SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB. 85. TIBA DI HOTEL.


__ADS_3

Mobil texi melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah hotel dimana reuni itu sebentar lagi akan di adakan.


"Nyonya, apa tidak mengapa jika Saya ikut dalam reunian itu. Sedangkan Saya bukan bagian dari SMA 80," tanya Rita di selah-selah mobil melaju.


"Tidak ada yang melarang, jika pun ada itu sudah menjadi urusanku, kamu tenang saja Rit, ada Aku yang akan selalu melindungimu," Nadia mencoba menenangkan kebimbangan hati Rita hingga membuat Rita tersenyum dan perasaan hatinya sudah merasa legah.


SMA 80 adalah sekolah menegah atas bagi para anak bangsawan yang ada di kota itu. Hanya keturunan para bangsawan yang dapat masuk dalam sekolah bergensi tersebut kecuali ada siswa/siswi yang memiliki prestasi dan di rekrut langsung oleh sekolah yang memiliki fasilitas internasional contohnya Nadia dan beberapa pelajar yang memiliki prestasi gemilang.


Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya mobil texi yang di tumpangi Nadia dan Rita berbelok masuk kedalam kawasan hotel" GANESSA", sebuah hotel mewah menjulang tinggi kelangit dan berdiri kokoh di tengah pusat kota.


"Pak ini ongkosnya," Nadia menyerahkan beberapa lembar uang kertas pada sang pengemudi taxi.


"Ini terlalu banyak nona," sang supir berniat mengembalikan uang Nadia tapi segera di cegah oleh Nadia.


"Untuk bapak saja. Rit, ayo kita masuk sebelum acaranya di mulai,". Nadia memegang pergelangan Rita dan membawanya menuju pintu masuk.


"Terima kasih nona, semoga kalian selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa,".


"Sama-sama pak," balas Nadia tanpa berbalik.


Keduanya terus melangkah hingga mereka tiba di depan pintu masuk dimana seorang satpam parubaya berwajah seram dangan kumis tebal sedang berdiri di depan pintu masuk.


"Ada keperluan apa kalian kemari?," tatap pak satpam itu memperhatikan Nadia dan Rita saling bergantian dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kami ada acara reunian pak, Apa kami boleh masuk?," balas Nadia ramah sementara Rita merasa ngeri dengan pria itu.


Sudah jadi pengalaman bagi Rita, orang-orang pasti memandang kaum biasa jika berada pada tempan mewah seperti sekarang ini.


"Apa kalian memiliki undanga?," tanya lagi pak satpam yang kurang percaya dengan kedua orang yang berdiri dihadapanya.


"Iya ada," Nadia membuka handphone dan memperlihatkan sebuah photo dalam layar.

__ADS_1


"Benar dan kamu?," tatap pak satpam pada Rita.


"Sahabat Aku ini tidak punya undangan karena dia hanya ikut denganku," balas Nadia sebelum Rita menjawab.


"Kalau begitu kamu boleh masuk, sedangkan dia silahkan menunggu di tempat parkir,".


"Tolonglah pak, kami datang berdua jadi biarkan kami masuk berdua," Nadia yang kini mulai memohon.


"Tidak bisa seperti itu, kamu saja tidak akan Aku biarkan masuk walau pun kamu punya undangan andai tidak mengingat perintah nona Nelza, apalagi dia yang sama sekali tidak punya undangan. Makanya kalau datang kepesta besar seperti ini kalian harus mengenakan pakaian yang layak bukanya asal-asalan seperti ini,". tatap pak satpam kini mulai sinis.


Kedua mata Nadia dan Rita sontak terbelalak mendengar ucapan pak satpam itu. Selevel pak satpam itu saja seolah-olah menghina mereka bagaimana yang berdasi.


Mungkin mereka berdua sudah diseret keluar dari halaman hotel.


"Ada baiknya nyonya masuk, biar Saya menunggu Anda di perkiran saja seperti kata pak satpam ini" bisik Rita pada Nadia.


"Tidak Rita, kita datang bersama maka kita akan pulang bersama juga,".


"Apa lagi yang kamu tunggu, kamu mau masuk apa tidak. Cepatlah karena Aku sibuk, banyak yang harus Aku kerjakan, bukan hanya ngeladeni orang seperti kalian ini,".


Lama mereka terdiam disana hingga seorang gadis cantik datang menghampiri mereka.


"Nadia.......," teriak gadis itu dan langsung memegang tangan dia.


"Nabila, sedang apa kamu disini?,".


"Aku ada penotretan sebuah produk kecantikan. Dewi juga ada di dalam sedang merias teman seprofesiku,".


"Sekarang kamu sudah banyak job dan terlihat begitu cantik,".


"Ini semua berkat kamu Nadia, Andai saja kamu tidak membantuku dalam pemilihan model saat itu mungkin kehudupanku tidak akan berubah seperti ini. Kamu sendiri datang kemari ada acara apa?,".

__ADS_1


"Aku dan teman Aku ini ada reunian anak SMA 80 tapi sayangnya, kami di larang masuk oleh pak satpam itu karena teman Aku ini tidak memiliki undangan,". Nadia memegang pundak Rita dengan wajah lesuh.


"Jadi kamu juga alumni SMA 80?, hebat tapi kenapa Aku tidak pernah melihatmu di sekolah bergensi itu?,".


"Aku jarang keluar kelas, kamu sendiri alumni disana?,".


"Bukan, mana mungkin orang seperti Saya ini bisa bersekolah di sekolah elite seperti itu. Ibu dan bapakku dulu bekerja di kanti SMA 80, jika Aku ada waktu Aku datang membantu mereka dan sanalah pula Aku kenal Mawar. Kalau begitu ayo kita masuk," pegang Nabila pada pergelangan tangan Nadia dan Rita.


"Tapi bagaimana dengan pak satpam sombong itu?,".


"Tenanglah, biar itu menjadi urusanku," Nabila membawa keduanya menghadap pak satpam.


"Pak, tolong biarkan teman-temanku ini masuk. Aku kenal baik dengan mereka," ucap Nabila saat sudah berdiri di depan pak satpam itu.


"Tapi Nabila, salah satu diantara mereka ini tidak memiliki undangan," balas pak satpam itu masih dengan wajah sinisnya.


"Tidak apa-apa pak, jika sesuatu terjadi atas perbuatan mereka Nabila yang bertanggung jawaba,".


"Andai saja bibimu tidak bekerja di bagian Housekeeper sudah lama di hotel ini, Aku tidak akan membiarkan mereka masuk walaupun mereka nagis darah dihadapanku,".


"Sombong sekali, baru jadi satpam saja lagak bapak sudah seperti pemilik hotel. Bagaimana jadinya bila sudah menjadi manager hotel, mungki bapak sudah ngelunjak seperti seorang presdir," Rita yang sudah sedari tadi menahan emosinya dengan perlakuan satpam itu pada mereka.


"Apa katamu?," pak satpam itu mendekat pada Rita tapi segera di tahan oleh Nabila.


"Sudalah pak, maafkan mereka. Ayo Nadia, Rita kita masuk," Nabila membawa Nadia dan Rita masuk kedalam hotel melewati pak satpam yang masih emosi mendengan ucapan Rita.


"Makanya jangan menghina kalau bapak tidak mau dihina," ucap Rita lagi saat mereka sudah masuk kedalam bangunan hotel.


"Awas saja kamu nanti dasar gembel," geram pak satpam itu.


Ketiganya segera masuk dan langsung menuju kearah ruang Aula.

__ADS_1


"Nyonya Nadia, mereka boleh menghina Saya, tapi Saya tidak terima kalau mereka menghina Nyonya. Kenapa sih nyonya tidak berpenampilan glamour seperti para bangsawan pada umumnya di kota ini sehingga mereka tidak lagi memandang remeh nyonya seperti tadi," Rita yang memandang kasihan pada Nadia yang selalunya diremehkan orang-orang yang belum mengenalnya.


Terus beri dukungan dengan cara like, coment, shere dan vote. Terima kasih.


__ADS_2