SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 67. SEBELUM MATI, SEKIRANYA PERTEMUKAN AKU DENGAN SUAMIKU.


__ADS_3

Setelah menemukan kontak yang dituju, Nadia lalu menghubungi seseorang dari dalam sana.


"Hallo pak Herman, Apa boleh bapak memput Nadia sakarang di bandara?," ucap Nadia setelah jalinan teleponya dengan pak Herman tersambungkan.


"Apa Nona sudah tiba?, Anak buah Tuan Dave sudah melacak semua kontak yang sering Nona hubungi. Saya yakin, sekarang pasti beliau sudah menyadari posisi dan keberadaan Anda di kota ini,". balas pak Herman dari dalam sana.


"Loh kok bisa?," tanya Nadia kaget.


"Apa sih yang tidak bisa buat Tuan Dave. Selesai saya mengantar Nona ke bandara, ajudan Tuan Dave datang dan memenanyakan keberadaan Nona. Mau tidak mau terpaksa Saya harus berbohong kalau Saya tidak tahu sesuai dengan apa yang Nona sampaikan pada Saya waktu itu,".


"Maafkan Nadia pak, kalau Nadia sudah membuat kalian semua ikut dalam masalah ini. Apa bapak boleh kesini sekarang?,"


"Baik Nona, Saya Akan segera kesana," balas pak Herman lalu memutuskan jalinan telepon dianrara mereka.


Nadia kembali memasukkan handphone kedalam saku celana dan kembali berdiri dan melangkah kearah pintu keluar.


Setelah melewati ruang tunggu, tiba-tiba langkah Nadia terhenti saat melihat kondisi dalam ruangan itu.


Ruangan yang biasanya riuh dengan suara para penumpang kini tampak


hening mencekam. Hanya suara TV yang terdengar bergema dalam ruangan itu.


Para crew bandara dan juga penumpang yang duduk di kursi tunggu menghentikan sejenak aktifitas mereka untuk menyaksikan acara besar yang di siarkan langsung oleh pertelevisian dalam kota itu.


Mata Nadia terbuka sempurna setelah melihat Dave ada di dalam Tivi dengan beberapa microphe dari berbagai stasion televisi berada tepat di hadapanya.


"Dia istriku, dimana pun kamu saat ini Aku harap kamu melihat dan mendengarkan Aku. Kembalilah...Aku merindukanmu, Ada serpihan hati yang hilang saat kamu meninggalkanku. Terima kasih karena kamu sudah mengajariku arti sebuah kehilangan. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku," Dave dengan mata berkaca-kaca.


Seketika tepuk tangan bergema bukan hanya berasal dari dalam layar televisi, bahkan semua orang yang ada dalam ruangan bandara berdiri dan memberi tepuk tangan dengan sangat meriah.


"Siapa pun Dia itu, Aku yakin dialah


perempuan yang paling beruntung bisa mendapatkan cinta seorang presdir seperti Tuan Dave. Walau terlihat dingin dan sombong tapi Tuan Dave begitu sayang dan cinta pada istrinya. Kira-kira siapa Dia?, perempuan yang di maksud Tuan


Dave tadi?," tanya seorang penumpang pada penumpang lain yang duduk di sampingnya.


"Ini akan menjadi PR para pemburu berita. Sosok seorang Dia tidak pernah terlihat bersama dengan Tuan Dave, tapi tiba-tiba saja Tuan Dave


mengumumkan kalau beliau sudah menikah dan menyebut nama istrinya dengan sebutan Dia, ini sungguh hal yang sangat mencengangkan,".


"Betul juga katamu, dengan diadakanya jumpa pers seperti ini, pasti akan banyak perempuan yang patah hati dibuatnya, selamat buat Nyonya Dia, Anda sudah merebut hati Tuan Dave. Semoga kalian langgeng sampai kakek nenek dan segera

__ADS_1


diberi momongan, Aamiin,".


"Aamiin,"


Sementara di posisi Nadia, gadis itu hanya terdiam dan terpaku, perasaan hatinya bercampur aduk, ada rasa gembira, malu dan juga sedih berbaur menjadi satu.


Ungkapan hati Dave padanya benar-benar membuatnya tidak percaya.


Bagaimana tidak, pria yang menjadi incaran para perempuan dalam kota itu menyatakan cinta pada gadis berpenampilan cupu sepertinya.


"Ya Tuhanku, apakah ini jawaban atas doa-doaku selama ini. Jika memang Tuan Dave yang Engkau pilih untukku, jadikanlah kami pasangan yang sejati dan tidak akan terpisahkan kecuali


maut menjemput. Aamiin,".


Nadia kembali melanjutkan langkah dengan suasana hati tidak menentu.


Hingga dia berhenti di depan jalan raya depan bandara menunggu kedatangan pak Herman ojek langgananya.


Ada sekitar lima menit Nadia berdiri disana, hingga tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depanya.


Keluarlah seorang pria berpenampilan preman mendekati Nadia.


"Kamu Nadia bukan?," tanya pria itu.


"Kamu tidak perlu tahu, Yang jelasnya Aku kesini untuk membawamu kesuatu tempat. Ayo ikut," Pria itu menarik pergelangan tangan Nadia dan memaksanya masuk kedalam mobil.


"Aku tidak mau ikut dengan kalian, cepat lepaskan Aku," Nadia merontah untuk melepaskan diri.


"Diamlah atau akan Aku menyakitimu,".


"Pokoknya Aku tidak mau ikut dengan kalian. Cepat lepaskan Aku sebelum kesabaranku habis,".


"Punya nyali juga perempuan ini, Hay tunggu apa lagi, cepat bantu Aku memasukkan perempuan aneh ini kedalam mobil lalu bungkam mulut sombongnya itu," perintah preman tadi pada kedua temanya yang masih duduk di dalam mobil.


Kedua premen itu pun keluar dari dalam mobil dan ingin menangkap Nadia.


Bukan namanya Nadia kalau


dia mudah untuk di taklukan.


Dengan gesit Nadia menghindar dan beberapa kali memberi tedangan pada kedua preman-preman tadi.

__ADS_1


"Tony, gadis ini memiliki ilmu bela diri yang cukup mempuni, kami begitu kewalahan menghadapinya," bisik salah satu preman pada bosnya.


"Kalian ini bodoh, masa hanya melawan gadis cupu seperti itu kalian berdua tidak sanggup. Ingat, Kita dubayar mahal bukan untuk


di kalahkan. Cepat ringkus dia, jangan sampai dia meloloskan diri,". perintah bos preman itu pada kedua anak buahnya.


Mau tidak mau terpaksa kedua preman tersebut kembali menyerang Nadia.


"Ternyata kalian belum kapok juga, majulah,". Nadia kembali memasang kuda-kuda.


kembali Kedua preman tersebut menyerang Nadia dari arah kiri dan kanan.


Pertarungan kembali berlangsung sengit dan tidak lama kemudian, Kedua anak buah preman itu tersungkur diatas trotoar dengan wajah penuh lebam.


"Sekarang giliranmu," tunjuk Nadia pada bos preman itu.


"Kamu jangan sombong dulu, mungkin kamu bisa mengalahkan preman-preman bodoh ini, tapi tidak denganku, lihat ini,".


Bos preman itu mengeluarkan sebuah senjata api yang sengaja dia selipkan di pinggangnya dan mengarahkan kearah Nadia.


Seketika Nadia terpatung dengan keringan mulai keluar dari dalam pori-pori kulitnya.


"Ya Tuhanku, jika hari ini Engkau ingin


mencabut nyawaku melalui perantara


preman itu Aku ridho tapi, sekiranya pertemukanlah Aku dulu dengan suamiku,".


Nadia pelan-pelan menutup matanya.


Doooooor........


Satu ledakan senjata api terdengar nyaring di telinga lalu diikuti hentakan kaki yang datang berlarian mendekat kearah mereka.


Tubuh preman itu jatuh bersimbah darah diatas trotoar dengan sebuah peluruh bersarang di kepalanya.


Nadia masih terpatung ditempat, dia sama sekali tidak berani untuk membuka mata setelah mendengar sebuah ledakan senjata api.


"Buka matamu sekarang, Kamu sudah aman bersamaku" ucap seorang pria yang berdiri tepat di depan Nadia.


"TUHAN benar-benar mendengarkan doaku, mempertemukan Aku dengan suamiku sebelum Aku meninggal?,".

__ADS_1


Terrus dukung cerita Authir di youtube"PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" tamat. Terima kasih.



__ADS_2