SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 43. KEGELISAHAN DAVE.


__ADS_3

Kembali ruangan dalam mall itu seketika hening. Hanya deru nafas mereka yang sesekali terdengar berhembus ditelinga.


"Mawar....," belum juga Nadia mrnyelesaikan ucapanya, Mawar seketika melompat ke girangan.


"Aku ....menang, Aku menang!,".


"Maaf Nona Mawar biarkan dulu Nona Nadia melanjutkan ucapanya," ucap pak Yuda.


"Tapi Nadia tadi Menyebut namaku, itu berarti Nadia memilihku," balas Mawar.


"Menyebut nama bukan berarti dia memilih Anda," pak Yuda menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mau tidak mau Mawar kembali ke tempatnya semula dengan wajah masih diselimuti kegembiraan.


"Silahkan Nona Nadia lanjutkan!," pak Yuda mempersilahlan Nadia untuk melanjutkan kembali ucapanya yang tempat terhenti karena perilaku Mawar.


Nadia mengangguk pelan ....


"Mawar, Maaf Aku tidak bisa memilihmu. Aku memilih Nabila..., Nabila selamat kamu yang pantas menduduki posisiku," Nadia mengenakan mahkota diatas kepala Nabila.


Nabila yang kalah itu tidak yakin kalau Nadia memilihnya hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata.


"Selamat Nabila, teruslah berkarya, Aku yakin kamu bisa dan juga pantas menyandang gelar ini," Nadia memeluk tubuh Nabila, gadis


yang baru saja dia kenal.


Pak Yudu seketika bertepuk tangan dan dikuti seluruh penonton yang ada di bawah panggung kecuali Rudy dan Yunita.


"Apa benar kamu memilihku?," Nabila membalas pelukan Nadia yang masih belum percaya sepenuhnya kalau Nadia memilih.


Nadia mengangguk lalu tersenyum kearah Tania, Diana dan Dewi yang saat itu juga tersenyum padanya.


"Terima kasih banyak Nadia, Aku tidak akan mengecewakanmu,".


Kini butiran air mata kegembiraan mulai menetes di wajah cantik


Nabila.


"Sama-sama, tersenyumlah jangan membuat kami turut sedih dengan tetesan air matamu ini,".


Nadia mengusap butiran air mata yang menetes pada pipi Nabila menggunakan kedua ibu jarinya.


Seketika itu juga Nabila tersenyum dan kembali memeluk Nadia sebagai ucapan terima kasihnya.


Sementara itu Mawar hanya terdiam dengan persaan yang tak menentu menyelimuti hatinya.


Sama halnya yang dirasakan oleh Mawar, Rudy dan Yunita pun merasakan hal yang sama.


"Mas... ..ternyata Nadia lebih memilih Nabila ketimbang Mawar," Yunita dengan wajah sedikit lesuh.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, prediksi kita salah. Nanti kita menemui dia dan berbicara langsung dengan anak yang tidak tahu diri itu," balas Rudy dengan raut wajah yang sama.


Sementara itu di kota B, di sebuah perusahaan mewah pencakar langit. Tampak Dave sedang memimpin jalanya rapat.


Pria tampan dengan karisma begitu berwibawa sedang berbicara di depan para petinggi perusahaan dan juga para pemegang saham sembari berdiri.


"Perusahaan ini adalah perusahaan kita bersama maka dari itu, tugas kita sama yaitu bagaimana cara agar perusahaan ini bisa berkembang dan maju, bersaing dengan perusahaan lainya. Prisip utama kita yaitu memberi pelayanan pada para konsumen, jadikan mereka raja diatas segalanya dan yang paling utama kita harus jujur dan selalu memberi


kualitas terbaik untuk setiap produk yang kita pasarkan,".


Semua yang ada dalam ruangan rapat mengangguk pelan mendengar penuturan dari Dave.


"Kalau ada yang mau kalian tanyakan silahkan, Aku beri waktu untuk bertanya selama lima menit sebelum rapat ini Aku tutup,".


Belum juga salah seorang petinggi perusahaan dan para pemegang saham mengangkat tangan, tiba-tiba saja sebuah pesan singkat


masuk di telepon genggam milik Dave yang sedari tadi dia letakkan diatas meja rapat.


"Tunggu sebentar,".


Dave mengambil handponenya dan mebuka pesan yang baru saja


masuk.


Seketika raut wajah Dave berubah tak kalah melihan beberapa foto seorang perempuan cantik berpose diatas panggung menggunakan pakaian formal dengan Rok setinggi lutut.


"Apa ini, Ken cepat kemari," panggil Dave pada sekertaris Ken yang saat itu sedang berdiri tak jauh darinya.


"Ada apa Tuan memanggilku?,"tanya Sekertaris Ken.


"Coba lihat ini?, Kenapa Tony mengirimkan poto-poto seperti ini padaku?,".


Dave menyerahkan handpohenya pada sekertaris Ken.


Sekertaris Ken segera mengambil handphone dari tangan Dave kemudian memperhatikan dengan seksama poto-poto yang ada dalam handpone tersebut.


Lama sekertaris Ken terdiam hingga dia mengembalikan benda pipih tersebut pada pemiliknya.


"Itu adalah poto-poto Nyonya Nadia, beliau sedang mengikuti sebuah konpetisi model, memperebutkan hadiah sebuah rumah, sejumlah uang tunai dan juga penanda tanganan


kontrak,".


"Apa kamu bilang!, ini poto Nadia? kamu jangan bercanda. Dia tidak mungkin melepas rambut kepang dan juga kecamatanya. Kalau pun iya,


kenapa dia bisa sampai secantik ini?,". Dave yang tidak begitu percaya dengan apa yang diucapkan sekertaris Ken.


"Nyonya Nadia memang sedari dulu cantik, cuman karena sesuatu hal maka dia menyembunyikan kecantikanya di balik penampilanya," balas sekertaris Ken.


"Terserah apa katamu saja. Tapi apa dalam perlombaan itu banyak pria yang melihatnya ataukah ada yang menjabat tanganya?,".

__ADS_1


"Namanya juga perlombaan pasti banyak penonton yang menyaksikan, di tambah lagi ajang ini adalah ajang bergensi yang sengaja diadakan oleh perusahaan kita untuk mencari


model yang akan kita tempatkan di perusahan baru. Soal jabat tangan


pastinya para dewan juri itu memberi selamat pada Nyonya karena beliau memenangkan lomba tersebut. Ada apa Tuan menanyakan semua itu?,".


"Jelas Aku menanyakan itu, karena dia itu istriku. Dan Aku tidak mau semua orang bisa melihat atau menyentuh sedikit pun kulitnya, cepat atur jadwal kepulangan kita saat ini juga"


Dave sedikit berbisik ketelaga sekertaris Ken lalu kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.


"Baik Tuan. Bapak-bapak sekalian hari ini rapatnya sampai disini saja kapan- kapan kita lanjutin lagi. Kalau ada pertanyaan silahkan hubungi pak Wahyu selaku manager di perusahaan ini," ucap sekertaris Ken


mengumpulkan semua berkas-berkas Dave dan memasukkanya ke dalam tas.


Setelah semua berkas-berkas dan juga laptop sudah berada dalam tas, sekertaris Ken pun menyusul Dave keluar dari dalam ruangan itu.


Para pemegang saham hanya bisa


saling menatap dan megedikkan bahu mereka satu dengan yang lain melihat kepergian Dave dan juga sekertaris Ken secara tiba-tiba.


Dave terus melangkah dan masuk ke dalam lift, ada beberapa menit Dave dalam lift tersebut hingga kembali pintu lift terbuka.


Dav keluar dari dalam sana lalu melanjutkan langkahnya keluar


dari dalam gedung tersebut.


Sapaan para karyawan yang berpapasan denganya atau pun yang sengaja menghentikan aktifitasnya untuk sekedar menyapanya sudah


tidak pedulikan lagi.


Semua pikiranya hanya fokus ke kota A, bagaimana cara agar secepat mungkin bisa menemui Nadia.


Setelah beberapa menit melangkah hingga akhirnya Dave tiba juga dia area parkir dan segera masuk kedalam mobil.


Setelah berada dalam mobil, Dave


Kembali menatap satu-persatu poto-poto Nadia dalam handphonenya.


"Kenapa dia mengikuti ajang seperti ini?. Apa dia sangat membutuhkan uang?, kalau pun iya kenapa tidak meminta langsung padaku berapa jumlah uang yang dia butuhkan?,"


Dave mengucak rambutnya yang tadinya begitu rapi hingga membuatnya tidak beraturan


sama sekali.


Tidak lama kemudia, tampak sekertaris Ken sedang keluar dari dalam gedung itu dan berlari


kecil mendekati mobil di mana Dave sedang berada di dalam sana.


TERUS BERI DUKUNGAN COMENT, LIKE, SHERE DAN VOTE DAN JANGAN LUPA DUKUNG JUGA CHANNEL AKU DI YOUTUBE" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR". TENTUNYA TIDAK KALAH SERU TERIMA KASIH.

__ADS_1



__ADS_2