
Setibanya di depan toko, Mawar dan Yunita segera keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju kearah pintu masuk toko.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu keduanya langsung masuk untuk mencari keberadaan Nadia.
"Nadia dimana kamu?, cepat keluar atau semua barang-barangmu kami hancurkan sekarang juga," teriak Yunita setelah mereka sudah berada di dalam toko.
Bi Ona dan Rita yang saat itu sedang membuat kue di dapur segera menghentikan aktifitasnya dan berlari kecil keluar dari ruangan itu.
"Kenapa Nyonya teriak seperti orang yang kesurupan?," tegur bi Ona pada Yunita.
"Apa kamu bilang Aku kesurupan, Hai babu cepat kayakan dimana Nadia?," bentak Yunita pada bi Ona.
"Untuk apa lagi Anda mencari Nona Nadia, bukankah kalian sudah mengusirnya?,".balas bi Ona sedikit menekan emosi.
"Ini bukan urusanmu, cepat katakan dimana gadis cupu itu," Yunita melayangkan padanganya kesegala arah untuk mencari keberadaan Nadia.
"Nona Nadia lagi keluar membeli bahan kue, Kalau ada yang perlu Anda tanyakan padanya, Anda boleh beri tahu pada saya, biar Nanti saya
yang menyampaikan langsung pada Nona Nadia,".
"Kamu jangan membohongiku!, Nadia cepat keluar.....," Teriak Yunita semakin Nyaring hingga memecah seisi dalam ruangan itu.
"Sampai urat leher Anda putus pun Nona Nadia tidak bakalan keluar to orangnya lagi keluar,".Kini Rita yang mengangkat bicara.
"Kalian berdua jangan coba-coba
menyembunyikan si cupu itu dari kami, cepat suruh dia keluar," Mawar maju dan sedikit mendorong tubuh Rita.
Melihat perlakuat Mawar padanya, Rita pun tidak terima. Dengan sigap Rita meraih pergelangan tangan Mawar dan memutarnya sehingga
membuat suara Mawar melengking seperti kuda yang kejepit lalu ketindis pintu beribuh-ribuh jumlahnya.
"Awoo.....sakit," Ringis Mawar.
"Makanya jangan macam-macam denganku, Sekali lagi kamu berani menyentuhku maka, Aku tidak akan segan-segan meremukkan tulang belulang tangan kurusmu ini, paham,".
Rita mendorong tubuh Mawar hingga berbenturan dengan Yunita.
"Kurang ajar, berani-beraninya kamu menyakiti putriku," Yunita yang saat itu menopang tubuh Mawar yang hampir saja terjatuh.
"Orang seperti kalian berdua ini memang patut di beri pelajaran agar tidak semenah-menah pada
orang lain," bi Ona kala itu tersenyum kearah Rita seolah-olah mendukung apa yang barusan Mawar lakukan pada Mawar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, muncul Nadia dari arah pintu masuk dengan menenteng beberapa kantong plastik di tanganya.
"Ada apa ini?, kenapa kalian berdua melakukan keributan di toko kami," Nadia meletakkan barang bawaanya di atas meja.
"Ini dia orangnya, Hay Nadia.....kami datang kemari untuk mengingatkanmu. Jika suatu saat Leon datang menemuimu, kamu jangan coba-coba memberi tahu padanya kalau pernikahanmu dengan tuan Dave adalah paksaan dari kami. Kalau sampai itu kamu melakukanya, maka kami tidak akan segan-segan menyingkirkanmu dari kota ini," ancam Yunita sambil menunjuk kearah Nadia.
Seketika itu juga Rita menutup mulutnya lalu menatap kearah bi Ona.
"Hii takut...... ha..ha..ha..., ternyata ada rasa takut juga di dalam hati kalian berdua. Dengarkan baik-baik
Nyonya Yunita dan kamu Mawar. Dulu memang Aku takut bila kalian mengancamku seperti ini, tapi sekarang tidak lagi. Jadi, jangan coba-coba mengancampu karena sampai kapan pun, Aku tidak akan bakalan takut seperti dulu," Nadia
melipat kedua tanganya di depan dada.
"Kurang ajar kamu Nadia, anak tidak tahu diri," Yunita melayangkan telapak tanganya kearah wajah Nadia tapi dengan sigap, Nadia menangkapnya lalu kemudian memutarnya.
Sama seperti Mawar tadi, Yunita pun meringis kesakitan.
"Sakit.........,".
"Oh ..sakit ya!, seperti inilah rasanya diriku dulu saat kalian berbuat tak adil padaku. Kalian menjambak rambutku dan menginjakku bak hewan. sekarang Nyonya bisa rasakan sendiri bukan bagaimana rasanya Aku saat itu?,.
"Cepat lepaskan....Mawar tolong ibu,".
"Awo.......,".
"Cepat pergi dari sini sebelum kami bertiga memasukkan kalian berdua dalam oven," tunjuk Nadia kearah pintu keluar.
"Awas saja kamu nanti Nadia,".
Yunita dan Mawar seketika berdiri dan melangkah keluar dengan saling membopong satu dengan yang lain.
Sepeninggalan Yunita dan Mawar, Nadia, Rita dan juga bi Ona segera masuk ke dapur sambil membawa barang belanjaan yang baru dibawa
Nadia.
Mereka bertiga kembali bergulat dengan kerjaan mereka seperti sebelum-sebelumnya hingga tidak terasa beberapa jenis kue kering sudah jadi dan tegeletak rapi diatas meja.
"Nona, apa Saya boleh tanya sedikit?," Rita yang saat itu sedang memasukkan kue ke dalam topleks.
"Silahkan, Rit" balas Nadia yang melakukan hal yang sama dengan Rita dan bi Ona.
"Apa benar Tuan Dave itu suami Anda?,".
__ADS_1
Sebelum menjawab, Nadia menatap kearah bi Ona dan dibalas Bi ona dengan anggukan kecil.
"Maaf Rit, Aku sengaja menyembunyikan semua ini padamu karena Aku tidak mau membuatmu
merasa turut sedih dengan apa yang Aku alami,".
"Jadi benar kecurigaanku selama ini kalau kalian itu ada hubungan spesial. Yang jadi pertanyaanya, apa Tuan Dave memperlakukan Anda dengan baik?. Seoalnya dari kabar yang beredar selama ini, Tuan Dave itu adalah seorang pria dingin, arogant dan satu lagi sombongnya melebihi manusia pada umumnya,".
"Terkadang apa yang kita lihat dan dengar itu tidak selamanya benar. Tuan Dave itu sebenarnya lembut, baik walau terkadang kali dia itu sangat menjengkelkan," Nadia memanyun-manyunkan bibirnya.
"Cie...ada yang lagi jatuh cinta nih," potong bi Ona dan disamput cekikitan dari Rita.
"Hii..apaan sih, Aku hanya mengutarakan hal sesungguhnya," sangkal Nadia.
"Iya, kami tahu, tapi wajahnya tidak usah semerah itu kali Non," ungkap bi Ona sembari tertawa dikuti oleh Rita.
Nadia hanya diam sembari tertunduk. Butuh waktu sekitar 30 puluh menit hingga mereka bertiga selesai juga mengemas semua kue kedalam topleks.
"Rit, tolong hubungi Joko dan suruh dia untuk mengantar kue-kue ini ke alama si pemesan sebelum menjelang sore,".
"Baik Non," balas Rita lalu mengeluarkan habdphonenya dari dalam saku celananya.
Tidak berselang lama kemudian, kini semua topleks berisi kue yang baru mereka kemas sudah habis diantar oleh kurir.
"Non, bi, Rita pamit dulu soalnya tukan ojek saya sudah datang," Rita yang kini sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Iya, kamu hati-hati, ya Rit," balas Nadia dan dianggukan oleh bi Ona.
"Iya Non, kalau begitu sampai jumpa esok pagi, bye.....,".
Rita melangkah keluar dan meninggalkan Nadia dan bi Ona disana.
"Non, apa tidak sebaiknya Nona pulang juga, takutnya tuan Dave sudah pulang dan menunggui Anda di mension,".
"Sebentar lagi bi, ini juga lagi nungguin jemputan. Kata tuan Dave tadi pagi, dia sendiri yang akan datang menjemputku disini saat dia
pulang kerja nanti," balas Nadia.
"Gitu ya, Tuan Dave sekarang sudah perhatian sekali sama Nona, Jangan-jangan beliau benar-benar
sudah ada hati goyang-goyang," senyum bi Ona sembari duduk diatas sofa.
Mohon dukunganya untuk terus nonton channel Youtube Aku sebelum cerita ini di lanjutkan. Ya sekedar menunggu episode berikutnya. "PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR," akan up sebelum kisah Nadia di mulai. Jangan lupa untuk di subcreb, like, comen dan nyalakan lonceng notifikasinya agar tidak ketinggalan video terbaru dari Aku. Terima kasih.
__ADS_1