
"Wow...sebesar itukah kuasa Tuan Dav di kota ini hingga dalam waktu semalam saja dia bisa menutup mall sebesar ini?,"
"Astagfirullah, Tania-Tania apa kamu belum pernah mendengar betapa hebatnya Tuan Dave itu?. Selain tampan dia juga mempunyai kuasa
yang luar biasa di kota ini. Untung saja kita berteman baik dengan Nyonya Nadia kalau tidak.....,".
"Apaan sih, Kenapa kalian membahas Tuan Dave. Ayo cepat pulang sebelum beliau pulang," Nadia mempercepat langkah kakinya.
Keempanya pun melanjutkan langkah mereka menuju pintu utama mall tersebut.
Lagi-lagi, langkah mereka harus terhenti setelah melihat Rudy, Yunita dan juga Mawar berdiri di depan mereka.
"Ada apa lagi ketiga orang itu menghalangi langkah kita?," Tanya Tania pada Nadia.
"Tenanglah, kita tidak usah mencari masalah dengan mereka," Nadia kembali melanjutkan langkahnya
diikuti oleh ketiga sahabatnya.
"Tunggu dulu Nadia," Yunita maju mendekati Nadia.
"Ada apa lagi Nyonya menghalangi langkah kami?," Tania maju sebagai perisai Nadia.
"Aku ingin berbicara dengan Nadia bukan dengan perias ondel-ondel sepertimu, jadi menyingkirlah karena kita tidak selevel,". Bentak Yunita pada Tania.
"Biar kata Aku ini perias ondel-ondel tapi Aku bisa membawa Nyonya Nadia sampai menjuarai lomba, jadi bicara saja di situ, toh Nyonya Nadia juga bisa mendengarnya dengan baik dari sini,".
Mau tidak mau, kali ini Yunita mengalah karena seisi dalam Mall
mulai memperhati mereka.
"Nadia kenapa kamu melakukan ini semua. Harusnya kamu memilih Mawar bukan orang lain," tatap tajam Yunita pada Nadia.
"Untuk apa Aku juga Aku memilih Mawar, model yang hanya mengandalkan wajah tanpa ada bakat sedikit. Tania, Dewi, Diana ayo kita pergi," ajak Nadia pada ketiga sahabatnya.
"Nadia, kamu memang sudah sangat kuranga ajar,".
"Kalau Aku kurang ajar, kenapa dulu kalian tidak mengajariku,".
Ke empatnya pun melanjutkan perjalanan mereka. Yunita, Rudy dan Mawar ingin menyusul, tapi sayang, dari arah pintu utama muncul Dave dan sekertaris Ken disana.
Semua mata pengunjung mall seketika menatap kearah datangnya Dave dan juga Ken.
Mereka soalah-olah mendapat moment paling berharga karena bisa melihat sang penguasa dan juga sekertarisnya secara langsung.
"Apa benar itu Tuan Dave?," tanya seorang pegawai yang baru saja keluar dari dalam toko.
"Iya benar, dia itu Tuan Dave orang nomor satu di kota ini," balas sang manager.
"Kalau begitu Aku mau mengambil videonya dan juga gambar sebagai kenang-kenangan kalau Aku sudah pernah melihat beliau secara langsung," Sang pegawai pun mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya.
Belum juga sang pegawai itu mengambil video Dave dari arah ke
jauhan, sang manager segera menurunkan tangan sang pegawai.
"Jangan sesekali mengambil gambar beliau. Coba kamu lihat, apa ada orang dalam mall ini yang mengambil gambar beliau walau pun
__ADS_1
sebenarnya mereka juga ingin sekali melakukan hal yang sama denganmu?,".
"Memangnya kenapa pak manager?," tanya sang pegawai itu keheranan.
"Nanti Aku jelasin padamu. Yang jadi
pertanyaan, ada hal penting apa sehingga Tuan Dav dan sekertaris Ken datang kemari?,".
Sang pegawai hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena dia juga tidak tahu jawaban apa yang harus dia berikan pada managernya itu sembari memasukkan kembali handphonenya kedalam saku celananya.
"Mas, Tuan Dave datang," Yunita menghentikan langkahnya dan di ikuti Rudy dan juga Mawar.
"Ternyata Tuan Dave itu sungguh tampan dan juga berwibawa sebelas dua belas dengan Leon, Aku sungguh menyesal telah menolak lamaranya saat itu," Mawar yang tak mengedipkan mata sama
sekali memandang kearah Dave.
Sementara Nadia yang melihat kedatangan Dave dan sekertaris Ken segera bersembunyi di
belakang Dewi.
"Astagfirullah, Tuan Dave dan sekertaris Ken kemari, Aku pasti tidak akan selamat hari ini," Nadia
mengintip di belakang Dewi.
"Tapi tidak apa-apalah Nyonya, sekalian Aku bisa melihat dua mahluk TUHAN paling tampan di kota
ini," balas Dewi tertawa kecil.
"Kamu ini. Orang lagi serius kamu malah bercanda," Nadia sedikit menepuk punggung Dewi.
Tidak lama kemudian Dave dan sekertaris Ken tiba di hadapan mereka berempat.
"Keluarlah, Aku sudah melihatmu," Dave sembari melipat kedua tanganya di depan Dada.
"Anda melihat siapa Tuan?," jawab Dewi seadanya.
"Melihat istri Fredy sambo yang lagi viral," balas Dave tanpa memandang teman bicaranya.
"Nyonya, kayaknya Tuan Dave sudah melihat Anda, ada baiknya Anda keluar sebelum beliau memporak-porandakan mall ini,".
Dewi menggeser sedikit tubuhnya dan muncullah Nadia yang saat itu masih dalam keadaan membungkukan badan.
"Hiii...maaf Saya terlambat pulang kerumah" Nadia memperlihatkan
sederetan gigi putihnya kearah Dave.
"Kemarilah dan kita pulang," Dave mendekat kearah Nadia dan meraih pergelangan tanganya.
"Baik, tapi tidak usah seromantis ini. Coba lihat, orang-orang pada melihatin kita,". Nadia mencoba menarik tanganya dan sedikit memberontak.
"Kamu diam atau kupatahkan semua tulang belulangmu sekarang ini juga," gertak Dave.
"Tidak dirumah tidak di tempat lain level membunuh orang ini tetaplah sama,".
"Apa katamu, kamu sudah berani mengataiku di depat dayang-dayangmu ini,".
__ADS_1
Diana, Tania dan Dewi saling menatap setelah Dave menyebut mereka dayang-dayang Nadia.
"Iya sudah-sudah, Aku akan ikut apa pun yang paduka mau. Kalian jangan dengar dia terkadang dia berkata demkian sebenarnya itu adalah cara dia menyanjung kalian,"
Nadia yang merasa tidak enak pada ketiga orang yang selama ini membantunya.
Belum juga mereka berdua melangkah Rudy sudah berlari kecil mendekati mereka.
"Maaf Tuan, kalau Saya menghalangi langkah Anda," ucap Rudy sedikit membungkuk.
"Ada Apa kamu menghalangi langkah Tuan dan Nyonya," sekertaris Ken Maju dan berada di tengah antara
Dave dan juga Rudy.
"Maaf sebelumnya sekertaris Ken, Aku hanya mau memberi tahu pada Tuan Dave kalau Mawar sudah pulang. Mawar kemarilah," panggil Rudy pada Mawar yang kala itu berdiri tak jauh darinya.
Mawar segera maju dan berdiri di samping Rudy.
"Tuan Dave ini putri Saya Mawar!, Mawar perkenalkan dirimu pada Tuan Dave,".
"Aku Mawar, Orang yang dulu Anda inginkan untuk jadi istri Anda, bukanya dia" Mawar menjulurkan tanganya pada Dave tapi sayang, Dave tidak meresponya sama sekali.
Melihat tidak ada respon dari Dave, Sekertaris Ken sedikit mendekati Rudy dan juga Mawar.
"Maaf Tuan dan Nona, Tolong kalian berdua beri jalan pada Tuan Dave dan Nyonya Nadia,".
"Tapi sekertaris Ken kami belum selesai bicara," balas Rudy.
"Apa kamu belum mengerti apa yang barusan Aku katakan?," kini mata sekertaris Ken mulai memerah.
Melihat tatap membunuh sekertaris Ken, Rudy dan Mawar segera mundur kira-kira dua langkah ke belakang untuk memberi jalan pada
Dave dan juga Nadia sesuai dengan arahan dari sekertaris Ken.
"Ken, lakukan apa yang tadi Aku perintahkan padamu dan jangan lupa pesananku, Ayo pergi,".
Dave dan Nadia pun melangkah menuju pintu keluar.
"Baik Tuan semua akan Saya laksanakan,".
Pandangan para pengunjung mall tidak sedikit pun lepas dari Dave dan Nadia, hingga kembali Dave berhenti dan mengeluarkan sebuah masker
dari dalam saku celananya.
"Pakailah,".
"Masker baru?," tanya Nadia.
"Iya baru, baru satu kali di beli," Dave memasang masker itu pada Nadia.
Mau tidak mau Nadia hanya bisa diam, walau dia tahu kalau itu masker yang sering di gunakan oleh Dave.
JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG CERITA INI DENGAN LIKE, COMENT, SHERE DAN VOTE. SATU LAGI YUCK MAMPIR DI CHANNEL YOUTUBE "PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" TERIMA KASIH.
__ADS_1