SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 115. TRAGEDI NADIA.


__ADS_3

Hari terus berganti hingga tidak terasa 5 bulan sudah berlalu. Usia kandungan Nadia saat itu sudah berjalan 8 bulan.


Saat itu Nadia sedang berada di dalam kamar di temani oleh bi Ona, dua suster dan beberapa pelayan.


Dave sengaja memberi penjagaan ketat pada Nadia di masa mendekati hari persalinan karena dia tidak ingin Nadia serta putra-putrinya mengalami hal yang tidak inginkan.


"Bi Ona, boleh tidak kita keluar sebentar, Nadia merasa bosan terus- menerus berada di dalam kamar sepanjang hari," Nadia berdiri dari


tempat duduknya.


"Tapi Nyonya, Tuan Dave pasti akan marah besar jika mengetahui ini. Apa tidak sebaiknya Nyonya minta izin terlebih dulu pada beliau sebelum Anda keluar dari dalam kamar," cegah bi Ona yang tak ingin teledor seperti sebelumnya hingga membuat Dave harus memecat beberapa pelayan yang menjaga Nadia saat itu.


"Hanya sebentar kok bi, Nadia hanya ingin membuang penat di taman, setelah itu kita kembali lagi kemari sebelum suamiku pulang" Nadia


melangkah menuju kearah pintu keluar sembari memegangi perutnya.


"Baiklah, asal Nyonya janji akan segera kembali sebelum Tuan Dave pulang," bi Ona berlari kecil lalu


memegangi lengan Nadia.


Nadia hanya mengangguk tanpa menghentikan langkahnya. Setelah seorang pelayan membuka pintu buat mereka, keduanya pun melangkah menuju kearah taman di ikuti oleh dua suster beberapa pelayan dari arah belakang.


Setibanya di tanam, Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskanya dengan kasar.


Rasa kebebasan di masa ke hamilan kini baru dia dapatkan. Dave memang sering menemaninya ke taman itu tapi Nadia harus nuruti apa keinginan suaminya itu. Tidak boleh ini tidak boleh itu hingga membuat Nadia sedikit tertekan tapi Nadia juga paham kalau Dave melakukan semua itu hanya untuk kebaikan dirinya dan juga putra-putri mereka.


"Akhirnya bisa juga bersantai tanpa ada pengawasan dari Dave, Dia benar-benar suami posesif tapi sangat perhatian denganku dan juga


anak-anaknya. Aku sangat beruntung bisa memiliki suami sepertinya walau terkadang kelakuan konyolnya membuatku jengkel," Nadia tertawa geli mengingat tingkah konyol Dave selama ini.


Bi Ona dan beberapa pelayan hanya


mengawasinya dan tidak berani mengganggu kesenangan Nadia.


Tanpa mereka sadari dua pasang bola mata meperhatikan mereka dari arah kejauhan.


"Ini kesempatan terakhir kita untuk melenyapkan putra si cupu itu," ucap salah seorang dari mereka.


"Tapi bagaimana caranya, sedangkan Kita tahu tahu sendiri, si cupu itu di kelilingi oleh beberapa pelayan yang siap mati untuk melindunginya,"


"Dari pada kamu banyak bicara lebih baik kamu ikut ibu saja," keduanya pun meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Setelah puas bersantai di taman, Nadia keluar dari lokasi taman dan melangkah menuju kearah kamar yang tentunya bi Ona dan


beberapa pelayan dengan setia mengikutinya.


Nadia terus melangkah hingga akhir dia tiba juga di depan Kamar.


"Kalian boleh beristirahat sekarang, Aku yakin, kalian semua sudah merasa jemu setelah seharian hanya menemaniku di dalam kamar tanpa berbuat apa-apa. Biar bi Ona saja yang menemaniku sampai Tuan Dave pulang," perintah Nadia, pada beberapa pelayang yang memang sudah terlihat sangat kelelahan.


"Tapi Nyonya," balas salah seorang dari pelayan itu lalu menatap kearah bi Ona yang berdiri disamping Nadia.


"Pergilah, kalian boleh beristirahat sekarang. Urusan Nyonya Nadia serahkan semuanya padaku," angguk bi Ona pada pelayan tersebut.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu,".


Kelima pelayan tersebut pergi meninggalka tempat itu setelah mendapat persetujuan dari bi Ona. Setelah kepergian pelayan tadi, bi Ona membuka pintu untuk Nadia.


Belum juga beberapa kali Nadia mengayun langkahnya tiba-tiba kakinya terpeleset. Bi Ona yang melihat hal itu segera berlari untuk menangkap tubuh Nadia tapi sayang, Nadia sudah terjatuh dengan posisi tengkurap diatas lantai sembari meringis menahan sakit memegangi perutnya.


"Aduh....bi sakit," Tak hayal lagi darah segar mulai menetes dari selah-selah


paha Nadia.


kamar Dave dan Nadia.


Goyun yang pertama tiba disana juga begitu panik setelah melihat Nadia terbaring di atas pangkuan bi Ona sambil memegangi perutnya


dengan darah segar keluar dari selah-selah pahanya.


"Ona, apa yang terjadi pada Nyonya Nadia?, Kenapa bisa seperti ini?," tanya Goyun sambil duduk mensejajarkan tubuhnya dengan mereka berdua.


"Tiba-tiba saja Nyonya terpeleset, Ada


seseorang yang sengaja menyiram minyak pada.lantai kamar ini," jawab bi Ona sambil memegang lantai yang sudah di penuhi minyak.


"Kurang ajar, dia akan menanggung kemarahan dari tuan Dave, Ayo kita bawa nyonya kerumah sakit sebelum semuanya terlambat," Goyun mengangkat tubuh Nadia yang mulai tidak sadarkan diri.


Goyun menggendong tubuh Nadia keluar dari dalam mension dan membawanya kearah mobil diikuti oleh bi Ona.


Setelah mereka bertiga sudah berada dalam mobil, Goyun menjalankan kendaraan dengan kecapatan tinggi dengan rasa panik mendera dalam


hatinya.

__ADS_1


Keselamatan Nadia dan amarah Dave


membuatnya tidak konsentrasi. Beberapa kali Goyun hampir saja menabrak pengendara lain sakin


paniknya.


"Abang, berhati-hatilah. Aku yakin, Nyonya Nadia akan baik-baik saja," Bi Ona yang kalah itu menidurkan Nadia diatas pangkuanya sembari membelai lembut kepalanya.


Sebenarnya bi Ona juga merasa sangat panik melihat keadaan Nadia, tapi dia mencoba tegar agar Goyun tidak bertambah panik.


Butuh beberapa menit hingga akhirnya mereka tiba juga di sebuah rumah sakit milik perusahaan


TRI DARMA BAKTI grup milik Dave.


"Dokter, cepat bawa brankarnya kemari" teriak Goyun memecah dan menghentikan semua aktifitas dalam rumah sakit itu.


Melihat siapa yang berteriak, para Dokter dan perawat segera berlari mendekat kearah Goyun sambil mendorong brankar


"Sore pak Goyun, siapa yang sakit?," tanya seorang Dokter parubaya dengan kacamata tebal.


"Kamu tidak usah banyak tanya, cepat dekatkan brankar itu ke mulut pintu mobil," bentak Goyun pada dokter parubaya itu.


Goyun membuka pintu mobil dan mengangkat tubuh Nadia yang sudah lunglai tidak sadarkan diri.


Goyun kemudian meletakkan tubuh Nadia dengan pelan sekali diatas brangkar. Para perawat segera


mendorong tubuh Nadia masuk kedalam rumah sakit menuju kearah UGD.


Setelah tiba depan UGD, bi Ona masuk kedalam untuk menemani Nadia sedangkan Goyun tinggal di luar.


Goyun melangkah menuju kearah kursi tunggu, wajahnya masih diselimuti rasa panik melihat keadaan Nadia sebelum dia dibawa masuk kedalam ruang UGD.


Pria parubaya itu mendudukkan tubuhnya diatas kursi lalu menundukkan kepala dengan kedua tanganya sebagai penyangga.


"Aku benar-benar tidak berguna, Aku tidak bisa melindungi penerus keluarga Anggoro seperti janjiku pada Tuan Anggoro sebelum beliau meninggal. Mungkin sudah saatnya Aku pensiun dan menghabiskan sisa hidupku di kampung,"


Goyun mengusap kasar wajahnya dengan tatapan kosong kedepan.


BAGI KAWAN-KAWAN PENCINTA CERITA DEWASA YUCK MAMPIR KE CHANNEL YOUTUBE AUTHOR. JANGAN LUPA BERI SUBCRIBE, LIKE, COMENT, SHERE DAN NYALAKAN LONCENGNYA AGARA TIDAK KETINGGALAN VIDEO TERBARUNYA. TERIMA KASIH.


__ADS_1


__ADS_2