
Mawar melewati kerumunan muda-mudi mendekat kearah Nadia.
"Nadia, kamu kenapa?," raut Wajah Mawar terlihat begitu panik seolah-olah dia memperlihatkan kekuatiranya pada semua orang atas kondisi Nadia saat itu.
"Perempuan ini pada sekali bersandiwara. Ini semua karena ulah kalian," ucap Nadia dalam hati.
Melihat Nadia sudah tidak bisa berkata-kata lagi Mawar berinisiatif merangkul tubuh Nadia.
"Mari, biar Aku antar kamu ke kamar, kamu perlu istirahat sejenak untuk memulihkan kembali kondisimu,".
"Nona, apa Anda butuh bantuan, sepertinya teman Anda ini sedang mabuk berat akibat pengaruh alkohol," Tania langsung mendekat dan menawarkan diri pada Mawar.
"Iya mba, terima kasih banyak sebelumnya. Tolong membantu Saya membawa teman Saya ini ke kamar hotel untuk beristirah,".
"Baiklah kalau begitu mari," Tania ikut merangkul tubuh Nadia.
Sebelum beranjak, Nadia memberi kode pada Rita dan Nabila untuk bersiap-siap menjalankan rencana selanjutnya
Mawar dan Tania segera memapah tubuh Nadia keluar dari kerumunan orang banyak menuju arah kamar yang sudah di persiapkan Nelza dan juga Mawar.
Butuh proses yang panjang, hingga mereka tiba juga di ruangan yang mereka tuju.
Mawar langsung memutar knop pintu dan sedikit mendirongnya.
Tubuh Nadia terus di papah masuk dan tiba juga di depan pembaringan.
"Letakkan saja disini," perintah Mawar.
Nadia dibaringkan diatas tempat tidur dengan kedua kaki lurus kedepan.
"Apa Saya perlu panggilkan dokter untuk menangani kondisi teman mba ini?,' tanya Tania sambil menyelimuti tubuh Nadia yang terlihat seperti orang yang terkena malaria.
"Tidak usah, sebentar lagi dia juga akan membaik kok," balas Mawar sambil tersenyum secara sembunyi-sembunyi melihat kondisi Nadia saat itu.
"Baiklah, kalau begitu Saya permisi," belum juga Tania melangkah Mawar sudah mencegahnya.
"Tunggu dulu mba, kalau boleh Aku ingin meminta bantuan mba sekali lagi,".
"Apa itu,".
"Tolong jaga teman Saya ini sebentar, Saya ingin mencari teman Saya dulu,".
"Baiklah kalau begitu, serahkan semuanya padaku,".
__ADS_1
"Terima kasih banyak mba, kalau begitu Saya permisi,".
Mawar keluar dari dalam kamar tersebut dengan langkah seribu.
Mawar menuju keruang aula mencari keberadaan Nelza tapi tidak juga dia temukan sosok yang dia cari.
"Kemana sih Nelza, rencana membawa si cupu itu masuk ke kamar hotel sudah berhasil tapi malah dianya tiba-tiba menghilang,".
Lama Mawar diruang aula hingga dia memutuskan untuk menemui Anita, Elis dan juga ibunya yang sedari tadi menunggu di dapur hotel untuk melancarkan rencana mereka selanjutnya.
Tidak lama kemudian Mawar tiba juga di dapur hotel.
"Bagaimana Mawar, apa semuanya berjalan lancar?," tanya Yunita berdiri dari tempat duduknya saat melihat Mawar masuk.
"Semuanya berjalan lancar, tapi.....," Sejenak Mawar memotong ucapanya.
"Tapi apa?, jangan membuat kami panik," Anita ikut mendekati Mawar.
"Tapi Nelza tiba-tiba menghilang,".
"Apa menghilang, coba kamu telpon dia,". perintah Anita.
"Betul juga, kenapa Aku tidak kepikiran sampai kesana,".
Mawar mengeluarkan handphone dari saku celananya lalu menghubungi kontak Nelza.
"Handphonenya berdering tapi dia tidak angkat,". balas Mawar masih meletakkan hanphone di daun telinganya.
"Kemana anak itu, rencana sudah 50% berhasil, dianya malah hilang tanpa kabar,".
Kembali mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Menerka-nerka kemana sebenarnya Nelza pergi.
Diselah diamnya mereka, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan singkat masuk di handphone Mawar.
"Mawar, Aku tidak sempat melanjutkan misi kita soalnya ayah dan ibuku tiba-tiba datang dari Amerika dan Aku harus menjemputnya. Maka dari itu lanjutkan terus rencana kita, setelah mengantar Ayah dan ibuku ke hotel Aku akan segera kesana membantu kalian,".
Kira-kira begitulah bunyi pesan singkat yang berasal dari nomor kontak Nelza yang dibaca dan di perdengarkan langsung oleh Mawar pada ketiga orang yang sedang berdiri di hadapanya.
"Baiklah kalau begitu, kita lanjutin misi kita tanpa adanya Nelza bersama kita. Yunita secapat suruh orang suruhanmu agar segera menuju ke kamar itu," perintah Anita pada Yunita.
"Baik," Yunita segera mengeluarkan handphone dari dalam tas kecilnya dan segera menghubungi seseorang dari dalam sana.
"Sedangkan kamu dan Elis, Kalian berdua ajak seluruh alumni SMA 80 untuk ke kamar dimana Nadia sedang berada. Aku yang akan memangil manager hotel ini agar datang memergoki si cupu itu berpesta ria dalam kamar. Setelah melihat apa yang dilakukan si cupu di dalam kamar, Dave pasti akan langsung menendang dan menceraikanya hari ini juga,". ucap Anita dengan mata berapi-api.
__ADS_1
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Mawar dan Elis segera pergi dari tempat itu untuk menjalankan perintah yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Anita dan Nelza.
"Bagaimana, apa orang suruhamu itu sudah datang?," tanya Anita saat Yunita sudah memasukkan lagi handphonenya dalam tas kecilnya.
"Iya, sekarang dia sudah menuju kemari Nadia,".
"Bagus, kalau begitu ayo temani Aku ke ruangan manager," ajak Anita lalu melangkah dikuti oleh Yunita.
Sementara itu dalam sebuah ruang kecil tak jauh dari kamar Nadia dan Tania berada. Tampak Rita memasukkan handphone Nelza kedalam saku celananya.
"Aku sudah tidak tahan lagi tolong layani Aku," Nelza terus mengoceh sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Sepertinya pengaruh obat itu sudah beraksi, perempuan ini sudah tidak berdaya. Apa rencana kita selanjutnya?," ujar Nabila sambil memperhatikan tubuh Nelza menggigil seperti orang meriang.
"Ada baiknya kamu keluar dan melanjutkan rencana kedua sesuai perintah nyonya Nadia,".
"Baiklah kalau begitu, Kamu jaga perempuan ini baik-baik,".
"Tenang saja, ondel-ondel ini biar menjadi urusanku,".
Nabila melangkah keluar dan tidak lupa menutup pintu.
Ada beberapa menit Nabila pergi hingga pintu ruangan tersebut kembali terbuka.
"Rita, tadi Aku melihat seorang pria masuk kedalam kamar Nadia," Nabila datang terburu-buru.
"Pasti itu suruhan mereka, kita harus bersiap-siap, sebentar lagi kita akan membawa perempuan matre ini kesana. Apa tugasmu sudah selesai?,".
"Iya sudah, Aku tinggal menelponenya dan dia akan datang," balas Nabila.
Sementara dikamar yang di tempati Nadia. Terjadi perkelahian yang cukup seru dua melawan satu.
Nadia dan Tania menghadapi seorang pria tinggi besar suruhan Anita dan teman-temanya.
"Hay ....bukankah kamu sudah terkena pengaruh obat perangsang kenapa tenagamu masih kuat seperti kuda," tunjuk pria itu pada Nadia yang sedari tadi memberi tendangan dan pukulan pada pria itu sedangkan Tania hanya membantu memukul pria itu dengan tasnya.
"Itu bukan urusamu, kamu pergi sekarang atau Aku menghajarmu hingga kamu sudah tidak bisa membedakan mana arah barat dan mana arah timur,".
"Sombong sekali, rasakan ini," kembali pria itu menyerang Nadia membabi-buta hingga sebuah kesempatan baik datang juga.
Dengan cepat Nadia mengangkat tubuh kecil Tania hingga nelayang diudara.
Creee......cree.....sebuah suara cukup nyaring di telinga.
__ADS_1
Terus beri dukungan" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN" di Youtube ya ceritanya tidak kalah seru. Teeima kasih.