
Tiga minggu setelah kejadian itu, Kini kondisi Nadia dan bayi-bayinya sedikit membaik. Dokter sudah mengizinkan ibu dan anak itu untuk pulang.
Suasana dalam ruangan tempat Nadia menginap bersama dengan bayi-bayinya mulai kelihatan ramai.
Disana sudah ada bi Ona, Rita, Goyun,
sekertaris Ken, Diana, Tania, Dewi, Nabila dan tentunya suami tercinta yang senang tiasa ada disana untuk menemani istri dan juga buah hati
mereka.
"Tuan, hari ini Nyonya dan bayi-bayi kalian boleh pulang, tapi tetap masih dalam pengawasan.kami mengingat bekas operasi Nyonya belum sepenuhnya pulih betul," ucap Dokter Andy yang baru saja datang bersama dengan seorang perawat.
"Baik Andy!, terima kasih atas semuanya," balas Dave sambil menjabat tangan dokter Andy dan
tersenyum.
"Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu karena masih banyak pasien yang harus Saya tangani," dokter Andy pun pergi.meninggalkan ruangan itu diikuti oleh perawat
yang bersamanya.
Setelah kepergian dokter Andy, Dave melangkah mendekati Nadia yang saat itu sedang duduk bersama, Rita, Tania, Dewi, Diana dan juga Nabila sembari menggendong putrinya kecilnya sedangkan putranya di
gendong oleh bi Ona.
"Sayang, apa kamu sudah siap pulang
kemension?,"
"Iya, tapi apa dokter Andy sudah mengizinkan Kita untuk membawa bayi-bayi kita juga?,".
"Dokter Andy sudah mengizinkan tapi kamu dan bayi-bayi kita masih harus mendapat pengawasan ketat dari pihak rumah sakit,".
"Syukurlah kalau begitu, Tolong pegangi putra kita ini, Aku mau siap-siap dulu," Nadia berdiri dan memyerahkan bayinya pada Dave.
"Dengan senang hati sayang," Dave segeramengambil putra lalu menggendongnya kemudian menciumnya beberapa kali.
Bayi mungil itu seketika tertawa sembari menendang-nendangkan kakinya.
"Hay jagoan Ayah, kamu sudah mulai merespon dan juga mulai mengenal Ayah tampanmu ini,".
"Jangan terlalu pede dan narsis di depan mereka. Aku tidak mau kelak dia seperti dirumu,". Nadia yang saat itu mulai mengemas dan memasukkan pakaianya kedalam tas di temani yang lain.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau kelakuanya seperti diriku toh dia ini memang putraku. Yang salah itu kalau ulahnya mirip tetangga baru kamu bisa protes," kembali Dave mencium pipi gembul bayi yang ada di gendonganya.
"Terserah suamiku saja, Aku melarang pun mana mungkin suamiku mau mendengar,".
Setelah semuanya sudah siap, kini mereka semua melangkah kearah pintu keluar. Belum juga salah satu diantara mereka keluar dari dalam ruangan itu seorang pria tampan berlari menghampiri mereka dengan deru nafas yang tidak beraturan.
"Tunggu dulu, kenapa kalian tidak
menungguku?," protes pria itu sembari mendekati bi Ona.
"Memangnya siapa dirimu yang harus kami.tunggu," Dave sambil mengernyitkan dahinya.
"Apa kamu sudah lupa, kalau darah yang mengalir pada kedua bayi imut ini juga mengalir darahku. Itu artinya mereka ini bayi-bayi Aku juga, bi Tolong berikan bayi itu padaku biar Aku menggendongnya," Leon mengambil bayi mungil itu dari tangan bi Ona.
"Jadi kamu mendonorkan darahmu hanya karena menginginkan sebuah imbalan," tendang Dave pada kaki Leon.
"Di dunia ini mana ada yang gratisan. Jadi diamlah, disini hak kita sama, sama-sama sudah menjadi ayah bagi mereka berdua. Iya kan sayang?,"
Leon mencium pipi gembul bayi itu kiri dan kanan secara bergantian.
Tampak bayi imut itu tertawa mendapat perlakuan seperti itu oleh Leon. Tapi lain halnya dengan Leon, seketika wajahnya berubah jadi masam tak kalah ada cairan panas mengalir pada bajunya.
"Ha ha..ha itu adalah imbalan untukmu jadi terima saja," tawa Dave memecah seisi ruangan hingga membuat yang lain ikut tertawa.
Mereka pun pergi meninggalkankan rumah sakit menuju kearah mension untuk mengadakan syukuran atas pulangnya Nadia dan juga bayi- bayinya.
Pesta berjalan begitu meriah walau hanya mengundang orang-orang terdekat mereka saja. Berbagai hidangan dan juga minuman tersaji
diatas meja.
Mereka semua menikmati pesta
tersebut dengan sangat antusias.
Hingga tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, siang berganti sore dan sore berganti malam.
Para sahabat dan tamu pun pulang kerumah mereka masing-masing.
Dave mengantar Nadia ke kamar dimana tiga orang perawat sedang menjaga bayi-bayi mereka yang sedang tertidur pulas.
"Kalian boleh beristirahat sekarang," ucap Dave pada ketiga perawat itu setelah mengantar Nadia ke pembaringan.
__ADS_1
"Baik Tuan," ucap ketiganya dan berlalu meninggalkan mereka.
"Sayang beristirahatlah, biar Aku yang menjaga mereka,".
"Apa tidak apa-apa kamu menjaga mereka sendiri,".
"Tidak apa-apa sayang tenang saja, Aku pasti bisa menjadi ayah yang siaga bagi mereka berdua," Deve tersenyum sembari mengangguk.
"Terima kasih suamiku, kamu benar-benar pengertian," Nadia membaringkan tubuhnya diatas pembaringan. Dave menyelimuti tubuh Nadia dan mencium keningnya.
"Bermimpilah yang indah bibadariku,"
Setelah Nadia memejamkan matanya, Dave melangkah ke arah pembaringan kecil dimana kedua bayinya sedang tertidur nyenyak disana.
Dave mendudukkan tubuhnya di sudut pembaringan kecil itu dan menatap lekat kearah dua bayi mungilnya.
"Lekaslah besar maikat-maikat kecil ayah, jadilah anak yang berguna bagi agama, negara dan
juga menjadi kebanggaan ayah dan ibu, Aamiin," Dave mencium kening putra-putrinya secara bergantian.
Dave terduduk sembari tertidur di depan kedua bayinya. Hingga dia harus terbangun karena mendengar tangisan dari salah satu dari mereka.
Dave berdiri dan mendapati putrinya sedang.menangis.
"Kamu kenapa sayang," Dave lalu memeriksa popok putrinya.
"Astaga, kamu pipisnya," Dave mengganti popok putrinya dengan sangat hati-hati sekali.
Kembali putri kecilnya tertidur, Dave melanjutkan tidurnya dengan terduduk seperti tadi.
Belum juga dia masuk kedalam alam mimpinya, kembali putranya menagis. Dave kembali harus bangun dan mendapati popok putranya basah karena BAB.
Dengan telaten Dave mengganti popok putranya seperti yang dilakukan tadi pada putrinya tadi.
Tanpa mengelu sedikit pun Dave melakukan itu semua.
"Ternyata beginilah pengorbanan kedua orang tuaku dulu saat mereka merewatku, mereka tidak pernah mengeluh dengan apa yang mereka lakukan padaku. Ya ALLAH tempatkanlah mereka berdua di tempat yang layak di sisiMu dan ampunkalah dosa-dosa mereka serta sayangilah mereka seperti mereka menyanyangku. Amiin. Ayah, ibu terima kasih atas semuanya. Aku tidak akan melupakan semua jasa-jasa dan kebaikan kalian dalam hidup Dave," Dave mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
SEBENARNYA CERITA INI MASIH PANJANG TAPI MENGINGAT PENGHASILAN HANYA 2 RIBUH SAMPAI 3 RIBUH PERHARI MAKA, AUTHOR AKAN MENAMATKAN KiSAH INI 2 SAMPAI 3 BAB LAGI. BAGI TEMAN-TEMAN YANG MAU MEMBACA CERITA TERBARU DARI AUTHOR SILAHKAN BERKUNJUNG DI CHANNEL YOUTUBE AUTHOR" DUNIA FANTASY" JANGAN LUPA UNTUK MEMBERI LIKE, COMENT, LIKE, SHERE DAN SUBSCRIBE. TERIMA KASIH.
__ADS_1