SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 95. RAPAT MEMANAS


__ADS_3

Tidak berselang lama kemudian kendaraan yang dikemudian oleh sekertaris Ken akhirnya tiba juga di sebuah perusahaan megah yang bergerak dibidang kontruksi dan bangunan.


Tampak perusahan itu terlihat berjalan seperti biasa, ada beberapa karyawan yang terlihat masuk kedalam bangunan megah itu.


"Tuan silahkan," sekertaris ken membuka pintu mobil untuk Dave.


Dave keluar dari dalam mobil sambil memperbaiki stelan jasnya.



Keduanya melangkah dengan tatapan tajam kedepan, seperti seekor elang mengintai mangsanya dari kejauhan.


Semua mata memandang kearah mereka berdua seakan-akan membawa atmosfir kematian.


"Apa benar dia itu tuan Dave?," tanya seorang karyawan pada teman sejawatnya.


"Aku juga tidak terlalu tahu, tapi bila dilihat dari gestur tubuhnya serta atmosfir yang dia bawa, tidak salah lagi dialah orangnya. Pria paling kejam yang ada di muka bumi ini,".


"Mengerikan sekali, apa ini yang disebut iblis tampan pencabut nyawa,".


"Kira-kira begitulah julukan yang disematkan oleh musuh-musuhnya dalam dunia bisnis. Manusia batu berdarah dingin,".


Dave dan sekertaris Ken terus melangkah dan masuk kedalam lift.


Lift membawa keduanya menuju kelantai puncak dimana rapat akan segera diselenggarakan.


Kembali pintu lift terbuka otomatis. Dave dan sekertaris Ken kembali melanjutkan langkah mereka menuju kesebuah ruangan yang ukuranya lebih luas dari ukuran ruangan yang ada disana.


Setibanya didepan ruangan itu sekertaris Ken langsung memutar knop pintu dan mempersilahkan Dave untuk masuk.


"Silahkan tuan,".


Melihat kehadiran Dave, semua orang yang ada di dalam ruangan itu segera berdiri dan memberi hormat.


Dave mengkat sedikit tanganya sejajar dengan dada lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi kepemimpinan.


"Apa semuanya sudah hadir?," tanya Dave menatap mereka satu-persatu.


"Belum tuan, tinggal pak Frans orang yang membeli saham pak Hendro dan juga Ibu Eli,". balas seorang pria parubaya yang duduk tidak jauh Dari Dave.

__ADS_1


"Apa dia tahu kalau hari ini ada rapat penting?,".


"Saya rasa beliau tahu tuan, soalnya surat undangan sudah kami kirim dua hari yang lalu pada masing-masing pemegang saham,".


"Apa dia mau main-main denganku?. Dia yang menumpang, kenapa dia yang berlagak seperti bos, membiarkan kita semua menunggunya. Joko kenapa kamu hanya menunduk seperti itu. Apa kamu sudah tahu kesalahanmu?," tatap tajam Dave pada seorang kontraktor yang sedari tadi hanya menunduk seperti tidak ada daya untuk mengangkat kepala.


"Joko.......," Dave menepuk keras daun meja hingga membuat orang-orang dalam ruangan itu kaget.


"I...iya tuan.....," Dengan sekuat tenaga dan keberanian Joko menatap kearah Dave.


"Bagus, Apa kamu sudah tahu kesalahanmu?,". ulang Dave sekali lagi pada pertanyaanya.


"A...ku tahu tuan, tapi itu sepenuhnya bukan kesalahanku,".


"Terus kamu mau salahkan pak Jokowi begitu maksudmu?,".


"Bukan begitu maksud Saya tuan, Kami Akui kalau kami memang yang mengerjakan proyek itu dengan sistem bagi dua hasil dengan perusahaan ini. Kami sudah melakukan sesuai dengan standar yang di tetapkan oleh perusahaan, tapi.......," Joko tidak lagi berani melanjutkan ucapanya. Sepertinya, pria parubaya itu mendapat suatu tekanan yang begitu berat.


"Tapi apa?, jangan membuatku semakin ingin membuangmu turun kelantai dasar melalui dinding kaca itu," kembali Dave membentaki Joko yang sedapat mungkin menahan diri untuk terus menatap mata Dave walau sekujur tubuhnya sudah basah oleh keringat dingin dalam kondisi ruangan full ACE.


Sesaat suasana mencekam, atmosfir kematian sudah terasa dalam ruangan itu, hingga pintu kembali terbuka dan masuk seorang pria parubaya dengan tubuh gembul dan kepala sedikit botak.


"Bukankan pria ini yang ada di dalam poto bersama dengan Nelza di hotel waktu itu,". tatap Dave pada sekertaris Ken lalu dianggukkan cepat oleh sekertaris Ken.


"Silahkan dilanjutkan rapatnya,". ucap Frans santai.


"Joko cepat lanjutkan tadi ucapanmu". perintah Dave.


"Semua ini gara-gara pak Frans, dia yang memanipulasi semua data bahan baku hingga bendungan itu hancur dalam waktu tidak cukup 3 bulan,".


"Jangan asal bicara Kamu Joko, Apa kamu ada bukti kalau Aku memanipulasi data bahan baku bendungan itu," Frans segera berdiri dan mengangkat kera baju Joko.


Kembali suasana menanas.


Joko yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menyungingkan bibirnya. Sepertinya pria itu sudah pasrah dengan keadaan.


Kalau Jujur dia akan berhadapan dengan Frans tapi kalau dia bohong, maka dia akan berhadapan dengan Dave.


Joko bagai hidup sudah diujung tanduk.

__ADS_1


"Lepaskan dia," ucap Dave dengan nada suara dingin dan tatapan setajam silet.


"Tapi dia sudah melakukan fitnah atasku," balas Frans.


"Aku bilang lepaskan dia," Kini suara Dave lembut tapi menusuk ke relung hati.


"Kamu selamat sekarang," Frans mendorong tubuh Joko hingga terduduk kembali di tempatnya.


Kembali suasana mencekam dalam ruangan itu. Hanya deru nafas mereka yang sesekali terdengar satu dengan yang lain.


"Joko, lajutkan,". perintah Dave untuk kesekian kalinya pada Joko.


"Ta...pi, semua yang di ucapkan Joko itu bohong, Aku sama sekali tidak memanipulasi data seperti yang dia utarakan tadi" Frans yang seketika memotong perkataan Dave.


"Kamu bisa diam tidak?," kembali Dave menatap tajam pada pria parubaya itu.


Mau tidak mau Frans pun diam sambil meremasi jari-jemarinya dibawah meja.


"Seperti yang Saya bilang tadi tuan, kami sudah melakukan sesuai dengan standar yang berlaku pada perusahaan ini, tapi pak Frans membatasi kami untuk itu. Mau tidak mau pun kami harus melakukan sesuai perintah beliau,".


"Joko, kamu sudah menjerumuskan keluargamu sendiri keliang lahat," bisik Frans pada Joko tapi tatapnya kearah lain.


"Terus kenapa kamu mau melakukany, kalau itu menurut kamu salah?,".


"Saya diancam tuan, kalau sampai Saya tidak menuruti perintah, maka keluarga Sayalah yang akan jadi taruhanya,".


Seketika mata Frans terbuka sempurna dengan keringat dingin mulai menetes dikeningya.


"Apa benar yang dikatakan Joko barusan?," tatap tajam Dave pada Frans.


"Mana ada benarnya, dia cuman ngarang-ngarang cerita agar dirinya tidak disalahkan. Orang seperti Joko inilah yang berbahaya, dia pandai sekali bersembunyi pada wajah polosnya agar semua orang memandang ibah," tatap sini Frans pada Joko.


"Wajahku memang seperti ini dan Aku bersyukur atas karunia ini. Bedah halnya dengan Anda, relah melakukan apa saja untuk mencapai tujuan walau harus mengorbankan orang lain,".


"Tutup mulutmu," tunjuk Frans dengan kedua rahang berbunyi seakan-akan ingin menerkam tubuh Joko.


"Kalian berdua tidak usah berdebat dan saling menyalahkan disini. Sekarang Aku mau tanya Kamu Joko, apa Kamu ada bukti Kalau Frans memanipulasi semua data tentang pembangunan bendungan itu," tanya Dave yang masih dengan tatapan elangnya.


Joko tertunduk, Kedua tangan di satukan hingga membentuk sebuah kepalan.

__ADS_1


MOHON UNTUK TERUS DUKUNG CERITA INI DENGAN CARA LIKE, KOMENT, VOTE. TERIMA KASIH.


__ADS_2