
"Suamiku, apa boleh Aku bertanya sesuatu padamu?," tanya Nadia sembari mengisi piring Dave dengan Nasi.
"Silahkan!, apa punya yang ingin kamu tanyakan padaku, Aku akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya," balas Dave.
"Tadi sempat suamiku bilang kalau Aku ini amanah dari ayah, apa ayah mengenalku sebelum kita
bertemu?,".
"Benar, ayah mengenalmu sebelum kita bertemu. Apa kamu masih ingat peristiwa kecelakaan kira-kira 14 tahun silam dimana kamu menyelamatkan nyawa seorang pria parubaya yang saat itu sedang terluka para. Kamu menghentikan sebuah mobil agar membawanya
ke rumah sakit?,".
Lama Nadia terdiam dan memutar kembali kenangan masa silamnya hingga dia teringat dengan boneka kesayanganya.
"Mimi......," ucap Nadia spontan.
"Loh kok, Mimi?," tanya Dave heran.
"Mimi adalah boneka pemberian ayah. Ayahlah orang pertama memberiku hadiah di saat Aku berulang tahun, makanya Aku sangat menyayangi mimi karena Mimi hadiah terindah yang pernah Aku terimah dari orang lain di kala keluargaku sendiri tidak memperdulikanku,"
"Bu, ternyata boneka yang di beli ayah saat hari ulang tahunku di berikan pada si cupu itu," bisik Elis pada Anita.
"Betul. Boneka, Dave dan entah apa lagi yang akan dia rebut dari keluarga ini," balas Anita menatap lekat pada Nadia.
"Sungguh kasihan istriku ini, sekarang kamu tinggal bilang, hadiah apa yang kamu inginkan biar suamimu menghadiakan untukmu. Mobil, rumah atau sejuta perhiasan mewah yang ada di dalam mall tinggal kamu pilih sesukamu sebagai hadiah pernikahan kita," Dave membelai pucuk kepala Nadia.
"Aku tidak membutuhkan semua itu, yang Aku pinta padamu, sayangi dan cintailah Aku sepenuh hati dan jiwamu, itu saja sudah cukup
bagiku,".
"Dasar perempuan munafik di depan Dave saja dia berlagak manis tapi di belakang, dia bak srigala yang siap menerkam mangsanya," Anita yang masih menatap sinis pada Nadia.
Sebuah kecupan mesrah mendarat di kening Nadia hingga membuat wajah Nadia merah merona menahan malu.
"Istriku, kamu tidak usah kuatir tentang cinta dan sayangku padamu karena Aku sudah mengukir namamu dalam pusara hatiku yang paling terdalam dalam," Dave memegangi kedua pipi Nadia.
Nadia tersenyum lalu memeluk erat tubuh Dave.
"Terima kasih suamiku karena kamu sudah mencintaiku dengan sepenuh hatimu,".
"Sama-sama sayang, Aku yang harusnya berterima kasih padamu karena kamu telah mengajariku arti sebuah cinta yang sesungguhnya," balas Dave mengusap punggung
Nadia.
Setelah keduanya meluapkan isi hati, kini mereka berdua menikmati sarapan pagi dengan saling menyuapi satu dengan yang lain.
__ADS_1
Anita dan Elis yang memperhatikan hal itu benar-benar muak dibuatnya. Andai tidak takut dengan Dave mungkin keduanya sudah meninggalkan tempat itu.
Selepas sarapan, keduanya pun berdiri dan melangkah keluar. Hari ini mereka berdua berencana pergi ke toko kue untuk menemui bi Ona dan juga Rita.
Dave mengemudikan kendaraanya sendiri di ikuti sekertaris Ken dari arah belakang.
Hanya butuh beberapa menit saja, kini mereka tiba juga di toko kue milik Nadia.
Tampak sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan toko hingga membuat emosi Dave kembali
memuncak.
"Kenapa sepagi ini si balon Neon itu sudah berada di toko, Awas saja kalau sampai dia mau merayu istriku," ucap Dave dalam hati lalu keluar dari dalam mobil dan membuka pintu buat Nadia.
Nadia yang melihat perubahan wajah Dave seketika heran. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba wajah Dave di penuhi dengan amarah.
"Ada apa denganmu suamiku, kenapa wajahmu tiba-tiba merah seperti itu. Apa kamu sedang marah padaku?," tanya Nadia keluar dari dalam mobil.
"Mana mungkin Aku marah padamu, Aku hanya jengkel dengan pemilik mobil ini," Dave menendan ban mobil milik Leon.
"Memangnya siapa pemilik mobil ini?, dan kenapa suamiku begitu marah padanya?,".
"Si lampu Neon, teman masa kecilmu. Dia kemari pasti ada niat terselubung," Dave menatap kesembarang arah.
"Ha ...ha...ha. Jadi hanya karena kedatangan Leon hingga membuatmu semarah ini?. Sayang, sampai kapan pun Aku tidak
"Benarkah," kini senyum Dave kembali mengembang setelah mendengar pengakuan hati Nadia.
Nadia membalas tersenyum sembari mengangguk.
"Ayo kita masuk, Aku sudah sangat rindu dengan bi Ona dan juga Rita," ajak Nadia sembari menarik lengan Dave.
"Ayo," balas Dave mengikuti Nadia.
Sekertaris Ken yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya milihat tingkah Tuanya yang sudah di lajur cinta.
Setibanya Di dalam toko. Leon, bi Ona dan Rita yang saat itu sedang duduk di sofa segera berdiri.
Mereka bertiga tersenyum menyambut kedatangan Nadia.
Leon yang sudah sangat rindu dengan Nadia segera melangkah
mendekati Nadia sambil membentangkan kedua tanganya untuk memeluk Nadia.
Belum juga dia menyentuh Nadia, Dave sudah berdiri di depan sambil mengepalkan tanganya.
__ADS_1
"Seinci saja kamu menyentuh istriku maka, ketupat mentah ini yang akan mendarat di wajahmu, paham!," Dave dengan wajah memerah.
"Posesif sekali, Nadia itu temanku dan kami sudah lama tidak bertemu, apa salah jika kami saling melepas rindu," Leon yang tidak mau kalah.
"Istriku tidak kangen padamu, hanya kamu saja yang kangen padanya. Cepat menjauh dari sini sebelum Aku benar-benar memberi pelajaran padamu," kini ancaman Dave tidak main-main pada Leon.
Tapi bagaimana pun Dave mengancamnya, Leon tetap saja ingin melanjutkan niatnya memeluk
Nadia.
"Nadia....Aku sangat Rindu denganmu," Leon masih membentangkan tanganya dan mencoba menghindari Dave.
Dave begitu emosi dan mengangat tanganya ingin memukul Leon. Belum juga pukulanya menyentuh wajah Leon Nadia sudah menahanya.
"Kalian berdua ini seperti anak kecil saja. Ini juga satu, apa-apa selalu menggunakan kekerasan. Sekali lagi Aku melihat atau mendengar kalian
berdua bertengkar seperti ini maka jangan harap Aku mau bicara dengan kalian, camkan itu baik-baik,"
Dave dan Leon sontak terdiam. Mereka berdua benar-benar takut dengan ancaman Nadia.
"Ayo duduk dan kita bicara," Nadia melangkah diikuti oleh Dave dan Leon yang masih saja saling dorong dengan bahu satu dengan yang lain.
"Bi, Rita," Nadia membentangkan tanganya pada kedua perempuan yang ada di depanya.
"Nona Nadia," balas bi Ona dan Rita.
Ketiganya pun saling berpelukan melepas kerinduan.
"Kenapa kamu tidak marah pada bi Ona dan Rita saat mereka berdua memeluk istrimu. Sedangkan padaku, kamu seperti orang kesurupan yang seolah-olah ingin membunuhku," ucap Leon yang saat itu duduk di samping Dave.
"Mereka itu perempuan dan tidak bakalan timbul nafsu diantara mereka. Beda denganmu, jomlo yang sudah lama tidak mendapat belaian
seorang perempuan," ejek Dave pada Leon sambil tersenyum.
"Kamu..," Leon ingin sekali memberi pukula pada wajah Dave tapi Nadia menatapnya, mau tidak mau Leon terpaksa menghentikan niatnya.
"Nona Nadia, selama beberapa hari berada di kampung, apa keluarga bibi memperlakukan Nona dengan baik?," tanya bi Ona pada Nadia.
"Mereka begitu baik pada Nadia. Apa lagi bibi Ana, beliau mengajari Nadia ilmu beladiri seperti ilmu bela diri yang pernah bibi ajarin pada Nadia,".
"Syukurlah kalau begitu. Bibi begitu senang mendengarnya,".
Setelah berbasa-basi dengan mereka, Dave mengajak Nadia untuk pulang. Dave merasa sangat bosan berada disana apa lagi ada Leon.
Terus ikuti Author di youtube" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN" setiap hari upload terima kasih.
__ADS_1