
Belum juga menginjak anak tangga pertama, Goyun kembali berbalik badan tak kala mendengar tawa Anita dan juga Elis dari arah pintu masuk.
Melihat keberadaan Goyun, Anita dan Elis segera menghampirinya.
"Goyun, ada apa ini?, kenapan sekertaris Ken dan anak buahnya pergi terburu-buru!, apa ada
hal genting yang sudah terjadi di mension ini tanpa sepengetahuan kami?,".
"Lebih dari genting. Sekertaris Ken dan anak buahnya pergi mencari Nyonya Nadia, karena sampai jam
segini beliau belum juga pulang,".
"Kenapa kalian semua memperlakukan culun itu seperti Nyonya besar. Kalau dia pergi
kenapa harus repot-repot mencarinya toh dia sendirikan yang pergi dari mension," balas Anita tersenyum
sinis.
Seketika itu juga Goyun melipat dahinya.
"Kok Nyonya tahu kalau Nyonya Nadia pergi, Atau jangan-jangan, kalian berdua ada di balik semua ini, Ingat Nyonya Anita dan Nona Elis kalau sampai terjadi sesuatu dengan Nyonya Nadia maka Tuan Dave tidak akan segan-segan menyakiti kalian berdua,".
"Apa maksudmu menyakiti kami, kamu jangan mengancam kami seperti ini Goyun," bibir Anita sedikit bergetar.
"Coba Anda lihat sendiri keatas sana, Tuan Dave sudah seperti orang stres melukai dirinya sendiri karena kepergian Nyonya Nadia. Hampir semua barang-barang dalam kamar beliau banting hingga tidak tersisa sama sekali. Jika sampai beliau tahu kalau kalian ada di balik semua ini
maka, tidak munutup kemungkinan beliau juga akan melakukan hal yang sama dengan kalian berdua,".
"Apa!, Dave melukai dirinya sendiri hanya karena gadis seperti cupu itu?," Anita menutup mulutnya dengan kedua buah telapak tanganya.
Dia sungguh tidak percaya kalau Dave bisa melakukan hal senekat itu hanya karena kepergian Nadia.
Lain hanya dengan Elis tubuhnya seketika bergetar dengan keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
"Bu, Ayo kita ke kamar, kepala Elis terasa pusing?," ajak Elis dengan suara parau.
"Iya, .....," balas Anita.
"Apa sebaiknya saya menyuruh dokter Andy untuk memeriksa keadaan Nona?," tanya Goyun sebelum keduanya melangkah.
"Tidak usah," Elis menarik pergelangan tangan ibunya dan melangkah meninggalkan Goyun menuju ke kamarnya.
Goyun tersenyum melihat ketakutan du wajah kedua perempuan itu.
Ancaman Goyun benar-benar manjur hingga membuat Anita-dan Elis kalang kabut.
Tidak berapa lama setelah kepergian Anita dan Elis, dokter Andy terlihat menurunin tangga dan masih mendapati Goyun tersenyum di bawa sana.
"Pak Goyun kenapa Anda tersenyum-tersenyum sendiri?," tanya dokter Andy tatkala sudah
__ADS_1
berdiri di samping Goyun.
"Tidak ada apa-apa dok!, bagaimana keadaan Tuan Dave?," Goyun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tuan Dave baik-baik saja!, sekarang beliau lagi tidur!, Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa sampai beliau stres seperti itu?,".
"Saya juga tidak tahu pasti, tapi menurut penuturan beliau tadi Nyonya Nadia pergi meninggalkanya, entah karena apa,".
"Nyonya Nadia benar-benar sudah membuat Tuan Dave jatuh cinta. Manusia tegar dan arogan seperti Tuan Dave takluk juga di tangan seorang perempuan berpenampilan unik itu,".
"Mungkin seperti itu kenyataanya, Aku juga baru pertama kali melihat Tuan Dave terpuruk seperti ini. Walau pun dulu Tuan mengalami beban berat
di saat Tuan besar meninggal dan Nona Nelza pergi tanpa kabar tapi kali ini Tuan Dave benar-benar berada pada titik Nol,".
"Itulah kekuatan cinta, Nyonya Nadia sudah bersemayang memenuhi relung hati Tuan Dave, hingga dia tidak sanggup lagi untuk berpisah denganya. Pak Goyun, ini ada resep buat Tuan Dave, nanti jika Tuan bangun pak Goyun bisa memberikan ini padanya,".
Dokter Andy memberikan beberapa bungkusan obat pada Goyun.
"Baiklah dok," balas Goyun mengambil bungkusan itu dari tangan dokter Andy.
Selepas berpamintan dengan Goyun, dokter Andy pun bergegas keluar dari dalam mension.
Goyun melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga lalu menuju kearah kamar Dave.
Goyun membutar knop pintu dengan sangat hati-hati sekali lalu masuk kedalam.
Setelah memastikan Dav sudah terlelap, Goyun kembali keluar dan tak lupa menutup pintu kamar seperti tadi.
Sedikit demi sedikit Dave mulai menggerakkan tubuhnya dan pelan-pelan sekali membuka mata.
Hal yang pertama kali dia lakukan yaitu mencari ke beradaan Nadia yang biasanya tidur diatas sofa.
Tapi sayang, Nadia sama sekali tidak ada disana. Hanya Mimi, boneka kesayangan Nadia yang tergeletak di tempat itu.
Dav mengambil boneka Mimi lalu
memeluknya dengan sangat erat.
Aroma tubuh Nadia yang masih melekat pada Mimi membuat
Dave tak sanggup untuk melepaskan pelukanya pada boneka tersebut.
Setelah puas memeluk tubuh Mimi, Dave mendudukkan mimi diatas perutnya.
"Mimi, apa kamu merindukanya?," tanya Dave pada boneka tersebut.
"Iya, Aku sangan merindukanya, kenapa Dia belum datang juga menemuiku!, apa dia marah
padaku?," Dave menjawab sendiri pertanyaanya dengan menirukan suara ala-ala boneka.
__ADS_1
"Dia tidak marah padamu tapi marah padaku, Aku tidak bisa menjaga hatinya. Aku memang pria bodoh, egois dan selalu mementingkan diriku sendiri,"
Dave meletakkan Mimi di samping kirinya sambil mengelusnya dengan sangat lembut.
Setelah puas bercengkrama Dengan Mimi, Dave bangun dari tempat Duduknya lalu berjalan kearah lemari.
Dave mengeluarkan jaket kulit dari dalam sana lalu memakainya.
"Mi, Ayo kita cari Dia, mungkin Dia sudah kembali ke toko," Dave mengangkat tubuh Mimi lalu menggendongnya.
Belum juga Dave menyentuh knop pintu, tiga ketukan dari luar ruangan terdengar.
Dav segera membuka daun pintu dan mendapati Goyun dan beberapa pelayan berdiri sembari membawa beberapa makanan dan minuman
diatas Nampan.
"Tuan mau kemana?, apa tidak sebaiknya Tuan makan dulu dan meminum obot pemberian
dokter Andy,?".
"Aku mau mencari istriku, dia pasti tidak bisa tidur kalau tidak bersama Mimi. Lagian Aku sudah kenyang dan tidak sakit,".
"Tapi Tuan, ini sudah larut malam, besok saja baru Tuan melanjutkan mencari Nyonya Nadia,".
"Siapa kamu, kenapa berani-beraninya mengaturku. Kalau kamu mau makan, makan sendiri saja tidak usah memaksaku. Ayo Mimi kita berangkat,".
Dave menerobos di tengah-tengah Goyun dan beberapa pelanyan sehingga makanan dan minuman yang ada diatas nampan hampir saja tertumpah.
"Orang itu sungguh sangat keras kepala. Kalian semua bawa makan dan minuman itu kembali ke tempatnya,". perintah Goyun pada
para pelayan lalu melangkah mengikuti Dave ke luar mension.
"Tuan, tunggu sebentar," Goyun berlari kecil menghampiri Dave.
"Ada apa lagi!?," tanya Dave tanpa menghentikan langkahnya.
"Biar Aku yang mengantar Tuan, tidak baik menyetir dalam keadaan lapar dan terluka seperti ini,".
"Aku tidak lapar dan luka ini hanya luka kecil bagiku," balas Dave tanpa sedikit pun menatap kearah Goyun yang sudah berpapasan denganya.
Goyun hanya menggeleng-gelengkan
kepalanya. Goyun tahu, Dave tidak bakalan menyerah bila titik kelemahanya belum di temukan.
"Tuan, kalau Nyonya Nadia sampai tahu Anda lapar dan mengemudi dalam keadaan terluka pasti beliau sangat sedih. Apa tuan lupa saat
Tuan sakit kepala waktu itu, Nyonya melerang Anda bekerja bukan?, Nah sekarang saat beliau tidak ada Tuan malah ingin melakukan,".
Seketika langkah Dave terhenti lalu terdiam sejenak.
__ADS_1
Sebelum upload di sini Author upload di youtube dulu ya jafi jangan lupa untuk mampir dengan cara memberi subscribe, coment, like, dan nyalakan lonceng notifikasinya" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" terima kasih.