SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 31. SUAMIKU.


__ADS_3

"Ayah, ibu, Mawar serius ini!, apa kalian berdua sudah lupa dengan peristiwa sepuluh tahun silam sebelum Nadia mengubah penampilanya. Setiap ada perlombaan Nyanyi, model dan juga


kecerdasan pasti Nadia selalu jadi juaranya. Aku sering menangis saat kami pulang bersama dalam setiap perlombaan karena Nadia yang


selalu mengungguli Mawar. Nadia yang selalu jadi juaranya sedangkan Mawar yang jadi raner up, bahkan pernah sama sekali Mawar tidak


mendapat apa-apa ," tutur Mawar lagi mengingat kembali itu.


Mendengar penuturan Maya, kembali Rudy dan Yunita saling memandang


untuk kedua kalinya. Apa yang di ucapkan Mawar barusan benar adanya.


Nadia memang selalu unggul dibandingkan Mawar dari segi


mana pun. Lantaran Mawar sering menangis, maka Rudy dan Yunita membujuk Nadia untuk berhenti mengikuti setiap perlombaan apa pun


itu.


Tidak sampai disitu saja, Rudy dan Yunuta menyuruh Nadia mengubah penampilanya saat Leon sering ke rumah mereka untuk bermain dengan Nadia tanpa mau bermain dengan


Mawar.


"Kalau Masalah itu kamu jangan kuatir Mawar, kami berdua akan menghubungi teman-teman


kami yang jadi panitia disana. Yang harus kamu lakukan sekarang, usahakan kamu masuk final dulu.


Selebihnya serahkan semua pada kami, gimana


Mas?," tatap Yunita pada Rudy.


"Apa yang di katakan ibumu itu semuanya benar. Kamu harus masuk final. Siapa pun yang menjadi sainganmu nantinya, ayah akan


mengupayakan agar kamu yang keluar sebagai juaranya. Dalam perlombaan kali ini kamu harus


berusaha mempertahankan nama baikmu. Kalau sampai kamu kalah maka tamatlah karirmu. Paham!," sambung Rudy lagi.


"Apa!, ayah jangan main-main. Mana mungkin hanya karena kalah dalam kompetisi ini semua usaha Mawar selama ini akan hilang begitu saja!,". balas Mawar kaget.


"Begitulah dunia modeling, Jika ada yang lebih bagus maka model-model yang lain akan usai. Maka dari itu kamu harus melakukan yang terbaik dalam kompetisi kali ini. Selain untuk


menjaga nama baikmu, ayah dan ibu juga berharap kamu mendapatkan hadiah utama dari perlombaan itu. Lumayan untuk masa depanmu


kelak bukan?," sambung Yunita.


"Baiklah, Mawar akan berjuang. Mawar tidak akan membiarkan yang lain untuk menjadi pemenang. Asalkan Ayah dan ibu harus


membantu Mawar seperti sebelum-sebelumnya,


Oke," Mawar membulatkan jarinya membentuk hurup 0 besar.


"Oke, kalau begitu kami pergi dulu, Kamu jangan kemana-mana sebelum ibu dan ayah pulang. Ayo mas semua teman-teman kita pasti sudah


menunggui kita di sana," Ajak Yunita menarik tangan Rudy.

__ADS_1


Rudy dan Yunita pun melangkah meninggalkan Mawar sendirian di ruangan itu dan menuju kearah


pintu keluar.


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Ya, kompetisi pencarian model bintang iklan pun sudah di gelar di sebuah Mall ternama, terbesar dan


paling megah di kota tersebut.


Satu-persatu para peserta mulai berdatangan untuk menunjukkan bakat mereka di depan para


dewan juri.


Nadia yang saat itu masih berasa di mension sudah merasa gelisah. Pesan dari Dewi, Tania dan Diana satu persatu dia jawab dengan


jawaban yang sama yaitu tunggu sebentar.


Dave yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi melihat betul bagaimana kegelisahaan Nadia saat itu.


"Kenapa sepagi ini wajahmu begitu gelisah?, Apa kamu sudah tidak sabar membantu mengenakan pakaian kerja padaku?," ucap Dave mengambil pakaian yang sudah di letakkan


Nadia diatas meja seperti biasa.


"Astaga orang ini, sudah di tunggui sedari tadi tapi pas keluar pertanya sungguh tidak masuk


diakal," gerutuh Nadia dalam hati.


"Kenapa hanya mata dan hatimu saja yang berbicara, sementara mulutmu kamu tutup begitu rapat,".


hati!," ucap Nadia santai tanpa dia sadari.


"Apa!, kamu sudah berani mengomeliku," Dave menghentikan aktifitasnya dan menatap kearah


Nadia.


"Astagfirullah, apa yang barusan Aku ucapkan?," Nadia menutup melutnya dengan kedua buah telapak tanganya.


"Kenapa hanya diam, cepat jawab," Dave dengan nada sedikit membentak.


"Tidak seperti itu suamiku, tadi itu Aku cuman bercanda. Cepatlah kenakan baju kerjanya, setelah itu kita turun untuk sarapan," Nadia mendekat kearah Dave dan memegangi bahunya.


"Kamu sekarang sudah pandai merayuku, Apa kamu sudah siap menjadi istriku yang


seutuhnya?,".


"Tuan ini!, ayo cepat kenakan bajunya nanti Tuan terlambat ke kantor," Nadia dengan wajah merah merona bak kepiting rebus.


Ingin menyuruh Dave cepat-cepat pergi ke kantor malah dia sendiri yang dapat imbasnya.


"Baiklah tapi mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan sebutan suamiku seperti tadi.".


"Astajim, iya iya asal Tuan senang pasti dengan senang hati Aku akan melakukanya," Mau tidak mau Nadia harus mengalah dari pada Dave


memperpanjang urusan.

__ADS_1


"Bagus, istri pintar," Dave mengucak-ucak rambut


Nadia sembari tersenyum.


Ada rasa bahagia dalam hati Dave saat Nadia memanggilnya dengan sebutan suamiku.


Hanya membutuhkan beberapa menit saja kini keduanya sudah keluar dari dalam kamar.


Sama seperti hari-hari sebelumnya, Goy sudah menyambut mereka berdua di depan pintu.bersama dengan beberapa pelayan.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya," sambut Goy bersama dengan para pelayan yang bersamanya.


"Pagi paman Goy," balas Nadia. Sementara Dave hanya terdiam seperti biasa.


Setelah sambutan ringan yang di lakukan Goy pagi itu, Dav melanjutkan langkahnya menurunin tangga dan langsung menuju kearah ruangan


makan.


Sudah ada Elis dan Anita yang menyambut mereka dengan senyuman yang dibuat-buat.


"Pagi Dave, pagi kak," ucap keduanya.


Dav sama sekali tidak menjawab dia langsung duduk setelah Goy menarik kursi untuknya.


"Dave, minggu depan Nelza pulang dari luar negeri. Apa kamu tidak menjemputnya di bandara?," ucap Anita disaat mereka berempat


sudah menikmati sarapan pagi mereka.


"Minggu depan Aku sibuk jadi biarkan sekertaris Ken saja yang melakukanya," balas Dave lalu


melanjutkan makananya.


"Syukurlah kamu masih perhatian padanya," Anita tersenyum kearah Nadia.


"Ya jelaslah perhatian, Kan kakak masih menyimpan hati pada Nalza," lanjut Elis sedikit memperdengarkan pada Nadia.


Seketika perasaan Nadia begitu aneh setelah mendengar ucapan terakhir dari Elis. Sedapat mungkin Nadia menyembunyikanya agar Anita


dan Elis tidak membacanya.


"Suamiku, makanlah yang banyak agar tenaga dan pikiranmu bisa sinkron saat kamu bekerja


nanti di kantor," Nadia meletakkan sepotong daging ayam diatas piring Dave.


Mata Anita dan Elis terbelak setelah mendengar Nadia memanggil Dave dengan sebutan suamiku.


Anita dan Elis berencana memberi kejutan kecil pada Nadia tapi Nadia membalas mereka dengan kejutan yang besar.


"Perempuan ini benar-benar pandai


memanfaatkan situasi. Segala sesuatu yang kita rencanakan pasti dengan muda dia baca, Entah bagaimana lagi caranya agar kita dapat memberi pelajaran yang cukup berharga untuknya," Anita memandang lekat pada Nadia yang seolah-olah hanya menikmati setiap permainan yang di suguhkan oleh kedua perempuan yang sedang


duduk di hadapanya itu.

__ADS_1


__ADS_2