SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 51. IKUT KE TOKO.


__ADS_3

Nadia pun melangkah meninggalkan tempat itu. Setibanya di depan kamar, Nadia segera masuk, sudah ada Goyun disana berdiri disamping pembaringan sedang Dave duduk diatas pembaringan sambari menyandarkan tubuhnya pada punggung tempat tidur dengan laptop berada di pangkuanya.


"Suamiku, sarapanlah dulu setelah itu minum air jahenya untuk menghangatkan badan sekaligus


menghilangkan rasa pusing," Nadia meletakkan nampan diatas nakas.


"Sebentar lagi," balas Dave yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di dalam laptop.


"Suamiku bisa lanjutkan ini nanti," Nadia menyingkirkan laptop yang ada di pangkuan Dave dan meletakkanya diatas pembaringan tak jauh jaraknya dari posisi Dave saat ini.


"Kamu ini cerewet sekali,".


"Biarin. Ini ambillah dan makan. Setelah itu suamiku minum air jahenya," Nadia menyerahkan mangkok berisi bubur pada Dave.


Dave mengambilnya kemudian meletakkanya diatas pangkuanya.


"Kenapa hanya di lihatin saja, ayo makan selagi masih hangat".


"Ini masih panas. Coba lihat, uap panasnya masih ada,".


"Hi..hiiii kayak anak kecil saja, Kemarikan padaku," Nadia kembali mengambil mangkok tersebut lalu duduk berhadapan dengan Dave.


Palan-pelan Nadia mengaduk bubur dalam mangkok tersebut kemudian sesekali meniupnya.


"Nah ..sudah dingin, coba buka mulutnya," Nadia menyodorkan sesendok bubur ke mulut Dave.


Dave segera membuka mulut, Nadia kemudian mendekatkan sesendok bubur itu kemulut Dave.


Dave menyambutnya, sedikit demi sedikit mulai mengunya.


"Enak juga," ucap Dave dalam hati.


"Enak bukan?, siapa dulu dong saya," Nadia tersenyum kemudian kembali mengaduk bubur dalam mangkok.


"Siapa bilang enak," sangkah Dave.


"Jadi, maksud suamiku bubur buatanku ini tidak enak?," Nadia memplototkan matanya pada


Dave.


Dave tidak menjawab dia hanya mengangguk kecil tanda mengiyakan.


"Baiklah kalau suamiku tidak menyukainya. Paman Goyun kemarilah," panggil Nadia pada


Goyun yang saat itu berdiri di depan mulut pintu.


Mendengar namanya di panggil, Goyun lalu mendekat.


"Ada apa Nyonya memanggilku?,"


"Kata suamiku, bubur buatanku ini tidak enak, jadi paman duduklah di sini biar Aku menyuapin paman. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihku karena selama ini paman


sudah sangat baik padaku," Nadia menunjuk kursi yang ada di depanya.


"Tapi Nyonya?," Goyun sedikit menatap kearah Dave dan menarik sedikit kursi ke belakang.

__ADS_1


Belum juga Goyun duduk di kursi itu, Dave sudah menarik tangan Nadia yang sedang memegangi mangkok.


"Siapa bilang tidak enak, cepat suapin Aku lagi. Goyun, cepat kembali ketempatmu,".


Goyun hanya bisa pasrah dan kembali ketempatnya semula dengan wajah sedikit bingung.


"Ketahuan bukan?, makanya jangan malu-malu kan jadinya malu-maluin. Cepat buka mulutnya biar Aku suapin lagi," Nadia kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Dave, dengan sigap Dave kembali menyambutnya.


Ada sekitar tujuh menit Nadia menyuapin Dave, hingga bubur dalam mangkok tersebut benar-benar habis.


Nadia berdiri dari tempat duduknya lalu meletakkan mangkok di atas nakas kemudian mengambil gelas yang ada sana.


"Nah, sekarang, minumlah air jahe ini,".


"Aku tidak pernah minum air semacam ini,".


"Makanya suamiku harus membiasakan diri. Minumlah selagi masih hangat,".


Mau tidak mau terpaksa Dave mengambil gelas dari tangan Nadia lalu meminum isinya.


"Gimana rasanya!, enak bukan?," tanya Nadia saat air dalam gelas tersebut tinggal setengahnya.


"Lumayan," Dave mengembalikan gelas tersebut pada Nadia.


Nadia mengambilnya kemudian berdiri dan meletakkan gelas tersebut diatas nakas berdekatan dengan bangkok yang tadi.


"Kalau begitu Aku permisi dulu, suamiku istirahatlah untuk memulihkan kondisi badan," Nadia mengambil tas kecilnya lalu beranjak menuju kearah pintu keluar.


"Kamu mau kemana?," cegah Dave.


menghentikan langkahnya.


"Kalau begitu Aku ikut," Dave turun dari tempat tidur lalu mengambil sweeter yang tergantung di dinding.


Seketika mata Nadia melotot mendengar ucapan Dave.


"Untuk apa suamiku ikut?. Bukankah suamiku sedang sakit?," tanya Nadia begitu heranan.


"Aku sudah sembuh, cepatlah," Dave menarik pergelangan tangan Nadia dan membawanya menuju kearah pintu keluar.


Goyun hanya menggeleng kepalanya melihat kedua majikanya itu lalu mengikuti mereka dari arah belakang.


Dave terus melangkah memegangi pergelangan tangan Nadia menuruni tangga hingga mereka terpaksa berhenti takkala melihat Anita dan


Elis berdiri tepat di anak tangga bagian paling bawah.


"Dave, kamu mau kemana?," tanya Anita.


"Mau ke toko kue Istriku, memangnya kenapa?," balas Dave acuh.


"Ibu hanya mau ingatin ke kamu kalau nanti sore Nelza datang dari Amerika,".


"Aku sudah mendengarnya tiga kali jadi tidak usah di ulang-ulang lagi," balas Dave masih dengan nada acuh.


"Tapi Nelza mau kalau kamu yang

__ADS_1


menjemputnya," sambung Anita lagi.


"Biarkan Ken yang melakukanya, Ayo pergi,".


Dave kembali menarik pergelangan tangan Nadia dan membawanya pergi dari sana dengan Goyun yang masih setia mengekori mereka berdua dari arah belakang.


"Ibu, kakak benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan kak Nelza," Elis yang menatap kepergian mereka bertiga.


"Benar, sejak kedatangan si culun itu, Dave benar-benar sudah berubah. Kalau begini terus, rencana kita akan gagal untuk mengendalikan Dave melalui perantara Nelza,".


"Terus apa yang harus kita lakukan bu untuk memisahkan si culun itu dengan kak Dave?. Mustahil bukan, kalau kita hanya berdiam diri saja melihat kedekatan mereka berdua yang semakin hari semakin terlihat kalau kak Dave mulai menyukai si culun itu,".


"Ibu tahu, Maka dari itu, Ibu tidak akan membiarkan rencana yang selama bertahun-tahun ibu rancang musnah hanya dengan kehadiran cupu yang tak tahu diri itu. Mulai sekarang kita cari informasi tentang Nadia lalu kita cari titik kelemahanya,".


"Rencana yang bagus, Kalau begitu ayo kita siap-siap untuk menyambut kedatangan kak Nelza. Setelah itu, kita susun kembali strategi berikutnya untuk menyingkirkan si cupu itu dari


sisi kak Dave,".


Keduanya meninggalkan tempat itu


menuju kearah kamar mereka.


Sementara itu, Dave terus membawa Nadia menuju kearah garasi mobil dan berhenti tepat di depan sebuah mobil mewah.


Sekertaris Ken yang baru saja tiba dengan mengendarai mobil segera keluar dari dalam mobil dan berlari kecil menghampiri mereka berdua.


"Tuan dan Nyonya mau kemana?," tanya sekertaris Ken.


"Aku mau ke toko kue," jawab Nadia.


"Aku juga," Dave tidak mau kalah hingga membuat sekertaris Ken menatap kearah Goyun yang seketika itu juga mengedikkan bahunya.


"Kalau begitu, biarkan Aku yang mengantar Anda berdua,".


"Aku juga pintar nyetir, cepat singkirkan mobilmu dari sana, karena Aku mau lewat," perintah Dave pada sekertaris Ken.


"Baik Tuan,".


kembali sekertaris ken berlari kecil kearah mobil yang baru saja dia tumpangi lalu kemudian menepikanya untuk memberi jalan pada mobil yang akan di tumpangi Dave dan juga Nadia.


"Ayo masuk," perintah Dave.


"Apa suamiku yakin ingin ke toko kue?, bukanya apa-apa, cuman sekedar beri tahu saja, disana


itu tidak ada hiburan. Hanya ada kedua teman Aku dan juga alat-alat dapur untuk mencetak kue,".


"Masuk saja dulu, nanti baru kita lihat disana,".


Dave membuka daun pintu bagian depan buat Nadia.


Nadia hanya bisa pasrah. Berbagai macam cara telah dia lakukan agar Dave mengurungkan niatnya untuk ikut tetapi, tetap saja gagal.


TERUS IKUTI AUTHOR DI YOUTUBE" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" YANG TIAP HARI CERITANYA MAKIN SERU . TERIMA KASIH.


__ADS_1


__ADS_2