SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 42. PILIHAN NADIA.


__ADS_3

"Apa Nyonya baik-baik saja?," Dewi yang saat itu memegangi pundak Nadia.


"Aku baik-baik saja, kalian tidak usah terlalu mengkuatirkanku, Aku bisa menghadapi mereka. Aku bukan Nadia yang dengan mudah mereka tindas seperti dulu?," balas Nadia tersenyum.


"Kalau Saya boleh tahu ada apa gerangan Tuan Rudy menemui Anda!, Dan jika Saya perhatikan tadi tampaknya kalian sedang membicarakan hal begitu penting?,". tanya Tania penasaran akan perbincangan Rudy dan Nadia.


"Nanti kalian juga pasti tahu sendiri. Ayo kita kesana karena sebentar lagi penyerahan hadiah akan segera dimulai,".


Nadia mengajak teman-temanya untuk maju mendekati MC dan tiga


dewan juri yang sudah memegani sebuah aksesoris berbentuk kunci rumah yang terbuat dari gabus dengan pita yang melekat di ujungnya.


Setelah Nadia, Mawar dan juga Nabila sudah berdiri di depan para dewan juri. Kembali MC maju kedepan.


"Mari kita menuju ke acara penutupan yaitu penyerahan hadiah untuk pemenang nomor satu, dua dan tiga.


Nona Mawar silahkan maju," ucap MC mempersilshkan Mawar untuk maju kedepan.


Mawar pun segera maju dengan wajah tanpa ekspresi. Dia benar-benar kecewa dengan hasi kompetisi ini.


"Sebagai pemenang ketiga Nona Mawar mendapatkan kenang-kenangan berupa piagam


dan juga uang tunai sebesar dua puluh lima juta rupiah, mana tepuk tanganya untuk Nona Mawar,". ucap MC menyodorkan mic kearah para penonton.


Para penonton yang ada di bawah panggung serentak bertepuk tangan dan bersiul.


Salah seorang dewan juri maju dan memberi Mawar sebuah piagam dan sebuah bingkai berukuran sedang betuliskan dua puluh lima juta rupiah.


Beberapa saat kemudian Mawar pun berbalik dan kembali ke tempatnya semula.


"Setelah kita melihat pemenang ke tiga, sekarang kita beralih ke raner up yaitu Nona Nabila. Nona Nabila silahkan maju kedepan untuk menerima hadiah dari dewan juri,".


Nabila melambaikan tangan pada para penonton lalu kemudian maju kedepan.


Nabila sudah berdiri di tengah-tengah panggung, kembali salah seorang dewan juri maju dan menyerahkan sebuah piagam pada Nabila beserta bingkai bertuliskan nominal uang


berjumlah tujuh puluh lima juta rupiah.


Kembali tepuk tangan bergemuruh dalam ruangan itu saat dewan juri menyalami Nabila dan memberinya ucapan selamat.


"Baiklah sekarang acara puncak yaitu acara penyerahan hadiah untuk pemenang lomba ini siapa lagi kalau bukan Nadia...., Mana pendukungnya


Nadia......," MC berlari kecil dan

__ADS_1


mengarahkan micnya kerah para penonton yang ada berada bawah panggung.


"Nadia....Nadia...Nadia," suara para penonton bergema menyebut nama Nadia.


"Wow pendukung Nadia benar-benar banyak....!, Kalau begitu kami persilahkan Nona Nadia untuk maju


kedepan menerima hadiah sekaligus


memberi sepatah dua kata pada para


pengemarnya yang sudah memberi dukungan yang begitu besar. Dengan ini di persilahkan,".


Nadia maju sebari melambaikan tanganya diikuti oleh Tania, Dewi dan Juga Diana dari arah belakang.


Setelah berdiri pada posisi yang tepat, Salah seorang dewan juri maju dan memberikan aksesoris berbentuk kunci rumah piagam dan


juga bingkai yang bertuliskan seratus jutah rupiah.


Melihat Nadia begitu repot memegangi hadiahnya, Tania, Dewi dan Diana pun maju untuk membantunya.


"Sekarang mari dengar sepatah dua kata dari sang juara dengan ini di persilahkan," MC memberikan mic kepada Nadia.


"Terima kasih, Punji syukur Aku panjatkan atas anugrah yang telah ALLAH berikan kepadaku sehingga pada hari ini Aku diberi kesempatan


Kembali untuk kesekian kalinya gemuruh tepuk tangan terdengan dalam ruangan itu.


"Baiklah, itulah tadi sepatah dua kata dari sang pemenang. Bagaimana dengan dewan juri, apa diantara kalian ada yang mau dimenambahkan sebelum acara ini benar-benar kita tutup ?," tanya MC pada ketiga dewan juri yang berdiri


diatas panggung.


Pak Yuda segera maju dan mengambil mic yang di sodorkan oleh MC ke padanya.


"Terima kasih, Pertama-tama Saya ingin menyampaikan pada Nona Nadia sebagai pemenang dalam lomba ini, setelah menerima


semua hadiah dari pihak panitia apa kedepanya Anda akan menandatangani kontrak kerjasama


dengan perusahaan kami?,". tanya pak Yuda memandang lekat pafa Nadia.


Sebelum menjawab Nadia menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskanya dengan sangat pelan.


"Maaf, kalau soal penandatanganan kontrak kerja sama, mungkin Saya tidak bisa karena ada hal tertentu yang tak bisa Saya katakan disini,"


balas Nadia.

__ADS_1


Seketika semua orang dalam ruangan itu tercengang mendengar jawaban dari Nadia.


"Kenapa Nadia melepas begitu saja kesempatan emas ini. Di luaran sana atau bahkan yang di dalam Mall ini sendiri ratusan bahkan ribuan


orang pasti mengingingkan kesempatan sebagus ini," ucap seorang penonton pada temanya dengan wajah keheranan.


"Betul sekali, tapi pasti dibalik keputusan Nadia itu, dia sudah memikirkanya dengan matang hasil keputusanya," balas temanya yang berdiri disampingnya.


"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan Nona Nadia kami selaku panitia dan juga dewan juri tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk itu, kami


menyerahkan sepenuhnya pada Anda selaku pemenang siapa diantara Nona Mawar ataukah Nona Nabila yang akan Nona Nadia pilih menjadi pewaris kemenangan Anda ini, maka


dari itu Nona Mawar dan Nona Nabila silahkan maju kedepan," pak Yuda mempersilahkan Mawar dan Nabila untuk maju.


Wajah Mawar yang tadinya di selimuti awan hitam tiba-tiba saja berubah cerah se cerah mentari pagi.


Demikian juga yang dialami oleh Rudy dan Yunita.


"Mas akhirnya Mawar yang akan maju sebagai pemenangnya," Yunita memeluk lengan Rudy.


"Iya, Mawar benar-benar beruntung kali ini," balas Rudy tersenyum sembari membelai lembut pucuk kepala Yunita.


Mawar dan Nabila segera maju kedepan. Mereka berdua berdiri lurus kesamping dengan jarak satu meter perantaranya.


"Nona Nadia silahkan," pak Yuda mulai mempersilahakan Nadia untuk memilih Mawar atau Nabila.


Nadia segera maju dan mengelilingi Nabila dan juga Mawar secara bergantian.


Kedua perempuan cantik itu tampak begitu gugup saat Nadia berada di samping mereka. Bahkan MC, para dewan juri dan juga para menonton mengalami hal yang sama dengan


mereka berdua.


"Nadia.....pilih Mawar," Rudy sedikit


mengeraskan suaranya.


Seketika itu juga Nadia menghentikan langkahnya lalu menatap kearah Rudy dan Yunita yang saat itu berada di depan kerumunan para penonton.


Nadia tersenyum sesaat pada Rudy dan Yunita lalu kemudian kembali berjalan dan berhenti tepat di samping Mawar.


"Saya memilih....... Bismillah.....," ucap Nadia mengangkat mahkota yang ada di tanganya.


TERUS DUKUNG CERITA INI DENGAN CARA COMENT, LIKE, SHERE DAN VOTE SERTA KUNJUNGI CHANNEL AKU DI YOUTUBE " PEWARIS TERAKHIR SANG PERSIDIR" TERIMA KASIH.

__ADS_1



__ADS_2