SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 34. GOLDEN TIKET.


__ADS_3

"Betul kata Tania Nyonya, lain kali Nyonya pasti yang keluar sebagai juaranya.Tinggal menunggu


waktu saja kok," Diana memeluk pundak Nadia.


"Iya, Aku tahu tapi, Teden......," Nadia


mengeluarkan sebuah tiket berwarna Gold bertuliskan Anda lolos ke babak berikutnya kepada mereka bertiga.


Seketika itu juga Tania, Dewi dan Diana melompat kegirangan.


"Hore...kita lolos,".


"Sudahi dulu lompat-lompat! yuk, kita cari makan. Tenagaku sudah habis terkuras setelah selesai melalui babak pertama tadi," ajak Nadia


padaketiga sahabatnya.


"Yuk, biar kami bertiga yang meneraktir Nyonya kali ini" sambung Tania dan dianggukkan oleh


Dewi dan Diana.


"Baiklah kalau kalian bertiga memaksa. Ayo kita cari tempat makan di sekitaran sini," Nadia


melangkah keluar dari aula dan masuk kedalam mall diikuti oleh Tania, Dewi dan Diana.


Setelah menemukan restaurant yang mereka anggap cocok, keempatnya pun masuk dan.memilih meja kosong yang paling pojok.


"Nyonya mau makan apa biar saya yang pesan buat Anda!," Dewi yang saat itu sedang melihat buku menu diatas meja.


"Samakan saja dengan pesanan kalian," balas Nadia.


"Baiklah kalau begitu," Diana lalu menulis di secari kertas lalu kemudian memanggil seorang


pelayang yang berdiri tak jauh dari mereka duduk.


"Mba, tolong bawakan kami semua makanan dan minuman yang tertulis di kertas ini ," Diana menyerahkan secarik kertas pada pelayan tersebut.


"Baik Nona, apa masih ada lagi?," tanya pelayan restaurant itu sebelum dia pergi.


"Kami rasa sudah cukup," balas Diana.


"Kalau begitu mohon tunggu sebentar kami akan segera menyediakan sesuai dengan pesanan Anda," ucap pelayan restauran tersebut dan


berbalik meninggalkan mereka.


"Aku permisi ke toilet sebentar ," Nadia bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Iya Nyonya tapi jangan lama-lama soalnya babak kedua sebentar lagi akan dimulai," balas Tania.


"Iya cuman sebentar doang kok," Nadia melangkah menuju kearah toilet.


Belum juga beberapa kali dia mengayun langkahnya tiba- tiba dia melihat sosok Rudy dan Yunita dari


kejauhan sedang menyuapi Mawar secara bergantian.


"Mereka benar-benar sudah melupakanku!, tapi biarlah mau tidak mau Aku juga harus melupakan mereka," Nadia melanjutkan langkah


kakinya menuju kearah toilet.


Butuh waktu lima menit saja Nadia berada di kamar kecil itu hingga dia sudah kembali dan duduk


di tempatnya semula.


Tidak berselang lama kedatangan Nadia, Pesanan mereka pun tiba. Mereka berempat.menyatap hidangan mereka tanpa bersuara


hingga akhirnya mereka selesai juga


menghabiskan makanan yang tersaji diatas meja.


Setelah selesai membayar makanan dan minuman yang tadi mereka pesan pada kasir, ke empatnya segera keluar dari dalam restaurant dan kembali ke aula untuk mengikuti


babak berikutnya.


"Kenapa kamu dan teman-temanmu masih datang kemari. Apa kamu tidak melihat tulisan.yang menempel di pintu Aula. Selain peserta


dan penata riasnya yang lain dilarang masuk kedalam," Mawar yang belum mengetahui kalau Nadia juga lolos ke babak berikutnya.


"Kamu kira, kamu saja yang lolos ke babak selanjutnya. Aku juga lolos dan mendapat nilai.paling tinggi. Tania, keluarkan golden tiket yang


tadi aku berikan padamu biar orang ini bisa melihat dan tidak lagi mengganggu perjalanan kita,".


"Baik Nyonya," Tania membuka tasnya dan.mengeluarkan selembar tiket berwarnah emas dari dalam sana.


"Ini Nyonya," Tania menyerahkan tiket itu pada Nadia.


"Apa kamu sudah melihat ini?.


Aku satu-satunya peserta yang memegang tiket semacam ini bukan?, itu berarti skill aku diatas peserta lain tentunya kamu juga ada diantara mereka," Nadia tersenyum menatap kearah Mawar sambil mengibas-ngibaskan tiket yang ada di tanganya.


Tiba-tiba wajah Mawar memerah bukan karena sedang jatuh cinta tapi lebih tepatnya malu karena Nadia lebih mengunggulinya.


"Tolong menyingkilah dari hadapan kami karena kami mau masuk,"

__ADS_1


Seketika Mawar mundur ke kelakang untuk memberi jalan pada Nadia dan kawan-kawanya.


"Ini belum seberapa Mawar!, Akan kutunjukkan kepada kalian bertiga kalau aku bisa memenangkan kompetisi ini. Disini, di kompetisi


ini, Aku akan menghancurkanmu terkebih dulu lalu kemudian melanjutkan dengan kedua orang yang bersamamu tadi," ucap Nadia tepat di dekat ketelinga Mawar dan melanjutkan langkahnya memasuki gedung Aula di ikuti Tania, Dewi, dan Diana.


Sepeninggalan Nadia dan kawan-kawanya muncul Rudy dan Yuni dari arah toilet dan menghampiri Mawar yang masih terdiam di


tempatnya menatapi ke pergian Nadia dan kawan-kawanya.


"Mawar kenapa kamu masih disini!, dan kenapa pula wajamu sesedih ini," Rudy memegangi pundak Mawar.


"Ayah dan Ibu tahu tidak!, barusan Aku bertemu Nadia. Dia memperlihatkan sebuah golden tiket


padaku yang tadi dia dapatkan di babak pertunjukan bakat. Itu artinya dia lanjut kebabak kedua dengan nilai paling tinggi diantara para peserta lain," jawab Mawar menatap Rudy dan


Yunita saling bergantian.


"Nilai Nadia paling tinggi dan satu-satunya peserta yang mendapatkan golden tiket di babak


pertama?. Itu berarti dia bisa mempergunakan tiket itu untuk menyelamatkan dirinya jika


dia sampai tidak lolos di babak kedua. Seperti itu kan peraturan dalam lomba ini Mawar?," tanya


Yunita pada Mawar dengan raut wajah begitu serius.


"Kira-kira seperti itulah peraturan di babak pertama tadi, Peserta yang memiliki nilai paling.tinggi dan berhasil mendapat golden tiket, maka


dia akan mendapat perlakuan istimewa dari para dewan juri, itu artinya Nadia akan melenggang


mulus masuk grand final,".


"Apa?, ini tidak bisa di biarkan. Jika sampai Nadia yang keluar sebagai pemenangnya maka karirmu akan usai sama sampai disini. Semua


periklanan akan meliriknya dan kamu tidak akan mendapat apa-apa lagi. Mas, jangan hanya diam saja, Tolong lakukan sesuatu agar Mawar yang


keluar menjadi pemenangnya," Yunita


memegang lengan Rudy.


"Tenanglah semua sudah diatur, cepat kita masuk karena sebentar lagi babak kedua akan segera di mulai," Rudy melangkah menuju ke


gedung aula dengan raut wajah biasa-biasa saja seolah-olah tanpa beban sama sekali.


Melihat hal itu, Seketika senyum Mawar dan Yunita mengembang. Semua beban yang menyelimuti hati mereka berdua hilang begitu

__ADS_1


saja. Mereka berdua yakin kalau Rudy sudah merencanakan sesuatu.


TERUS DUKUNG CEEITA INI DENGAN CARA LIKE, COMENT DAN VOTE. TERIMA KASIH.


__ADS_2