SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 92. ANCAMAN NADIA.


__ADS_3

Sesaat Dave tersenyum melihat Nadia menatap benda pusakanya yang seolah-olah ingin merobek kain tipis yang membungkusnya.


"Kenapa kamu diam sayang, katanya mau memberi service yang terbaik pada suamimu ini. Atau jangan-jangan kamu tidak mampu menangkis peluru kendalinya jika dia sampai mengamuk?,".


"Siapa bilang Aku tak sanggup," Sedikit demi sedikit Nadia mulai memegang benda itu.


Dave meraung panjang bak serigala sore itu. dengan service yang di berikan Nadia.


Ada kira-kira 4 ronde mereka melakukan pertempuran dasyat hinggak akhirnya mereka berdua tertidur dalam bungkusan selimut bulu.


NADIA



DAVE.



***********


Kicauan burung-burung dan hembusan angin laut membuat mata Nadia terbuka.


Seluruh persendianya terasa sakit, seolah-olah ingin terlapas dari tubuhnya.


Nadia mencoba bangun tapi tangan kekar Dave masih merangkul tubuh mungilnya.


Dengan pelan-pelan sekali, Nadia melepas rangkulan Dave agar suaminya itu tidak terbangun dari mimpi indahnya.


Makin Nadia ingin melepaskan diri makin Dave merangkulnya dengan erat.


"Sayang tolong lepasin tanganmu Aku mau mandi,".


"Kamu mau terlepas diatas tapi apa kamu sadar kalau yang dibawah masih tertancap dengan sempurna,".


Mata Nadia melotot, dia benar-benar tidak sadar kalau sesuatu sudah masuk dalam tubuhnya.


"Sayang ,sekali lagi baru kita mandi,".


"Baiklah tapi hanya sekali,".


Dave mengangguk dan memulai aksinya hingga keduanya kembali terhempas dengan keringat mulai membasahi tubuh.


"Ayo kita mandi," angkat Dave pada tubuh mungil Nadia.


"Aku bisa mandi sendiri sayang," protes Nadia yang saat itu berada pada gendongan Dave.


"Kalau kamu mandi sendiri tubuhmu tidak akan bersih sempurna. Ada baiknya Aku yang memandikanmu," Dave membawa tubuh Nadia masuk kedalam kamar mandi.


Apa yang di pikirkan Nadia benar, Dave sama sekali tidak memandikanya tetapi bermain pada benda kesukaanya.


Jeritan dan rintihan Nadia sesekali terdengar dari dalam kamar mandi oleh perlakuan Dave.


Ada sekitar 30 menit mereka didalam sana hingga kembali keduanya keluar dengan berbalut handuk.


"Dia.........," teriak Dave yang saat itu berdiri di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.


"Ada apa sayang?,". tanya Nadia yang saat itu sedang duduk di pembaringan sambil mengeringkan rambut panjangnya.


"Coba lihat, semua tubuhku penuh dengan bekas merah akibat perbuatanmu semalam,".

__ADS_1


"Begitua saja sauamiku kaget. Dulu juga suamiku melakukan itu padaku bukan jadi sekarang satu sama," balas Nadia santai.


"Jadi kamu ingin membalas semua perbuatanku selama ini padamu?," Dave mendekati Nadia.


"Jika Aku bisa Aku akan melakukanya,".


"Sudah berani rupanya kamu padaku, kalau begitu lakukan kita kakukan lagi seperti yang semalam,".


"Hii apaan sih...cepat pake baju. Hari ini suamiku ada rapa di kantor bukan? Kapan-kapan kita bisa melakukanya lagi,".


"Baiklah, asal kamu janji akan memberi service seperti kemarin sore,".


"Tenang saja semuanya bisa diatur. Cepat kemari biar Aku pakekan baju untukmu sayang,".


Nadia menarik tangan Dave menuju kearah lemari dan mengeluarkan baju kerja Dave dari dalam sana.


"Angkat kakinya," perintah Nadia yang saat itu memegang celana berbentuk segitiga dengan logo ternama dunia.


Dengan cepat Dave pun melakukan sesuai dengan perintah Nadia.


Nadia mulai menaikkan celana mini itu sampai keatas paha Dave dan tiba-tiba diharus terhenti saat sebuah benda menyerupai terong mulai bergerak seakan ingin melasat jauh.


Deve seketika tersenyum sambil mengangguk-ganggukkan kepala benda itu.


Plok......satu sentilan diarahkan Nadia ke benda tersebut hingga sang empunya meringis kesakitan.


"Sakit.....,". Deve dengan mata melotot menatap kebawa.


"Makanya...otak jangan terlalu mesum," kembali Nadia melanjutkan tugasnya.


"Bukan salahku jika dia terus hidup saat kamu menyentuhku seperti ini,".


Plok.....Kembali Nadia menarik karet celana mini Dave hingga sang empunya kembali meringis.


"Kejam sekali......," gerutu Dave.


"Biarin,".


"Sekarang terakhir, suamiku harus pake ini,".


"Shall?,". Dave mengernyitkan dahinya.


"Iya, untuk menutupi lehermu sayang,".


"Ada apa dengan leherku?,".


"Semalam Aku memberimu tanda itu agar orang-orang tahu kalau kamu itu adalah milikku seorang,".


"Biarpun kamu tidak memberi tanda itu padaku, orang-orang bahkan malaikat sekalipun pasti sudah tahu kalau Aku ini milikmu seorang," Deve menarik tubuh mungil Nadia dan mendekatkan ketubuhnya. Dengan cepat Deve mencium lebut bibir tipis itu.


"Terima kasih sayangku, kalau begitu ayo kita turun sarapan,".


Tarik Nadia pada pergelangan tangan Dave menuju pintu keluar.


Keduanya melangkah menurunin tangga dan langsung menuju keruang makan.


Tidak seperti biasa, ruang makan tampak terlihat sunyi tanpa kehadiran Anita dan Elis yang biasanya sudah duduk disana sebelum mereka datang.


"Goyun dimana Ibu Anita dan Elis?,". tanya Dave setelah duduk bersamaan Nadia.

__ADS_1


"Kata nyonya Anita, pagi ini mereka sarapan di kamar saja Tuan,". jawab Goyun.


"Panggil mereka kemari,".


"Baik tuan,".


"Tunggu dulu paman, Apa kalian sudah membawa sarapan pagi ke kamar mereka?," tanya Nadia.


"Belum nyonya muda, ini juga lagi kami persiapkan setelah Tuan dan nyonya sarapan,".


"Tidak usah membawa makan ke kamar mereka, biar Aku saja yang pergi memanggil keduanya. Sayang kamu tunggu sebentar disini," Nadia berdiri dari tempat duduknya.


"Apa kamu yakin sudah tidak takut dengan mereka?," tanya Dave.


"Sekelas hantu saja Aku tidak takut apalagi hanya manusia biasa seperti mereka itu,".


Dave tertawa mendengar jawaban Nadia.


Nadia melangkah kearah kamar Anita diikuti Goyun dari arah belakang. Dave sengaja menyuruh Goyun mengikuti Nadia jangan sampai Anita dan Elis berbuat yang tidak-tidak pada istrinya.


Setelah tiba di depan kamar Anita, Nadia mengetuk pintu sebanyak tiga kali.


"Siapa?," tanya Anita dari dalam sana.


"Saya nyonya, mengantar sarapan pagi buat Anda berdua,".


"Mengganggu saja, simpan saja disitu,".


Lama Nadia menunggu tapi Anita maupun Elis tidak kunjung juga keluar kamar.


Kembali untuk kedua kalinya Nadia mengetuk pintu.


"Dasar pelayan kurang ajar, tidak mau dibilangi,".


Suara Anita begitu nyaring dari dalam kamar diikuti langkah kaki mendekat kearah pintu.


"Sudah Aku bilang simpan saja disitu kenapa kamu tidak mendengar apa kataku. Dasar pelayang tidak punya........," mata Anita seketika melotot tatkalah melihat Nadia berdiri di depan pintu sambil melipat kedua buah tanganya.


"Coba ulangi sekali lagi perkataanmu tadi, Aku mau dengar baik-baik,".


"Aku tidak tahu kalau itu kamu, terus ada apa kamu datang ke kamarku?,".


"Sekarang kalian berdua keruang makan karena suamiku menunggu kalian disana,".


"Kami sarapan disini saja," balas Anita dan mencoba menutup daun pintu tapi dengan sigap Nadia menahan daun pintu tersebut bagian bawah dengan kaki.


"Mau pergi atau tidak,".


"Memangnya siapa kamu sehingga berani memerintah kami,".


"Apa kamu sudah lupa atau pura-pura pikun kalau Aku adalah nyonya di rumah ini. Kalau kalian masih mau tinggal disini kalian harus mematuhi peraturan yang sudah di tetapkan oleh suamiku. Kalau sampai kalian tidak datang dalam waktu 5 menit, maka jangan salahkan Aku kalau Aku ceritakan semua kejadian kemarin di hotel. Ayo paman kita pergi," Nadia meninggalkan tempat itu di ikuti Goyun dari arah belakang.


"Berani-beraninya si cupu itu mengancamku. Elis ayo kita ke ruang makan jangan sampai si culun itu benar-benar melaporkan perbuatan kita pada Dave. Bisa tamat rencana kita selama ini," ajak Anita pada Elis.


Sesampainya di ruang makan Elis dan Anita hanya menunduk dan mulai mengisi piringnya dengan hidangan yang ada diatas meja.


Dave menatap heran pada keduanya, tidak biasanya kedua perempuan itu hanya diam seperti kucing yang baru saja dirajam palu seberat 10 kilogram.


Mohon bantuanya untuk berkunjung ke channel youtube Aku" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN" Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2