SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 53. PERTEMUAN ANITA, ELIS DAN NELZA.


__ADS_3

"Apa Dave masih selalu menanyakan kabarku saat Aku berada di Amerika?," tanya Nelza setelah mobil berjalan meninggalkan bandara.


"Dulu iya, tapi sekarang sudah tidak lagi," jawab sekertaris Ken yang saat itu sedang fokus mengemudi.


"Apa maksudmu dengan sekaran tidak lagi?,".


"Tuan Dave sedang sibuk mengurus perusahaan, jadi beliau tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain diluar dari pada pekerjaan. Nano Nelza, mulai sekaran Anda jangan menemui Tuan Dave jika bukan beliau sendiri yang meminta Anda untuk menemuinya,".


Seketika itu juga mata Nelza melotot.


"Kamu jangan bercanda Ken, tidak mungkin Dave melarangku untuk bertemu denganya. Ini pasti karang-karanganmu saja bukan?".


"Terserah Anda mau percaya atau tidak tapi seperti itulah pesan beliau padaku. Anda jangan menyalahkan Tuan Dave dalam hal ini tetapi


salahkan diri Anda sendiri, kenapa Nona meninggalkan beliau dalam masa-masa dimana beliau sangat membutuhkan seseorang untuk


memberinya semangat agar bisa bangkit dari keterpurukan. Saat semuanya sudah membaik Nona kembali lagi. Apa salah jika Tuan Dave melakukan itu?,".


Nelsa hanya terdiam, semua ucapan sekertaris Ken ada benar.


Saat Dave dalam keadaan terpuruk dan perusahan sedang mengalami krisis, dia malah pergi untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang model dan tidak pernah memberi kabar pada Dave.


Suasana dalam mobil seketika hening, hanya suara mesin mobil dan klakson kendaraan yang sesekali terdengar hingga mereka tiba juga di


depan sebuah apartemen mewah.


"Nona, turunlah,".


"Kenapa kamu tidak membuka pintu untukku seperti dulu?," Nelza yang saat itu menunggu sekertaris Ken untuk membuka pintu mobil seperti saat dia masih bersama dengan Dave.


"Aku bekerja untuk Tuan Dav dan mendapatkan gaji darinya, Kalau Nona ingin menggajiku, maka


dengan senang hati saya akan membuka pintu untuk Anda,".


"Dasar sekertaris aneh," Nelza keluar dari dalam mobil dan menarik kopernya ikut keluar.


Setelah Nelza dan semua barang-barangnya sudah keluar dari dalam mobil, sekertaris Ken segera pergi meninggalkan lokasi apartemen dan hilang di pembelokan jalan.


Nelza terus melangkah masuk kedalam bangunan aparteman. Kemudian memasuki lift menuju ke lantai paling atas dimana biasa dia

__ADS_1


tinggal saat dia masih menetap di negara itu.


Kembali pintu lift kembali terbuka, Nelza segera keluar dari dalam sana dan melanjukan langkahnya menuju kearah apartemen miliknya.


Belum juga Nelza sampai di depan ruangan apartemenya, Dua perempuan sudah berlari kecil menghampirinya.


"Akhirnya kamu datang juga Nelza, tante sudah sangat Rindu denganmu," Anita memeluk Nelsa begitu erat.


"Nelsa juga kangen tante," Nelsa membalas pelukan Anita.


"Kangen-kangenya sebaiknya di lanjutin di dalam saja, tidak baik di lihat orang," Elis yang


saat itu mengambil koper dari tangan Nelsa.


Anita dan Nelsa melepas pelukan mereka lalu mengangguk mengiyakan ucapan Elis.


Tidak lama kemudian, ketiganya


masuk kedalam aparteman milik Nelsa, pemberian dari Dave sebagai kado ulang tahunya saat mereka masih bersama.


Anita dan Elis langsung menuju kearah sofa sedangkan Nelza sendiri masuk kedalam kamar sambil membawa barang bawaanya.


"Baiklah kalau itu menurut ibu yang terbaik untuk sekarang ini,". balas Elis.


Dari arah dari arah kamar tampak Nelza keluar dari dalam sana dengan membawa dua bingkisan lalu duduk di sofa berdekatan dengan Anita.


"Ini ada sedikit oleh-oleh khusus Nelza bawa buat tante jauh-jauh dari Amerika, semoga saja tante menyukainya," Nelsa memberikan sebuah bingkisan buat Anita.


"Apa ini Nel, Kenapa sampai kamu repot-repot membeli oleh-oleh seperti ini buat tante," Anita sedikit menolak tapi tanganya begitu gesit mengambil bingkisaan itu dari tangan Nelza.


"Cuman oleh-oleh biasa kok tante, Nah ini buat kamu Elis," sama halnya dengan ibunya, Elis pun begitu gesit mengambil bingkusan itu dari tangan Nelza.


"Terima kasih banyak kak, Kak Nelza memang calon kakak ipar yang terbaik," Elis menatap bingkisa yang ada di tanganya dan meperhatikan dari sisi kiri dan kanan secara bergantian sembari tersenyum.


"Ngomong-ngomong bagaimana kabar Dave sekarang?, sudah hampir dua tahun ini kami tidak pernah saling tegur atau pun melakukan video call seperti dulu karena kesibukan kami masing-masing?,".


"Dave masih seperti dulu dan selalu saja menanyakan kabarmu," balas Anita tersenyum untuk menyembunyikan kebohonganya.


"Benarkah!," Nelza tersenyum lalu kemudian melanjutkan ucapanya.

__ADS_1


"Tapi kenapa sekertaris Ken bilang kalau aku tidak boleh menemui Dave kalau bukan dia sendiri yang menginginkanya?,".


Sebelum menjawab Anita dan Elis saling menatap satu sama lain.


"Kak Dave lagi sibuk-sibuknya mengurus perusahaan yang makin ke sini makin berkembang pesat, jadi dia ingin fokus untuk sementara ini. Jangankan kakak, kami berdua pun jarang sekali bertutur sapa denganya. Yaitu tadi kesibukan kak Dave makin padat," potong Elis seketika setelah mengetahui kalau ibunya tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan


Nelza.


"Oh ..jadi seperti ini, Aku kira Dave sudah mulai melupakanku,".


kini wajah Nelza kembali ceria setelah mendengar alasan kenapa Dave membatasi dirinya untuk bertemu.


"Kita bahas yang lain saja, untuk masalah Dave serahkan saja semuanya pada tante. Ngomong-ngomong bagaimana dengan karirmu setelah kamu menempuh pendidikan di luar sana,"


Anita mencoba mengalihkan pembicaraan agar Nelza tidak lagi bertanya terlalu banyak tentang Dave.


Nelsa menuturkan panjang lebar perjalan karirnya pada mereka berdua selama dirinya tinggal di Amerika.


Waktu terus bergulir hingga tidak terasa sore pun menjemput. Dave yang sekarang ini sudah pulang ke mension bersama Nadia terlihat sibuk dalam ruang kerjanya.


Tampak pria tampan itu sedang mengotak atik laptot yang ada di depanya dan tentunya ditemani oleh sekertaris Ken yang berdiri di sampingnya yang juga fokus menatap layar laptop yang sedang di kendalikan oleh Dave.


"Semua gudang penampungan kita yang ada di kota ini sudah terisi penuh, sedangkan kita masih memiliki banyak bahan baku yang belum kita ambil dari pelabuhan dan juga bandara. Jika kita membawa bahan baku tersebut ke luar daerah


maka proses pengangkutanya akan lama dan tentunya memakan biaya yang cukup besar. Ken, Apa kamu punya solusi dengan masalah ini?," tanya Dav pada sekertaris Ken.


"Jalan satu-satunya yaitu kita harus memiliki sebuah gudang di antara pelabuhan dan juga bandara," balas sekertaris Ken.


"Tapi kita tidak memiliki lokasi diantara bandara dan juga pelabuhan seperti katamu?, mustahil


kalau kita membeli tanah penduduk yang sudah lama bermukim disana,".


"Ada sebuah lokasi yang luasnya kurang lebih 4 hektar dan memiliki posisi yang sangat strategis antara bandara dan juga pelabuhan. Tapi sayang, sang pemilik tidak mau menjualnya karena itu adalah lokasi peninggalan orang tuanya,"


Seketika itu juga Dave berbalik dan menatap kearah Ken.


JANGAN LUPA IKUTI JUGA CHANNEL YOUTUBE AUTHOR" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" DAN JANG LUPA COMENT DAN NYALAKAN LONCENG NOTIFIKASINYA TERIMA KASIH.


__ADS_1


__ADS_2