SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 121. TAMAT.


__ADS_3

Tampak mata pria parubaya itu berkaca-kaca setelah melihat Zaila dengan rambut di kepang dua dan kacamata kecil yang bersandar pada


hidung mancungnya.


Seketika pria parubaya itu memeluk erat tubuh kecil Zaila dengan deraian air mata menetes pada kedua pipinya.


"Kamu boleh mengambil semua balon-balon ini, tapi biarkan kakek memelukmu sejenak seperti ini,"


Zaila terdiam tanpa berkata, dengan tangan mungilnya dia membelai lembut rambut si kakek yang sudah mulai memutih termakan usia.


"Kenapa kakek menangis?," tanya gadis kecil itu.


"Kamu mengingatkat Aku pada putriku, Aku sudah sangat berdosa padanya, jika TUHAN mengizinkan, sebelum Aku mati, Aku ingin bertemu dan memohon maaf padanya," Kembali bulir air mata pria parubaya itu menetes diatas lantai membentuk bola-bola kecil.


"Ayah," Nadia berlutut dan memeluk erat tubuh Rudy.


"Kemana saja kalian selama ini, kami berusaha mencari kalian tapi kata teman-teman Ayah, kalian sudah pindah keluar kota,".


"Nadia, maafkan ayah, ayah benar-benar bersalah padamu," Rudy menunduk dan mencium kaki Nadia.


"Jangan seperti ini Ayah, ayo berdiri," Nadia mengangkat tubuh rentah Rudy yang sudah tidak sekekar dulu.


"Ibu dan Mawar dimana?,".


"Ibu dan adikmu sekarang dirawat dirumah sakit jiwa. Setelah perusahan ayah bangkrut dan semua aset keluarga disita oleh bank. Ibumu


dan Mawar mengalami depresi, mereka berdua tidak terima kenyataan kalau keluarga kita sudah


jatuh miskin".


"Astagfirullah, mereka memang tidak pernah bisa berubah, harta dan tahta saja yang ada di pikiran mereka. Mungkin dengan cari inilah TUHAN menegur mereka secara baik-baik. Ayah, ayo ikut kami, biar Nadia dan Dave yang merawat ayah," rangkul Nadia pada lengan Rudy.


"Zaila juga mau rawat kakek,".


"Ziva juga,".


Teriak kedua bocah itu bersamaan.


Kembali Rudy memeluk kedua bocah imut itu. Perasan bersalah kepada Nadia di luapkan pada kedua cucunya.

__ADS_1


Nadia mengajak Rudy ke mobil sedangkan Dave mengangkat barang jualan Rudy dan memasukkanya kedalam bagasi mobil.


Setelah semuanya beres, mereka berlima meninggalkan mall menuju kearah mension.


Candaan Ziva dan Zaila pada Rudy yang duduk di kursu belakang penumpan membuat Nadia dan Dave yang kalah itu duduk di depan sesekali ikut tertawa.


Dandam pada Rudy hilang seiring berjalanya waktu dan hadirnya Ziva dan Zaila di kehidupan mereka.


Tidak lama kemudian, mobil mereka pun tiba di mension. Kembali Nadia mengajak Rudy untuk masuk yang saat itu sedang mengendong Zaila dan Ziva.


"Ayah, Ayo masuk. Zaila, Ziva Ayo turun, kasih kakek beliau pasti capek mengendingmu seperti itu,".


"Kakek capek?," tanya Ziva.


"Kalau kakek capek kami ditulunin aja kek,". lanjut Zaila.


"Kakek sama sekali tidak capek sayang, kakek malah senang bisa menggendong kalian seperti ini,".cium Rudy pada pipi gembul kedua bocah imut itu.


"Terserah ayah saja, bila capek ayah jangan paksakan, Ayo masuk,".


Kelimanya segera melangkah masuk kedalam mension.


"Baik, nyonya,".


Sementara itu disebuah kamar, tampak Rudy sudah terlihat gagah dengan rambut sudah di tata rapi. Nadia sengaja mendatangkan tukang cukur dan memesan pakaian buat Rudy.


"TUHAN terima kasih atas semuanya, ENGKAU telah mengembalikan derajatku melalui anak yang selama ini Aku sia-siakan," Rudy yang saat itu berdiri di depan cermin menatap wajah dan juga pakaian yang dia kenakan. Berubah 180 derajat 4 tahun belakangan ini.


Tidak lama kemudian terdengar ketukan dari luar dan pintu segera terbuka.


"Kakek...," dua bocah berlarian memeluk kaki jenjang Rudy. Siapa lagi kalau bukan Ziva dan Zaila di ikuti Dave dari belakang.


"Cucu-cucu kakek," Rudy mensejajarkan tubuhnya dengan kedua cucunya itu.


"Kakek tampan sekali kaya Zaila,".


"Kamu itu cantik ompong bukan tampan, yang tampan dirumah ini Aku, Ayah yang kedua lalu kakek Rudy kemudian kakek Goyun. Betulkan ayah," tatap Ziva pada Dave yang berdiri disampingnya.


"Betul walau tidak sepenuhnya benar,"

__ADS_1


"Ayah ini, pasti ayah maunya yang peltama bukan?," Ziva memanyunkan bibirnya kedepan hingga membuat Dave dan Rudy tertawa melihat wajah Ziva yang menggemaskan mirip sekali dirinya saat ngambek pada Nadia.


"Kamu ini milip sekali dengan ayah, nalsis,". protes Zaila.


"Wajalah milip ayah, kalau milip tetangga balulah tak wajal,". Ziva gak mau kalah dengan adiknya itu.


Dave dan Rudy hanya bisa menggeleng kepala malihat pertengkaran kecil itu.


"Dave, terima kasih atas semuanya. Kamu telah menjaga Nadia dengan sangat baik. Aku sebagai ayahnya sungguh sangat malu denganmu,".


"Harusnya Aku yang berterima kasih pada ayah, kalau bukan dari kesilafat ayah waktu itu, mungkin Dave tidak bisa mendapatkan Nadia dan memiliki keluarga bahagia seperti sekarang ini," Dave menepuk punggung Rudy yang saat itu tertunduk di depanya.


"Sedih-sedihanya sudahi dulu, ayo kita makan dan bergembira dengan yang lain menyambut kedatangan ayah," Nadia yang sudah sedari tadi berdiri di depan pintu kamar.


"Hore...makan-makan," Zaila kembali melompat-lompat kegirangan.


"Olang ompong tidak masuk lumus, soalnya yang ibu masak daging semua, paham,".


"Ibu....," Zaila berlari memeluk kaki Nadia.


"Itu tidak benar, ibu juga masak makanan kesukaan Zaila kok. Ziva, ibu tidak mau dengar kalau kamu selalu mengejek adikmu seperti ini," kedua mata Nadia seketika membulat memandang Ziva yang bersembunyi di kaki jenjang Dave.


"Maafkan Ziva bu,".


"Sudah-sudah, Ayo kita makan," Dave mengangkat tubuh kecil Ziva lalu menggendongnya.


Kelimanya pun segera menuju ke ruang makan dimana yang lain sudah hadir di sana menunggu mereka.


Pesta penyambutan Rudy berjalan dengan sangat meriah.




BAGI TEMAN-TEMAN YANG MENUNGGU CERITA TERBARU DARI AUTHOR YUCH BERKUNJUNG KE CHANNEL YOUTUBE AUTHOR NANTI SEMUA INFO NOVEL TERBARU AKAN AUTHOR INFORMASIKAN DISANA. JANGAN LUPA UNTUK MEMBERI SUBSCRIBE, COMENT, LIKE, SHERE DAN NYALAKAN LONCENGNYA AGAR TIDAK KETINGGALAN VIDEO TERBARUNYA TERIMA KASIH.



![](contribute/fiction/5371387/markdown/7882425/1667273550012.jpg)

__ADS_1


__ADS_2