
Bi Ona dan Rita segera keluar dari dalam kamar sambil menarik koper dan juga tas menuju kearah ruang tamu dimana Goyun sudah sedari tadi menunggu disana.
"Maaf kalau kami sampai membuat paman menunggu lama," Rita meletakkan koper bi Ona diatas lantai.
"Tidak apa-apa, jangankan menunggu lama, menunggu seribu tahun lagi Paman sanggup asal itu menunggu bi Ona,". balas Goyun menatap kearah bi Ona.
"Mate ko tu........," ucap Rita sambil terbahak hingga membuat wajah bi Ona kembali memerah bak udang rebus.
"Kenapa sekarang kamu lebay sekali, semakin kita tinggal di sini bocah ini pasti Akan terus menertawakanku. Ayo kita berangkat sekarang," ajak bi Ona pada Goyun.
"Tunggulah sebentar bi, nanti Wati datang baru bibi pergi, Kalau bibi pargi sekarang Rita pasti sangat kesepian tinggal sendiri disini,".
"Itu urusanmu, bukan urusanku," bi Ona memalingkah wajahnya.
"Kejam sekali, baru bertemu paman Goyun, bibi sudah berubah derastis atau jangan-jagan itu hanya alasan bibi saja agar bisa berdua-duan dengan paman Goyun tanpa ada mengganggu,".
"Hii...anak ini kalau bicara tidak pernah ada benarnya. Baiklah, kami akan menemanimu menunggu Wati dari pada otakmu kemana-mana, tapi sebelum itu buatkan kami teh terlebih dulu," Bi Ona duduk di sofa sedikit jauh dari Goyun.
"Baik nyonya markonah, te'nang ....te'nang .....pesananya akan segera datang," Rita segera berbalik badan lalu melangkah kearah dapur.
"Ona...., Abang masih menyimpan semua photo-photo masa lalu kita, baik saat kita masih duduk di bangku sekolah sampai saat romantis kita di pematang sawah, semua masih tersimpan rapi didalam disini," Goyun sedikit mengangkat handphonenya.
"Benarkah?, apa boleh Aku lihat?,".
"Kemarilah,".
Bi ona segera berdiri dan berpindah duduk di sebelah Goyu. Satu-persatu photo dalam galeri bi Ona buka dan sesekali dia tersenyum mengingat masa lalu di kampung.
"Nah apa Rita bilang, baru beberapa menit saja Rita tinggalkan kini bibi sudah lengket kayak prangko seperti itu, apalagi kalau sampai satu jam, mungkin bibi sudah duduk manja di pangkuan paman," Rita yang saat itu datang membawa nampan beri dua gelas teh.
Secepat mungkin Bi Ona segera bergeser sedikit menjauhi Goyun hingga membuat Goyun ikut tertawa melihat tingkah bi Ona yang seperti anak ABG yang ketahuan pacaran oleh teman-temanya.
Sesaat mereka terdiam hingga muncul Leon dari arah pintu.
"Bi Ona jadi berangkat ke mesion sabun Dove itu?,"
__ADS_1
"Iya, tapi nunggu si Wati datang untuk menemani Rita. Untungnya Kamu sudah datang maka kamu temani Rita dulu soalnya nyonya Nadia pasti sudah sedari tadi menunggui kami,".
"Rita tidak mau berdua-duan dengan dia, nanti Rita diapa-apaanin lagi oleh dia. Pokoknya sebelum Wati datang paman dan bibi tidak boleh pergi. Titik," Rita segera duduk di samping bi Ona dan memegangi lenganya.
"Siapa juga yang mau berdua-duaan denganmu gadis aneh. Lagian kalau Aku ngapa-ngapain kamu juga tidak ada salahnya soalnya Aku sudah membelimu 50 juta di depan mata kepala bapak dan ibumu, ngerti,".
"Ahh......jadi kamu sudah di banrol dengan hargal 50 juta. Terus kalian menghabiskan waktu bersama di mana? di semak-semak atau di kebun sawit," bi Ona kini membalas Rita.
"Bibi ini, tidak begitu juga kali ceritanya, bi jangan lebay deh. Cerita sesungguhnya begini, Saat balon Neon ini mengantarku pulang, kami bertemu si Rudy pria tua bangka yang sudah bau tanah itu dirumah kami sedang menyiksa ibuku. Si Rudy itu meminta uang pada si balon Neon sebagai syarat agar tidak mengganggu keluarga kami lagi. Aku melarang sibalon Neon itu agar tidak memberi pada Rudy tapi sibalon Neon masih saja ngotot memberi uang pada pria durjana itu,". tutur Rita panjang lebar
menceritakan peristiwa yang terjadi di rumahnya tempo hari.
"Tetap saja itu Rita, kamu sudah di klaim hak cipta oleh Leon jadi apa pun kata Leon kamu harus turutin. Ibaranya Leon beli baju di toko lalu dia mau keluar maka baju itu harus ikut denganya, sama halnya dengan posisimu saat ini. Betulkan Leon?,".
"Betul sekali....,".
"Bibi ini, Aku yang sering menemani keseharian bibi kenapa dia yang bibi bela, sunggu ini tidak adil," Rita membelakangi bi Ona.
"Dasar tukang ngambek,".
Kembali dari arah pintu muncul Wati anak pak Herman sambil mengetuk pintu dan tidak lupa mengucapkan salam.
"Terima kasih," ucap Wati masih merasa malu-malu.
"Tidak usah malu-malu begitu, bawa santai saja. Tapi ingat, mulai sekarang Aku ini seniormu dan semua perkataanku harus kamu turuti dan dengarkan. Kamu jangan seperti bi Ona yang sudah berpihak pada musuh, kamu paham,".
"Paham tante," ucap lugu Wati hingga membuat Rita menepuk jidatnya.
"K a...ka...k, kakak?," ucap Rita sambil menepuk keningnya hingga membuat Leon, bi ,Ona dan Goyun terbahak.
Tidak lama kemudian, Goyun dan bi Ona pun mohon diri. Sedangkan Leon masih tinggal disana sekedar bersantai atau mengerjain Rita.
Goyun melajukan kendaraanya menuju kearah mension dan sesekali menatap bi Ona yang duduk disampingnya.
"Sayang, bagaimana kalau kita memintah izin pada tuan Dave dan nyonya Nadia untuk meresmikan hubungan kita ini?," Goyun yang saat itu sedang fokus mengemudi.
__ADS_1
"Untuk saat ini Abang jangan memberi tahu dulu hubungan kita. Ona takut, nyonya Nadia kepikiran tentang itu. biarkan anak tuan dan nyonya lahir barulah kita bicarakan hal ini pada mereka,".
"Tapi sayang, umur kita sudah lewat, Abang takut kita sudah tidak bisa lagi mencetak gol seperti mereka,".
"Tenanglah, pas malam pertama nanti Abang bisa melakukan penalti berapa kali pun Abang inginkan Ona akan siap menjaga gawang dan pura-pura jatuh sehingga bola yang Abang tendang akan masuk dan tetap sasaran,".
"Baiklah sayang kalau begitu, Abang akan melatih si Jony setiap pagi dengan mengangkat dua buah kelapa seperti di konten-konten yang ada di youtube. Bila saat itu tiba, dia sudah bisa bekerja dengan baik dan bisa mencetak gol sebanyak mungin,".
"Abang bisa saja,".
Keduanya pun tertawa hingga tidak terasa mobil yang mereksa tumpangi tiba juga di mension.
Keduanya segera keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju ke pintu utama.
"Pelayan, dimana nyonya Nadia?," tanya Goyun pada seorang pelayang yang kebetulan melintas di depan mereka.
"Nyonya sedang berada di taman belakang rumah bersama para perawat dan beberapa pelayan,".
"Baiklah kalau begitu, kamu boleh melanjutkan tugasmu, Ayo Ona kita temui nyonya,"
Bi Ona hanya mengangguk dan berjalan beriringan denga Goyun kearah taman belakan mension.
Setibanya disana bi Ona langsung menghampiri Nadia yang sedang berjemur dibawah sinar mentari pagi di temani oleh dua orang suster.
"Selamat pagi menjelang siang nyonya," ucap bi Ona.
"Bibi, kapan bibi datang?," Nadia langsung mengelayun manja pada lengan bi Ona, perempuan yang memang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
"Baru saja nyonya,".
"Kalau begitu, ayo kita kekamar. Bi, tolong buatkan kami minuman dan antar ke kamar,". ucap Nadia pada pelayan yang ada disana.
"Baik nyonya,".
Nadia mengajak bi Ona ke kamarnya sedangkan Goyun kembali melakukan tugasnya seperti biasa.
__ADS_1
YUK TERUS IKUTI CERITA PENDEK DEWASA YANG ADA DI CHANNEL YOUTUBE AKU, TERIMA KASIH.