
"Apa kamu tidak apa-apa sayang?," kembali perempun parubaya itu mendekati Gunawan.
"Aku tidak apa-apa," balas Gunawan memegangi punggungnya.
"Siapa kamu?, berani-beraninya ikut campur dalam masalah kami,". bentak Gunawan pada Leon.
"Kamu tidak perlu tahu siapa Aku, yang jelasnya dimana ada ke tidak adilan disitu ada Aku," balas Leon sembari melipat kedua tanganya di depan dada.
"Pergi sana no, di kasus brigadir Josua Hutabarat, keluarganya lebih membutuhkan keadilan dibanding kedua perempuan si4lan ini,".
"Astaga, jenis manusia apa senenarnya kamu ini. Jelas-jelas kamu suami dan bapak bagi mereka terapi kenapa menyebut mereka dengan sebutan yang tidak pantas untuk diucapkan seorang kepala rumah tangga. Sekarang kalian berdua pergi dari sini, sebelum Aku merontokkan gigi-gigi kalian itu," kini amarah Leon mulai memuncak.
Melihat kemarahan Leon, kedua pasang parubaya itu gemetar.
"Sayang ada baiknya kita pergi sebelum dia benar-benar nekat menghajar kita,". bisik istri baru Gunawan.
"Aku tidak mau pergi sebelum Aku dapat uang dari mereka,".
"Kenapa hanya bisik-bisik seperti itu. Apa kalian mengira ancamanku tadi hanya gertakan belaka," Leon segera maju dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tanganya.
"Tunggu, kami akan pergi kalau mereka atau kamu memberi kami uang. Setelah itu kami janji tidak akan mengganggu mereka lagi. Bagaimana?,".
"Oh....jadi kalian menginginkan uang dari kami?," ucap Rita.
Gunawan dan istrinya segera mengangguk.
"Kerja dong. Masih kuat kok ngemis, malu sama umur,". Rita mengangkat sedikit ujung bibirnya.
"Hai anak durhaka, Aku tidak bicara denganmu, Aku bicara denganya. Sekali lagi kamu bicara kusumpal mulutmu dengan telapak tanganku ini,".
"Coba saja kalau kamu berani, Aku tidak akan segan-segan membunuhmu. Apa gunamu juga hidup di dunia ini hanya menyusahkan orang lain saja. Hidup itu harus bermanfaat bagi sesama bukanya nyusahin, dasar calon-calon penghuni neraka lapisan terakhir". Rita tidak mau kalau.
Rita benar-benar sudah geram dengan ulah Gunawan selama ini terhadapnya dan juga ibunya.
"Tutup mulutmu, Aku tidak ingin mendengarkan ceramah sampahmu itu. Apa kamu mau memberi kami uang sebelum kami pergi,". tatap Gunawan pada Leon yang sudah berada di hadapanya.
"Berapa jumlah uang yang kalian minta dan apa untungnya bagi Aku bila Aku memberikan uang itu pada kalian?,".
"Kami hanya minta 50 juta saja dan anak durhaka itu boleh kamu ambil. Kamu mau pangganggang kek, kamu mau jual terserah kamu, asalkan uang itu kamu bagi untuk kami,".
__ADS_1
"Enak sajak menjualku. Kamu itu tidak ada haknya atasku. Leon jangan turuti kemauan tua bangka ini,".
"Aku bilang diam-diam,". kembali Gunawan membentaki Rita.
"Kamu itu yang harusnya diam, dasar tidak tahu malu,".
"Baiklah, Aku akan memberikan kalian nominal uang sesuai dengan yang kamu sebutkan tadi. Tapi setelah itu Aku tidak mau melihat kalian menginjakkan kaki di rumah ini apa lagi mendengar kalian menyakiti keluarga ini. Jika itu sampai kalian lakukan maka kupastikan kalian tidak akan bisa melihat terbit dan tenggelamnya matahari,". ancam Leon pada kedua orang yang ada di hadapanya.
"Leon jagan, mana ada iblis yang tepat janji. Jika uang itu habis mereka pasti akan datang lagi menyakiti ibuku. Ada baiknya kita laporin saja mereka pada polisi untuk memberi efek jerah pada mereka ini,". Rita menarik lengan baju Leon.
"Kami janji, kami tidak akan mengganggu apa lagi mengusik ketenangan mereka setelah uang itu kami dapatkan,". balas Gunawan. Sepertinya pria itu benar-benar serius atas ucapanya.
"Baiklah, sebutkan nomor sekening kalian biar Aku trasfer dari sini," Leon membuka sebuah aplikasi dari dalam handphonya.
Seketika Gunawan tersenyum dan terburu-buru menyebutkan nomor rekeningnya.
"Sudah sukses, kalian boleh pergi sekarang tapi ingat dengan janji kalian tadi," Leon memperlihatkan layar jandphonenya pada Gunawan
Sebuah notifikasih jumlah uang yang terkirim di nomor rekening Gunawan.
"Terima kasih anak muda, harusnya kamu yang menjadi anakku bukan Si si4lan ini. Silahkan menikmati hasil pembelianmu. Ayo Tini kita pergi, Apa Aku bilang disini adalah lahan empuk untuk mendapatkan uang secara cepat," Gunawan segera pergi dengan perasaan senang diikuti istrinya dari arah belakang.
Setelah kepergian Gunawan dan istrinya, bu Any mengajak Leon keruang tamu.
"Terima kasih nak Leon, andai tidak ada nak Leon entah apa yang akan terjadi pada kami berdua,". ucap bu Any yang saat itu berdiri sedangkan Leon dan Rita duduk di sofa.
"Sama-sama bu, sudah menjadi tugas kita sebagai manusia untuk saling menolong," balas Leon tersenyum.
"Kalau begitu, nak Leon mau minum apa biar tante buatin sebagai ucapan terima kasih tante pada nak Leon,".
"Apa saja tante yang penting segar,".
"Baiklah tunggu sebentar. Rit, tolong temani nak Leon, ibu mau ke dapur dulu,".
Rita hanya mengangguk, dia masih kepikiran dengan Gunawan, ayah yang selama ini tidak mempedulikanya.
"Hay ...Rita sugiarto kenapa hanya diam saja tidak seperti biasanya, cerewet mirip burung kejepit pintu?. atau jangan-jangan kamu memikirkan harga yang tadi Aku bayar pada bapakmu. Kalau dipikir-pikir memang sih agak kemahalan untuk gadis sederhana sepertimu tapi Aku iklas, ya hitung-hitung membantu dia agar kembali kejalan yang benar,".
Mata Rita melotot menatap Leon yang seakan akan ingin menelanya hidup-hidup.
__ADS_1
"Maksudmu, hargaku 50 juta itu mahal untuk gadis cantik dan perawan sepertiku?. Hay ...keong racun, begini-begini Aku pernah dilamar 100 juta oleh seorang bangsawan tapi Aku menolak dengan alasan Aku masih mau berkarir,".
Seketika Leon tertawa.
"100 juta, seorang bangsawan?, tapi dalam mimpi. Lagian kamu mau berkarir dibidang apa?,".
"Hummmm....ya bikin kuelah,".
"Haa..kirain ingin nyanyi dari panggung ke panggung,". kembli Leon tertawa lepas.
Plak......sebuah majalah mendarat indah di wajah Leon.
"Berani-beraninya kamu melempar wajahku dengan barang dengan majalah ini,". Leon mendekatkan wajahnya kearah Rita.
"Mau apa kamu, jangan macam-macam dirumahku," kedua mata mereka saling menatap.
"Aku ingin mengambil jatah pertamaku yang 50 juta tadi," tanpa berpikir panjang Leon langsung mencium bibir Rita. Dari awalnya lembut lama-lama menjadi kasar.
Ada sekitar lima menit mereka melakukan itu hingga Rita mendorong tubuh Leon menjauh.
Rita mengambil nafas dalam-dalam dan menghempaskanya dengan sangat kasar, sedangkan Leon hanya bisa tersenyum melihat hal itu.
"Berani-beraninya kamu mengambil keperwanan bibirku keong racun," Rita dengan wajah memerah. Entah itu marah ataukah dia malu setelah Leon menciumnya.
"Itu baru 50 ribuh, jadi hutangmu masih ada empat puluh sembilan juta sembilan ratus lima puluh ribuh. Aku akan mulai dari atas lalu sedikit demi sedikit turun kebawah hingga semuanya lunas dengan sendirinya,".
"Dasar Gila,".
"Siapa yang gila Rit?," tanya bu Any yang saat itu datang membawa nampan berisi minuman dingin dan beberapa jenis kue diatasnya.
"Anu tante!, katanya Rita, dulu ada seorang pria setengah gila mengungkapkan perasaan padanya itu pun dalam keadaan terpaksa. Karena malu di panggil jomblo karatan oleh teman-temanya si Rita ini pun menerimanya dengan iklas dan lapang dada,".
balas Leon membuka penutup toples dan mengambil isinya.
Mata Rita kembali melotot kearah Leon yang asyik mengunya kue.
"Apa, jadi kamu pernah pacaran sama orang gila?. Rita-Rita, cantik-cantik kok pilih orang gila," bu Any menepuk jidatnya.
Setiap hari hanya bisa 1 bab ya kak soalnya sibuk juga bikin di novel di youtube, kalau ada waktu mampir ya" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN" setiap hari up. Terima kasih.
__ADS_1