SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 52. KEDATANGAN NELZE.


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Dave mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan kendaraan mewahnya tersebut keluar dari dalam garasi menuju kearah pintu gerbang mension.


Sekertaris Ken ikut menjalankan kendaraanya mengekori mereka dari arah belakan.


Hanya butuh kira-kira lima belas menit saja kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat di depan toko kue milik Nadia.


Nadia segera keluar dari dalam mobil dan berlari kecil masuk kedalam toko.


Tampak Rita dan bi Ona sedang sibut bergelut di dapur membuat beberapa adonan untuk di jadikan kue.


"Pagi," sapa Nadia pada mereka berdua.


"Pagi Nona," balas balas bi Ona dan Rita serentak.


"Kelihatanya hari ini banyak pesanan kue?," tanya Nadia.


"Lumayan Non, hampir tiap hari pesanan kue kita mulunjak terus, kami sampai kewalahan untuk membuatnya," balas bi Ona masih


mengaduk adonan dalam loyang.


"Alhamdulillah, apa kita harus menambah karyawan baru untuk membantu pekerjaan kita?," tanya Nadia lagi.


"Ide bagus tu Non, kalau bisa cowok supaya bisa angkat ini angkat itu," balas Rita yang saat itu mulai mencetak kue.


"Aku bisa," balas Dave yang baru saja tiba disana.


Seketika itu juga, Rita dan Ona menghentikan aktifitas mereka setelah mendengar suara dari arah


pintu.


"Tuan Dave!," ucap mereka berdua dengan mulut terbuka.


"Hiiiii....kenapa masuk kesini sih?, ini area untuk para pekerja saja," Nadia memutar tubuh Dave untuk keluar tapi Dave malah makin masuk kedalam.


"Mana yang harus Aku kerjakan?," ucap Dave mendekat kearah Rita dan bi Ona.


"I....ni......," tunjuk bi Ona pada sebuah loyang yang di penuhi gumpalan adonan yang sepunuhnya belum sempurnah mengembang.


"Baiklah, biar Aku mengaduknya untuk kalian," Dave mulai mengaduk adonan tersebut.


Belum juga berapa kali Dave melakukanya, Percikan dari adonan itu sudah memenuhi lantai dan juga bajunya.


"Tukan dibilangi juga apa, pekerjaan disini memang kelihatanya muda tapi butuh tehnik yang tinggi, cepat cuci tangan dan kita keluar,".


Nadia kembali memutar tubuh Dave dan mengarahkan menuju kearah kamar mandi.


Dave hanya mengangguk sembari menggaruki kepalanya.


Bi ona dan Rita sontak tertawa melihat tingkah Dave yang seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.


"Bi, Ada hubungan apa sebenarnya Nona Nadia dengan Tuan Dave, Tadi saya perhatiin sepertinya mereka ada hubungan spesial?,".

__ADS_1


"Bibi juga tidak terlalu tahu Rit, ada baiknya kamu tanyakan langsung saja pada Nona Nadia," balas bi Ona.


Rita hanya mengangguk lalu kemudian melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena kehadiran Dave.


Sementara di ruang tamu, tampak Dave sudah duduk di sofa ditemani oleh Nadia.


"Tokomu ini terlalu kecil, dan terlihat kurang enak di pandang mata,".


"Apaan sih, Ini sudah besar kali. Tatanan ruangan pun sudah terlihat indah dan rapi,". balas Nadia tidak terima dengan ucapan Dave.


"Di bilangin malah ngeyel. Besok sekertaris Ken akan datang untuk merombak semua isi dalam ruangan ini,".


"Aku tidak mau ada perombakan pada tokoku. lagian, kami bertiga sudah merasa nyaman dengan apa yang ada dalam toko ini," bantah


Nadia lagi.


"Kalau kamu tidak mau tokomu di rombak baiklah, tapi semua perabotnya harus di ganti yang baru. Aku tidak mau saat datang kedua


kalinya di tempat ini, Aku masih duduk di sofa kumuh ini dan merasakan hawa panas seperti


sedang dalam panggangan. Ken kemarilah," Dave sedikit meninggikan suaranya memanggil nama sekertaris Ken.


Sekertaris Ken yang sedari tadi berdiri di depan pintu segera melangkah mendekati mereka.


"Ada gerangan apa Tuan memanggil saya?.".


"Semua perabot yang ada dalam toko ini segera kamu ganti dengan yang baru. Dan jangan lupa, pasang dua AC sekaligus di ruagan ini agar para pelanggan merasa nyaman saat


"Baik Tuan akan segera di laksanakan,".


Sekertaris Ken mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi sesorang.


"Sekertaris Ken hentikan itu, Aku tidak mau mengganti perabotan yang masih layak pake menurutku,".


"Tapi semua sudah saya pesan Nona, kalau Anda membatalkan pesanan tersebut maka Anda harus mengganti kerugian dua kali lipat,".


Mata Nadia melotot dengan mulut terbuka mendengar ucapan sekertaris Ken.


Dave hanya tersenyum karena dia tahu dengan cara seperti itulah


Nadia tidak akan bisa berkutik.


" Astaga dua kali lipat, kalian berdua ini benar-benar bekerja tanpa berpikir terlebih dulu,".


Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya memandang Dave dan sekertaris Ken secara bergantian.


Tidak lama kemudian sebuah mobil pic up datang dan berhenti di depan toko.


Tampak di belakang mobil pic up tersebut terlihat beberapa perabot rumah tangga tersusun dengan rapi.


Tiga pria berbadan tegap segera menurunkan barang-barang tersebut dan memasukkan satu-persatu kedalam toko.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit saja kini peralatan dalam toko itu terganti dengan baru.


"Kalau seperti ini, para pelangganmu pasti akan merasa nyaman dan betah berbelanja di toko minimu ini,".


Dave yang saat itu tersenyum memandang kearah Nadia yang masih terlihat ngambek padanya.


"Perabotan yang dulu pun mereka sudah pada betah kalie,".


"Nona, Tuan silahkan," bi Ona yang datang membawa nampan berisi minuman dan juga beberapa kue hasil bikinan mereka.


"Terima kasih bi," balas Nadia.


"Silahkan diminum," Nadia yang tak mau menatap kearah Dave.


"Apa kamu tidak ingin menyuguhkan minuman itu untuk suamimu sebagai tanda ucapan terima kasih atas apa yang telah suamimu lakukan hari


ini,".


Kembali untuk kedua kalinya mata Nadia melotot dengan wajah seketika memerah.


Kalau hanya mereka berdua mungkin Nadia masih bisa menerima ucapan Dave tapi sekarang, ada bi Ona diantara mereka berdua yang sesekali tersenyum menatap dirinya.


"Semoga ini jawaban atas doa-doaku selama ini. TUHAN telah mengirim Tuan Dave sebagai pelindung Nona Nadia," ucap bi Ona dalam hati.


@@@@@@@@@@


Sementar itu di sebuah bandara, tampak seorang perempuan cantik berkacamata hitam sedang menuruni tangga pesawat.


Ken yang sedari tadi duduk di kursi tunggu segera berdiri setelah melihat perempuan tersebut mendekatinya.


"Mana Dave?, kenapa bukan dia yang datang menjemputku. Malah menyuruh ajudanya," tanya perempuan itu dengan angkuh pada sekertaris Ken.


"Tuan Dave sedang sibuk, jadi beliau menyuruhku untuk menjemput Anda,".


"Kenapa sekarang Dave lebih mementingkan kerjaanya di banding diriku?," tanya perempuan itu lagi yang tak lain adalah Nelza.


"Saya tidak tahu itu, Anda bisa tanyakan langsung pada beliau saat Anda bertemu nanti denganya,".


"Kamu dan majikanmu itu sama saja, tidak ada romantis-romantisnya dengan perempuan, bawa


ini,".


Nelza menyerahkan kopernya pada


sekertaris Ken dan berlalu meninggalkanya.


Sekertaris Ken segera mengambil koper tersebut lalu kemudian menyusul Nelza keluar dari bangunan bandara.


Mohon bantuanya untuk terus dukung channel Aku di youtube " PEWARIS TERAKHIR SANG PESDIR," dijamin seru terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2