
Dave dan Nadia langsung menuju kearah kamar, setelah tiba di sana Dave mambantu Nadia mebuka pakaianya.
"Mandilah, telah itu kamu beristirahat,"
Nadia hanya mengangguk dan segera masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa suamiku ikut masuk kemari?," protes Nadia.
"Aku juga mau mandi, soalnya tubuhku terasa lengket dan gatal. Kalau boleh memilih Aku lebih baik memanjat kamu dari pada memanjat pohon mangga itu,". balas Dave tersenyum.
"Kamu ini, selalunya mengarah kearah sana. Kata dokter kita jangan sering melakukanya karena bisa membahayakan bayi-bayi kita," Nadia yang kini mulai menghidupkan kerang shower. Air mulai menguyur sekujur tubuh Nadia.
Melihat hal itu Dave pun segera membuka pakainya dan bergabung dengan Nadia.
Sesekali Dave memeluk Nadia dari arah belakang dan memegang benda kesukaanya hingga dia tak sanggup menahan hasratnya.
"Sayang, Aku ingin menegok bayi-bayi kita siapa tahu mereka ingin minum karena kecapean kamu bawanya keatas pohon,".
"Mana bisa mereka haus, hasupan airnya sudah terjaga dengan baik,".
"Tapi ini air mineral sayang pasti mereka akan bertambah sehat kalau mereka meminumnya,".
"Tapi disini sangat berbahaya untuk melakukan adegan itu,".
"Kamu tenang saja, Aku akan memberi jurus kodek menerkam musuh jadi tidak akan ada yang berbahaya,".
"Baiklah, tapi awas jangan sampai membayakan mereka,".
Dave mengangguk lalu memulai aksinya.
Ada sekitar 30 menit mereka di dalam kamar mandi, hingga Nadia keluar dari dalam sana dengan berbalut handuk sedangkan Dave masih tinggal bermanja di dalam bethup.
__ADS_1
Nadia segera mengenakan pakainya. Selagi Dave masih ada di dalam kamar mandi, Nadia diam-diam keluar kamar untuk mengambil air minum. Dia benar-benar haus setelah meladeni berbagai jurus yang di lakukan Dave tadi.
Belum juga dia menginjakkan kaki di ruang makan tiba-tiba langkahnya harus terhenti saat mendengar obrolan dua pelayan yang sedang membersihksn ruang dapur.
"Lina, Aku merasa kasihan pada pak Goyun. Setiap kali ada masalah pasti yang pertama terkena berdampak adalah beliau," ucapa seorang pelayan sambil membersihkan daun meja makan.
"Betul, Seumur-umur Aku bekerja disini baru hari ini Aku melihat pak Goyun mendapatkan hukuman. Di tampar lalu dicaci oleh tuan Dave," balas temanya.
"Itu makanya, Aku sangat menghormati pak Goyun dan menurut setiap perintahnya, soalnya bila ada kesalahan seperti tadi pasti pak Goyunlah yang pertama mandapat imbasnya,".
"Iya juga sih. Baru sebentar saja nyonya hilang di mension pak Goyun sudah mendapat hukuman seberat itu apalagi bila nyonya hilang berhari-hari mungkin pak Goyun sudah mati ditangan tuan Dave,".
"Sudalah, kita jangan bahas ini lagi takutnya ada yang mendengar lalu melaporkan kita pada tuan Dave, bisa-bisa kita di pecat dari sini," keduanya pun terdiam lalu fokus mengerjakan pekerjaan merekan.
Tubuh Nadia seakan tidak bertenaga mendengarkan perbincangan kedua pelayan yang ada di dalam ruang makan itu.
Tanpa sadar dengan perbuatanya yang menggilang secara tiba-tiba seperti tadi, Goyun harus mendapat hukuman dari Dave.
Nadia malah berbalik menuju kearah kamar Goyun. Lagi-lagi dia harus terhenti disaat mendengar percakapan dua orang di dalam kamar dengan posisi pintu terbuka lebar.
"Ona, mungkin ada baiknya Aku berhenti bekerja disini. Tenagaku sudah tidak sekuat dulu, menjaga nyonya Nadia saja Aku sudah lalai apa lagi menjaga tuan muda kelak,".
"Jangan karena tersulut emosi maka abang memutuskan untuk pergi dari sini. Tuan Dave mungkin melakuan semua itu karena dia ingin melihat abang lebih ketat lagi memberi penjagaan pada keluarga beliau karena kelak bukan hanya mereka berdua yang akan abang jaga tapi anak-anak mereka juga,".
"Aku tidak pernah sakit hati atau pun emosi pada tuan Dave, karena dari dulu memang abang sudah tahu pembawaan beliau. Ona, setelah abang pergi dari sini abang titip tuan, nyonya serta anak-anak mereka. Tolong jaga mereka sebaik mungkin lebih dari yang abang bisa," Goyun memegang tangan bi Ona dengan pengharapan begitu besar terlihat dari pancaran matanya.
"Posisi abang di mension ini tidak akan bisa tergantikan oleh siapa pun. Abang sudah memberi pelayanan dan pengabdian yang begitu tulus di keluarga ini. Ona yakin pasti tuan Dave tidak akan iklas melepas abang pergi apalagi nyonya yang sudah menganggap abang seperti pamanya sendiri,".
"Aku tahu itu, mungkin rezekiku bukan di sini tapi di tempat lain. Cukup sudah pengabdianku disini. Tuan juga sudah berubah dengan kehadiran nyonya Nadia, jadi usai sudah janjiku pada Almarhum tuan besar untuk menjaga tuan sampai menemukan pendamping hidup yang cocok,".
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan abang, Ona hanya bisa mendoakan semua abang sehat dan selalu mendapat perlindungan dari ALLAH dimana pun abang berada,".
__ADS_1
"Aamin. terima kasih. Setelah semua ini berakhir abang akan menjemputmu kamari,".
Nadia yang ada di balik dinding segera berlari kecil menuju kearah kamarnya. Wajahnya sedikit pucat dengan kesedihan yang begitu mendalam.
Tanpa permisi terlebih dulu, Nadia lalu membuka pintu.
"Loh dari mana saja kamu sayang, kenapa pulang pulang wajahmu sesedih itu dan kenapa air mata ini menetes di pipimu," Dave mengusap air mata di pipi Nadia dengan kedua buah ibu jarinya tetapi segera di tepis oleh Nadia.
"Apa yang telah suamiku lakukan pada paman Goyun?,". Nadia dengan mata memerah menahan amarnya.
"Apa maksudmu sayang, Aku benar-benar tidak mengerti?,".
"Jangan pura-pura tidak tahu. Mungkin photo-photo kemesraanmu dengan Nelza waktu itu hotel Aku masih bisa menahanya tapi kali ini jangan harap Aku bisa memaafkanmu jika sampai paman Goyun pergi dari sini,". Nadia dengan suara sedikit meninggi.
"Kenapa merambat ke photo-photo dengan Nelza dan apa hubunganya photo-photo itu hingga Goyun ingin pergi. Sayang kamu jangan bercanda Goyun tidak mungkin pergi meninggalkan mension,". Dave sedikit tersenyum karena dia yakin Goyun tidak bakalan melakukan itu.
"Apa kamu masih bisa tersenyum setelah melihat hal sesungguhnya, Ayo kemari dan kamu lihat sendiri. paman Goyun sudah mengumpulkan semua pakaian dan memasukkanya kedalam koper. Apa kamu masih bisa bilang kalau paman Goyun tidak akan pernah meninggalkan mension ini,". Nadia menarik tangan Dave menuju kearah kamar Goyun.
"Kamu jangan bercanda sayang, Goyun tidak bakalan mau meninggalkan mension ini karena dia sudah berjanji pada almarhum ayah," Dave mengikuti langkah Nadia menuju kearah kamar Goyun.
"Tuan, nyonya," ucap Goyun dan bi Ona serentak sambil berdiri di saat Dave dan Nadia sudah berada di depan pintu.
"Apa kamu masih bisa bilang kalau paman Goyun tidak bakalan meninggalkan kita. Coba lihat koper-koper itu, Tinggal satu kali angkat maka selamanya kita tidak akan melihat paman lagi di mension ini,".
Kedua mata Dave sontak terbuka lebar melihat beberapa koper yang sudah tersusun rapi diatas lantai. Dia seolah-olah tidak percaya kalau Goyun, orang kepercaanya selama ini benar-benar ingin pergi meninggalkanya.
YUCK IKUTI CERITA2 AUTHOR DI YOUTUBE YANG TENTUNYA TIDAK KALAH MENARIK DENGAN KISAH INI
JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN JEJAK YA DENGAN CARA SUBSCIBE, COMENT, LIKE DAN SHERE SERTA NYALAKAN LONCENG NOTOFIKASINYA. TERIMA KASIH.
__ADS_1