SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 106. KEDATANGAN GOYUN.


__ADS_3

Sesaat pria parubaya itu terdiam dan memandang aneh pada Rita.


"Loh kok bapaknya cuman bengong, hallo,!," Rita melambaikan tangan di depan pria tersebut.


"Maaf-maaf, kalau tidak salah ini toko milik nyonya Nadia bukan?, Aku pernah kesini sekali menemani tuan Dave,".


"Betul sekali, tapi sayang nyonya Nadianya lagi gak masuk,".


"Aku tidak mencari beliau karena Aku tahu beliau pergi dengan tuan Dave kerumah sakit,".


"Rumah sakit?," apa beliau sakit?,".


"Beliau sehat. Kalau boleh tanya di sini ada yang bernama Markonah gak!. Soalnya dulu dia pernah memberi alamatnya disini,".


"Markonah?," tanya Rita sembari mengerutkan dahinya.


"Iya, Markonah, Mar...ko...nah," eja pria parubaya itu.


"Iya..iya Saya tahu kalau bapak cari markonah tapi tidak usah dieja sedetail itu juga kali pak. Disini tidak ada yang namanya Markonah kalau jesselyn ada,".


"Aku tidak mencari orang luar tapi orang pribumi. Selain kalian berdua apa masih ada orang lain lagi yang tinggal disini?,'.


"Sudah tidak ada lagi, cuman kami berdua,".


"Masa setega itu Markonah memberi alamat palsu padaku, Segitu marahnyakah dia padaku hingga alamatnya saja sampai-sampai dia palsukan,".


"Rita......siapa yang datang?," bi Ona tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Bapak ini mencari Mar......,".


"Markonah..., ini dia Markonahku," pria mendekati bi Ona dan memegang tanganya.


"Jangan pagang-pegang," bi Ona menarik tanganya.


"Bukankah nama bi Ona Jesselyn, kenapa sekarang berubah jadi Markonah. Seperti Ratu turun jadi pelayan," Rita tertawa hingga membuat wajah bi Ona merah bak tomat rebus.


"Markonah bagaimana kabarmu?,".


"Sudah Aku bilang jangan panggil namaku seformal itu. Ona saja, itu lebih bagus. Coba lihat gadis jomlo itu, dia pasti tidak akan berhenti membullyku,"


"Salah bibi sendiri, siapa suruh menyembunyikan identitas asli bibi. Sudah bagus namanya Markonah malah di ubah jadi Jesselyn kan aneh,".

__ADS_1


"Hiiii...anak ini,".


"Sudah, ada baiknya kita masuk, soalnya ada hal penting yang ingin Aku bicarakan padamu, Ona!," Goyon membawa bi Ona keruang tamu.


Sementara Rita kembali ke dapur dan terus saja tertawa menyebut nama Markonah.


Setibanya diruang tamu keduanya langsung duduk.


"Ona, Aku datang kemari karena ada hal yang ingin Aku sampaikan padamu,".


"Apa itu?, katakan secepatnya seoalnya Aku lagi sibuk, banyak pesanan kue pelanggan yang harus kami buat,".


"Sepertinya kamu masih marah atas peristiwa itu, Demi ALLAH Ona, Aku tidak pernah melakukan hal itu. Semuanya hanya fitnah untuk memisahkan kita,".


"Tapi semuanya sudah terjadi, ada baiknya kita jalani hidup kita masing-masing, itu lebih baik," bi Ona mencoba berdiri tapi segera di cegah oleh Goyun.


"Aku harus berbuat apa lagi Ona untuk meyakinkanmu kalau Aku sangat mencintaimu, Aku sudah tutup pintu hati ini dan sudah membuang nama cinta untuk perempuan lain hanya karena di hati ini hanya ada satu nama dan satu cinta yang terukir yaitu namamu Ona," Goyun bersimpuh di hadapan bi Ona.


"Terima saja, jangan malu-malu.Bukankah bibi sering cerita kalau selama ini bibi juga sangat merindukanya. Makanya sampai sekarang ini bibi tidak menikah-menikah karena masih mengharapkan pria idaman bibi bukan?. Selagi masih ada kesempatan singat bro.....," Rita yang tiba-tiba datang sambil membawa teh dan beberapa kue kering dalam topleks.


"Kamu ini seperti hantu saja, tiba-tiba ada tiba-tiba hilang. Pergi tidak?,".


"Baik bi Markonah, tapi jangan lupa di minum tehnya paman, terus berjuang demi mendapatkan cinta yang abadi. Semangat....," Rita beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa benar yang di katakan gadis itu kalau kamu juga selama ini merindukanku?,".


"Mau bilang apa lagi, semua sudah di bilang oleh si ember bocor itu,".


"Jadi benar, Kamu juga menyimpan rindu sebesar Aku menyimpan Rindu untukmu,". Goyun berdiri.


Bi Ona tidak menjawab dia hanya mengangguk pelan sambil membuang pandanganya ke tempat lain.


"Terima kasih sayang, karena kamu masih menyimpan cintamu untukku," Goyun memeluk bi Ona dengan segat erat sambil mencium pucuk kepalanya.


"Lepasin Goy, malu dilihatin si Rita, entar dia lapor pada nyonya Nadia bisa malu kita jadinya," bi Ona sambil melihat kearah dapur jangan sampai Rita melihat adegan itu.


"Baiklah, tapi lain waktu kita bisa melakukanya lagi bukan?," Goyun menyolek dagu bi Ona dengan jari telunjuknya.


"Kenapa sekarang kamu genit sekali, Aku tidak percaya kalau kamu masih perjaka seperti ucapanmu dulu,".


"Apa kamu mau bukti,".

__ADS_1


"Bukti apa yang ingin kamu perlihatkan Goyun," dua orang segera masuk dan mendekati mereka.


Bi Ona dan Goyun segera berdiri.


"Tidak ada bukti apa-apa tuan," Goyun sedikit menunduk dan memberi ruang pada Dave dan Nadia untuk duduk begitu pula yang di lakukan oleh bi Ona.


"Terus kenapa sampai kamu bisa ada disini?,". tanya Dave sambil duduk bersama Nadia di sofa.


"Bukan tanpa alasan Saya datang kemari tuan. Saya berniat membeli kue buat keluarga di kampung, soalnya sebentar lagi ada hajatan disana,".


"Sayang, Aku curiga kedua orang ini memiliki hubungan spesial, tadi saat kita baru datang mereka duduk berdekatan pas kita mendekat mereka seperti magnet antara kutub utara dan kutub selatan,". Nadia berbisik pada Dave.


"Aku juga merasa seperti itu. Tapi biarlah, dari pada mengurus urus mereka lebih baik Aku mengurusmu dan kedua calon bayi kita yang ada disini,". elus Dave pada perut Nadia.


"Hiii....kamu ini, ditanya serius pasti ujung-ujungnya ke tempat lain,".


"Baiklah, Aku akan mengurus mereka kalau begitu. Bi Ona tolong buat kue sebanyak-banyaknya buat Goyun dan siapkan sebelum hari Hnya tiba. Semua biayanya Aku yang tanggung,"


"Baik tuan," bi Ona segera melangkah kearah dapur.


"Terima kasih banyak tuan atas kebaikan Tuan," Goyun kembali membungkukkan badan.


"Bagaimana, bereskan sayang," Dave memainkan kedua alisnya menatap kearah Nadia.


"Tidak usah di bayar, biar Aku yang menghadiahkan itu buat paman, hitung-hitung sebagai ucapan terimah kasihku pada beliau karena selama ini beliau sudah membantu kita,".


"Sekali lagi terima kasih banyak tuan dan nyonya, semoga kebaikan kalian dibalas oleh ALLAH,".


"Aamiin,".


Setelah bercengrama sedikit dengan Rita dan bi Ona, Nadia pun pamit pada mereka.


"Bibi persiapin baju-baju bibi nanti malam, besok pagi paman Goyun akan datang menjemput bibi kemari," ucap Nadia.


"Aku kesepian lagi dong nyonya...," Rita yang saat itu memeluk bi Ona seperti seorang anak memeluk ibunya.


"Tenang...tenang, Dewi anak pak Herman, langganan ojekku dulu akan datang menggantikan posisi bi Ona. Atau kalau perlu, Aku menyuruh Leon untuk menemanimu disini," senyum Nadia hingga membuat raut wajah Rita berubah.


Tidak lama kemudian Dave Nadia pulang kembali kemension.


SAYA SEBENARNYA SUDAH MALAS MELANJUTKAN NOVEL INI SOALNYA MAKIN HARI PEMBACANYA MAKIN KURANG. LEBIH BAIK FOKUS DI YOUTUBE. BAGI TEMAN2 PENCINTA CERITA PENDEK DEWASA YUCK MAMPIR DI CHANNEL AKU. TERIMA KASIH.

__ADS_1



__ADS_2