SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 78. BERTEMU 4 ORANG MUSUH.


__ADS_3

Tidak lama kemudian datang dua karyawati restoran mendekati sambil membawa kue ulang tahun yang ukuranya lumayan besar dan meletakkanya diatas meja di depan mereka.


"Silahkan di nikmati, Kalau masih ada yang kalian butuhkan boleh panggil kami lagi," ucap salah seorang diantara kedua karyawati tadi.


"Terima kasih banyak mba," balas Nadia.


"Sama-sama, kalau begitu kami permisi," keduanya pun berbalik badan dan melangkah meninggalkan mereka bertiga.


"Nyonya Nadia, apa ini tidak berlebihan?, Nyonya sudah menghadiahkan Saya sebuah handphone mahal lalu merayakan pesta ulang tahun Saya sedemikian meriahnya," bibi Ona dengan perasaan bercampur aduk antara senang, sedih dan juga merasa kurang enak hati pada Nadia.


"Ini sama sekali tidak berlebihan bi, bibi patas mendapatkan yang terbaik di hari spesial ini. Sekarang bibi tiup lilinya tapi sebelum itu kita menyanyi dulu lagu selamat ulang tahun dari jamrud, musik,". Nadia mengangkat tangan sedikit tinggi ke udara untuk memberi aba-aba pada pihak restoran agar memutar lagu.


Alunan musik dari artis rock legendaris indonesia terdegar dalam ruangan itu. Para tamu restoran memandang kearah mereka sambil ikut bernyanyi dan bertepuk tangan.


"Sekarang bibi berdoa lalu tiup lilinya," ucap Nadia saat musik sudah terhenti.


Tanpa menunggu waktu bi Ona segera memejamkan mata. Tampak bibir perempuan parubaya itu sedikit bergetar.


"Ya TUHANKU, sebelum Aku menghembuskan nafas terakhirku sekiranya pertemukalah Aku dengan orang yang Aku sayangi, Aamiin,".


"Sekarang bibi tiup lilinya,". perintah Nadia.


Sedikit demi sedikit bi Ona mendekatkan wajahnya kearah lilin lalu meniupnya.


Seketika Nadia dan Rita bertepuk tangan.


"Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga," nyanyi Nadi bersama Rita dengan antusias.


Dengan malu-malu bi Ona memotong kuenya.


"Ini potongan kue pertama untuk Anda Nyonya," bi Ona menyerahkan potongan kue itu pada Nadia.


Sebelum mengambil kue dari tangan bi Ona, Nadia memeluk bi Ona yang sudah dia anggap seperti Ibunya sendiri.


"Terima kasih bi,".


"Sama-sama Nyonya,".


"Semuanya kemarilah" panggil Nadia pada karyawan-karyawati restoran yang masih menyaksikan pesta ulang tahun sederhana itu.


Sumua karyawan dan karyawati yang ada disana segera mendekat dan menyicipi kue tar yang ada diatas meja.

__ADS_1


Walau perayaan sedikit sederhana tapi hikmanya begitu membekas dalam hati bi Ona.


Setelah menikmati pesta kecil-kecilan itu. Nadia memerintahkan karyawan restoran untuk membagikan kue ulang tahun itu pada teman-teman mereka yang tidak sempat datang karena sibuk melayani tamu lain.


"Sekarang saatnya makan-makan," .


Kembali pesanan datang, semua menu istimewa yang ada di restoran itu kembali disajikan oleh para pelayan diatas meja mereka.


Ketiganya pun menyantap hidangan itu dengan sesekali bercanda.


Kring...kring.....kring......


Handphone Nadia berdering dalam tas kecilnya.


"Dave ....ingin video call?," tatap Nadia pada bi Ona dan Rita.


"Angkat saja, siapa tahu ada yang penting Nyonya," ucap bi Ona.


Nadia pun segera mengangguk.


"Iya sayang.....ada apa?," tanya Nadia setelah muncul wajah Deve dilayar handphone.


"Kamu lagi dimana, cintaku, sayangku, kasihku," balas Dave dengan penuh rayuan sambil tersenyum hingga bi Ona dan Rika hanya bisa tertawa mendengar ucapan konyol sang presdir dingin itu.


"Jangankan pada mereka berdua aku perdengarkan kata sanjugan ini bahkan, pada dunia sekali pun Aku bersedia mengatakanya kalau Aku mencintaimu sepenuh dan setulus hatiku,". Dave masih saja tertawa di dalam sana.


"Aku tahu itu tapi kondisikan tempatnya,". Nadia yang tak sanggu melihat kedua orang yang ada dihadapanya yang semakin menjadi-jadi menertawakanya.


"Jadi mau istriku, Aku harus mengatakan itu diatas tempat tidur,".


Bukanya bertambah redah Nadia malah semakin malu dibuat ucapan Dave yang tidak pernah terkontrol kalau masalah di tempat tidur.


"Hiii....kenapa suamiku semakin hari semakin gila. Jangan-jangan selama ini suamiku sudah salah makan obat,".


"Kamu yang membuatku gila sayang, sehari saja Aku tidak melihatmu, Aku bagaikan sepi ditengah-tengah keramaian,".


"Astaga, cobaan apa yang ENGKAU berikan pada hambamu ini TUHAN. Kenapa suamiku sekarang ENGKAU ubah dari pendiam menjadi cerwet seperti ini. Aku rindu Daveku yang dulu bukan yang sekarang,". Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sebelum bertambah ruyam urusanya dan semakin jauh Dave mengoceh masalah ranjang, Nadia segera menonaktifkan handponenya. Bila ada urusan penting, Dave bisa menghubungi sekertaris Ken.


Marah tidaknya Dave padanya, nanti itu urusan belakang asalkan rahasianya tidak didengar oleh bi Ona dan juga Rita.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, ketiganya langsung keluar. Tugas tagihan pesanan mereka itu urusan sekertaris Ken pada pihak restoran.


"Nona coba lihat itu?, sepertinya ada film baru tentang kepolisian, dan pemeranya juga si ganteng Nikolas saputra" tunjuk Rita saat mereka melewati bioskop.


"Sayap-sayap patah, Ayo nonton yuck sebelum kita pulang, katanya alur ceritanya sangat sedih dan kejadianya di mako brimob,". ajak Nadia.


"Ayo....," bi Ona dan bi Rita antusias.


Ketiganya segera melangkah ke pintu masuk bioskop, belum juga beberapa kali mereka mengayun langkah, tiba-tiba 4 orang perempuan datang menghadang.


"Kalian tidak level untuk menton film sekeren ini," ucap salah seorang diantara mereka sambil mendorong tubuh Nadia.


"Hay jangan kasar-kasar dong. Apa Nyonya tidak apa-apa?," Rita yang sigap menangkap tubuh Nadia agar tidak terjatuh.


"Tenang saja Aku baik-baik saja," Nadia memperbaiki posisi berdirinya.


"Nyonya Yunita, kenapa Anda masih terus-terusan mengganggu Nyonya Nadia. Apa belum cukup juga selama ini Nyonya perlakuan Anda pada Nyonya Nadia ," ucap bi Ona pada mantan majikanya itu.


"Tutup mulutmu babu, ini tidak ada urusanya denganmu,". bentak Yunita pada bi Ona.


"Kalau menyangkut Nyonya Nadia itu adalah urusanku. Siapa pun yang ingin mengganggu atau mengusik ketenagan beliau Aku tidak akan tinggal diam siapa pun orangnya termaksud Anda Nyonya Yunita yang terhormat," bi Ona memberi tekanan pada ucapanya.


"Serang kamu sudah berani melawanku, dasar babu tidak tahu diri," Yunita mencoba menampar bi Ona tapi dengan cepat bi Ona menghindar dan menangkap serta memutar tangan Yunita kebelakang.


"Sakit ..babu, cepat lepasin,". ringis Yunita.


"Ini belum seberapa. Ampun tidak,".


bi Ona semakin memutar tangan Yunita.


"Iya...iya ampun,".


"Bagus," bi Ona segera melepas peganganya dari pergelangan tangan Yunita.


"Awas saja kamu nanti babu sialan,".


"Bu sepertinya, mereka ini bukan perempuan lemah, lihatlah teman si cupu yang usianya sudah hampir masuk kelihang lahat saja masih memiliki kekuatan yang luar biasa. Apa ibu yakin kita bisa mengalahkan mereka?,". bisik Elis pada ibunya.


"Betul juga katamu, tapi tenang saja ada Nelza disini. Biarkan dia yang menghadapi si cupu itu dan teman-teman gembelnya. Kita tunggu menikmati hasilnya saja," balas Anita.


Yuck ikuti terus novel terbaru Author di Youtube" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN," makin hari makin seru. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2