
Setibanya didapur Dave menyuruh Nadia duduk.
"Sekarang Kamu duduk disini sayang dan jangan kemana-mana biar koki handal ini yang memasak untuk kalian" Dave menarik kursi buat Nadia.
"Terima kasih, kamu memang suami idaman sayangku. Tapi apa kamu yakin ingin memasak makanan buat kami?,". Nadia sedikit ragu dengan keseriusan Dave.
"Aku sangat yakin, Kamu tinggal bilang mau makan masakan yang bagaimana biar suamimu ini memasakkan untukmu,". ucap Dave dengan bangga sambil melipat kedua buah tanganya di depan dada.
"Terserah masak apa saja yang kamu bisa asalkan kami berdua bisa kenyang,".
"Baiklah kalau begitu, Tuan putri tunggu sebentar disini, hidanganya akan segera Saya antar," Dave sedikit membungkuk seperti seorang pelayan menjamu tamunya.
Dave meninggalkan Nadia menuju kearah dapur tempat dimana biasa para koki bergelut dengan keseharian mereka di mension itu.
Tampak Dave mengambil celemek yang tergantung di dinding lalu memakainya.
Sesaat dia terlihat tersenyum kearah Nadia, gaya seorang koki di pertontonkan oleh Dave.
Hingga membuat Nadia benar-benar yakin kalau Dave memiliki bakat yang pendam dan baru dia keluarkan demi membahagiakan dirinya dan calon buah hati mereka.
Beberapa bawang dan sayur-mayur dari dalam lemari pendingin di keluarkan oleh Dave.
Dave telaten mengolah bahan-bahan tersebut terlihat dari gerakan tangan serta tubuhnya yang saat itu membelakangi Nadia.
"Nak, sebentar lagi kita makan enak, ayahmu sedang memasak untuk kita. Ibu sangat beruntung bisa memiliki suami seperti ayahmu, sudah tampan, pandai, kaya dan juga pintar masak, sungguh pria langka yang sudah jarang di temukan di era modern seperti sekarang ini," senyum Nadia yang terus memandan Dave dari arah yang cukup jauh.
Sementara itu, Goyun yang sedang tidur dikamar tiba-tiba terbangun setelah mendengar bunyi benturan besi dan sebagainya dari arah dapur.
"Siapa yang sedang masak di dapur?, mustahil sekali jika para koki itu yang melakukanya. Ini baru pukul 3 dini hari atau jangan-jangan.......," Goyun segera bangun lalu mengeluarkan senjata api dari dalam lemari dan menyipikan pada pinggangnya.
Goyun keluar dari dalam kamar lalu mengetuk pintu kamar para koki satu- bersatu.
"Pak Goyun, ada apa bapak membangunkan kami malam-malam begini?," tanya Agus salah satu koki sambil mengusap matanya menggunakan pergelangan tanganya saat mereka sudah berkumpul di lorong menuju kearah dapur.
"Apa kalian tidak mendengar sama sekali kalau di dapur sepertinya ada pesta besar. Seseorang sedang memporak-porandakan dapur. Ini tidak bisa dibiarkan, ayo kita tangkap.dia ramai-ramai,"
Kembali bunyi terdengar dari arah dapur, gesekan antara wajan dan spatula.
"Benar, tapi sepertinya orang itu tidak lagi mencuri tapi sedang memasak, lalu siapa orangnya?," tatap Agus pada tetaman-temanya tapi segera di kedikkan bahu oleh mereka.
"Dari pada kita semakin penasaran ada baiknya kita kesana untuk melihat langsung siapa orangnya,".
__ADS_1
Ajak Goyun lalu melangkah kearah dapur.
Melihat kedatangan mereka, Nadia segera memberi kode agar diam di tempat dan jangan bersuara.
"Nyonya, apa benar yang memasak itu tuan Dave?," tanya Goyun sedikit berbisik.
"Siapa lagi kalau bukan dia,".
"Perasaan tuan Dave itu tidak pernah memegang alat dapur seumur hidupnya. Kenapa tiba-tiba saja dia bisa terjun kedapur?,".
"Apa tidak salah paman, katanya tadi dia itu koki handal dan pernah menjuarai lomba masak antar kabupaten. Coba paman ingat-ingat baik-baik siapa tahu paman sudah lupa,".
"Hiii....hii....." seketika Goyun menahan tawa.
"Mana ada beliau pernah memenangkan lomba seperti itu, menyalakan kompor saja beliau tidak tahu apa lagi memegang alat dapur,"
"Kalau begitu kenapa sekarang Dave bisa, coba paman perhatikan baik-baik cara dia mengaduk masakan di wajan, dia seperti Koki handal bukan?, 11, 12 dengan chef Arnold,".
"Astaga, nyonya-nyonya, dari cara pegang spatula saja sudah salah, bagaimana rasa masakan beliau nantinya. Saya merasa kurang yakin kalau masakan tuan itu bisa dimakan,".
Ada sekitar 45 menit Dave memasak di dapur hingga akhir dia terlihat memplating masakanya diatas pring dengan posisi masih membelakangi mereka.
Dave kemudian berbalik dan melangkah kearah mereka dengan sekujur tubuh sudah di basahi oleh keringat.
"Sejak tuan bergelut dengan spatula dan wajan," balas Goyun sambil menunduk.
"Sudah melihatku susah paya seperti itu, kalian malah menontonku seperti televisi," Deve semakin geram setelah mendengar jawaban Goyun.
"Sudah-sudah, Aku yang menyuruh mereka untuk tidak membatumu agar Aku tahu kalau suamiku benar-benar pandai memasak," Nadia mengusap lembut punggung Dave agar darah tingginya tidak semakin kumat.
"Untung saja istriku ada disini kalau tidak, kalian tidak akan terselamatkan,"
"Hiiii...kenapa mereka muncul disaat seperti ini, bisa hancur reputasiku kalau begini di depan Dia, semua kebohonganku tentang koki-kokian itu akan ketahuan kalau sebenarnya Aku hanya berbohong agar Dia bangga dan menceritakan pada anak kami kelak kalau ayahnya ini adalah seorang koki handal," ucap Dave dengan perasaan ingin sekali berlari kesemak-semak dan bersembunyi disana.
"Sudah, masalah seperti ini jangan di besar-besarkan, coba Aku lihat masakan suamiku, Aku benar benar sudah tidak sabar untuk menyicipinya,".
Goyun dan yang lain sedikit mengangkat leher mereka untuk melihat masaka apa sebenarnya yang sudah di masak oleh majikanya itu tapi sayang, Dave segera membelakangi mereka dan menyembunyikan masakanya di balik badan.
"Sayang kenapa kamu sembunyikan masakanmu seperti itu, Aku sudah ingin sekali mencicipinya," tarik Nadia pada lengan baju Dave.
"Aku tidak mau mereka melihat dan mencontoh resep masakanku. Ada baiknya kamu makan di kamar saja agar lebih aman dan terjaga cita rasanya,".
__ADS_1
Seketika Goyun dan yang lain saling mengerutkan wajah mendengar ucapan Dave.
"Sudahlah kalau kamu tidak mau memberikan padaku," wajah Nadia di tekuk sambil mengelus perutnya.
"Iya-iya baiklah-baiklah, awas saja kalau sampai kalian menciplak resep masakanku ini, gaji kalian selama 3 bulan akan Aku potong. Te...den..... telur dadar benua Afrika sudah tersaji buat tuan putri, silahkan di nikmati," Dave tersenyum kuda lalu meletakkan piring berisi telur goreng di depan Nadia.
Tak hayal lagi, semua mata melotot setelah melihat apa yang di sajikan Dave diatas meja.
"Hampir satu jam suamiku di dapur hasilnya hanya telur dadar?, terus sayur-sayuran yang tadi suamiku keluarkan dari dalam lemari pendingin suamiku kemanain?,".
"Itulah cita rasa dari telur dadar Afrika ini, sayur-sayuranya bersatu dalam kesatuan yang utuh dalam sebuah karya seni telur dadar ala chef Dave," Dave mengedip-ngedipkan matanya pada Nadia.
Goyun mencoba terbahak tetapi sedapat mungkin dia tahan demikian pula yang terjadi dengan para koki yang berdiri di belakangnya.
"Jangan lihat dari bentuknya tapi lihat dari rasanya, betulkan sayang?,". Nadia mencoba menaikan harkat dan martabat Dave di depan mereka.
"Tullll....dua jempol untukmu sayang," sebuah ciuman mesrah mendarat di pipi Nadia.
Setelah menghabisi telur goreng buatan Dave, dengan rasa amburadul keduanya pun kembali ke kamar.
"Cepat kalian periksa dapur, Dimana tuan Dave menyimpan sayur-sayuran yang tadi bilang nyonya Nadia,".
"Baik pak Goyun," .
Para koki pun segera kedapur dengan kondisi dapur sudah mirip kapal pecah.
"Tuan membuangnya disini" balas Agus sambil mengangkat tempat sampah yang sudah penuh dengan tumbuhan hijau.
Tidak terasa pagi pun menjemput...
Pagi itu Nadia merias diri di depan meja rias sedangkan Dave berada dikamar mandi.
Tiba-tiba saja Nadia dikagetkan dengan beberapa pesan singkat yang masuk kedalam handphonya.
Nadia menatap layar handphone dan mendapati notifikasi pesan.
"Siapa yang telah mengirim gambar sepagi ini?," ucapnya lalu mulai membuka pesan bergambar dari nomor yang tidak di kenalnya.
__ADS_1
BAGI TEMAN-TEMAN YANG SUKA DENGAN CERITA DEWASA TAPI GAK FULGAR2 AMAT YUCH MAMPIR KE YOUTUBE AKU. TERIMA KASIH.