SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 37. RENCANA BUSUK RUDY.


__ADS_3

Ketiga peserta yang masuk final masing-masing di beri sebuah ruangan untuk berdandan sebelum mereka bertiga masuk ke babak akhir untuk memperebutkan posisi pertama dalam perlombaan itu.


Nadia dan kawan-kawan segera masuk keruangan pertama, sedangankan Mawar dan Nabila masuk keruangan dua dan tiga.


Tania dan Diana segera mendandani Nadia telah sebelumnya membuka kacamata serta rambut kepang milik Nadia.


Mereka berdua begitu lincah memainkan alat make up mereka hingga tidak terasa wajah Nadia yang tadinya biasa-biasa saja kini bak


seorang ratu di sebuah kerajaan.


"Lihatlah, apa kami bilang, Anda itu benar-benar cantik. Dan kami yakin semua orang yang melihat Anda Nantinya akan terpukau dengan


karisma yang Anda miliki," Tania yang masih memainkan kuas make upnya di wajah Nadia.


"Betul kata Tania Nyonya, Kecantikan Anda itu langka dan jarang di miliki oleh perempuan cantik pada umumnya. Kami berdua sangat


beruntung bisa mendandani Anda secara langsung. Sekian banyak perempuan yang sudah kami dandani hanya Andalah yang membuat hati kami benar-benar puas dengan


kinerja kami selama ini," sambung Diana yang juga masih memainkan alat make upnya di wajah Nadia.


"Kalian berdua ini sangat berlebihan. Cepatlah sebelum Aku tak sanggup lagi mendengar pujian


dari kalian berdua," Nadia yang menatapi wajahnya di dalam cermin yang kini memang terlihat sangat berbeda dari penampilan


sebelumnya.


Kembali Tania dan Diana melanjutkan kerjaan mereka. Kini mereka berdua terlihat sangat fokus mendandani Nadia. Inci demi inci dari riasan di wajah Nadia begitu mereka perhatikan hinggan tidak terasa satu jam sudah berlalu dan keduanya menyimpan alat rias mereka kedalam box.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga," Tania yang saat itu memandang lekat kearah Nadia.


Tidak lama kemudian muncul Dewi dari arah belakang sembari membawa beberapa pakaian


yang akan di gunakan Nadia saat kontes nantinya.


"Apa semua sudah beres?," tanyanya sembari mendekat.


"Semuanya sudah beres, kini giliran kamu untuk mengenakan baju pada Nyonya Nadia," Balas Diana.


"Kalau itu, kalian berdua jangan kuatir serahkan semua padaku. Aku akan membuat Nyonya Nadia kali ini berbeda dari sebelumnya. Akan


Aku buat beliau seanggun mungkin diatas panggung dengan hasil desain pakain yang telah Aku rancang," balas Dewi begitu yakin.

__ADS_1


"Baiklah, lakukan yang terbaik buat beliau agar apa yang kita impi-impikan selama ini bisa


terwujud," balas Diana.


Dewi hanya mengangguk dan melangkah mendekati Nadia.


"Mari Nyonya, kita kebilik kecil itu untuk mengenakan pakaian ini sebelum acara lomba di mulai," ajak Dewi pada Nadia.


Nadia mengangguk sembari berdiri dari tempat duduknya.Keduanya pun melangkah kearah bilik kecil yang


masih berada di ruangan yang mereka tempati saat ini.


Setelah keduanya masuk kedalam bilik kecil tadi, Dewi memberikan sebuah gaun berwarna


putih di padukan dengan warnah hijau pada Nadia.


Nadia kemudian mengambilnya lalu


mengenakanya.


Sementara itu, di ruangan nomor dua tampak Mawar juga sedang dirias di depan meja rias oleh seorang penata rias yang sengaja Yunita datangkan dari luar kota.


"Mawar kamu benar-benar cantik, Ibu sangat yakin kalau kamulah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Bukan begitu sayang?," Yunita


"Betul sekali, anak Ayah ini benar-benar cantik dan berbakat. Sebentar lagi semua gambarmu


akan terpambang di setiap sudut kota," balas Rudy sembari menatap wajah mawar yang kala itu masih dirias oleh penata riasnya.


"Benarkah?," Mawar begitu gembira


mendengarkan ucapan Rudy dan Yunita.


Rudy dan Yunita saling memandang kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Tapi bagaimana dengan Nadia?, dialah satu-satunya saingan terberat Mawar dalam lomba ini," Mawar dengan raut wajah yang tiba-tiba saja berubah.


"Betul kata Mawar, dari keseluruhan lomba tampak dialah paling unggul diatas peserta lain," Yunita kembali menatap kearah suaminya.


"Kalian berdua memang benar kalau Nadialah paling unggul diantara para peserta lain. Menurut teman Ayah yang juga selaku dewan juri disana kalau poin Nadialah paling diatas


diantara kalian bertiga," balas Rudy dengan raut wajah tanpa kekuatiran sedikit pun.

__ADS_1


"Terus apa yang harus kita lakukan agar poin Mawar lebih tinggi dari Nadia?," tanya Yunita.


"Kalian berdua tenanglah dan jalani prosesnya, untuk hal ini serahkan semuanya padaku. Kalau begitu Aku keluar dulu, ada hal penting yang harus Aku selesaikan," Rudy berbalik badan dan meninggalkan Yunita dan Mawar diruangan itu.


Seketika senyum Yunita dan Mawar


mengembang setelah Rudy meninggalkan ruangan itu. Mereka yakin sekali Rudy akan kembali melakukan kecurangan seperti sebelum-sebelumnya.


Sementara itu Rudy, terus melangkah menuju sebuah ruangan yang letaknya paling ujung di dalam lokasi mall.


Tampa dia sadari enam pasang bola mata terus saja mengawasinya dari kejahuan.


"Apa yang akan di lakukan Rudy?, kenapa dia menuju kearah ruang para dewan juri?" ucap pria berjas kulit dengan postur tubuh tinggi besar


kepada kedua rekanya.


"Aku rasa dia akan melakukan hal yang tak wajar dalam penilaian nantinya," balas salah satu diantara kedua rekanya yang saat itu terus


memantau Rudy.


"Maksudkamu, dia akan bernegosiasi dengan beberapa dewan juri untuk menaikkan nilai Mawar saat penentuan pemanang nanti?,"


"Apa lagi kalau bukan itu. Coba kamu pikir!, sekarang ini, nilai Nyonya Nadia itu paling tinggi diantara ketiga finalis lomba, sedangkan nilai Mawar berada pada posisi paling bawah. Mau tidak mau Rudy akan berusaha bagaimana pun caranya agar nilai Mawar menduduki posisi paling atas dan mengalahkan kedua pesaingnya,".


"Terus apa yang harus kita lakukan untuk mencegah perbuatan curang Rudy?,".


"Sebaiknya kita awasi dia saja terus, setelah kita benar-benar sudah yakin kalau Rudy berbuat curang baru kita bergerak dan memberinya pelajaran yang cukup berharga agar dia tidak lagi melakukan hal yang sama,".


Kedua rekanya pun mengangguk dan mulai melangkah mengikuti Rudy dari arah belakang dengan jarang yang cukup jauh.


Sementara itu Rudy terus melangkah hingga akhirnya langkah kakinya terhenti di depan pintu sebuah ruangan.


Sebelum masuk Rudy menegok kiri dan kanan untuk mewanti-wanti siapa tahu ada yang melihatnya masuk kedalam ruangan itu.


Setelah benar-benar aman barulah rudi memutar knop pintu kemudian mendorongnya.


Setelah pintu ruangan itu terbuka Rudy kemudian masuk dan tak lupa untuk menutupnya kembali.


Sudah ada beberapa orang yang sedang menunggunya disana.


TERUS IKUTI CHANNEL AUTHOR DI YOUTUBE " PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" UP TIAP HARI DAN SEMAKIN SERU JANGAN LUPA BERI SUCBREB, LIKE, COMENT DAN SHERE TERIMA KASIH.

__ADS_1



__ADS_2