
"Sudah-sudah Rit, hari ini kita pergi belanja, soalnya persediaan bahan kue kita mulai menipis bahkan ada yang sudah habis sama
sekali,". ujar bi Ona.
"jika kita berdua pergi bi, bagaimana
dengan Tuan itu, apa kita tinggalin saja dia disini?,".
"Mau tidak mau harus seperti itu, Kita biarin saja dia tinggal disini sekalian buat jagain toko hi ..hi..," bi Ona menahan tawanya.
"Hii..hii.. iya juga sih, kan jarang-jarang orang kaya bisa kita suruh untuk jaga toko," sambung
Rita ikut tertawa.
"Kalau begitu kamu bersiap-siaplah, setelah bibi mengantar sarapan ini pada Tuan Dave, kita langsung berangkat, Oke?,".
"Oke .....," balas Rita dengan membulatkan kedua jarinya membentuk hurup O.
Bi Ona segera keluar membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas air putih keluar dari dalam ruangan dapur lalu menuju kearah sofa dimana Dave masih berada disana.
"Silahkan Tuan, hanya ini yang bisa kami hidangkan buat Tuan!," Bi Ona meletakan nampan diatas meja tepat di hadapan Dave.
"Terima kasih bi, Aku sudah sangat merepotkan bibi?," balas Dave yang saat itu merasa tidak enak hati pada bi Ona.
"Tidak apa-apa Tuan. Lagian, Anda itu suami Nona Nadia, itu berarti majikan kami juga. Wajar kiranya jika kami menjamu Anda dengan baik. Kalau begitu Tuan sarapanlah dulu karena
kami berdua mau ke toko depan,".
Dave hanya mengangguk dan mulai melahap bubur buatan bi Ona.
Selagi Dave menikmati sarapanya, Rita dan bi Ona segera keluar dan melangkah menuju kearah toko yang ada di seberang jalan.
Setelah tiba di toko yang mereka tuju, Bi Ona dan Rita langsung masuk dan menyerbu bahan kue yang mereka butuhkan.
Butuh beberapa menit saja mereka dalam toko tersebut hingga akhirnya mereka keluar dari dalam sana dangan menenteng beberapa kantong plastik berisi berbagai macam bahan
kue.
Bi Ona dan Rita kembali menyebrang jalan untuk kembali ke toko. Jalur pertama masih mulus mereka lalui. Beberapa kendaraan yang berlalu lalang dengan mudah mereka hindari tapi saat menyembrangi jalan kedua, tiba-tiba sebuah mobil mewah menyerempet bi Ona sehingga bi
Ona terjatuh bersama dengan kantong plastik yang ada di tanganya.
Beberapa bahan kue terhambur diatas aspal.
"Woy ...hati-hati dong!, bibi tidak apa-apa?," Rita meneriaki si pengendara lalu membantu bibi
__ADS_1
Ona untuk berdiri.
Si pengendara pun segera menepika
kendaraanya taktala mengetahui kalau dirinya sudah menyerempet orang dan mendengar teriakan seseorang.
"Tidak apa-apa Rit, cuman lecet sedikit," bi Ona menyapu lukanya menggunakan telapak tangan.
"Bibi tunggu sebentar disini, biar Rita meminta pertanggung jawaban pengemudi mobil itu,".
Rita segera mendekati mobil si pengemudi lalu pengetuk daun pintu bagian depan.
"Cepat turun.........," bentak Rita.
"Iya tunggu," balas seorang pria dari dalam mobil lalu kemudian membuka pintu mobil.
Seketika mata Rita terbelalak setelah melihat seorang pria tampan keluar dari dalam sana.
"Kenapa kamu ugal-ugalan mengemudikan kendaraanmu, apa
kamu tidak sadar, dengan kelakuan mu seperti itu kamu bisa saja merengguk nyawa orang.lain,".
"Maaf, tadi itu Aku terburu-buru, terus
bagaimana keadaan ibumu, apa perlu Aku membawanya kerumah sakit?," tanya pria tersebut pada Rita dan menatap kearah bi Ona.
"Apa?," pria tersebut langsung berlari mendekati bi Ona yang saat itu sedang duduk menunduk sambari meniup-niup lukanya.
"Bu, ada baiknya kita kerumah sakit, ibu harus mendapatkan perawatan instensif dari dokter," ucap pria itu sambil duduk mensejajarkan tubuhnya dengan bi Ona.
"Ini hanya luka biasa kok, tidak usah sampaai dibawa ke rumah sakit segala," balas bi Ona sedikit mengangkat wajahnya.
"Bi Ona, Leon," ucap keduanya serentak.
"Apa bibi mengenal pengemudi yang tidak tahu rambu-rambu lalu lintas ini?," tanya Rita yang baru saja tiba di dekat mereka.
"Enak saja mengataiku tidak tahu rambu-rambu lalu lintas. Begini-begini Aku ini lulusan perguruan tinggi di luar negeri," balas Leon yang tidak terima ucapan Rita.
"Terus kenapa cara mengemudimu seperti seorang yang takut kehabisan teh gelas di acara hajatan?,".
"Orang ini benar-benar menguji kesabaranku,". gerutu Leon sambil membunyikan rahangnya.
"Sudah-sudah tidak usah bertengkar disini. Rit, bibi mengenalnya. Dia ini Leon teman masa kecil Nona Nadia,".
Seketika Rita terdiam dan tak berani lagi untuk menambah pertanyaan walau sebenarnya dia sangat penasaran dengan sosok seorang Leon.
__ADS_1
"Mari Leon antar bibi ke rumah sakit, luka bibi harus segera di
obati,".
"Tidak usah nak Leon, ini hanya luka biasa, di kasih obat merah juga sudah sembuh kok. Ngomong-ngomong nak Leon kemana saja selama ini?,".
"Panjang ceritanya bi, ada baiknya kita bicara ini di cafe itu saja, Leon juga ada hal penting yang akan Leon tanyakan pada bibi?," tunjuk Leon pada sebuah cafe yang tak jauh dari situ.
Sebelum menjawab, bi Ona menatap terlebih dulu kearah Rita dan disambut Rita dengan senyuman.
"Baiklah kalau begitu," bi ona mengambil kantong plastik yang sengaja dia letakkan diatas trotoar lalu kemudian berdiri.
"Biar Leon saja yang membawanya," Leon meraih kantongan dari tangan bi Ona.
Ketiganya pun melangkah menuju kearah cafe lalu masuk kedalam.
Setelah memesan beberapa makanan kecil dan juga minuman ringan, ketiganya langsung duduk.
"Aku mengikuti Ayahku ke kota C untuk mengembangkan bisnis beliau, tapi sayang, belum juga beberapa tahun kami disana, beliau meninggal, terpaksa Aku harus terjun langsung
mengembangkan bisnis keluarga kami, walau usiaku kala itu masih belum cukup untuk memikul beban seberat itu,".
"Maafkan bibi, bibi benar-benar tidak ada niat untuk mengungkit kejadian kelam nak Leon,".
"Tidak apa-apa bi, semuanya sudah terjadi. Bi, Leon mau tanya pasal Nadia, sebenarnya apa yang terjadi padanya sehingga dia harus menikah dengan Dave, pria tersombong yang ada di kota ini?,".
"Panjang ceritanya," bi Ona menarik nafas sejenak lalu menghempaskanya dengan sangat
lembut.
"Tuan Rudy meminjam bahan baku pada Tuan Dave untuk di kirim ke pulau sebelah, pas di tengah-tengah perjalanan, kapal yang mengangkut
barang baku milik Tuan Rudy tersebut
tenggelam dan menanggung kerugian sebesar 5M. Seiring berjalanya waktu, hutang Tuan Rudy mulai jatuh tempo. Utusan Tuan Dave datang dan meminta Nona Mawar sebagai jaminan. Nona Mawar menentang keras dan kabur entah kemana. Karena Tuan Rudy dan Nyonya Yunita sudah gelabatan dan tidak tahu harus berbuat apa dengan ancaman Tuan Dave, Mau tidak mau malam itu, Tuan Rudy dan Nyonya Yunita mengiming-ngimingi Nona Nadia dengan belanja dan juga makan di luar dengan dalih untuk meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan selama ini pada Nona Nadia. Setibanya disebuah cafe, bukanya makan-makan seperti yang telah
mereka janjikan, ternyata Tuan Rudy
merencanakan pertemuan Nona Nadia dengan Tuan Dave untuk penanda tanganan kontrak, dengan syarat Nona Nadia sebagai jaminan
atas hutang Tuan Rudy. Dan Anehnya lagi, Tuan Dave sama sekali tidak menolak kalau Nona Nadia yang menjadi jaminan bukanya Nona
Mawar," tutur bi Ona dengan mata berkaca-kaca.
Jangan lupa berkunjung di channel youtube Aku "PEWARIS TERAKHIR SANG PRESDIR" yang tinggal 1episode lagi TAMAT. Terima kasih.
__ADS_1