SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 116. MENCARI PENDONOR.


__ADS_3

Goyun mengusap kasar wajahnya dengan tatapan kosong kedepan.


Lama Goyun melakulan itu hingga akhirnya dia.tersentak dan berdiri dari tempat duduknya.


"Astaga sampai lupa mengabari Tuan Dave,".Goyun segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya dari dalam sana.


Sementara itu, disebuah perusahan pencakar lagit, tampak Dave dan sekertaris Ken sudah bersiap untuk pulang.


Kedua wajah pria tampan itu terlihat begitu letih setelah melakukan aktifitas kantor yang cukup menguras


tenaga dan juga pikiran.


Dave segera berdiri dari kursi kebesaranya, sedangkan sekertaris Ken sibuk memasukkan semua berkas dan juga laptop kedalam tas kerja Dave untuk di bawa pulang ke mension.


Setelah dirasa cukup, keduanya pun melangkah keluar dari ruangan kerja. Mereka menuju kearah lift untuk turun ke lantai dasar perusahaan raksasa itu.


Setelah berada di lantai dasar keduanya segera menuju kearah Parkiran dimana sekertaris Ken


biasa memarkirkan kendaraanya disana.


Sekertaris Ken segera membuka pintu dan mempersilahkan Dave untuk masuk.


"Silahkan Tuan," Seperti biasa, Dave tidak menjawab, dia langsung masuk kedalam mobil dan duduk dengan


menyilangkan kedua lakinya membentuk hurup X.


Sekertaris Ken kembali menutup pintu buat Dave dan berlari kecil masuk kedalam mobil.


Tidak lama kemudian, sekertaris Ken menghidupkan mesin mobil. Mobil yang mereka tumpangi sedikit demi sedikit mulai meninggalkan area parkiran.


Setelah mobil melaju, Dave mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya dan menatapi poto Nadia yang saat itu sedang tersenyum sambil memegangi perut buncitnya.


Dave sengaja memasang poto Nadia sebagai wallpaper jika sewaktu-waktu dia kangen dengan Nadia dan calon bayinya dia tinggal menyalakan handphonenya untuk mengobati rasa rindunya.


Dave terlihat tersenyum sembari mengusap layar handphone dengan sangat lembut.


"Aku menyayangi kalian melebihi dari Aku menyayangi diriku sendiri," Dave mencium lembut poto Nadia yang ada di layar handphone.


Dave kembali memasukkan handphone kedalam saku celananya. Belum juga berapa menit handphone tersebut di dalam saku tiba-tiba handphone tersebut berdering.


Dave kembali mengeluarkan handphonenya dan mendapati nama Goyun sedang memanggil.


"Paman Goyun?, Hallo ada apa paman menelponku?," tanya Dave sedikit mengeryitkan dahinya.

__ADS_1


"Begini Tuan, Nyonya Nadia," Goyun


menghentikan ucapanya sesaat. Suaranya terdengar sedikit berat untuk melanjutkan kalimat berikutnya.


"Ada apa dengan istriku?, cepat katakan jangan membuatku penasaran seperti ini," Dave seketika


meninggikan suaranya.


"Nyonya Nadia sekarang ada di rumah sakit milik perusahaan, beliau jatuh di dalam kamar," balas Goyun dengan suara sedikit bergetar.


"Apa jatuh?, Apa saja yang kalian kerjakan di mension?. Kenapa hanya menjaga satu orang kalian sama sekali tidak becus. Awas saja kalian


semua jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan anak-anakku," Dave memutuskan panggilan dan membuang hanphonenya begitu saja diatas kursi mobil.


"Ken segera balik haluan, kita kerumah sakit perusahaan," bentak Dav dengan wajah mulai panik.


"Baik Tuan," Sekertaris Ken pun berbalik arah menuju kearah


rumah sakit yang letaknya tak jauh dari perusahaan utama TRI DARMA BAKTI Grup.


Tidak butuh waktu yang lama kini mobil mereka berbelok memasuki halama rumah sakit terbesar yang di kota itu.


Sekertaris Ken menghentikan kendaraanya tempat di pintu utama rumah sakit.


Semua mata tertuju padanya, para Dokter dan staff rumah sakit segera berdiri menyambut kedatangan Dave.


Dave sama sekali tidak mempedulikan mereka, dia terus berlari dan menemukan Goyun sedang berdiri di depan ruang UGD.


"Dimana istriku!," Dave memegangi kera baju milik Goyun.


"Nyonya berada dalam ruangan UGD, beliau sedang mendapat penanganan dari Dokter," balas Goyun menunduk karena tidak berani menatap wajah Dave.


"Kenapa sampai bisa seperti ini om Goyun, cepat katakan padaku," Dave sedikit mendorong tubuh Goyun ke belakan hingga pria parubaya itu


hampir saja terjatuh.


"Nyonya Nadia terpeleset dan jatuh. Sepertinya ada orang sengaja menyiram lantai dengan minyak," jawab Goyun masih menundukkan kepalanya.


"Apa?. Menyiram lantai dengan minyak?. Kamu jangan bercanda, mana mungkin ada orang yang berani melakukan itu di dalam mension,".


Dave yang kini semakin emosi setelah mendengarkan ucapan Goyun.


"Seperti itulah yang terjadi Tuan, Lantai kamar Anda dan Nyonya di penuhi dengan minyak,".

__ADS_1


"Oh ...sudah bosan rupanya orang itu hidup. Sekarang kamu pulang kemension dan periksa semua CCTV yang ada di sana. Setelah itu laporkan


padaku jika ada gerak-gerik seseorang yang mencurigakan masuk kedalam mension,".


"Baik Tuan, segera Saya laksanakan. Kalau begitu saya permisi dulu," Goyun bergegas pergi meninggalkan Dave yang masih diselimuti dengan rasa emosi.


Dave melangkah menuju kursi tunggu dan mendudukkan tubunya disana. Matanya memandang lekat kearah pintu ruangan UGD.


Perasaan hatinya berkecamuk antara panik, takut kalau- kalau terjadi sesuatu pada istri dan kedua bayinya.


Tidak berselang lama kemudian, pintu ruang UGD pun terbuka, Dave segera bangkit dan berlari kecil menuju ke saja.


"Bagaimana keadaan istri dan juga kedua bayiku?," tanya Dave pada seorang dokter yang muncul di balik pintu.


"Maaf sebelumya Tuan, apa yang Anda maksud nyonya yang ada di dalam itu?," Tunjuk dokter itu yang belum tahu kalau Nadia adalah istri Dave. Maklumlah mereka masih merahasiakan semua itu ke publik.


"Siapa lagi kalau bukan dia, cepat katakan apa mereka baik-baik saja?,".


"Kondisi bayi-bayi tuan dan nyonya sudah bergeser maka dari itu harus segera di lakukan operasi ceasar. Tapi masalahnya disini, persedian darah seperti golongan darah nyonya sudah menipis, maka dari itu harus ada tambahan untuk jaga-jaga siapa tahu nyonya mengalami pendarahan.


Kami sudah menghubungi pihak PMI tapi disana juga sedang kosong. Maka dari itu kami membutukan pihak keluarga untuk bersedia mendonorkan darahnya siapa tahu diantara mereka ada yang golongan darahnya sama dengan nyonya," tutur panjang dokter tersebut.


"Golongan darah apa yang istriku


butuhkan?, siapa tahu golongan darah kami sama. Kalian boleh menguras habis darahku dan memberikan pada mereka,".


"Golongan darah O, apa golongan darah Anda juga O?," tanya dokter itu pada Dave. Seketika Dave menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, kami juga akan menghubungi pihak rumah sakit yang ada di kota ini, siapa tahu mereka memiliki persedian darah O sehingga kami bisa segera melakukan operasi.


Tuan boleh meminta bantuan pada pihak keluarga nyonya siapa tahu diantara mereka ada yang memiliki golongan darah yang sama,".


"Tolong lakukan yang terbaik buat istri dan anak- anakku dok," Dave memegangi tangan dokter itu,


tampak ketakutan besar terpancar dari raut wajahnya.


"Baik Tuan, kami akan melakukan yang terbaik buat mereka, kalau begitu saya permisi dulu,".


Sebelum pergi, dokter itu menepuk punggung Dave untuk memberinya semangat.


YUCH MAMPIR DI YOUTUBEKU BAGI PENCINTA NOVEL DAN CERITA DEWASA.


__ADS_1


__ADS_2