
"Nyonya Nadia, mereka boleh menghina Saya, tapi Saya tidak terima kalau mereka menghina Nyonya. Kenapa sih nyonya tidak berpenampilan glamour seperti para bangsawan pada umumnya di kota ini sehingga mereka tidak lagi memandang remeh nyonya seperti tadi," Rita yang memandang kasihan pada Nadia yang selalunya diremehkan orang-orang yang belum mengenalnya.
"Maafkan Aku Rita karena Aku, kamu juga ikut terhina dengan penampilanku. Aku melakukan semua ini karena inilah dan seperti inilah Aku. Dari sananya Aku sudah berpenampilan sederhana dan apa adanya. Untuk apa mengikuti gaya hidup seperti itu kalau kita mendustakan hati,".
"Nyonya benar-benar luar biasa. Aku baru paham kenapa selama ini nyonya tidak mau mengubah diri walau sesungguhnya nyonya Nadia itu bisa sejajar bahkan lebih dari anak-anak bangsawan di kota ini,".
"Tunggu dulu, tadi kamu panggil Nadia dengan Nyonya?, Sebenarnya Nadia ini siapa?," tanya Nabila yang sedari tadi hanya mendengar obrolan mereka.
"Aku bukan siapa-siapa Bil, Rita ini yang terlalu lebay memanggil nyonya padaku. Nabila, apa kamu boleh memanggil Dewi dan Tania kemari, sudah lama Aku tidak berjumpa dengan mereka,".
"Boleh, kalian tunggu sebentar disini biar Aku memanggil Dewi dan Tania untukmu,".
"Terima kasih banya ya Bil,".
"Sama-sama," Nabila segera pergi meninggalkan mereka menuju keruang meke up.
"Nyonya, kenapa Anda menyembunyikan identitas Anda juga pada Nabila, bukankah dia juga itu teman baik nyonya Nadia,".
"Tidak semua hal tentang kita harus di beri tahu pada sesiapa. Siapa kita ini walau dia itu sahabat kita sekalipun, agar kita bisa tahu siapa orang yang benar-benar tulus berteman dengan kita apa adanya bukan karena ada apanya. Seiring berjalanya waktu dia juga akan tahu siapa kita tanpa harus kita beritahu karena mereka bisa membaca dengan sendirinya atau mendengan dari orang lain,".
"Benar juga kata nyonya Nadia, banyak orang yang ingin berteman dengan kita karena mereka tahu kita orang kaya tapi sangat jarang orang yang ingin berteman dengan kita saat mereka tahu kalau kita ini orang miskin,".
"Jangankan orang lain saudara sendiri pun banyak yang berperilaku seperti itu. Contoh, disaat kamu kaya dan rumahmu diatas gunung mereka akan berbondong-bondong datang dan mengakui kalau kamu itu keluarganya. Tapi bila kamu miskin, menoleh saja tidak mau apalagi mengakui kalau kamu itu keluarganya,".
Tanpa mereka sadari dua pasang bola mata memperhatikan mereka dengan saksama.
"Inilah saatnya kita jalankan rencana kita, Kali ini Nadia tidak bakalan lolos," ucap seorang perempuan parubaya yang tak lain adalah Anita, Ibu tiri Dave.
"Iya bu, kali ini kak Dave dengan senang hati akan menendang Nadia keluar dari dalam mension," balas Elis tersenyum.
"Betul, Ayo kita bergabung dengan ibu Yunita di dapur untuk mulai melancarkan penjebakan".
Keduanya segera pergi dari sana setelah melihat target mereka sudah datang.
Sementara di tempat lain dalam ruangan yang sama, tampak dua perempuan muda juga sedang memperhatikan Nadia dan Rita dari arah kejauhan.
Keduanya memandang sinis kearah Nadia dan sesekali tersenyum.
__ADS_1
"Saatnya kamu game over cupu, Kamu tidak akan bisa lagi bersembunyi di ketiak tuan Dave. Setelah rencana ini berhasil, dengan sendirinya tuan Dave akan membuangmu. Bersiap-siaplah untuk jadi gembel dan Leon akan jadi milikku,". ucap Mawar menatap Nadia tanpa berkedip sedikit pun.
"Betul, sebentar lagi Aku yang akan menjadi nyonya Dave menggantikan si cupu itu. Aku heran sama Dave bisa-bisanya dia mengantinkanku dengan perempuan cupu seperti Nadia itu. Dilihat dari segi mana pun Aku tetap yang terbaik dibanding si cupu Nadia,".
"Iya juga sih. Bisa-bisanya tuan Dave mempertahankan Nadia, apa tuan Dave tidak malu memiliki istri culun seperti itu?. Rezeky si cupu sang pelunas hutang,".
"Dia boleh tertawa sekarang tapi sebentar lagi dia akan menangis darah dan bersujud padaku, Ayo kita persiapan semuanya sebelum tante Anita, Elis dan ibumu melancarkan misinya pada cupu itu,".
Keduanya juga melangkah pergi.
"Rit, kamu tunggu sebentar disini Aku mau kekamar kecil dulu. Jika Nabila dan teman-temanya datang, katakan pada mereka untuk menungguku,".
"Baik nyonya....,".
Setelah mendapat persetujuan dari Rita, Nadia pun segera pergi menuju kearah toilet.
Nadia terus melangkah dan tiba juga di toilet hotel dengan ruangan saling berhadapan satu dengan yang lain.
Belum juga beberapa menit Nadua dalam toilet, tiba-tiba tiga orang perempuan masuk sambil tertawa.
"Hust....jangan terlalu ribut nanti ada orang yang mendengarmu, bisa-bisa rencana yang selama ini kita rancang akan gatol alias gagal total," Anita meletakkan jari telunjuknya tegak lurus di depan bibir.
Sementara Nadia yang berada dalam toilet seketika kaget mendengar perbincangan mereka bertiga.
Tanpa sengaja tubuhnya menyenggol krang air hingga terjatuh kelantai menimbulkan bunyi yang sedikit nyaring.
"Astaga....," ucap Nadia dengan sangat pelan sambil menutup mulutnya dengan kedua buah telapak tanganya.
"Siapa itu," teriak Anita tapi tidak ada jawaban.
"Disini pasti sudah ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita. Yunita dan kamu Elis periksa semua kamar dan seret siapa pun yang ada dalam toilet ini,".
Tanpa menjawab keduanya langsung membuka satu-persatu ruang toilet.
Tidak lama kemudian keduanya kembali.
"Bagaimana, apa kalian menemukan seseorang dalam toilet?,".
__ADS_1
"Aku tidak menemukan siapa pun dalam toilet," balas Elis.
"Kamu Yunita?,".
"Sama juga dengan Aku, hanya krang air yang terlihat ada diatas lantai,".
"Syukurlah akhirnya masih aman rencana kita kali ini, Ayo kita keluar dan menyuruh para pelayan membawa minuman untuk para tamu,". Anita melangkah duluan diikuti oleh Yunita dan Elis keluar dari dalam toilet.
Setelah mendengar langkah kaki mereka pergi, Nadia segera keluar dari persembunyianya yaitu di belakang pintu.
Yunita hanya melihat krang air terjatuh dan tidak memeriksa seluruh isi dalam toilet yang di tempati oleh Nadia.
"Alhamdulillah, mereka tidak sempat melihatku," elus Nadia pada dadanya.
"Tapi tunggu dulu, tadi Aku sempat mendengar kalau mereka sedang merencanakan sesuatu padaku, tapi apa?,".
Lama Nadia memutar otak dan mencerna semua ucapan mereka.
"Minuman.......Aku tahu, pasti tujuan mereka pada minumanku. Baiklah mari kita bermain sekarang. Kalian yang menang atau kami,".
Nadi segera keluar dari dalam toilet dan melangkah kearah ruang aula.
Disana sudah ada Rita, Nabila, Dewi dan juga Tania sedang berbicang ria menunggu kedatanganya.
"Nyonya Nadia dari mana saja, kami sedari tadi menunggu Anda," Dewi maju kemudian mencium pipi kiri dan kanan Nadia secara bergantian.
"Aku baru saja dari toilet,".
"Kami sangat merindu nyonya Nadia, kalau tidak salah kita terakhir kali bertemu di perlombaan itu," Tania ikut mencium pipi kiri dan kanan Nadia sama seperti yang barusan dilakukan oleh Dewi.
"Aku juga rindu dengan kalian, sekarang kalian sudah tampak seperti penata rias artis ibukota,".
"Ini juga semua berkat nyonya Nadia," balas Dewi.
Terus ikuti novel baru Author di youtube" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN". terima kasih.
__ADS_1