
Sementara itu di di toko kue, tampak bi Ona sedang bersiap-siap untuk keluar toko. Perempuan parubaya itu terlihat sedang merias diri di depan cermin.
Walau usianya sudah tidak muda lagi tapi wajah bi Ona masih terlihat awet.
Ya, 47 tahun hari ini, membuat perempuan yang keseharianya bekerja dan bekerja membuat bi Ona jarang sekali merias diri.
Mungkin beliau berpikir, untuk apa berdanda kalau hanya tinggal dirumah, masak dan badan bau asap.
Setelah dirasa cukup bi, Ona segera keluar dari dalam toko. Malam itu Bi Ona berencana untuk keluar makan malam sekalian belanja kebutuhan pokok.
Masak dan makan sendiri membuat bi Ona terkadang jenuh kecuali jika Rita atau Nadia datang maka dengan senang hati perempuan parubaya itu akan memasak untuk mereka.
Setelah menghentikan pengendara taxi, bi langsung masuk kedalam mobil.
"Tolong antar Saya di restoran dekat pusat perbelanjaan pak," ucap bi Ona saat sudah duduk rapi di dalam texi.
"Restoran yang ada pusat perbelanjaanya dekat-dekat sini hanya mall RATU INDAH bu. Apa Anda mau Saya hantar kesana?,". balas sang pengemudi taxi sambil menatap bi Ona dari dalam kaca spion.
"Terserah bapak asal jangan terlalu jauh,".
"Baiklah kalau Anda setuju. Mari kita berangkat sekarang,". Sedikit demi sedikit sang pengemudi taxi mulai menjalankan kendaraanya.
Belum juga beberapa meter taxi itu melaju dengan kecepatan sedang tiba-tiba saja sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir menyerempet kendaraan mereka.
"Woy ....hati-hati gila," teriak pak supir taxi yang mengemudi sedikit oleng dan hampir menabrak trotoar sakin kagetnya .
"Alhamdulillah untung kita tidak apa-apa," bi Ona sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
"Memang gila orang kaya di kota ini, mereka hanya memikirkan bagaimana agar bisa sampai ketujuan dengan cepat tanpa memikirkan keselamat orang lain. Bagus kalau dianya sendiri yang celaka dan mati, bagaimana kalau ada korban lain," Pak supir sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak boleh berdoa seperti itu pak, dosa. Mungkin dia ada hal penting sehingga dia mengemudi secepat itu,".
"Iya, mungkin juga seperti itu bu,".
Kembali sang sopir fokus mengemudi menuju ke tempat tujuan. Tidak beberapa lama kemudian akhirnya mereka tiba juga di sebuah mall yang terletak di tengah-tengah kota.
"Ini ongkosnya, lebihnya buat keluarga saja," kata bi Ona saat sudah berada di luar taxi lalu menyerahksn beberapa uang kertas pada sang sopir.
"Terima kasih banyak bu,". balas pak sopir dengan gembira.
"Sama-sama, Saya duluan dan hati-hati mengemudi. Ingat keselamatan, karena keluarga selalu menunggu dirumah,".
"Baik bu, kalau begitu Saya permisi," Sedikit demi sedikit mobil taxi pun pergi meninggalkan bi Ona yang masih berdiri disana.
Belum juga bi Ona melangkah tiba-tiba matanya melihat mobil mewah yang tadi hampir menyerempet taxi.
Bi Ona melangkah masuk kedalam mall dan langsung menuju lantai dua. Setelah menemukan restoran yang pas bi Ona pun segera masuk dan menjari meja kosong.
Suasan restoran tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati makanan mereka.
"Silahkan dilihat menunya bu," seorang pramusaji datang dan berdiri tepat di samping bi Ona.
"Saya pesan seporsi nasi goreng dan paha ayam bakar, jangan lupa sambelnya di banyakin sedikit lalu minumnya teh dingin saja," balas bi Ona meletakkan daftar menu pada tempatnya semula.
"Baiklah kalau begitu, ibu tunggu sebentar biar kami menyiapkan pesanan ibu," sang pramusaji pun segera pergi meninggalkan bi Ona menuju kearah dapur.
__ADS_1
Tidak lama kemudian kembali sang pramu saji itu datang sambil membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, paha ayam bakar dan teh dingin sesuai dengan pesanan bi Ona.
"Silahkan di nilamati, jika masih ada yang kurang ibu boleh panggil kami lagi, kalau begitu Saya permisi,". kembali sang pramusaji pun pergi meninggalkan bi Ona.
Sepeninggalan sang pramusaji tadi, sedikit-demi sedikit bi Ona mulai menikmati hidanganya.Butuh beberapa menit hingga terlihat perempuan parubaya itu mengambil tissu yang ada di depan lalu mulai melap bibir kemudian di lanjutkan ke tangan.
"Alhamulillah, makan sendiri terasa belum lengkap bila tidak bersama orang yang kita sayangi. Seenak apa pun itu, tetap masih terasa hambar bila kita hanya sendiri. Ya, TUHANku kapan kiranya ENGKAU mempertemukan Aku dengan jodohku," tatap kosong bi Ona ke arah meja dimana satu keluarga sedang menikmati makanan bersama.
Ada beberapa menit bi Ona disana hingga dia berdiri lalu mengambil tas diatas meja. Bi Ona melangkah dan melewati beberapa meja menuju kearah kasir.
Seketika langkah kaki bi Ona terhenti saat mendengar percakapan dua orang di sebuah meja yang dia lalui.
"Yun, tolonglah Aku sangat merindukanmu. Ayah dan Ibuku juga masih mengharap agar menantunya kembali. Lupakanlah Markonah, mungkin dia sudah bahagia dengan pria yang membawanya pergi,". ucap seorang perempuan parubaya pada pria yang mengenakan jas hitam dengan kumis sedikit tebal sambil menggenggam erat tanganya.
"Aku tidak percaya pada ucapan kalian kalau Markonah pergi bersama pria lain. Seseorang telah sengaja menjebak kita waktu itu dalam kamar agar Markonah sakit hati dan percaya kalau kita sudah berbuat yang bukan-bukan," balas pria itu menarik tanganya kembali.
"Percaya atau tidak itulah kenyataanya, dia lari dengan pria lain. Semua orang pun tahu itu, bahkan beberapa perhiasan keluarga kami hilang dibawa pergi olehnya anak angkat yang tidak tahu diri. Yun pulanglah dan kita mulai hidup baru. Umurmu dan umurku sudah tidak muda, Ayolah sayang,".
"Sampai kapanpun Aku tidak akan pulang sebelum Aku bertemu Markona, baik dia sudah milik pria lain atau kah belum. Kesalah pahaman ini harus Aku jelaskan padanya, terima tidaknya itu urusan nanti,".
"Tapi Yun, Kamu itu sudah sah menjadi suamiku. Kita sudah sah menikah di depan penghulu dan juga beberapa saksi malam itu,".
"Itu bagi kalian sah, tapi bagi Aku tidak. Pernikahan itu hanya diatas kertas untuk menutupi aib katanya yang sama sekali tidak pernah Aku lakukan terhadapmu,".
"Yuan, kenapa hanya perempuan itu yang selalu ada di pikiranmu, Tidakkah ada sedikit ruang bagiku dalam hatimu untuk menggantikan posisi perempuan yang tidak tahu malu itu,".
"jaga ucapanmu Diana, Markonah itu perempuan baik-baik," bentak pria.
__ADS_1
"Mungkin dulu dia baik, tapi mungkin sekarang ceritanya lain. Kalau semua tempat sudah kamu datangi tapi tidak juga menemukanya bagaimana kalau Aku bantu kamu mencarinya di tempat hiburan malam atau pinggir jalan dimana biasa para wanita malam menjajankan dirinya disa.......,"
Plak...... sebuah tamparan keras mendarat di pipi Diana hingga membuat perempuan itu meringis.