
Dave segera melangkah mendekati koper-koper yang ada diatas lantai.
"Goyun, untuk apa semua ini,". tunjuk Dave pada koper-koper itu.
"Maaf tuan, hari ini Saya berencana undur diri. Saya merasa kinerja Saya sudah mulai menurun ditambah umur Saya sudah tidak muda lagi, Ada baiknya tuan mencari kepala pelayan baru yang lebih muda dan produktif mengantikan Saya,".
"Apa kamu serius ingin keluar dari mension ini?," tatap tajam Dave pada Goyun.
"Saya serius tuan," balas Goyun tegas.
'Baiklah silahkan kamu pergi,".
Goyun mengangguk pelan dan mulai mengangkat kopernya.
"Dave.......," Nadia yang saat itu sudah berderai air mata.
"Biarkan saja dia pergi, untuk apa juga kita mempertahankan orang yang memang niatnya sudah ingin pergi meninggalkan kita,".
"Tuan, nyonya, Ona, Saya pamit," Goyun melangkah keluar dibantu oleh bi Ona membawa kopernya keluar dari dalam kamar itu.
Para pelayan yang mengetahui kalau goyun akan Resign segera berkumpul depan kamar Goyun sambil membentuk barisan panjang.
"Pak, tolong jangan pergi, kami masih sangat membutuhkan pemimpin seperti bapak," pak Agus, salah seorang koki di mension itu memeluk Goyun dengan sangat erat. Sudah sepuluh tahun bersama di dalam mension itu dan akhirnya mereka harus terpisah.
"Jangan sedih, inilah hidup, orang akan datang silih berganti di kehidupan kita. Aku yakin tuan Dave akan segera menemukan penggantiku yang lebih muda dan pastinya kinerjanya lebih baik dariku,". Goyun membalas pelukan pak Agus sambil mengusap lembut punggungnya.
Goyun melanjutkan langkahnya, sudah terdengar tangisan diatara deretan barisan para pelayan itu terutama peyalayan perempuan.
Kembali langkah Goyun terhenti tatkalah seorang pelayan perempuan maju dengan air mata sudah membasahi pipinya.
"Jika pak Goyun sudah tidak bekerja lagi disini kami semua pasti akan sangat merindukan bapak. sikap tegas bapak serta rasa dusiplin yang sudah bapak tanamkan pada diri kami itu tidak akan kami lupakan sampai kapan pun. Jika suatu waktu bapak ada kesempatan, kiranya bapak bisa mengunjungi kami kemari,"
__ADS_1
"Tentu Mira, kamu dan yang lain teruslah memberi pelayanan yang terbaik buat tuan Dave, nyonya Nadia dan juga anak-anak mereka kelak. Jangan membuat mereka kecewa,".
"Itu pasti pak," Mira segera mundur untuk memberi jalan pada Goyun..Setelah tiba di barisan paling akhir Goyun meletakkan kopernya lalu berbalik.
"Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Jika ada tindakan dan kata-kata Saya selama ini kurang berkenan di hati kalian tolong di maafkan karena Saya hanya manusia biasa yang tentunya tidak akan lepas dari salah dan dosa," Goyun sedikit membungkukkan badan sebagai penghormatan terakhirnya bekarja di mension itu.
Para pelayan dan juga koki melakukan hal yang sama untuk menghormati Goyun yang sebentar lagi akan meninggalkan mereka.
Sesaat Goyun terdiam hingga kembali di menegakkan badan, berbalik lalu mengambi kopernya. Suasana seketika hening, hanya terdengar langkah kaki Goyun yang menuju kearah pintu keluar.
"Dave, tolong lakukan sesuatu sayang, jangan biarkan paman Goyun benar-benar pergi," Nadia menarik-narik lengan baju Dave.
Sama halnya yang dirasakan Nadia para pelayan-pelayan itu pun berharap agar Dave bisa melakukan sesuatu untuk mencegah langkah Goyun pergi dari mension.
"Goyun, sekali lagi kamu melangkah, Aku tidak akan memanggilmu paman seperti yang di perintahkan alharhum ayah sebelum beliau meninggal," ucap Dave mencoba menghentikan langkah Goyun tapi hal hasil Goyun sama sekali tidak peduli dengan ucapanya. Goyun terus saja melangkah hingga tinggal beberapa langkah lagi dia tiba di depan pintu masuk.
"Jika sampai kamu melewati pintu itu maka jangan salahkan Aku jika anak-anakku kelak tidak akan memanggilmu kakek. Aku akan ceritakan pada mereka kalau kakeknya pergi meninggalkan mereka disaat ibunya sedang mengandung. Mereka pasti akan membencimu dan tidak akan memaafkanmu untuk selamanya. Sekarang pergilah jika memang itu yang terbaik bagimu," suara nyaring Dave dalam ruangan itu.
"Kenapa dia mengancamku seperti itu. Dasar manusia tidak punya perasaan. Kalau dia mengatas namakan dirinya Aku pasti tidak akan seberat ini meninggalkan mension, tapi dia menjual nama anaknya itu yang membuat hatiku sangat berat untuk pergi dari sini,".
Goyun terhenti dengan posisi kaki siap lalu menjatuhkan koper-kopernya diatas lantai begitu saja. Seketika para pelayan berhamburan mendatangi Goyun dan memeluknya.
Tangis bahagia pun tiba-tiba pecah di dalam mension
"Kenapa suamiku sampai menjual nama anak-anak kita seperti itu. Apa tidak ada cara lain yang bisa suamiku lakukan untuk menghentikan paman agar tidak pergi dari sini?,"
"Kamu seperti tidak tahu saja watak Goyun, Dia itu keras jika raganya di sentuh. Tapi kalau kita menyentuh hatinya maka dia akan kelepek-kelepak seperti ikan yang kehabisan air,". balas Dave sambil tersenyum.
"Betul juga kata suamiku, tapi biarlah, apa pun akan kita lakukan agar paman tidak sampai pergi dari sini walau harus mengorbankan nama anak kita yang sama sekali belum tahu apa-apa, Ayo kita dekati paman Goyun dan membantunya membawa kembali koper-kopernya masuk kedalam kamar," kini Nadia tersenyum bahagia.
Melihat kedatangan Dave dan Nadia para pelayan segera menyingkir dan memberi jalan pada mereka.
__ADS_1
"Ayo lakukan sekarang," Nadia sedikit mendorong tubuh Dave agar maju. semakin Nadia mendorong tubuh tinggi besar suaminya itu semakin kuat pula Dave memasang kuda-kuda.
"Kapan-kapan saja sayang Aku melakukanya, disini banyak orang,".bisik Dave di telinga Nadia.
"Itu malah lebih bagus, sekarang kamu lakukan atau Aku akan memberi tahu pada mereka kalau ayahnya ingkar janji," sesaat Nadia tersenyum lalu mengelus perutnya.
"Kenapa kamu juga mengancamku atas nama anak kita. Mereka itu belum tahu apa-apa sayang,". protes Dave.
"Sekarang memang mereka belum tahu apa-apa tapi kelak mereka akan tahu segalanya. Sekarang kamu mau lakukanya atau tidak," kedua bola mata Nadia terbuka sempurna.
"Baiklah-baiklah, Aku akan melakukanya. Hiii....menyebalkan sekali," Dave maju sambil menggaruki kepalanya dan berdiri tepan di hadapan Goyun.
Goyun hanya terdiam dan menunduk, dia tidak berani menatap wajah Dave.
"Angkat wajahmu," nada suara Dave penuh penekanan. Mau tidak mau Goyun pun mengangkat wajahnya.
Kedua mata mereka saling memandang hingga Dave memeluk erat pria yang selama berpuluh-puluh tahun bersamanya.
"Paman Goyun,".
Goyun seketika kaget, dia merasa tidak percaya kalau Dave memanggilnya paman.
"Sebenarnya Aku sudah lama ingin memanggilmu paman tapi Aku gengsi dan malu. Tadi baru Aku sadar betapa berharganya dirimu dalam hidupku setelah kamu ingin pergi meninggalkanku,".
Goyun mengangkat tanganya lalu mengusap punggung Dave, Hari ini adalah hari bersejarah baginya. Hari dimana Dave memanggilnya paman seperti yang diamanahkan oleh Anggoro.
Semua orang yang ada di sana merasa terharu melihat Dave yang baru kali mau mengakui perasaanya di depan banyak orang.
"Endingnya kurang bagus, harus Goyun itu pergi saja dan tidak usah kembali lagi, ayo Elis kita pergi sutradaranya kurang propesional membuat alur cerita,". Anita dan Elis keluar dari persembunyianya dan melangkah pergi.
JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG CHANNEL AUTHOR DI YOUTUBE YA TERIMA KASIH.
__ADS_1