
Sepeninggal dokter tadi, Dave melangkah menuju kearah pintu keluar. Tatapan matanya.kosong, hatinya diselimuti kekuatir yang begitu mendalam.
Sekertaris Ken yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya hanya bisa mengikutinya dari arah
belakang. Dia sama sekali tidak berani untuk bertanya karena dia tahu
keadaan hati Dave saat ini tidak baik-baik saja.
Dave terus melangkah menuju kearah parkiran dan berhenti tepat di samping mobil. Tanganya bergetar memegangi gagang pintu mobil kemudian menarik dan masuk kedalam.
Sekertaris Ken ikut membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk pada kursi pengemudi.
"Ken, ayo kerumah Rudy," Dave menatap kearah keluar jendela dan menyandarkan kepalanya dibadan mobil.
"Baik Tuan," balas sekertaris Ken lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi meninggalkan area rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, tidak ada sepata kata pun keluar dari mulut mereka. Mereka hanya diam dengan pikiran masing masing.
Butuh waktu sekitar lima belas menit mobil melaju hingga akhirnya mereka tiba juga di kediaman Rudy.
Rumah mewah yang berdiri kokoh di tengah-tengah kota.
Sekertaris Ken menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang.
Melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan pagar, sang penjaga berlari kecil menghampiri
mobil mewah tersebut.
"Selamat siang Tuan, kalau boleh tahu kalian sedang mencari siapa?," tanya sang penjaga dari dalam pagar.
"Apa tuanmu ada?," tanya balik sekertaris Ken yang masih duduk di dalam mobil bersama Dave.
,
"Beliau ada di dalam, apa kalian sudah ada janji sebelumnya dengan beliau?,".
"Bilang padanya kalau Tuan Dave ingin menemuinya,".
"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar biar saya memanggil tuan Rudy untuk kalian," sang penjaga pun
berlari kecil masuk kedalam rumah.
Tidak berselang lama kemudian muncul Rudy, Yunita dan Mawar dari dalam rumah dan melangkah mendekati mobil Dave dan sekertaris Ken.
Melihat kedatangan Rudy dan keluarganya, Dave dan sekertaris Ken segera keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Untuk apa lagi kalian datang kemari?, Apa belum cukup dengan apa yang kalian telah lakukan pada kami," ujar Yunita dengan raut wajah tidak
bersahabat.
"Sombong sekali, Aku juga tidak akan
menginjakkan kakiku kemari kalau bukan karena keselamatan istri dan anak-anakku," balas Davemenahan emosinya.
"Apa yang terjadi dengan Nadia?," Rudy yang kini mengangkat bicara.
"Istriku jatuh dan sekarang ada dirumah sakit, dokter akan segera melakukan operasi caesar padanya tapi persedian darah O kosong, apa
diantara kalian bertiga ini ada yang memiliki darah yang sama denganya?,".
Rudy, Yunita dan Mawar saling menatap satu dengan yang lain, hingga mawar dan Yunita tersenyum penuh arti.
"Ha..ha..jadi karena si cupu itu Tuan bela-belain datang kemari?, Ternyata cinta memang bisa mengalihkankan segalanya," tawa Mawar pecah.
Wajahnya begitu gembira setelah mendengar kalau Nadia lagi dalam bahaya.
"Diam kamu Mawar, sekali lagi kamu mengatai istriku cupu maka kupatakahkan seluruh tulang
belulangmu," Dave dipenuhi emosi.
"Lakukan saja jika tuan bisa. Tapi ingat, Aku tidak akan memberikan darahku pada Nadia terkecuali!," Mawar sesaat memotong ucapanya.
"Cepat katakan, terkecuali apa?," bentak Dave sambil memegangi jeruji pagar.
"Chiii....sampai kapanpun Aku tidak akan menggantikan istriku dengan orang lain apalagi perempuan seperti dirimu," Tunjuk Dave pada Mawar.
"Terserah tuan saja mau atau tidak Yang jelasnya Aku hanya memberi saran siapa tahu Tuan mau,".
"Kalian memang manusia-manusia yang tidak punya hati, Aku menyesal masih membiarkan perusahaan kalian berjalan seperti sekarang ini
karena Aku tahu istriku masih menganggap kalian itu keluarga, tapi setelah mendengar perkataan kalian hari ini maka, Aku bersumpah,
Aku akan hancurkan perusahaan kalian itu hingga hanya tinggal kenangan," emosi Dave kini memuncak.
"Terserah Anda, semua keputusan ada di tangan Anda, ingin Nadia selamat maka ikuti persyaratan kami, tapi jika Anda masih berkeras hati jangan menyesal kalau Nadia dan anak dalam kandunganya itu tidak bisa terselamatkan. Anda akan menyesal seumur hidup Anda karena
orang-orang yang Anda cintai tidak bisa Anda selamatkan karena keegoisan Anda sendiri,".
Dave seketika terdiam ancaman mawar benar benar mujarab.
"Bagaimana?. kalau Anda tidak setuju
persyaratan tadi maka kami akan masuk karena masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan
__ADS_1
bukan hanya mengurusi perempuan yang sudah tidak berdaya di rumah sakit itu. Ayo Ayah, bu
kita masuk," ajak Mawar pada Rudy dan juga Yunita.
Ketiganya pun berbalik, belum juga mereka melangkah tiba-tiba handphone dalam saku celana Dave berdering.
Rudy, Yunita dan juga Mawar sontak berhenti. Dave mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya dan mendapati nama dokter Andy memanggil.
"Hallo, ada apa kamu menghubungiku?," tanya Dave kurang bersemangat.
"Tuan, mohon maaf sebelumnya, tapi ini sudah sangat genting, Nyonya akan segera dioperasi, kondisinya semakin memburuk. Kami harap,
Anda bisa segera kemari," ucap dokter Andy.
"Tapi Aku belum menemukan pendonor darah yang sesuai,".
"Disini sudah ada seseorang yang bersedia mendonorkan darahnya pada Nyonya, jadi kami harap tuan segera kemari secepatnya sebelum operasinya dimulai,".
"Baiklah, Kalau begitu Aku akan segera kesana," Dav memutuskan sambungan teleponya dengan
Dokter Andy.
Dave yang diselimuti rasa panik mencoba tersenyum pada Rudy, Yunita dan Mawar.
"Kalian akan menyesali sudah membuat istri dan anak-anakku menderita. Hari ini dan saat ini juga Aku akan hancurkan perusahaan kalian seperti janjiku tadi," senyum iblis Dave pada ketiganya.
Seketika Rudy, Yunita dan Mawar berlari dan sujud di hadapan Dav yang saat itu terhalang oleh jeruji besi pintu pagar.
"Tolong jangan lakukan ini pada kami," tangis Yunita diikuti Mawar sedangkan Rudy hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Sekarang kalian bertiga baru menyesal tapi semuanya sudah terlambat. Kalian bertiga nikmatilah peranan kalian sebagai gembel di kota ini, Ken ayo pergi," Dave selangkah menuju kearah mobil.
"Baik Tuan," balas sekertaris Ken mengikuti Dave dari arah belakang.
"Tuan, tolong jangan lakukan ini pada kami," teriak Yunita dan Mawar diikuti dengan jerit tangis mereka.
Setibanya di rumah sakit, Dave segera keluar dari dalam mobil dan berlari masuk kedalam.
Sudah ada bi Ona dan juga Rita yang berdiri di depan pintu ruang operasi dengan raut wajah lesuh dan juga panik.
"Dimana istriku?," tanya Dave mendekati mereka dengan deru nafas tersengal.
"Nyonya ada didalam, Beliau sedang di tangani oleh dokter bedah dan kandungan, " balas bi Ona sedikit menundukan kepalanya.
Setelah mendengar jawaban dari bi Ona, Dave melangkah menuju kursi tunggu, tampak pria tampan itu menundukkan kepalanya dan
menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
__ADS_1
"Ya Tuhanku, sekiranya selamatkanlah istri dan
juga bayi-bayi kami. Aamiin,".