
Setelah menyusun topleks kedalam kardus, Nadia segera menghubungi pak Herman ojek langgananya.
Hanya beberapa saat saja menunggu kini pak Herman sudah datang dan membantu Nadia mengangkat kardus naik ke atas motor.
"Bi, Rit, Nadia pergi dulu ya?," ucap Nadia menutup pintu toko.
"Iya, hati-hati ya Non," balas Bi Ona dan Rita dari arah dapur.
Nadia dan Pak Herman meninggalkan toko dan melaju menuju ke restoran RAMAYANA.
Hanya butuh beberapa menit saja kini kedua sudah berada diarea restoran berkelas internasional itu.
Nadia segera turun dan membayar ongkos ojeknya.
"Non, apa tidak sebaiknya bapak saja yang membawa kardus itu masuk kedalam?," pak Herman yang tidak tegah melihat Nadia mengangkat beban yang lumayan berat untuk seorang perempuan.
"Tidak apa-apa kok pak, Nadia masih sanggup, Kalau begitu terima kasih banyak pak, Nadia masuk dulu,".
"Iya Non, hati-hati jangan sampai jatuh," pak Herman sedikit berteriak karena Nadia sudah lumayan jauh.
Tanpa Nadia sadari, dua pasang bola mata terus saja mengawasinya dari dalam mobil.
Seketika keduanya tersenyum tatkala melihat Nadia masuk kedalam gedung restoran itu.
"Ken'na kau .....sekarang," ucap seorang diantara mereka sambil mengeluarkan handphone dari dalam tas jinjingnya.
Sementara itu, Dave yang sudah berada dalam restoran dan duduk di kursi yang tak jauh dari pintu masuk sedang asyik mengotak-atik
handphonenya.
Tampak pria tampan itu sedang mencari kontak seseorang.
Setelah menemukan kontak yang dia
carinya, Dave segera menekan tombol hijau.
Tidak berselang lama kemudian kini jalinan telepon mereka terhubung.
"Ken jemput Nadia sekarang,".
"Baik Tuan," balas Ken dari dalam sana.
Setelah mendengar kata iya dari sekertaris Ken, Dave pun memutuskan panggilanya lalu meletakkan handphonya begitu saja diatas meja.
Dari arah pintu, tampak seorang
perempuan cantik berkaca mata hitam datang menghampirinya.
__ADS_1
Setelah tiba di samping kiri Dave, perempuan tersebut langsung memeluk Dave dan memberi
ciuman di pipi kiri Dave hingga beberapa kali.
Nadia yang kebetulan lewat di depan mereka seketika terhenti, melihat adegan mesrah mereka berdua.
Tubuhnya bergetar, hingga tidak terasa kardus yang dalam gendonganya tiba-tiba saja terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup
nyaring dalam ruangan itu.
Beberapa pengunjung restoran seketika berpaling kearah Nadia. Begitu pun dengan Dave dan juga Nelza yang posisinya berada tepat di depan Nadia.
Dua pelayan restoran segera menghampiri Nadia dan mengumpulkan toplek yang berhamburan diatas lantai.
"Apa Nona baik-baik saja?," tanya seorang diantara mereka.
"Aku baik-baik saja," balas Nadia dengan tatapan kosong.
Lain hanya dengan Dave, kedua bola matanya seketika melotot setelah mengetahui kalau yang sekarang berdiri di depanya itu adalah Nadia.
"Jadi, kamu memanggilku kemari hanya untuk memperlihatkan ini?," air mata Nadia mulai menetes tanpa bisa dia bendung lagi.
"Untuk apa juga menagisi pria macam dia, ambilah dan hapus air matamu," Leon yang datang bersama dengan rekan bisnisnya untuk makan siang di restoran itu.
Nadia tidak mengambil sapu tangan pemberian Leon, dia malah berlari secepat mungkin keluar dari dalam restoran itu dengan air mata yang menetes di setiap langkahnya.
"Dave tunggu sebentar!. Kamu menginginkan tanah milikku bukan?, Bagaimana kalau kita barter, Kamu ambil tanah itu dan serahkan Nadia padaku,".
Saat itu juga wajah Dave memerah dengan mata berapi-api.
"Plukk........," sebuah pukulan keras mendarat di pipi Leon, hingga membut pria itu mundur ke belakang.
Tak hayal lagi, darah segar keluar dari sudut bibir Leon.
"Sekali pun kamu menyerahkan semua hartamu padaku, Aku tidak akan pernah menyerahkan Diaku padamu. Ingat itu," Dave melangka keluar dengan Nelza masih mengekorinya dari belakang.
"Dave tunggu......,".
"Nelza, sekali lagi kamu menyentuhku seperti tadi maka kubunuh kamu sampai orang-orang tidak bisa mengenalmu lagi. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," kembali Dave melanjutkan langkahnya.
"Dave....tolong dengarkan Aku sebentar saja,".
Dave sama sekali tidak menggubris panggilan Nelza, dia terus melangkah hingga dia bertemu dengan sekertaris Ken di depan pintu.
"Ken kamu lihat Nadia?,"
"Tidak tuan. Tadi Aku dari toko, tapi bi Ona bilang, kalau beliau kemari membawa pesanan kue restoran ini,".
__ADS_1
"Iya, dia tadi kemari dan mendapati Nelza memeluk dan menciumku,".
"Apa!, pasti beliau merasa sangat sakit hati. Perempuan mana sih yang tidak akan terluka jika melihat pasanganya bercumbu di depan matanya,".
"Kamu jangan membuat pikiranku bertambah runyam....cepat ikut Aku dan kita ke toko Nadia,".
Dave mempercepat langkahnya menuju kearah mobil disusul sekertaris Ken dari arah belakan dengan berlari kecil.
Tidak lama kemudian, kendaraan mereka melaju cepat meninggalkan restoran itu.
Sementara Nelza yang baru saja keluar dari dalam restoran melayangkan pandanganya kesana kemari mencari keberadaan Dave, tapi sayang, orang yang dia cari sudah jauh meninggalkan tempat itu.
Mau tidak mau, terpaksa dia menuju kearah parkiran dimana Anita dan Elis sudah menungguinya sedari tadi didalam mobil.
"Nelza, apa yang sedang terjadi di dalam sana, Kenapa Dave dan sekertaris Ken terburu-buru pergi dari sini?," tanya Anita saat Nelza sudah
berada di dalam mobil.
"Ini semua gara-gara perempuan itu, tiba-tiba saja dia muncul di hadapan kami dan mengacaukan semuanya. Apa tante tahu, siapa Nadia?. Kenapa Dave dan seorang pria tampan di dalam sana saling adu mulut demi untuk mendapatkanya?,".
Sebelum menjawab Anita menatap kearah Elis dan dianggukkan pelan oleh Elis.
"Nelza maafkan kami, sebenarnya kami sudah menyembunyikan suatu rahasia besar padamu,".
"Maksud tante apa?," Nelza mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya Nadia dan Dave itu sudah menikah tanpa sepengetahuan orang banyak. Entah karena apa, tiba-tiba saja Dave ingin menikahinya. Tante sangat yakin kalau sesuatu
telah terjadi pada mereka berdua dan bukan dilandasi rasa cinta,".
"Apa, mereka sudah menikah?," tubuh Nelza seketika rebah di job mobil setelah mendengarkan ucapan Anita.
"Nelza tabahkan dirimu, Tante yakin kalau sebentar lagi kedua pasti akan berpisah. Jadi, jangan menyerah untuk mendapatkan cinta Dave kembali," Anita mengelus punggung Nelza yang saat itu sudah tidak berdaya lagi.
Sementara Dave dan sekertaris Ken sudah tiba di depan toko kue milik Nadia.
Dave langsung keluar dari dalam mobil tanpa menunggu lagi sekertaris Ken untuk membuka pintu untuknya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu Dave langsung mendobrak pintu yang terbuat dari dinding kaca tersebut.
"Dia....., diman kamu?," teriak Dave melengking di dalam toko.
Bi Ona yang kala itu sedang berada di ruangan dapur bersama Rita segera keluar dan mendapati Dave dengan penampilan yang sudah acak-acakan mirip gembel yang ada di emperan kota.
Jangan lupa terus ikuti novel terbaru saya di youtube" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" tayang tiap hari. Terima kasih.
__ADS_1