
Sebelum menjawab Nadia terlebih dulu meletakkan gelas diatas meja.
"Nyonya jangan asal bicara, sedikitpun Aku tidak pernah mengungkit masalah Dave dengan bekas tunanganya itu, Lagian untuk apa juga Aku mengurus urusan yang sama sekali tidak penting bagiku,". balas Nadia yang tidak terima tuduhan Anita padanya.
"Kamu memang pandai sekali mengelak. Sekarang kamu masih bisa bersenang-senang dengan Dave. Tapi ingat, setelah Dave dan Nelza
bersatu lagi, siap-siaplah untuk kembali kehabitatmu, menjadi gembel pertokoan," Anita berdiri menunjuk kearah Nadia.
"Silahkan saja kalau kalian bisa," Nadia berdiri dari tempat duduknya dan berbalik meninggalkan mereka berdua.
"Ibu, si cupu itu benar-benar tidak takut dengan ancaman ibu, dia jelas-jelas sudah berani memukul genderang perang di depan kita," Elis yang masih saja menatapi kepergian Nadia.
"Benar, bagaimana pun kita mengacamnya, dia sama sekali tidak ada takutnya. Penampilanya saja terlihat cupu tapi sepertinya dia perempuan yang kuat dan pemberani,".
"Terus bagaimana rencana kita selanjutnya, tidak mungkin bukan kita membiarkan cupu itu menguasai kak Dave dengan kata lain lambat laun dia akan menguasai seluruh harta Ayah,".
"Ibu tidak akan membiarkan semua itu terjadi, Ayo cepat kita temui Nelza sebelum semuanya terlambat," Anita menarik pergelangan tangan Elis dan melangkah keluar.
Sementara itu, kendaraan mewah yang di kemudikan oleh sekertaris Ken melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah toko kue milik Nadia.
Nadia hanya diam, menatap keluar jendela menikmati hiruk-pikuk suasana kota pagi itu.
Sepertinya ada beban tersendiri di dalam hatinya setelah pertengkaran kecilnya dengan Anita tadi.
Dave yang saat itu Duduk disampingnya merasa heran dengan perubahan pada Nadia.
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Nadia mengacuhkan dirinya bengitu saja.
"Kenapa kamu hanya diam seperti orang yang lagi marah besar, Apa Ibu dan Elis mengganggumu lagi?,".
Bergerak saja Nadia tidak apa lagi menjawab hingga membuat Dave makin kebingungan.
"Dia, cepat katakan apa sebenarnya yang terjadi. Jika benar mereka mengganggumu beri tahu padaku biar Aku memberi pelajaran pada
mereka berdua,".
Sama seperti tadi, Nadia hanya terdiam, Hingga membuat Dave harus menarik sedikit bahunya.
Seketika itu juga Nadia berbalik dengan air mata sudah menetes di pipinya.
"Kenapa kamu menangis?, coba katakan padaku apa yang telah di perbuat kedua perempuan itu padamu?,".
Nadia hanya menunduk lesuh dan tak berani menatap Dave.
"Dia....," suara Dav mulaui meninggi.
"Tolong lepaskan Aku jika kamu masih cintainya, dan biarkan Aku menjalani hidupku seperti dulu lagi. Soal hutang piutang ayahku, Aku akan membayarnya sedikit demi sedikit walau Aku tidak tahu sampai kapan semua itu bisa berakhir,". Nadia terik.
__ADS_1
Seketika hati Dave terasa dirajam palu, ada rasa sedih dalam hatinya sudah mengikat Nadia dengan hutang yang sama sekali tidak ada
sangkut paut denganya.
"Kemarilah," Dave menarik Tubuh Nadia lalu memeluknya dengan sangat erat. Dave membelai pucuk kepala Nadia dengan sangat lembut.
Sekertaris Ken yang melihat adegan itu turut berkaca-kaca merasakan apa yang di rasakan oleh Nadia selama ini.
Ayahnya yang berutan tapi Nadia yang harus menanggung semuanya.
Tidak lama kemudian kini kendaraan yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan toko.
"Jangan menangis lagi," Dave mengusap air mata Nadia dengan kedua ibu jarinya,".
Nadia hanya diam lalu keluar dari dalam mobil.
"Dia.......," panggil Dave dengan sangat lembut hingga membuat langkah kaki Nadia seketika terhenti.
Bagaimana tidak, panggilan Dia adalah panggilan di masa kecilnya.
Panggilan sayang Rudy dan Yunita sebelum Mawar lahir kedunia.
"Iya...," Nadia menjawab tanpa berbalik badan.
"Nanti siang Aku menunggumu di restoran RAMAYANA. Kamu Bersiap-siaplah sebelum jam 12 siang karena sekertaris Ken Akan datang untuk menjemputmu,".
Nadia kembali melanjutkan langkah kakinya kearah pintu masuk. Sesekali dia bejalan sambil melompat dan tersenyum-senyum sendiri.
Melihat kedatangan Nadia yang terus saja tersenyum sembari bernyanyi pelan. Bi Ona dan Rita saling menatap satu dengan yang lain lalu
kemudian tersenyum.
"Cie ada yang sedang kasmaran nich," bi Ona yang saat itu bura-pura mengaduk adonan yang sudah mengembang dan siap untuk di cetak.
Nadia yang mendengar ucapan bi Ona segera berhenti bernyanyi dan juga tersenyum.
"Siapa bi?," tanya Nadia polos.
"Cicak," balas bi Ona kemudian tertawa diikuti oleh Rita.
"Bibi...., orang lagi serius malah bercanda,".
"Nona juga sih, masuk bukanya beri salam malah tersenyum tidak menentu, atau jangan-jangan tuan Dave sudah mengutarakan isi hatinya pada Nona?,".
"Hii.....bibi," Nadia memanyun-manyunkan bibirnya.
"Apa ada pesanan kue yang harus di kita antar hari ini?," tanyanya Nadia yang saat itu ikut bergabung dengan bi Ona dan Rita mencetak kue.
__ADS_1
"Banyak Non, Mulai dari restoran, warung dan juga hajatan. Mereka memesan dalam partai besar,".
"Alhamdulillah..... akhirnya kue-kue buatan kita sudah banyak peminatnya. Ini semua berkat kalian berdua, Toko ini tidak bakalan ramai
tanpa kehadiran kalian berdua, teima kasih banyak atas semuanya,".
"Nona ini, kami malah senang kok kerja disini, lagian jika tidak ada toko ini kemana lagi kami harus mencari pekerjaan. Harusnya kami yang
berterima kasih pada Nona bukan sebaliknya, betul gak Rit?,"
"Betul bi, sewaktu saya masih bekerja sebagai buru cuci mobil, gaji Saya tidak menentu, terkadang ibu harus turun tangan mencari uang agar dapur kami tetap bisa berasap, saat Saya bertemu Nona Nadia dan mengajak Saya bekerja disini betapa gembiranya Saya. Setiap bulan dapat gaji besar hingga saya dan ibu sudah bisa membeli rumah walau nyicil selama bertahun-tahun,".
"Allhamdulillah kalau begitu, toko ini bisa juga jadi berkah, semoga kedepanya makin tambah maju, Amiin,".
"Amin," bi Ona dan Rita ikut mengaminkan.
Setelah beberapa Topleks sudah terisi kue, Nadia kemudian menghubungi kurirnya untuk mengantarkan kue pada si pemesan.
Tidak beberapa lama kemudian Joko, nama si kurir yang biasa mengantar kue pun datang.
Nadia segera menyerahkan beberapa topleks kepada Joko lalu memberinya secarik kertas sebagai alamat si pemesan dan tak lupa memberi uang jasa.
Setelah Joko pergi membawa pesanan-pesanan kue tersebut. Nadia kembali kedapur untuk bergabung dengan bi Ona dan juga Rita.
"Rita, pemesan berikutnya dari mana?," tanya Nadia yang kembali mengisi kue dalam topleks.
"Tunggu dulu Nona," Rita mengambil
handphonenya dan membaca beberapa pesan yang masuk.
"Eeee....restoran RAMAYANA, mereka memesan delapan topleks dan harus diantar sebelum pukul 12 siang ini,".
"Apa, restoran RAMAYANA?, bukankah itu restoran yang di bilang Dave tadi pagi?. Kalau begitu biar Aku yang mengantarnya kesana, agar sekertaris Ken tidak perlu bersusah-susah datang kemari menjemputku," ucap Nadia dalam
hati.
"Non, kenapa Anda melamun?," tanya Rita yang melihat Nadia seketika terdiam.
"Maaf...maaf, Kalau begitu biar Aku yang mengantarnya kesana, sekalian keluar untuk membeli bahan yang sudah mulai menipis,".
Rita dan bi Ona mengangguk tanda
mengiyakan.
Mohon bantunya untuk beri coment pada video terakhir Aku di youtube agar bisa berkembang seperti channel yang lain" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" terima kasih.
SALAM BUAT TEMAN DIMANA DISELURUH PENJURUH TANAH AIR DAN JUGA TEMAN TEMAN YANG ADA DI MALAYSIA.
__ADS_1