
Seketika Dave mengeryitkan Dahinya mendengar ucapan Nadia.
"Kamu ini, tidak pernah ada berubah-berubahnya. Cepat buka matamu dan lihatlah, siapa yang sedang berdiri dihadapanmu,".
Dengan pelan-pelan sekali Nadia membuka mata dan menemukan Dave sedang berdiri tepat di hadapanya sambil melipat kedua buah tangan di depan dada dan membuang pandanganya ke tempat lain.
"Suamiku......," Nadia memeluk erat tubuh Dave dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria tampan itu.
Dave membalasnya dengan mencium pucuk kepala Nadia begitu lembut.
"Aku sangat merindukanmu Dia," ucap Dave dengan sangat pelan.
"Ayo kita pulang, kamu pasti sangat kecapean setelah memberantas preman-preman itu," ajak Dave menarik pergelangan tangan Nadia, tapi segera di gelengkan kepala oleh Nadia.
"Apa kamu tidak ingin ikut dengan suamimu ini. Dia, kamu itu istriku dan sampai kapan pun akan tetap jadi istriku. Jadi jangan coba berpikir untuk pergi lagi dariku, paham!,".
"Bukan itu masalahnya," balas Nadia menunduk.
"Terus apa?, coba katakan biar suamimu ini tahu apa maumu," balas Dave dengan lembut.
"Gendong!," Nadia malu-malu dan masih menundukkan kepalanya.
"Manja sekali," Dave tersenyum lalu mengendong tubuh Nadia dan melangkah ke arah mobil.
"Ken, urus semua masalah ini, dan jangan biarkan kejadian ini menyebar di kalangan masyarakat umum," perintah Dave tanpa menghentikan langkahnya membawa Nadia kearah mobil.
"Baik Tuan, kenapa kisahnya harus seperti kisah zambo," balas sekertaris Ken.
Dave mengemudikan kendaraanya menuju kearah mension.
Dave menyandarkan kepala Nadia di pundaknya, mengelus pucuk kepala Nadia dan sesekali menciumnya.
"Istriku, dari mana saja kamu selama ini, kenapa kamu seolah-olah ingin menghilang dariku, apa kamu sama sekali tidak ada rasa rindu pada
suamimu seperti rasa rindu suamimu ini padamu?," tanya Dave yang fakus mengemudikan mobilnya.
"Kalau Aku tidak rindu padamu, mana mungkin Aku kembali," Nadia memperbaiki posisi duduknya lalu membuang pandanganya keluar jendela.
Seketika Dave merem mendadak dan mobil berhenti di tengah jalan.
"Coba ulang sekali lagi, suamimu ingin mendengarnya," pegang Dave pada kedua pundak Nadia sehingga wajah mereka saling berhadapan dengan mata saling menatap.
"Aku juga merindukanmu," ucap Nadia dengan bibir bergetar.
Tanpa menunggu lama, Dave segera
mendaratkan bibirnya ke bibir Nadia.
__ADS_1
Dave mencium bibir munggil Nadia tanpa ampun.
Semua rasa rindu yang selama ini dia pendam, dia luapkan melalui ciuman panas itu, hingga mereka harus terhenti karena teriakan dan bunyi
klakson dari arah belakang mobil mereka.
Piipppp.........
"Woy ...ini jalan umum bukan jalan nenek moyang kalian," teriak salah satu pengendara mobil sambil membunyikan klakson mobilnya
dengan cukup nyaring.
Nadia segera melap bibirnya dengan
pergelangan tanganya sedangkan Dave begitu emosi karena kesenanganya terganggu apa lagi
mendengar teriakan dari orang tadi membuat darahnya makin mendidih.
"Suamiku mau kemana?," tanya Nadia menarik lengan Dave.
"Aku ingin memberi pelajaran pada orang itu. Aku yang berbuat kenapa nama nenek moyangku di bawa-bawa,".
"Sudahlah, ini memang salahmu karena berhenti di tengah-tengah jalan,".
"Aku tahu tapi.......," belum juga Dave
"Baik-baiklah, Aku akan menurut padamu," Dave kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalan mereka kembali ke mension.
Setibanya di Mension, Dave langsung
memasukkan mobilnya kedalam garasi.
"Ayo turun," Ajak Dave setelah mesin mobil di matikan. Kembali Nadia tidak menjawab, ia malah membuka pintu mobil dan langsung keluar dari dalam sana.
"Kenapa dia hanya diam, apa Aku sudah berbuat salah lagi padanya?, Hii.... kenapa perasaan perempuan itu susah sekali untuk tebak," Dave menggaruki kepalanya lalu berlari mengejar Nadia yang sudah jauh masuk kedalam mension.
"Istriku tunggu..!!,"
Nadia menghentikan langkahnya dan menunggu Dave yang mulai mendekatinya.
"Istriku, kenapa kamu mendiamiku sejak tadi, apa kamu marah padamu?, tolong katakan padaku agar kedepanya Aku bisa menjaga
hatimu,".
Dav memegangi kedua tangan Nadia dan meremasnya dengan sangat lembut.
"Aku sama sekali tidak marah padamu," Nadia mengusap lembut wajah tampan Dave yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.
__ADS_1
Goyun yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka tersenyum bahagia.
"Akhirnya Tuan Dave menemukan juga cinta sejatinya. Semoga kedepan, mereka terus bahagian tanpa gangguan dan ronrongan dari
Nyonya Anita dan juga Nona Elis," Goy berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggalan Goyun, muncul Anita dan juga Elis dari arah pintu masuk dengan wajah di penuhi kecemasan.
"Dave, Akhirnya kamu kembali. Apa yang terjadi dibandara?," ujar Anita mendekati mereka.
"Kenapa kalian bisa tahu, atau jangan-jangan kalian berkomplot dengan preman-preman itu mencelakai istriku?,".
Dave meplototkan matanya pada mereka berdua.
"Berkomplot apanya!, tadi Ibu dan Elis ke mall dan bertemu Nelza, dia bilang kalau kamu dan sekertaris Ken ada cekcok dengan preman dan salah satu preman itu meninggal dengan peluru menembus kepalanya,"
"Benar, Aku yang menghabisi preman itu karena dia sudah mengancam keselamatan istriku. Ini juga berlaku pada siapa saja dan tidak terkecuali pada kalian berdua, Ayo sayang kita naik," Dave merangkul tubuh Nadia dan membawahnya menaiki tangga.
"Bu, bagaimana ini!, kak Dave benar-benar sudah tidak punya hati bila menyangkut keselamatan
Nadia. Rasanya Elis sudah tak sanggup melanjutkan rencana kita," Elis dengan tubuh gemetar.
"Kamu tidak usah takut seperti itu. Kalau kita tidak bisa menyingkirkan si cupu itu dengan jalan kekerasan kita lakukan dengan cara halus, tinggal tunggu moment yang tepat untuk
menyingkirkanya. Jangan sampai keturunan dari si cupu itu mewarisi harta peninggalan ayahmu,".
"Tapi bagaimana dengan ancaman kak Dave tadi, apa ibu sama sekali tidak takut padanya?,"
"Ibu juga takut tapi, mau di apa!. Lebih baik sekalian mati dari pada hidup melarat. Ingat Elis, penerus dari keluarga Anggoro itu haruslah laki- laki sedangkan perempuan hanya mendapat seiklasnya saja. Jika si cupu itu melahirkan anak laki-laki nantinya maka, hakmu akan hilang
secara sendirinya, terkecuali jika dia mandul. Maka dari itu kita harus mencegah jangan sampai Nadia melahirkan anak berjenis kelamin
laki-laki. Kamu paham maksud ibu bukan?,"
Elis hanya terdiam karena dia takut dengan ancaman Dave dan juga takut melarat seperti kata Anita.
Sementara itu di kediaman Rudy, tampak Yunita dan Mawar sedang berada di ruang tamu sambil
menikmati secangkir teh dan beberapa cemilan diatas meja.
Rudy yang baru saja datang dari arah pintu masuk segera duduk di sofa dan membuang tas kerjanya begitu saja diatas sofa.
"Ada apa lagi Mas?, kenapa wajahmu terlihat begitu pucat dan kurang bersemangat seperti itu?," tanya Yunita meletakkan gelas yang baru
saja dia seruput isinya.
Yuk ikuti CERPEN SEDIH Author di Youtube "TUHAN KEMBALIKAN ISTRIKU" dijamin menguras air mata.
__ADS_1