
"Apa Aku bilang pasti Nyonyalah yang akan keluar sebagai pemenang," Tania memegangi kedua tangan Nadia.
"Ini semua jeripaya kalian juga, tanpa kalian bertiga Aku pasti tidak bisa menjuarai lomba ini," balas Nadia sembari tersenyum.
Tania , Diana dan juga Dewi saling menatan kemudian saling tersenyum.
"Selamat ya Nadia, Kamu memang layak menjuarai lomba ini," ucap seorang perempuan di belakang mereka berempat.
Keempatnya segera berbalik dan mendapati Nabila sedang berdiri sembari menyodorkan tanganya kepada Nadia.
"Terima kasih Nabila. Hari ini mungkin adalah hari keberuntunganku tapi Aku yakin suatu saat nanti kamu pun akan menemukan hari keberuntunganmu juga, Tinggal menunggu waktunya saja," balas Nadia menyambut uluran tangan Nabila.
"Semoga saja!, ngomong-ngomong kalian berempat ini sungguh sangat kompak, apa boleh Aku ikut bergabung dengan kalian?," Kembali empatnya saling menatap lalu
tersenyum sembari mengangguk.
"Silahkan, kami dengan senang hati akan menerimamu. Kenalin ini Tania, ini Diana dan ini Dewi. Mereka bertiga inilah yang paling berjasa padaku dalam menjuarai perlombaan ini,"
Ke empatnya pun saling bersalaman dan memperkenalkan diri mereka masing-masing.
Lain hanya dengan Mawar dia segera berlari menuruni tangga untuk menemui Rudy dan juga Yunita.
"Ibu .....," Mawar memeluk Yunita.
"Tenanglah, kamu jangan bersedih seperti ini," Yunita membelai pucuk kepala Mawar.
Rudy hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Tampak dari raut wajahnya kalau dia menyimpan beribu pertanya yang memenuhi
pikiranya.
"Apa pak Tono tidak menjalankan perintahku?, Kalau mereka benar-benar bekerja tak mungkin
nilai Mawar bisa seperti ini. Awas saja kalian semua akan dapat imbasnya,".
"Mas ...bagaimana ini?. Kenapa Mas hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa," Yunita yang saat itu masih menenangkan Mawar.
"Kalian tunggulah disini, Aku akan pergi menemui seseorang," Rudy segera melangkah dan meninggalkan mereka berdua.
Rudy terus melangkah hingga dia berhenti di depan meja para dewan juri.
"Pak Tono, apa boleh kita bicara sebentar?," Pak Tono yang saat itu sedang sibuk berbincang dengan beberapa juri lainya segera berbalik.
"Boleh Tuan Rudy. Teman-teman Aku permisi dulu sebentar," pamit pak Tono pada teman sejurinya.
Keduanya pun melangkah menjauh dan berhenti di sebuah lorong kecil.
"Kenapa bisa seperti ini?, apa kalian ingin bermain-main denganku?," tanya Rudy.
"Maaf Tuan Rudy kami tidak bisa melanjutkan kerja sama kita sebelumnya. Pengawal Tuan
__ADS_1
Dave datang setelah Anda keluar dari ruang dewan juri waktu itu. Mereka mengancam akan menghancurkan karir kami kalau sampai kami melakukan kecurangan dalam perlombaan ini" balas pak Tono.
"Pengawal Tuan Dave. Loh, kok mereka bisa tahu, apa ada diantara kalian yang sudah berkhianat padaku?," tanya Rudy keheranan.
"Semua acara pemilihan ini sudah di
kendalikan oleh perusahaan Tuan Dave jadi sekecil apa pun kecurangan dalam kompetisi ini dengan mudah para karyawan dan anak buah tuan Dave dapat mengetahui, Jadi untuk itu kami mohon maaf, kami tidak bisa berbuat banyak untuk Anda,".
"Terus bagaimana dengan putriku, apa tidak ada lagi peluang untuknya?,"
"Masih ada, kalau Nona Nadia mau
menyerahkan langsung kemenanganya pada nona Mawar,".
Seketika senyum Rudy mengembang. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria parubaya itu setelah mendengar ucapan dari pak Tono.
Rudy terus tersenyum hingga membuat pak Tono heran di buatnya.
"Kenapa Anda tersenyum seperti itu Tuan!, apa ada ucapan Saya tadi yang lucu?" tanyanya sembari terus memperhatikan raut wajah Rudy.
"Tidak ada sama sekali yang lucu. Kalau begitu, Aku permisi dulu ada hal penting yang harus Aku urus. Kamu lanjutkanlah kembali tugasmu seperti tadi," Rudy menepuk pundak pak Tono kemudian berlalu meninggalkanya.
"Ada apa dengan Tuan Rudy?, Apa otak kecilnya mulai bergeser setelah mendengar kekalahan putrinya?. Ah ...sudalah sebaiknya Aku
kembali ke tempatku semula dan bergabung dengan yang lain,".
Pak Tono pun bergegas meninggalkan tempatnya.
"Mas dari mana saja kamu?," tanya Yunita berdiri dari tempat duduknya.
"Aku baru saja menemui seseorang untuk menanyakan hasil akhir dari perlombaan ini," balas Rudy mendudukkan tubuhnya diatas kursi.
"Terus gimana hasilnya?, Apa Mawar masih bisa menjuarai lomba ini?," tanya Yunita lagi kemudian ikut duduk di samping Rudy.
"Bisa asal......," Rudy terdiam sejenak hingga membut Yunita mengeryitkan dahinya.
"Asal apa?, Mas jangan membuatku
penasaran?,"
"Asalkan Nadia mau menyerahkan
kemenanganya pada Mawar,".
"Waw.....berita yang sangat bagus, Kalau begitu ayo kita temui Nadia sekarang dan membujuknya agar dia mau menyerahkan kemenangan itu pada Mawar," Yunita kembali bangkit dan memegangi lengan Rudy.
"Tenangkan dirimu, Kita tidak boleh menemui Nadia secara bersamaan karena pengawal Tuan Dave ada dimana-mana. Jika kita sampai
ketahuan maka, semua rencana kita akan tinggal kenangan,".
__ADS_1
"Terus rencana kamu selanjutnya apa Mas?,".
"Aku akan menemui Nadia dan berbicara langsung denganya. Aku yakin dia pasti mau bila Aku
yang memintanya,".
"Baiklah kalau begitu lakukan yang terbaik karena inilah satu-satunya cara agar mawar tetap bisa exksis di dunia model,".
Rudy mengangguk dan mulai memikirkan bagaimana cara menemui Nadia tanpa
sepengetahuan pengawal Dave.
Tidak berselang lama kemudian kembali Rudy berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju kearah panggung dimana Nadia masih terlihat sedang mengobrol dengan teman-temanya.
"Nadia apa Aku boleh bicara sebentar denganmu?," ucap Rudy yang kala itu sedang berdiri di belakang Nadia.
Nadia yang mendengar namanya di sebut segera berbalik dan menemukan Rudy disana.
"Maaf Tuan, bukanya Aku tidak mau, tapi acara penyerahan hadiah sebentar lagi akan di mulai,"
balas Nadia.
"Tapi ini hanya sebentar, Ayo ikut!," Rudy memegang tangan Nadia dan membawanya menjauh dari Tania, Dewi, Diana dan juga Nabila.
Mau tidak mau Nadia pun mengikuti kemana Rudy membawanya.
"Ada apa lagi dengan Tuan Rudy!, kenapa dia tiba-tiba saja mengajak Nyonya Nadia pergi?,". Tania yang memandangi Rudy dan Nadia
sedang berbicara dari arah kejauhan.
"Kita hanya bisa berdoa semoga Nyonya Nadia selalu di beri ketabahan serta selalu mendapat
perlindungan dari Yang Maha Kuasa... Aamiin," Diana yang juga memperhatikan Nadia dan Rudy disana.
"Nadia, kamu sudah mendapatkan semua yang kamu mau. Jadi biarkan Mawar yang memenangkan lomba ini. Kalau sampai kali ini Mawar kalah, maka tamat sudah karirnya. Para produser dan juga perusahaan tidak akan lagi mau memakai jasanya,".
"Ha ha..ha," sejenak Nadia tertawa Deviel.
"Kalian masih tetap ingin mengorbankanku demi untuk menyenangkan Mawar. Ingat tuan Rudy, Aku ini bukan lagi bagian dari keluarga kalian jadi tidak ada gunanya Aku membantu kalian. Sekarang kalian baru tahu dan datang mengemis padaku. Andai saja dulu kalian memperlakukanku dengan baik, maka dengan senang hati Aku akan memberikan kemenangan ini pada Mawar,".
"Nadia, kamu ini kacang yang lupa kulitnya. Kami sudah membesarkanmu dengan susah paya tapi apa balasanmu,".
"Iya, Aku ini kacang tapi kalian makan dengan kulit-kulitnya. Apa Anda sudah lupa?, kalian menjualku pada orang asing tanpa memikirkan perasaanku. Jadi impas sudah jeri paya kalian merawatku selama ini,".
"Nadia," Rudy mengankat tanganya keudara tapi dengan sigap Nadia menangkapnya.
"Sekali kamu menyentuhku maka, kantor polisi terbuka luas menantimu. Ingat tuan Rudy dan camkan itu baik-baik. Aku akan menjadi iblis disaat berhadapan dengan iblis," Nadia menghempaskan tangan Rudy.
Ada sekitar lima menit Nadia dan Rudy berbincang hingga Nadia kembali dan bergabung dengan ke empat temanya.
__ADS_1
MAAF KALAU SAMPAI LAMBAT UP, SAKIN SIBUKNYA MEMBUAT VIDEO DI YOUTUBE. YUCK IKUTI JUGA CERITA SAYA DISANA YANG TENTUNYA TIDAK KALAH SERU" PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" TERIMA KASIH.