SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 108. VIRUS CINTA.


__ADS_3

Mendengan izin dari Dave, Goyun seakan ingin segera terbang ke tempat bi Ona untuk menemui dambatan hatinya itu.


"Kenapa hanya bengong disitu, atau kamu mau Aku menyuruh Ken untuk menjemput bi Ona kemari,".


"Jangan tuan, itu sudah jadi tugasku, dari nyonya jadi Aku yang harus melakukanya,"


"Terus kenapa kamu masih berdiri seperti ondel-ondel bernyawa situ,".


"Maaf tuan, nyonya, kalau begitu Saya permisi dulu," dengan langkah Goyun segera meninggalkan tempat itu.


Selepas kepergian Goyun Anita dan Elis segera berdiri.


"Dave, silahkan lanjutin sarapan kalian, kami mau ke kamar dulu," pamit Anita.


"Pergilah," balas Dave.


"Ayo Elis, kita pergi ," bisik Anita di telinga Elis.


Elis mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Sayang apa Aku boleh bertanya sesuatu padamu," ucap Nadia saat kedua orang itu sudah pergi dan hilang di balik pintu.


"Tunggu dulu, biar Aku tebak apa yang akan kamu tanyakan padaku. Pasti kamu ingin bertanya jam berapa nanti Aku pulang biar kamu bisa bermanja-manja denganku bukan?," senyum Dave lalu mengambil gelas berisi air putih yang ada di sampingnya dan meminum isinya hingga tersisa setengahnya saja.


"Hi...kamu ini, orang lagi serius kamu malah bercanda," raut wajah Nadia tiba-tiba cemberut.


"Begitu saja ngembek. Ingat Dia, ibu hamil itu moodnya harus selalu stabil karena kelak itu yang akan menentukan cantik, gantenya bayi yang akan dia lahirkan nanti. Kalau tidak percaya coba lihat dan bandingkan suamimu ini dengan Elis jauh beda bukan?. itu karena mood ibunya selalu datar dengan berbagai pikiran jahat di otaknya,".

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu berpikiran kearah sana. Ada baiknya Aku pergi saja,". Nadia mencoba berdiri tapi segera di halangi oleh Dave.


"Katakanlah biar Aku menjawabnya,".


Sebelum bicara Nadia kembali memperbaiki posisi duduknya.


"Sejak kapan paman Goyun bekerja disini?. Jika Aku perhatikan selama ini, sepertinya dia sangat menyayangimu seperti kakak atau setidaknya paman yang menyayangi keponakanya?,".


"Goyun bekerja di sini saat Aku masih sekolah, kalau Aku tidak salah ingat, Ayah membawa Goyun kemari saat Aku duduk di kelas tiga SLTA. Saat itu Goyun masih sangat muda, umurnya kisaran 23-24 tahunan. Ayah menemukanya dia di sebuah tumpukan sampah dengan badan di penuhi lalat. Ayah mengira kalau Goyun sudah mati, tetapi setelah ayah mendekatinya ternyata dia masih hidup (sesaat Dave menarik nafas dalam-dalam mengingat peristiwa itu). Ayah lalu membawanya kemari, melatih dan menyuruhnya belajar agar kelak dia bisa menjagaku. Ayah sering menyuruhku memanggilnya kakak atau setidaknya paman tapi Aku tidak mau karena Aku merasa dia tidak pantas menjadi paman apalagi kakakku. Dulu memang Aku egois, selalu memandang rendah pada orang" Dave, kamu harus panggil Goyun dengan sebutan kakak atau setidaknya paman, karena dia lebih tua darimu, jika kamu bisa melakukan hal itu maka Ayah akan membelikanmu motor balap harga selangit seperti impianmu selama ini," Dave menurikan ucapan almarhum ayahnya.


"Apa kamu tahu apa jawabanku saat itu?,"


Nadia langsung menggeleng.


"Kenapa ayah bukan ayah saja yang memanggilnya adik, kalau ayah bisa melakukan itu maka Dave yang akan membelikan ayah mobil," Aku berlari keluar meninggalkan ayah dan Goyun. Ibu yang duduk tak jauh dari tempat itu hanya bisa menggeleng melihat perilakuku yang tidak ada hormat-hormatnya pada orang tua. Dari kecil mereka memanjakanku hingga Aku lupa dengan adat dan tata krama.


Setalah Aku besar barulah mereka sadar kalau didikan mereka selama ini padaku itu dan semuanya sudah terlambat, Aku sudah bebal dan sudah tidak mau mendengar perkataan mereka.


"Hii...kamu ini, Almarhum ayah menyuruhmu, bukan menyuruhku jadi suamiku sendiri yang harus melalukanya. Memang apa sih susahnya menghormati orang yang lebih tua dan juga baik seperti paman Goyun itu,". Nadia ikut berdiri.


"Dia...Dia, kamu itu istriku jadi kamu adalah penyambung lidah suami yang artinya kalau kamu memanggil paman pada Goyun itu sudah mewakiliku," Dave melangkah meninggalkan ruang makan.


"Dasar keras kepala,". omel Nadia mengikuti Dave dari arah belakang.


"Kepala yang mana Sayang," sesaat Dave menghentikan langkahnya lalu tersenyum pada Nadia.


"Sudalah berdebat denganmu sama halnya berdebat dengan batu, semoga anak-anakku nanti tidak ada yang mengikuti ayahnya,".

__ADS_1


"Bukan anak-anakmu tapi anak-anak kita sayang, camkan itu baik-baik,".


Setibanya di luar, Dave segera mencium pucuk kepala Nadia.


"Kamu hati-hati dirumah, duduk dan bersantai saja. Awas jangan sampai nanti Aku memantau dari kantor lewat CCTV dan melihatmu berbuat aneh-aneh maka hukumanmu akan Aku tambah. Sayang ayah berangkat dulu, kalian baik-baiklah di dalam sana dan jangan merepotkan ibumu. Jika ibumu yang merepotkanmu lapor sama ayah biar nanti ayah yanh memberi hukuman," Dave mencium sekali saja perut Nadia karena takut bayi-bayinya akan tertindas di dalam seperti akal-akalan Nadia dan dokter Fatmah.


"Sayang, Aku berangkat dulu," Dave menyodorkan tanganya lalu Nadia menciumnya.


"Kamu juga hati-hati dan segera pulang, karena di rumah sudah ada tiga orang yang akan selalu menunggu kepulanganmu,".


"Tentu itu sayang," Dave segera masuk kedalam mobil.


Sedikit demi sedikit mobil yang dikemudikan oleh sekertaris Ken meninggalkan mension.


Sementara itu di toko Nadia, Goyun yang baru saja tiba di sana segera keluar dari dalam mobil lalu melangkah menuju pintu masuk.


"Assalamualaikum. Marko, apa kamu sudah siap Sayang," Goyun sedikit meninggikan suaranya lalu melangkah menuju keruang tamu dan duduk di sofa.


Rita yang sedang berada di dalam kamar membantu bi Ona menyusun pakaianya seketika tertawa saat mendengar teriakan Goyun.


"Kemarin Markonah, sekarang Marko besok-besok pasti nama Ona akan berganti Markus, kenapa tidak sekalian Corona saja biar virus cintanya semakin mematikan,".


Plok.....dua tepukan seketika mendarat di pundak Rita. Bukanya merasa sakit Rita malah semakin terbahak.


"Rita baru sadar, kalau budak cinta itu tidak memandang umur. Tua, muda pasti akan merasakanya. Benar-benar Virus yang sangat mematikah,"


Bi Ona sama sekali tidak mau menggubris ucapan Rita yang semakin di ladeni akan semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


BAGI PENCINTA CERITA PENDEK, ROMANTIS DAN ADA UNSUR 21+ YUCK MAMPIR KE CHANNELKU DI YOUTUBE DAN JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN NYALAKAN LONCENGNYA. TERIMAH KASIH.



__ADS_2