
Empat tahun kemudian, suasana dalam mension begitu heboh, tampak dua bocah saling berlarian mengerjai para pelayan yang sedang beraktifitas saat itu.
"Ziva, Zaila cepat kemari, ayah dan bunda akan mengajak kalian ke mall, apa kalian mau ikut?," teriak Dave dari arah kamar.
Ziva candra winata Anggoro dan Zaila candra winata Anggoro itulah nama putra dan putri dari Dave dan Nadia.
Mereka sengaja menyematkan
nama Anggoro di belakang nama mereka untuk mengingat orang yang selama ini berjasa mempertemukan keduanya.
"Mau," balas kedua bocah itu lalu berlarian menuju kearah kamar.
"Ayah apa benal hari ini kita akan ke mall?," tanya Zaila mendekati ayahnya yang saat itu sedang duduk diatas pembaringan sambil memperbaiki tatanan rambutnya.
"Iya sayang, kemarilah biar ayah merapikan rambutmu,".
Zaila pun naik ke pangkuan Dave, Dave mulai menyisir rambut Zaila dan mengepangnya seperti yang sering dia lakukan pada rambut Nadia.
Sedangkan Ziva menuju kearah Nadia yang saat itu juga sedang merias diri tetapi penampilanya masih seperti dulu dengan rambut di kepang dua
dan gagang kacamata yang masih melekat di kedua daun telinganya.
"Bunda, apa bisa bunda menyisil rambutku juga, sepelti ayah menyisil rambut si ompong itu?,".
"Nama adikmu Zaila sayang bukan si ompong, kamu ini mirip sekali dengan ayahmu selalu saja mengejek kekurangan orang,".
"Itu kenyataan bunda, dia memang ompong. Kalau giginya ada mana mungkin Aku memanggilnya dengan sebutan itu,". Ziva yang tidak mau kalah oleh ibunya.
"Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurang jadi kita tidak boleh menghujat kekuranganya. Di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali ALLAH, coba kalau Zaila sampai tahu kalau kamu itu masih gompol apa kamu juga mau kalau adikmu mengejekmu si tukang ngompol?," Nadia sedikit mendekatkan wajahnya pada putranya.
"Husss...jangan kelas-kelas nanti ayah dan Zaila mendengalnya," balas Ziva sambil menegakkan jari telunjuk kecilnya di depat bibir sambil memandang kearah Dave yang masih sibuk mengepang rambut Zaila.
"Baiklah, tapi kamu harus janji, kamu tidak akan menghujat kekurangan orang lain,".
"Ziva janji, bun," Ziva mengangkat jari
telunjuk dan jari tengah membentuk hurup V.
"Baiklah kalau begitu, cepat kemari biar bunda merapikan rambutmu dan juga pakaianmu sebelum kita berangkat," Nadia mengangkat tubuh kecil Ziva dan meletakkan diatas
pangkuanya.
Setelah semuanya dirasa cukup, keempatnya pun melangkah keluar mension dan menuju kearah mobil.
Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang menuju kearah mall. Candaan Ziva dan Zaila
mengiringi perjalan mereka hingga tidak terasa mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki kawasan mall.
Keempatnya pun masuk kedalam mall sambil berpegangan tangan satu dengan yang lain.
__ADS_1
Satu-persatu toko mainan mereka masuki untuk membeli beberapa mainan kesukaan Zaila.
Mulai dari boneka sampai alat masak memasak. Semua belanjaan untuk Zaila sudah selesai, kini giliran Ziva. Anak ini lain dengan anak pada
umumnya, jika anak pada umumnya suka dengan mainan dia malah lebih ke buku.
Daya tarinya kedua dunia teknologi dan bisnis terkadang membuat Dave dan Nadia heran dibuatnya.
Sebagai orang tua, Dave dan Nadia hanya bisa mengarahkan dan membimbingnya untuk tidak tersesat didunia yang belum patut dia pelajari di usianya yang masih sangat muda.
Setelah kedua kebutuhan putra-putrinya dirasa cukup, Dave dan Nadia mengajak Ziva dan Zaila
ke sebuah cafe untuk menikmati makan siang.
Mereka menempati meja yang jauh dari kerumunan orang banyak.
Dua orang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa menu makanan
dan juga minuman yang sebelumnya telah mereka pesan.
Keempatnya minikmati makan dan juga minuman tanpa ada pembicaraan diantara mereka.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, kini mereka terlihat berdiri dan mergegas meninggalkan ruang cafe setelah sebelumnya Dave menyeselesai pembayaran.
"Sayang kita ketoko perhiasan dulu, ada sesuatu yang ingin Aku tunjukkan padamu," ucap Dave pada Nadia.
Dav dan Ziva hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ulah Zaila yang sudah kebiasaan menjawab walau sebenarnya pertanyaan itu bukan untuknya.
Setibanya di dalam toko perhiasan, seorang pria berjas berlari kecil menghampiri mereka.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya," ucapnya sedikit menundukkan kepala.
"Siang," jawab Dave dan Nadia serentak.
"Apa pesananku sudah selesai kalian buat?," tanya Dav pada pria berjas itu.
"Sudah Tuan, mari ikut saya biar saya perlihatkan pesanan Anda," ajak pria berjas tadi pada Dave dan Nadia menuju kearah sebuah ruangan.
Keempatnya pun mengikuti pria berjas tadi masuk ke dalam sebuah ruangan yang masih berada di dalam toko perhiasan tersebut.
Sudah ada empat pelanggan yang duduk dalam sofa ruangan itu.
Mereka tak lain adalah Leon, Rita , Goyun dan bi Ona. Dave segaja menyembunyikan hal itu pada Nadia
agar istrinya terkejut saat melihat kehadiran mereka disana.
Zaila segera berlari dan memeluk Leon begitu erat.
"Papa Leon,".
__ADS_1
"Putri kecilku," sambut Leon dan memeluk balik tubuh mungil Zaila.
Sementara Ziva langsung berlari kearah Goyun dan duduk di pangkuanya.
"Loh kok kalian ada disini?," tatap Nadia pada Keempatnya secara bergantian.
"Sebentar lagi kami akan menikah jadi kami juga memesan cincin seperti yang telah Dave pesan
untukmu, iyakan sayang?," rangkul Leon pada lengan Rita dan mendudukkan Zaila di pangkuanya.
"Jadi paman Leon dan tente Rita mau hidup serumah seperti Ayah dan bunda?," tanya Ziva yang masih bermanja-manja pada Goyun.
"Tentu anak kecil," balas Leon.
"Aku ini bukan anak kecil paman," protes Ziva yang tidak terima setiap kali Leon menyebutnya anak kecil.
"Terus bi Ona dan dan paman Goyun!, apa kalian juga mau mengikuti jejak mereka berdua?," pandang Nadia pada Goyun dan bi Ona.
"Benar Nyonya, bulan depan kami berencana pulang kampung dan menikah disana, iyakan sayang," Goyun yang tidak mau kalah dengan
Leon, dia juga merangkul pundak bi Ona yang saat itu hanya bisa tertunduk malu.
"Apa Kakek dan nenek juga mau menikah, sama sepelti paman Leon dan tante Lita?,".
"Benar sayang, Kamu datang ya ke pesta kami," Goyun menyapu rambut Ziva .
"Hole....pesta besal," Zaila turun dari pangkuan Leon lalu melompat kegirangan.
Semua orang dalam ruangan itu tertawa melihat tingkah Zaila terkecuali Ziva.
"Dasar anak kecil,".
Setelah melihat pesanan mereka masing-masing dan merasa puas. Mereka pun keluar dari dalam toko dan melangkah menuju kearah pintu keluar.
"Caila ingin balon itu bun ," tunjuk Zaila pada beberapa balon yang melayang di udara dengan seutas benang sebagai pengikatnya setelah mereka sudah berada di luar mall.
"Iya, tapi satu saja ya sayang,".
"Hole......," Zaila berlari kecil mendekati penjual balon.
"Kek, Caila mau beli balon," ucap Zaila pada seorang pria parubaya yang saat itu sedang sibuk mengikat balon dengan benang.
"Boleh ***, kamu mau balon yang warnah apa?,," balas pria parubaya itu dengan sedikit mengangkat kepalanya dan penatap lekat pada
wajah Zaila.
NYUK MAMPIR TERUS KE CHANNEL YOUTUBE AUTHOR YA KARENA SEBENTAR LAGI CARITA INI AKAN AUTHOR TAMATIN. TERIMA KASIH.
__ADS_1