai keinginan suamiku,".
"Aku tidak mau, Aku mau nannen ini, bukan beli es boba" tunjuk Dave dibagian Depan Nadia.
"Setalah melahirkan, kebutuhan anak-anak kita yang utama sedangkan kebutuhan suamiku itu berada di urutan ke 10,".
"Apa ke 10, terus 2 sampai 9 itu kebutuan siapa?,".
"Tentu anak anak dan anak, kebutuhan mereka lebih dari segalanya, sayang jadi kamu diurutan terakhir," Nadia membelai wajah tanpsn Dave.
"Astaga, mereka belum lahir saja hidupku sudah tersiksa seperti ini apalagi saat mereka lahir nanti, mungki kalian sudah menyuruhku tidur di kamar mandi,".
__ADS_1
"Nanti kita lihat, bisa jadi seperti itu ha..ha...ha," tawa Nadia hingga membuat Dave menggaruki kepalanya.
PAGI HARINYA.....
Pagi itu Dave dan Nadia turun untuk sarapan pagi, sudah ada Elis dan Anita disana yang sudah tìdak berani menatap Nadia apalagi menyinggungnya seperti dulu
Mereka sudah seperti anak mami yang takut pada ibunya.
"Silahkan tuan, nyonya," Goyun menarik kursi buat Dave lalu melanjutkan pada Nadia.
Dave dan Nadia saling menatap. Baru kali ini Goyun terlihat memakai baju kaos dan dimasukkan kedalam celana jans dengan rambut sudah di pangkas mirip seorang prajurit satu lagi aroma parfum berkelas tidak ketinggalan.
"Paman, ada acara apa hari ini?," tanya Nadia memberanikan diri.
"Maksud nyonya?,". tanya balik Goyun.
"Nadia lihat paman pagi ini lain dari biasanya. Dulu paman sering memakai jas tapi kali ini hanya memakai kaos dipadukan dengan celana Jans serta aroma parfum yang begitu harum seperti anak muda yang ingin kencang malam minggu dengan sang kekasih. Betulkan sayang," Nadia mengisi piring Dave dengan nasi dan lauk.
"Semua perkataanmu pasti benar dimataku sayang, karena kamu adalah calon ibu dari anakku,".
Ucapan Dave membuat Anita dan Elis hampir saja muntah, baru kali ini mereka mendengar Dave mengeluarkan kata-kata romantis seperti itu di depan mereka.
"Saya rencananya mau menjemput Ona hari ini seperti perintah nyonya kemarin, jadi Saya pake baju santai agar lebih leluasa bergerak,".
"Alasan macam apa itu Goyun, bilang saja kalau kamu mau kencang dengan bi Ona, selesai urusan?,".
"Maaf, tidak seperti itu tuan,". Goyun menunduk.
"Kamu ini pintar sekali menyembunyikan sesuatu, Kamu itu sudah lama bersamaku, jadi Aku tahu hanya dengan menatap matamu saja kalau kamu itu lagi jujur atau berbohong. Sekarang kamu pergi karena dia sudah menunggumu sejak tadi,".
"Dimana tuan tahu kalau Ona menungguku?,"
"Dari status face booknya" OTW jalan-jalan bersama kekasih tuaku," ucap Dave tanpa ekspresi hingga membuat Nadia terbahak melihat dan mendengar tingkah dan ucapan lucu suaminya itu.
MAMPIR YA DI CHANNEL YOUTUBENYA AKU.
__ADS_1