SI CUPU YANG TERTINDAS

SI CUPU YANG TERTINDAS
BAB 72. DAVE SUDAH MENANDAIKU.


__ADS_3

"Ayo buka pintunya, siapa tahu ada hal yang penting," ucap Nadia lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


"Tidak ada hal yang lebih penting selain berdua-duaan denganmu,".


"Ayolah sayang, kasih orang itu menunggu di luar," bujuk Nadia.


"Merepotkan sekali," sungut Dave lalu melangkah menuju kearah pintu dan sedikit membukanya.


"Maaf kalau kami mengganggu ketenangan Tuan dan Nyonya. Kami kemari membawa makan malam seperti pesanan Tuan tadi sore," Goyun yang berdiri di luar sana bersama dengan beberapa pelayan sembari mendorong troli kecil berisi beberapa makanan dan minuman di atasnya.


"Sekarang kalian boleh pergi, biar Aku sendiri yang mendorong troli itu masuk kedalam,".


"Baik Tuan, kalau begitu kami permisi dulu,".


Goyun berbalik lalu pergi meninggalkan tempat itu di ikuti beberapa pelayan yang bersamanya


tadi.


Hembusan angin pagi dan kicauan burung-burung menyambut datangnya pagi.


Embut yang menempel di dedaunan mulai menghilang tersapu mentari pagi yang mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur.


Dave yang saat itu sudah terbangun dan masih bermalas-malasan diatas tempat tidur akibat pertarungan semalam menatap Nadia yang sedang merapikan rambut kepangnya di depan meja rias.


"Sayang, kamu tidak usah ke toko lagi, serahkan semua urusan toko kuemu itu pada bi Ona dan Rita. Kamu tinggallah di mension berdiam dan menemaniku saat Aku pulang dari kantor,".


Seketika Nadia memiringkan tubuhnya dan menatap kearah Dave.


"Tidak bisa seperti itu suamiku. Bila Aku tinggal berdiam, bisa-bisa seluruh tubuhku terasa kaku dan pasti berat badanku akan bertambah. Apa kamu mau memiliki istri gemuk seperti itu?,".


"Bagaimana pun bentuk tubuhmu, Aku akan terus menyayangi dan mencintaimu, karena kamu itu separuh dari jiwaku, Kemarilah biar Aku merapikan rambutmu,".


Mendengar ucap Dave, jiwa Nadia bagaikan terbang di langit ketujuh. Tanpa berpikir panjang, dia kemudian berdiri dan melangkah mendekati Dave lalu duduk di sampingnya.


"Sayang, biarkanlah rambutmu seperti ini terus dan jangan pernah kamu merubahnya. Biarkan kecantikanmu hanya Aku seorang yang mengetahuinya," Dave merapikan rambut kepang milik Nadia.


"Apa suamiku tidak malu memiliki istri yang jauh dari kata cantik sepertiku, sedangkan para pengusaha yang ada di luar sana berlomba- lomba untuk memiliki istri yang anggun dan juga seksi bak artis ibukota?," Nadia menatap lekat pada mata Dave.


"Kenapa Aku harus malu memiliki istri separtimu!, bagiku, kamu adalah perempuan tercantik yang pernah ada di kota ini bahkan yang ada diseluruh penjuru dunia mana pun. Aku hanya

__ADS_1


takut, jika kamu berdandan seperti perempuan pada umumnya, para pria akan memperhatikanmu dan mencoba merebutmu dariku. Aku mohon padamu, jagalah hatimu


untukku saja dan Aku akan menjaga hatiku untukmu, Kita arungi bahtera rumah tangga kita tanpa ada rasa cemburu dengan kehadiran orang ketiga diantara kita. Tolong berjanjilah padaku," Tatap Dave dengan bola berkaca-kaca.


"Aku berjanji padamu sayang, Aku juga sangat mencintaimu," Nadia mencium lembut bibir Dave hingga keduanya saling berciuman satu dengan yang lain.


Hampir 5 menit mereka melakukan hal itu hingga akhirnya Nadia mendorong tubuh Dave karena tangan Dave sudah menggerayangi


sekujur tubuhnya.


"Cepatlah mandi, dan kita turun. Aku sudah sangat lapar," Nadia bangkit dari duduknya dan melangkah kembali ke arah meja rias.


"Kita lakukan sekali lagi sayang karena Aku sudah tidak bisa tahan jika sudah menyentuh seinci saja dari bagian tubuhmu. Lihatlah, Dave


kecil sudah bangun dan ingin mendapatkan belai lembut darimu,".


Dave menunjuk kearah celananya yang memang sudah mengembul akibat reaksi yang baru saja mereka lakukan berdua.


"Cepat mandi atau jatah malam ini akan Aku kurangi,".


Seketika Dave melotot dan melompat dari atas pembaringan.


"Kalau masalah belut mu itu tenang saja. Di dalam kamar mandi Aku sudah menyiapkan Tante Dove, tante Give dan juga tante Lux yang bisa


memberikan kehangatan dan busa melimpah. Suamiku tinggal memilih salah satu diantaranya dengan varian yang berbeda-beda," Nadia tanpa


menatap kearah Dave karena sibuk memoles wajahnya dengan kuas rias.


"Benarkah, kamu benar-benar istri yang bisa memanjakan suaminya," Dave mempercepat langkah kakinya masuk kamar mandi dan mencari tante-tante yang di maksudkan Nadia barusan.


"Sayang, kok tantenya pada gak ada!," teriak dalam bilik kamar mandi.


"Ada kok, di tempat sabun bagian kiri," balas Nadia dengan suara nyaring.


"Apa yang istriku maksud itu sabun batangan yang berwarna merah, kuning, hijau ini,".


"Iya, apalagi kalau bukan itu, gunakan sebaik mungkin dan jangan sampai belutmu listrikmu itu lecet. Aku duluan kebawah untuk


mempersiapkan sarapan pagi buat kita,".

__ADS_1


"Istriku, kamu ini kejam sekali kepada suamimu,". protes Dave di dalam kamar mandi.


Nadia tersenyum lalu berdiri untuk mengambil sal yang sengaja dia letakkan di punggung kursi lalu melilitkanya di bagian leher kemudian melangkah kearah pintu keluar meninggalkan Dave yang kesal didalam kamar mandi.


Nadia menuruni tangga dengan sangat hati-hati sekali, bagian kewanitaanya masih terasa nyeri


karena pertarungan yang mereka lakukan semalam suntuk.


Setelah tangga terakhir berhasil Nadia lewati, dia melanjutkan langkahnya menuju kearah ruang makan.


Tampak Goyun dan beberapa pelayan sibuk menata sarapan diatas meja makan sedangkan Anita dan Elis yang juga ada disana hanya duduk terdiam tanpa berbuat sesuatu.


"Pagi semua, apa ada yang bisa Aku bantu?," sapa Nadia pada Goyun dan beberapa pelayan yang ada disana.


"Pagi Nyonya muda," balas Goyun diikuti oleh pelayan yang lain.


"Ada baiknya Nyonya Nadia duduk saja seperti Nyonya Anita dan juga Nona Elis, biar kami yang melakukan semuanya,".


Goyun menarik kursi dan mempersilahkan Nadia untuk duduk.


Nadia duduk berhadapan dengan Anita dan juga Elis yang menatapnya dengan tatapan kurang suka.


Setelah selesai menata makanan dan juga minuman diatas meja, Goyun dan beberapa pelayan mohon diri untuk menyambut Dave yang masih berada di kamar.


Sepeninggalan Goyun dan yang lain,


Anita berdiri dan mendekat kearah Nadia.


"Tumben-tumbenan kamu menutupi lehermu dengan kain murahanmu itu," Anita yang saat itu berdiri di samping Nadia.


"Aku sangat heran melihat kalian berdua ini, kenapa selalunya saja sibuk mengurusi urusanku,"balas Nadia tanpa memandang kearah Anita.


"Selama kamu masih numpang di mension, semuanya jadi urusanku. Kalau kamu merasa terusik dengan kami berdua segeralah pergi dari sini, dan jangan sesekali menampakkan wajahmu lagi kemari,".


"Bagaimana Aku bisa pergi dari tempat ini sedangkan Dave tidak sanggup hidup tanpaku. Kalian lihat sal ini bukan?, Aku mengenakan sal ini karena semalam Dave sudah menandaiku sebagai miliknya," Nadia sedikit menyunggingkan bibirnya.



Yuck ikuti novel terbaru Author di youtube" ISTRI KESAYANGAN TUAN YUAN" dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak disana. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2