
Setelah keenam peserta lomba maju sesuai arahan dari MC tadi, salah seorang dewan juri pun berdiri.
Dan memberi pertanyaan pada keenam dewan juri.
Setiap jawaban yang di berikan oleh peserta mendapat sambutan tepuk tangan dari para penonton.
"Sekarang giliran peserta 18 atas nama Mawar tolong maju satu langkah kedepan. Pertanyaan yang sama yaitu apa arti keluarga bagi Anda secara pribadi, Waktunya lima menit mulai dari sekarang?," tanya perwakilan dewan juri pada Mawar.
Mawar kemudian maju dengan wajah penuh percaya diri. Sebelum menjawab dia menoleh sedikit kebelakan menatap kearah Nadia.
"Bagi Aku, Arti sebuah keluarga itu sangat penting, Tanpa keluarga hidupku bagai kapal yang terombang ambing dilautan lepas dan tak tahu kemana Aku akan menepi.
Terima kasih buat ayah dan ibu yang selama ini menyayangiku dengan setulus hati," Mawar menyudahi ucapatanya sembari tersenyum kearah Rudy dan Yunita.
Gemuru tepuk tangan sekali lagi terdengar di dalam ruangan itu setelah Mawar selesai menjawab pertanyaan dari dewan juri.
"Kita beralih ke peserta terakhir yaitu nomor 25 atas nama Nadia, untuk itu kami persilahkan maju kedepan untuk menjawab pertanyaan dari dewan juri," ucap MC mempersilahkan Nadia untuk maju kedepan.
Nadia yang namanya dipanggil segera maju depan.
"Nona Nadia apa Anda sudah siap menjawab pertanyaan dari kami," ucap dewan juri yang berdiri di hadapan Nadia.
Lama Nadia terdiam hingga kembali dewan juri menyebut namanya.
"Nona Nadia apa Anda sudah siap menjawab pertanyaan dari kami?,".
Mau tidak mau terpaksa Nadia harus mengangguk.
"Baiklah kalau Nona Nadia sudah siap!, Saya akan mengulangi pertanyaan yang tadi, seperti
yang sudah ditanyakan pada ke lima peserta sebelumnya. Apa arti keluarga buat Anda secara pribadi?,".
Kembali Nadia terdiam, Mulutnya seolah-olah tak bisa berkata-kata. Dia hanya terdiam bak patung diatas
panggung itu.
Semua penonton saling menatap satu dengan yang lain. Begitu pula yang di lakukan oleh para dewan juri.
"Nona Nadia, kenapa Anda diam saja dan tidak menjawab pertanyaan yang baru saja Saya ajukan?,".
__ADS_1
"Maaf ibu dewan juri, Aku harus jawab apa!. Sejak kecil sampai dewasa Aku tidak memengerti apa sebenarnya arti di balik sebuah keluarga itu, mempunyai orang tua tapi seolah-olah mereka tak ada, aku seperti berada di keramaian tetapi masih terasa sepih. Ibarat
mendayung sebuah perahu yang tak tau kemana arah tujuan untuk menepi " Nadia menundukkan kepalanya.
Seketika isi dalam ruangan aula terasa hening. Ada yang mununduk, ada pula yang mungusap air matanya mendengarkan perkataan Nadia.
"Nona Nadia, ambillah," Mc memberikan sebuah saputangan pada Nadia. Nadia mengambilnya lalu mengusap air matanya.
"Apa Nona Nadia cukup dengan jawabanya?," ucap dewan juri yang masih berdiri di depan Nadia.
Nadia mengangguk pelan tanpa mengangkat kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, Kami akan berdiskusi kembali, siapa tiga diantara kalian akan lolos masuk ke babak grand final," ibu dewan juri
berbalik badan dan menuju ke arah rekan-rekanya.
Kembali para dewan juri berdiri dan menuju kearah ruangan yang sempat mereka gunakan tadi.
Setelah semua dewan juri masuk kedalam ruangan. Kembali suara para penonton mulai terdengar.
"Kira-kira siapa diantara keenam peserta itu yang akan lolos ke babak berikutnya?," tanya seorang penonton pada temanya yang saat itu sedang duduk berdekatan dengan Tania, Diana dan Dewi.
"Menurut Aku juga begitu tapi Nadia juga mempunyai kesempatan untuk maju ke babak itu,".
"Bisa jadi, tapi jika Aku dengar jawaban yang dia berikan tadi pada para dewan juri kurasa dia tidak bakalan lolos,".
Tania yang mendengar itu, segera berdiri dan mendekati kedua orang yang sedang memperbincangkan Nadia.
"Maaf nona-nona, bukanya Aku memotong perbincangan Anda tapi kalau menyangkut Nadia, Aku sebagai sahabatnya pasti akan
membelanya. Aku rasa prediksi kalian berdua kali ini salah. Jawaban yang di berikan Nadia tadi itu nyata dan di berbicara sesuai dengan
apa yang dia alami. Aku rasa para dewan juri itu pasti mengerti apa yang di rasakan Nadia selama ini. Jika pun Nadia tidak lolos di babak
ini, dia masih punya golden tiket yang akan membuatnya terus maju sampai grand final,".
Kedua pun sontak tercengang mendengar tutur kata dari Tania.
"Wow... Nadia benar-benar hebat. Tapi yang jadi pertanyaan kami!, Apa Nadia akan lolos di sesi fesion dan kecantikan nantinya?," tanya salah
__ADS_1
seorang diantara mereka.
"Kalau masalah itu kalian berdua tenanglah, Kami yang akan bekerja dan kami pastikan, semua orang yang ada dalam ruangan ini akan terpukau melihat kecantikan beliau ," Tania
berbalik meninggalkan mereka berdua sembali tersenyum.
Kembali kedua orang itu saling menatap dan mengedikkan bahu mereka satu dengan yang lain.
Tidak lama kemudian kembali para dewan juri duduk di tempat mereka masing-masing setelah melakukan diskusi yang cukup panjang untuk
menentukan tiga diantara enam peserta lomba yang akan lolos ke grand final.
"Kami selaku dewan juri sangat berat untuk memutuskan siapa diantara kalian berenam ini yang akan lolos ke babak berikutnya. Karena
kami melihat diantara kalian berenam ini semuanya sudah layak jadi pemenang. Tapi namanya juga perlombaan pasti ada yang kalah
dan ada pula yang menang. Maka dari itu, dengan penuh ketelitian dan perhitungan maka kami memilih tiga diantara kalian berenam ini
yang akan lolos ke babak grand final. Selamat untuk Nabila, Mawar dan juga Nadia kalian bertiga dinyatakan lolos dan masuk ke babak grand final," ucap seorang pria parubaya selaku ketua dari dua puluh lima dewan juri.
Seketika gemuruh tepuk tangan pun bergema dalam ruangan aula.
Tania, Dewi dan Diana segera berlari menaiki mimbar dan segera memeluk Nadia sembari mengucapkan selamat.
"Nyonya, selamat Anda berhasil masuk final," ucap Diana yang duluan memeluk Nadia.
"Iya .....," balas Nadia sembari tersenyum penuh kegembiraan.
"Nyonya benar-benar hebat. Tanpa golden tiket pun nyonya bisa melenggang mulus maju ke babak final," lanjut Dewi memegang kedua
tangan Nadia.
"Sekarang giliran kami bertiga yang akan bekerja. Kami akan membuat Nyonya bak ratu diatas panghung ini. Gimana teman-teman apa kalian sudah siap?," tanya Tania pada kedua temanya.
"Siap ," balas Dewi dan Diana begitu antusias.
"Kalau begitu kita ciiisshhh.. ....," Keempatnya segera merentangkan jari-jari mereka lalu mengangatnya keudara secara bersamaan.
JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG CERITA DENGAN CARA LIKE, COMENT DAN SHERE.
__ADS_1