
"Tidak usah lebay. Mau panggil Nadia, Aku sama sekali tidak ada masalah. Lagian suamiku yang kaya bukan Aku. Kita semua sebenarnya sama dihadapan ALLAH, hanya ketakwaan kita pada sang pencipta yang membedakan kita satu dengan yang lain. Nabila apa kamu masih menyimpan obat penawar perangsang itu?,".
"Masih, Apa nyonya menginginkanya?,".
"Iya, sepertinya pengaruh obat perangsang itu masih bekerja dalam tubuhku,".
Nabila segera mengeluarkan dua bungkusan obat dari dalam saku celananya. Sesaat Nabila menatap kedua obat itu dan kemudian memberi bungkusan yang berwarna merah pada Nadia.
"Ini nyonya,".
"Terimah Kasih," Nadia mengeluarkan satu pil dari dalam bungkusan lalu meneguknya dengan air.
Setelah selesai makan, kelimanya keluar dari dalam restoran.
"Nyonya, Rit untuk hari ini sampai disini dulu kebersamaan kita, Kapan-kapan kita bersama lagi soalnya Aku, Dewi dan Tania masih ada sesi pemotretan berikutnya di hotel ini," ucap Nabila.
"Baiklah, kapan-kapan kita bertemu lagi dan terima kasih atas semuanya. Jika kalian membutuhkan bantuan jangan sungkan-sungkan untuk menelponku," tatap Nadia pada ketiga orang yang ada dihadapanya secara bergantian.
"Baik nyonya kalau begitu kami permisi,".
Setelah cupika-cupiki, ketiganya langsung melangkah meninggalkan Nadia dan Rita.
"Kita harusnya bangga bisa berteman dengan nyonya Nadia, selain cantik dia juga baik hati," Dewi di selah-selah perjalanan mereka menuju keruangan pemotretan.
"Iya betul, Aku sangat senang bisa mengenal beliau, bagaimana denganmu Nabila," tatap Tania pada Nabila yang sedari tadi hanya terdiam memikirkan sesuatu.
"Aku juga senang tapi Aku juga merasa bersalah pada beliau...?,".
"Merasa bersalah bagaimana maksudmu Nabila?," Tania dan Dewi langsung menghentikan langkahnya menghadang Nabila.
"Obat yang Aku berikan tadi bukan penawar tapi obat perangsang,".
"Apa...?," kedua bola mata Tania dan Dewi terbuka sempurna.
"Mati kita kalau begitu, kalau sampai nyonya tahu maka tamatlah sudah riwayat kita. Ayo cepat pergi sebelum beliau menyadari hal itu,". ajak Tania dan Dewi.
Ketiganya pun mengambil langkah seribuh menuju keruang pemotretan.
Semementara itu, Nadia dan Rita juga sudah bersiap-siap untuk pergi setelah ketiga kawanya sudah tidak terlihat lagi.
"Ayo Rit, kita pulang, takutnya suamiku sudah berada di mension mendahuluiku,".
Rita hanya mengangguk dan mengikuti langkah Nadia keluar dari dalam hotel.
Kembali langkah mereka terhenti tatkalah melihat seorang pria parubaya menangis di teras hotel.
__ADS_1
"Kenapa pak manager memecatku, ini bukan salahku tapi salah perempuan gila itu. Dia yang mengajakku untuk bermain gila,".
"Bukankah dia itu si satpam sombong yang bersama Nelza tadi?, tanya Rita.
"Tidak salah lagi tapi kenapa dia menagis seperti anak kecil,".
"Au ah, mungkin kehabisan permen kali. Sudahlah nyonya untuk apa juga kita mempedulikan orang sombong seperti dia itu,".
Keduanya pun kembali melanjutkan langkah mereka menuju kejalan poros dan menghentikan sebuah mobil taxi yang kebetulan lewat di depan mereka.
"Ke jalan perintis kemerdekaan pak," tepuk Nadia pada job mobil pak supir.
"Baik Nona," balas Pak supir dan mulai menjalankan kendaraanya sedikit demi sedikit.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sesekali pak supir menyelip kendaraan yang ada di depanya.
"Rit, kenapa tiba-tiba tubuhku kembali menggigil," Nadia memeriksa denyut nadi dan juga sarafnya.
"Mungkin pengaruh obat itu masih aktif," balas Rita.
"Kalau pun masih aktif pasti tidak separah ini, Apa Nabila salah beri obat padaku?. Pak, apa boleh bapak menambah sedikit kecepatan mobilnya?," .
"Baik nona,".
Tidak berselang lama kemudian, mobil tiba juga di depan mension. Nadia segera mengeluarkan dua lembar uang merah dan menyerahkanya pada Rita.
"Rit, kamu hati-hati dan ini ongkosnya,". tanpa menunggu jawaban dari Rita, Nadia pun segera keluar dari dalam taxi dan berlari menuju pintu gerbang.
"Pak Dores, tolong buka pintunya," panggil Nadia pada sang penjaga yang sedang duduk di pos jaga.
Mendengar dan melihat Nadia, pak Dores pun segera berlari kecil membuka pintu.
"Silahkan nyonya,".
"Apa tuan sudah pulang?,".
"Belum nona, mungkin sebentar lagi,".
"Syukurlah kalau begitu dan terima kasih atas semuanya," Nadia berlari kecil menuju ke arah pintu masuk.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
"Nyonya, kenapa Anda terburu-buru seperti ini?," Goyun yang datang menghampiri Nadia.
"Tidak apa-apa paman. Jika tuan Dave datang, tolong katakan padanya agar segera menemuiku di kamar," Nadia masih terus berlari menaiki anak tangga menuju kelantai dua.
__ADS_1
"Ada apa dengan nona Nadia, apa beliau sakit?," tatap Goyun mengikuti langkah Nadia yang sudah hilang di balik dinding.
Dari arah luar terdengar suara mobil Dave, Goyun segera keluar untuk menyambut majikanya itu.
"Selamat sore tuan," Goyun sedikit membungkukkan badan.
"Sore, apa istriku sudah pulang?," tanya Dave.
"Baru saja beliau datang. Beliau berpesan agar tuan segera menemuinya,".
Seketika Dave mengernyitkan dahinya.
"Ada apa denganya, tumben sekali dia menyuruhku menemuinya. Apa dia sakit?,".
"Aku juga tidak tahu tuan. Tadi Saya perhatikan, sepertinya nyonya sedang memendam sesuatu. Wajahnya terlihat merah dan sedikit berkeringat,".
"Astaga, Dia......," Dave menyerahkan tas kerjanya kepada Goyun dan berlari sekencang mungkin menaiki anak tangga.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu Dave langsung membuka pintu. Kedua matanya terbuka sempurna saat melihat Nadia yang duduk diatas pembaringan dengan memakai lingerie sambil memainkan jari telunjuknya memanggil Dave.
Antara percaya dan tidak Dave melihat Nadia seagresif itu.
Tapi sebagai pria Normal dan selalu ketagihan dengan apa yang ada pada istrinya, Dave pun tersenyum dan menutup pintu rapat-rapat dan tidak lupa menguncinya.
Setelah dirasa aman Deve pun mendekati Nadia.
"Apa yang terjadi denganmu sayang, tumben-tumbenan kamu mengajakku bermain kuda-kudaan sesore ini,".
"Aku sangat merindukanmu sayang, sekarang suamiku diam biar Aku yang bekerja,".
Nadia nenarik kera jas Dave lalu membaringkanya dengan kasar diatas pembaringan.
Pertama-tama Nadia membuka jas dengan pelan lalu melanjutkan pada kemeja lengan panjang Dave. Setelah tiba pada baju kaos oblong, Nadia sudah tidak selembut tadi, kini dia merobek kaos oblong itu hingga tidak terbentuk sana sekali dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Sayang, kenapa kamu seagresif ini?, kamu seolah-olah ingin m3mperkos4 suamimu senduri," Deve mencoba merontah dengan menutup bagian dasanya dengan kedua buah tanganya.
"Diamlah, sekarang Aku akan memberi service terbaik untuk suamiku hingga sampai kapan pun suamiku tidak akan pernah melupakanya serta akan berpikir 100 kali untuk mencari perempuan lain".
Kania melanjutkan membuka ikat pinggan Dave lalu ke celana kerja hingga menyisahkan kain tipis berbentuk segi tiga bermuda berwarna putih dengan penghuni suduh berdiri kokoh bak monumen nasional di ibukota.
Sesaat Nadia memperhatikan bentuk benda itu. Ada rasa ngeri juga melihatnya walau terkadang Dave sering memaksa untuk melihat atau menyentuh benda tersebut yang ukuranya lebih dari milik pria asia pada umumnya.
Terus beri dukungan di channel YOUTUBE Author" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN,". Terima kasih.
__ADS_1