
Sementara itu di depan pintu masuk mension, Goyun terus saja membuntuti Dave dari arah belakan. Sepertinya pria parubaya itu tidak mau melepaskan Dave pergi seorang diri untuk mencari Nadia.
"Tuan bila Nona Nadia sampai tahu kalau Tuan mengemudi dalam keadaan terluka maka beliau mungkin tidak akan kembali lagi menemui Anda,".
Kembali Dave berhenti dan berpikir sejenak.
"Ambillah!, ini Aku lakukan bukan karena Aku takut dengan ancamanmu tapi karena menghormati perhatian istriku," Dave melemparkan kunci mobil kearah Goyun.
Seketika Goyun tersenyum. Ternyata kelemahan Dave ada pada Nadia.
Goyun segera membuka pintu mobil buat buat Dave.
Setelah Dave sudah berada di dalam mobil. Goyun ikut masuk kedalam dan menyalakan mesin mobil.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan mension menuju kearah toko Nadia.
Tanpa ada satu kata keluar dari mulut keduanya hingga akhirnya tidak terasa mobil yang dikemudikan oleh Goyun berhenti di depan toko
Nadia.
Keduanya segera keluar dari dalam mobil. Tampak toko kue itu terlihat mencekam. Hanya lampu bagian luar saja yang menyala sedangkan bagian dalam gelap gulita.
"Tuan sepertinya Nyonya tidak ada di dalam," Goyun yang saat itu mengikuti langkah Dave dari arah belakang.
"Aku tidak peduli, Istriku ada atau tidak Aku akan terus menunggunya disini, kalau kamu mau pulang, pulang saja," bentak Dave.
"Apa?, Tuan mau menginap disini?," tanya Goyun kurang yakin.
"Iya, Aku akan menunggu sampai Nadiaku pulang," balas Dave lalu duduk di depan pintu masuk toko itu sambil memeluk erat si Mimi.
Goyun sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia ikut duduk dan menyandarkan tubuhnya pada tembok.
Hembusan angin malam dan gigitan nyamuk tidak membuat tekat Dave surut untuk menunggui Nadia.
Hingga keduanya tertidur dengan menutup kepala mereka menggunakan jaket.
Pagi pun tiba, bi Ona yang baru saja
menyelesaikan sholat subuh, segera membersihkan ruangan toko, mulai dari dapur sampai ruang tamu lalu melanjutkan dengan membuat sarapan pagi.
Setelah semua urusan dapur selesai, bi Ona bergegas membuka jendela kemudian di lanjukan ke pintu masuk agar angin semalam yang ada di ruangan itu tergantikan dengan angin pagi yang masih segar.
Bi ona segera memutar gagang pintu lalu menariknya. Seketika perempuan parubaya itu melompat tatkala sebuah tubuh manusia jatuh
tepat di depan ujung kakinya dengan kepala ditutupi jaket kulit.
__ADS_1
"Astagfirullah, Astagfirullah........" bi Ona memegangi dadanya.
Bi Ona segera mengambil sapu dan membuka sedikit demi sedikit penutup kepala orang yang masih terlentang diatas lantai sambil memeluk boneka.
"Astagfirullah Tuan Dave!, Kenapa Anda tidur diluar," bi Ona menggoyang-goyangkan tubuh
Dave hingga sedikit demi sedikit Dave mulai membuka mata.
"Aku lagi dimana?," Dave mendudukkan tubuhnya lalu mengucak kedua matanya.
"Tuan sekarang berada di toko Nona Nadia. Ayo masuk tidak baik di lihat orang seperti ini," ajak bi Ona dan
dianggukkan pelan oleh Dave.
Keduanya segera masuk dan duduk di sofa.
"Tuan, Anda tunggu sebentar disini, biar bibi membuat teh hangat untuk Anda,".
Dave mengangguk tanda mengiyakan. Bi Ona pun segera berdiri dan melangkah kearah dapur.
Sepeninggalan bi Ona, Goyun masuk kedalam toko dengan wajah masih terlihat kusam sehabis bangun tidur lalu berdiri tepat di samping Dave.
"Tuan, sebaiknya kita pulang, setelah mandi dan sarapan kita bisa ke mari lagi," ajak Goyun yang saat itu melihat penampilan Dave yang sudah acak-
acakan.
selama Aku tidak masuk kerja,".
"Baik Tuan!," Goyun pun melangkah keluar dan pulang ke mension dengan mengendarai mobil.
Tidak lama setelah kepergian Goyun kembali bi Ona muncul dari arah dapur sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat dan sebuah
topleks berisi kue.
"Tuan, tadi saya dengar dari dapur,
sepertinya Anda sedang berbicara dengan seseorang?," tanya bi Ona sambil meletakkan gelas di depan Dave.
"Iya, tadi Aku sedang berbicara dengan Goyun, kebetulan dia sudah pulang,".
"Goyun?," bi Ona dengan mimik wajah sedikit berubah.
"Iya, Goyun, apa bibi mengenalnya?,"
"Tidak Tuan, Aku hanya teringat seseorang yang mirip dengan nama itu. Kalau begitu silahkan diminum tehnya selagi masih hangat,".
__ADS_1
Dave segera mengangkat gelas yang ada di depanya lalu menyeruput isinya.
"Bi, apa ada kabar dari istriku?. Semalam Aku menungguinya di depan pintu tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia akan pulang,".
Dave meletakkan kembali gelas pada posisinya semula.
"Apa?, jadi semalam Tuan tidur di luar hanya untuk menunggui Nona Nadia?," bi Ona menggeleng-gelengkat kepalanya.
Seorang Dave yang biasa tidur di kasur empuk harus relah melantai, di kerumuni banyak nyamuk dan juga dinginya angin malam hanya untuk menunggui istrinya pulang.
Dave mengangguk dan tak berani menatap bi Ona.
"Nona belum kasih kabar, tapi yakinlah Nona berada di tempat yang aman,"
Seketika Dave mengangkat wajahnya.
"Pasti bibi tahu di mana istriku?, tolong beri tahu padaku dimana dia sekarang biar Aku menjemputnya,
"Maaf Tuan, bibi belum bisa beri tahu, soalnya bibi sudah janji pada beliau,".
"Tolonglah bi, beri tahu padaku dimana istriku berada, sehari saja Aku tidak jumpa denganya serasa setahun sudah lamanya," Dave mengatupkan kedua tanganya di depan dada.
"Maaf sekali lagi Tuan, bibi benar-benar tidak bisa. Biarkan Nona Nadia menenangkan diri untuk melupakan penderitaan yang selama ini dia rasakan. Bila kalian jodoh TUHAN pasti akan.mempertemukan kalian lagi,".
Dave sudah tidak bisa meminta lebih pada bi Ona karena ini semua sudah menjadi permintaan dari Nadia sendiri.
Matahari mulai menampakkan cayahaya di ufuk timur, Rita yang baru saja tiba begitu heran saat melihat kehadiran Dave yang sepagi itu sudah
berada di dalam toko.
"Selamat pagi Tuan," sapa Rita tapi tidak di jawab oleh Dave hingga membuat Rita jengkel dan berlalu begitu saja menuju kearah dapur.
"Bi, kenapa pria sombong itu sepagi ini sudah ada disini, apa dia kemari mencari Nona Nadia?," tanya Rita pada bi Ona yang saat itu sedang membuat sarapan pagi untuk Dave.
"Huss...jangan keras-keras nanti beliau mendengarnya. Semalam beliau menginap di toko tapi diluar?,".
"Hah.....diluar!, gimana ceritanya?,".
"Semalam Tuan Dave menunggui Nona Nadia, beliau pikir kalau Nona Nadia akan pulang tapi nyatanya tidak,".
"Apa bibi sudah memberi tahu padanya dimana keberadaan Nona Nadia sekarang?,".
"Belum, bibi masih menyimpan amanah Nona Nadia, biarkan Tuan Dave mencarinya sendiri kalau dia benar-benar menyayangi Nona Nadia,".
"Bagus kalau begitu, orang sombong sepertinya memang harus diberi pelajaran," Rita tersenyum mendengar penderitaan Dave yang menurutnya memang harus di beri pelajaran sekali-kali.
__ADS_1
Jangan lupa kunjungi channel youtube Author " PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR," karena beberapa bab lagi akan" TAMAT" terima kasih.