
Tidak hayal lagi, sepatu lancip Tania mengenai wajah pria suruhan Yunita dan kawan-kawanya hingga tersungkur kelantai dan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Nyonya celanaku," Tania memperlihatkan celana kain sudah sobek sampai ke atas pahanya.
Nadia ingin sekali tertawa tapi sedapat mungkin dia tahan.
"Kamu memakai celana pendek bukan?," tanya Nadia melihat Tania yang masih memperhatikan bagian celananya yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Iya, Tania pake,".
"Cepat lepasin celana robekmu itu,".
"Untuk apa nyonya?," tanya Tania heran.
"Lepasin saja, nanti juga kamu tahu,".
Mau tidak mau Tania pun melepaskan celana robeknya hingga menyisahkan short sebagai penutup tubuh bagian bawah.
"Sekarang kita ikat dia dan sumpal mulutnya,".
Keduanya segera mengikat tangan pria itu dan tidak lupa menyumpal mulutnya menggunakan celana kain milik Tani yang sudah mereka sobek-sobek terlebih dulu.
"Nah selesai. Terakhir, cepat telepon Nabila dan katakan padanya agar mereka cepat membawa mangsanya kemari,".
Tanpa menjawab Tania segera menghubungi Nabila.
Sementara itu, Rita dan Nabila yang berada ruangan lain masih menunggu perintah Nadia selanjutnya sambil terus menjaga Nelza yang kini sudah tidak bisa mengontrol diri akibat pengaruh obat perangsang.
Tidak lama kemudian handphone Nabila berdering.
"Tania...., hallo ada apa Tania?,".
"Nyonya Nadia bilang, cepat bawa mangsa kalian kemari sebelum teman-temanya datang untuk menjalankan rencana busuk mereka,".
"Baiklah, kami akan segera kesana," Nabila segera memutuskan sambungan telephonya.
"Rit, sekarang saatnya,".
Kedua segera memapah tubuh Nelza keluar dari dalam ruangan itu menuju kearah kamar dimana Nadia dan Tania sedang berada.
Setelah melihat kiri kanan dan dirasa sudah aman keduanya pun segera masuk.
"Kalian berdua cepat letakkan perempuan itu di atas pembaringan dan selimuti tubuhnya, lalu kemudian kita pergi membawa pria ini," perintah Nadia pada Nabila dan Rita.
__ADS_1
Keduanya pun segera melakukan sesuai dengan perintah.
Setelah dirasa aman keempatnya segera keluar dari dalam ruangan itu dan membawah tubuh pria yang sudah tidak berdaya tadi ke ruangan yang sempat di tempati oleh Rita dan Nabila sebelumnya.
"Sekarang telpone orang suruhanmu untuk datang ke kamar itu,". tatap Nadia pada Nabila
"Baik," balas Nabila lalu mulai mengcari kontak seseorang.
"Bapak boleh datang sekarang, perempuan dalam kamar 102 sudah sedari tadi mencari dan membutuhkan bantuan bapak,".
"Baiklah Aku akan segera kesana, ini pasti sangat menyenangkan," balas seorang pria dari dalam sana dan terburu-buru memutuskan sambungan telepon mereka.
"Rasaain kamu sekarang satpam sombong," ucap Rita yang masih merasa jengkel dengat satpam yang sempat melarang mereka masuk gara-gara hanya melihat penampilan mereka.
Tidak lama kemudian terlihat seorang pria parubaya berpakaian putih menuju kearah kamar itu.
Sebelum masuk pria itu menegok kekiri dan kekanan.
Setelah dirasa aman pria itu tersenyum mesum.
"Selesai, tinggal tunggu kabar dari Dewi," Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskanya.
Kembali handphone milik Nabila berdering dan muncul nama Dewi disana.
"Angkat saja, mungkin ada yang penting,".
Nabila mengangguk pelan dan mulai mendekatkan layar handphonya di daun telinga.
"Hallo Nabila ...cepat kalian pergi dari kamar itu karena nona Mawar dan temanya sudah menuju kesana bersama para alumni SMA 80," suara Dewi tampak begitu panik.
"Kamu tenang saja, semuanya sudah terkendali,".
"Syukurlah kalau begitu, Aku hanya takut bila mereka tiba disana, kalian masih berada dalam kamar itu,".
"Sekarang Kamu ikuti mereka dan mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya,".
Tidak beberapa lama kemudian, suara langkah kaki pun mulai terdengar didepan ruangan yang di tempati oleh Nadia dan kawan-kawan.
Sedikit demi sedikit Rita membuka daun pintu lalu mengintip diselahnya.
"Mereka sudah datang untuk melakukan penggerebekan. Apa kita harus kesana juga," ucap Rita sedikit berbisik.
"Jangan dulu biarkan semuanya berjalan seperti apa yang mereka rencanakan setelah itu kita kesana untuk memetik hasilnya," balas Nadia.
__ADS_1
"Dobrak pintunya," perintah Mawar pada beberapa pemuda yang datang bersamanya.
Tanpa menunggu aba-aba para pemuda itu langsung mendobrak pintu kamar.
Tak hayal lagi bunyi keras akibat benturan antar dinding dan pintu kamar terdengar cukup nyaring di telinga.
Mawar dan Eliz seketika tersenyum saat melihat dua orang yang sedang melakukan perbuatan tidak senonoh diatas tempat tidur dengan selimut masih menutupi tubuh keduanya.
"Kamu tidak akan bisa mengelak lagi Nadia. Hari ini adalah hari kehancuranmu. Bersiap-siaplah menanggung malu-semalu yang sampai kapan pun tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu," Mawar dengan bibir sedikit terangkat.
"Betul Mawar, sekarang mension kami akan terbebas dari perempuan hina itu. Kak Dave akan membuangnya kejalana," Elis ikut tersenyum.
Tidak beberapa lama kemudian muncul Anita dan Yunita bersama dengan seorang pria berdasi dan dua orang satpam.
"Cepat kalian menyingkir, kami mau lewat," Anita dan Yunita menyerobot masuk di kerumunan banyak orang yang hampir memenuhi ruangan itu.
"Coba lihat perbuatan bi4d4p mereka. Bisa-biasanya mereka berbuat hal tidak senonoh yang di larang oleh agama ditempat ini," tunjuk Anita pada dua orang yang masih terbungkus dengan selimut.
"Apa Anda mengenal mereka?," tanya seorang pria berdasi yang tak lain adalah maneger di hotel itu.
"Prianya kami tidak kenal, tapi kalau si wanita itu kami kenal betul siapa dia. Dia adalah pembantu dirumah kami," balas Anita dengan lantang.
"Baiklah kalau begitu, kalian berdua cepat buka selimutnya lalu kita seret mereka ke penghulu," perintah pak maneger itu pada kedua satpam yang bersamanya.
Semua orang dalam ruangan itu terdiam. Sebagian dari pemuda pemudi yang ada disana menutup mata mereka dengan kedua telapak tangan, tapi jari-jemari mereka sedikit terbuka.
Rasa penasaranlah yang membuat mereka melakukan itu. Dilihat haram tidak dilihat barang langkah.
"Apa lagi yang kalian tunggu cepat lakukan," bentak Anita pada kedua satpam yang masih memperhatikan gerakan-gerakan kecil di dalam selimut.
Dengan tergesa-gesa kedua satpam itu menarik selimut hingga.......
"Pak tolong Aku, Aku sudah tidak tahan," Nelza m3ngeli4t manja diatas tubuh seorang pria parubaya dengan kedua tanganya di pegang erat oleh Nelza.
"Nelza........," suara Anita melengking dengan mata melotot melihat siapa perempuan yang sedang mempertontonkan adegan dewasa diaras ranjang.
Sementara sang manager dan kedua satpam itu pun juga merasakan hal yang sama setelah melihat siapa pria yang sedang berada di bawah Nelza.
"Jono....., pantas sedari tadi kami mencarimu ternyata kamu lagi melakukan adegan panas di kamar ini," bentak pak manager pada pak satpam parubaya yang sudah kewalahan meladeni n4fsu liar Nelza.
Dengan cepat Anita dan Yunita menutup tubuh bug1l Nelza dengan selimut.
Mohon bantuanya untuk nonton 1 video di channel youtube Author soalnya tinggal beberapa jam lagi akan ajuin monetisasi " ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN," terima kasih.
__ADS_1